
"Oke, cut! Break 15 menit!"
Ketika sutradara berteriak, Railene kembali ke ruang istirahat aktor. Dia melihat Kaho yang sedang merias wajah untuk adegan selanjutnya. Dia menyapa dengan sopan dan memasuki ruangannya sendiri. Saat masuk, dia terkejut melihat agennya ada di sofa ruangannya.
"Kak Tamara? Tumben ke sini, ada apa?" Tanya Railene basa basi karena dia sudah tahu tujuan kedatangan agennya kemari dari pikirannya.
"Duduk dulu, kita bicara."
Railene duduk di sofa sebelah Tamara, lalu pandangannya jatuh pada sebuah dokumen yang mencolok. Sebuah judul besar terpapar dan membuat Railene meyakinkan tebakannya lagi. Dia memandang Tamara dan membiarkan agennya bicara.
"Ada sebuah variety show yang mengundang berbagai siswa berprestasi untuk tampil dan wawancara. Itu dokumennya, judul variety show ini kamu mungkin pernah liat di TV nasional. Ini masih banyak diminati bahkan setelah bertahun-tahun. Kali ini mereka memanggil kamu untuk ikut serta karena prestasimu sangat banyak. Satu-satunya yang istimewa adalah kamu satu-satunya yang diundang untuk edisi kali ini," kata Tamara lalu menjeda sambil melihat Railene yang tidak memasang wajah buruk. Dia melanjutkan.
"Aku tahu kamu nggak menerima variety show apapun karena kontrak, tapi ada satu hal yang beda dengan yang satu ini. Syuting akan direkam di dua negara. Dua hari di negara ini dan tiga hari di negara lain. Fokusnya adalah pertukaran dengan guru besar di negara itu. Persyaratannya juga cukup gampang, kamu bisa baca dokumen ini dulu, putuskan setelah kamu pertimbangkan semua yang ada di dalamnya," kata Tamara menyerahkan dokumen yang dibawanya.
Railene menerimanya dan menyerap informasi dalam waktu singkat. Sambil berpura-pura membacanya, dia memikirkan kelayakan variety show yang diberikan kepadanya. Kualitas variety ini tidak seperti di masa lalu yang berantakan dan bermodal hiburan saja, ada banyak manfaat dan beberapa perusahaan yang mendukung sebuah penelitian penting dalam variety show ini.
Railene sendiri adalah seorang pelajar yang memiliki banyak prestasi. Banyak sekali. Bahkan sebelum film pertamanya keluar, dia lebih dulu dikenal karena berbagai prestasi yang luar biasa di bidang seni dan musik. Saat dia pertama kali berakting pun, bakatnya bukan main-main yang membuat orang-orang yang mengenalnya sebelumnya merasa bahwa gadis kecil itu terlalu berharga seperti kotak harta karun berjalan. Karena itulah dia jarang memiliki pembenci karena kesan kemahakuasaannya.
Belakangan, Railene terlibat dengan forum hacker dan memiliki sarana informasi yang luas. Saat melihat daftar perusahaan di dokumen, Railene tahu bahwa desas-desus di forum rahasia itu benar adanya. Ada tiga perusahaan yang tengah menggarap sebuah teknologi baru dengan konsep holografi seratus persen. Seorang jenius sepertinya pasti banyak diincar untuk keberlangsungan teknologi ini. Apalagi mereka tahu Railene memiliki latar belakang ilmu teknologi yang mumpuni berkat sebuah pidato beberapa tahun lalu tentang bagaimana jika game di ponsel atau komputer dapat dinikmati secara realistis menggunakan kemampuan gelombang otak manusia.
Pidatonya itu sempat trending dan sepertinya ketiga perusahaan ini ingin merealisasikannya. Railene sendiri merasa bahwa tujuan utama program variety show ini adalah untuk merekrutnya sebagai peneliti dalam teknologi baru.
Railene tertarik. Hal yang paling dia sukai setelah kelahiran kembalinya adalah seni dan teknologi. Dan ketika berhubungan dengan kedua hal itu, tidak peduli seberapa sulit dia belajar tentang itu, dia akan berhasil kemudian dan meraih kepuasan tersendiri karena keingintahuan dan kemampuannya tersalurkan. Hal-hal ini membuatnya bersemangat.
__ADS_1
Dia ingin mengikuti variety show ini.
"Apakah ini bulan depan? Jadwalku gimana, Kak? Mungkin itu bertabrakan," kata Railene ketika melihat tanggal yang tertera dalam dokumen.
"Kamu bisa membatalkannya, kontrak belum ditandatangani. Tapi, kamu bisa mempertimbangkan yang ini dulu, jangan buru-buru. Lagi pula ini memakan waktu lama. Kamu harus izin orang tuamu dulu, aku bakal bantu kamu nanti," kata Tamara dengan senyum cerah.
Railene mengangguk dan tersenyum ringan. Dia akan membicarakan dengan Inchara karena beberapa hal tentang misteri dalam hidupnya terkadang membuatnya tidak dapat rileks menikmati beberapa minat yang dia kembangkan dalam kehidupan keduanya. Dia bersemangat dan ingin mencoba, tapi misteri lainnya membuatnya penasaran.
"Oke, ada hal lain?" Tanya Railene.
"Nggak. Bagaimana kabarmu dengan Nona Kaho?" Tamara menanggapi dengan wajah penasaran.
"Baik. Kak Kaho banyak membantu dan ramah." Railene menjawab dengan singkat. Tentu saja tidak menjelaskan keanehan yang dia rasakan saat bersama Kaho.
"Kakak bilang aku satu-satunya tamu di edisi kali ini, kenapa aku bakal ketemu Kak Kaho?" Railene bingung tentu saja.
Tamara tersenyum penuh dengan spoiler. "Nona Kaho bukan aktris biasa. Dia awalnya seorang profesor bidang teknologi dan mewakili keluarganya, salah satu perusahaan yang mensponsori adalah perusahaan milik keluarganya. Coba tebak yang mana!" Tamara bersandar di sofa dengan senyum yang sama.
Railene memutar mata dalam hati, tanpa sibuk menebak, dia telah mendengar isi pikiran Tamara. Daichi Group. Perusahaan multinasional yang bergerak di bidang teknologi. Railene ingat bahwa dia pernah menghadiri konferensi kerja sama dengan perusahaan ini saat berusia 13 tahun. Saat itu mereka mengerjakan real estate dengan modal smart home berteknologi tinggi.
"Aku tahu. Aku berhubungan baik sama Kak Kaho. Jadi Kak Tamara nggak perlu khawatir." Railene tidak bekerja sama dengan tebak-tebakan Tamara yang terkadang dibuat-buat.
"Kamu benar-benar tahu? Kamu yakin nggak nebak dulu? Mungkin kamu salah, ayo tebak dulu!" Tamara duduk tegak dan gatal dengan reaksi Railene.
__ADS_1
"Oh, Om Jack udah manggil. Aku syuting dulu, Kak. Bye!"
Railene langsung keluar dari ruang istirahat dan mengabaikan Tamara yang berteriak di belakangnya. Setelah bertahun-tahun bergaul satu sama lain, dia semakin akrab dengan agen itu. Orang yang serius di permukaan nyatanya hanyalah seorang jomblo yang butuh perhatian. Awal mula Railene akan menanggapi, tapi setelah sekian lama Railene sering mengabaikannya karena terdengar menyebalkan.
Syuting dimulai lagi, Railene membuka adegan baru dengan Kaho dan mulai sibuk lagi.
...
Alan dan Gery berdiri di depan lokasi syuting. Wajah Alan masih enggan, namun Gery terlihat bersemangat. Yang satu tertekan dan ragu dengan objek tugas, yang lain tidak sabar bertemu idolanya.
Staf keamanan yang berjaga di depan pintu lokasi syuting memandang heran ke arah dua pemuda yang sangat kontras. Sudah lima menit keduanya bertengkar dan berdebat di depannya dan tidak ada rekonsiliasi. Staf keamanan memutuskan maju.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Jangan bertengkar di sini, menghalangi pintu!" katanya dengan wajah ganas ala gangster.
Alan tersedak dan setelah setengah dibujuk oleh Gery, dia memutuskan untuk masuk.
"Halo, saya penulis skenario film, anggota kru. Kami bisa masuk, kan?"
***
Hai hai. maaf baru muncul.
Jangan lupa like dan komentar.
__ADS_1
Have a nice day!😊