Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
27. Bertambahnya Misteri


__ADS_3

"Inchara? Kamukah itu?"


"Lene? Oh, astaga akhirnya kamu bisa mendengarku!" suara Inchara terdengar bersemangat.


Railene mengerut bingung. Dia bertanya-tanya tentang apa yang sedang dilakukan oleh Inchara. Mengapa tiba-tiba dia dapat menyeruak keluar dan berkomunikasi dengannya? Railene tidak yakin.


"Apa yang terjadi?" Tanya Railene karena sedikit kebingungan. Dia melihat sekitar dan orang-orang sedikit demi sedikit memiliki kesadaran kembali. Namun, tatapan mereka sulit dijauhkan dari Railene.


"Railene maafin aku. Kamu nggak papa, kan?" Suara Vania terdengar bersalah. Railene menanggapi dengan tanggap dan cepat. Dia mengangguk dengan patuh dan sedikit tersenyum tidak berdaya.


"Nggak apa-apa," ujarnya dan Vania memiliki wajah yang lebih baik. Gadis kacamata itu akhirnya melirik ke arah si anak lelaki.


"A.. aku juga minta maaf, Railene," katanya dengan wajah menunduk. Railene juga menanggapi dengan senyum dan berkata tidak apa-apa.


Salah satu dari kerumunan yang tadi memisahkan Vania dan si anak lelaki kembali bersuara. Meminta untuk jangan mengelilingi Railene dan jangan mengganggunya. Railene tersenyum dan matanya menyiratkan terima kasih yang dalam untuk siswa itu.


Beberapa saat kemudian mereka kembali ke tempat masing-masing. Beberapa masih bergosip tentang Claudya dan kejahatannya. Ada juga tambahan-tambahan cerita dari gosip-gosip lama di masa lalu. Railene terdiam karena semua orang kompak ketika membicarakan orang lain. Dia menghela napas tipis. Agak tidak berdaya.


Kembali duduk di kursinya, ia kembali mencoba berbicara melalui batin dengan Inchara. Ada banyak hal yang ingin ia ketahui. Tentang kemampuannya, tentang eksistensi Inchara, dan tentang bagaimana mereka terhubung satu sama lain. Railene tidak punya banyak ide dan penasaran sepanjang waktu.


"Chara? Kamu bisa dengar aku?"


Beberapa detik menunggu akhirnya ada balasan suara, "Lene, seseorang kembali datang dan menjelaskan padaku tentang sesuatu!" Inchara berkata dengan nada serius, namun itu masih banyak memiliki nilai semangat.

__ADS_1


"Apa yang kamu tau?" Tanya Railene.


"Sebenarnya ini agak aneh. Orang itu datang dan meninggalkan bola kristal bening di tengah padang rumput. Aku tidak bisa memastikan apa itu dan orang yang menaruhnya segera hilang setelah itu. Tapi, bola itu kemudian bercahaya dan membentuk tulisan tentang aturan alam bawah sadar," Inchara menjeda. Dia seperti berhenti untuk memikirkan sesuatu.


"Lene, aku sebenarnya bisa menjadi manusia. Tapi ada beberapa syarat yang harus aku lakukan untuk menjadi manusia. Salah satunya adalah menghubungimu lewat telepati. Aku hampir menyerah tadi, tapi akhirnya kamu bisa dengar." Inchara kembali terdengar bersemangat. Tidak peduli apa, ada sesuatu yang ganjil dari pemberitahuan Inchara.


Railene selalu bertanya-tanya tentang eksistensi Inchara. Sebenarnya apa dia? Apakah itu makhluk hidup sepertinya, atau sesuatu yang berhubungan dengan alam bawah sadarnya? Atau mungkinkah Inchara adalah bagian dari dirinya sendiri? Railene memiliki banyak spekulasi karena keduanya sama-sama tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Dia dan Inchara seperti dua pemikiran berbeda yang berteman dalam mimpi. Inchara seperti berdiri sendiri dan ada di sisinya sebagai bentuk petunjuk tentang rahasia kelahirannya kembali.


"Apa ada syarat yang lain?" Railene akhirnya menanggapi dengan tanya.


"Ya, itu cukup merepotkan dan itu juga melibatkanmu. Sebelumnya, apa kamu punya kemampuan baru akhir-akhir ini?"


Railene sedikit tersentak dan buru-buru menjawab iya. Keduanya terlibat perbincangan serius. Wajah Railene terlihat seperti orang yang sedang berpikir serius, namun sebenarnya dia sedang bercakap dengan Inchara.


Inchara mengatakan banyak hal pada Railene. Salah satunya adalah untuk membantu Inchara memiliki wujudnya, Railene harus melatih kemampuannya hingga menjadi permanen dan bisa dikendalikannya sendiri. Railene hanya perlu terbiasa dengan fokus kuat dan melatih kepekaan alaminya. Inchara juga berkata bahwa berlatih bela diri membantu Railene menstabilkan sinyal yang ia terima dan rangsangan alam semesta.


Sejenak Railene seperti mendengarkan guru meditasi tingkat lanjut ketika Inchara memberitahunya segalanya. Dia rasa, percakapannya tidak akan selesai di saat yang sama. Jadi, Railene meminta Inchara menjelaskan lagi nanti setelah ia sampai di rumah dan sendirian. Untuk sekarang, dia masih mencoba mencerna semuanya dengan pemahaman yang lebih baik.


Misterinya terlalu banyak.


...


"Railene, kamu yakin mau mulai hari ini? Lukamu masih belum sembuh, nanti kalo kamu kesakitan lagi gimana? Mending jangan dulu deh," ujar Ben membujuk Railene.

__ADS_1


Keduanya sedang berjalan melewati koridor dan turun melalui lift. Ada siswa lain di sekitarnya dan mereka bicara tentang mereka sendiri. Railene sejak awal sudah mendengarkan Ben dengan segala bujukannya. Namun, pada akhirnya gadis itu menggeleng tegas dan berkata dia baik-baik saja.


"Aku nggak apa-apa sekarang," kata Railene memandang Ben jengah.


Setelah kejadian tadi pagi, Ben datang hampir terlambat dan masuk kelas dengan tergesa. Bocah berkacamata itu mengaku bahwa dia tidak bisa tidur karena bersemangat akan belajar bela diri bersama Railene. Meskipun dia bisa dianggap senior Railene dalam karate, tapi ia malah yang lebih bersemangat tentang Railene.


Ben sudah dua tahun belajar karate dan sudah ada di tingkat tertentu untuk bisa mempraktikannya ke kehidupan sehari-hari. Dia bisa menjadi tukang pukul yang dapat diandalkan ketika bertemu situasi kritis, tapi tidak berlaku untuk lawan yang lebih kuat. Bagaimanapun dia masih dalam tahap belajar.


Lalu ketika Ben melihat Railene yang menggunakan syal, bocah laki-laki itu menjadi paranoid. Dia akhirnya mulai membujuk Railene untuk menunda latihan dan befokus pada kesembuhan. Railene yang sebenarnya sudah baik-baik saja menjadi terganggu seharian ini.


Dia sadar Ben begitu lembut dan perhatian. Sangat cocok menjadi kakak laki-lakinya yang berharga. Railene merasa diperhatikan, namun tetap saja yang bernama Railene tidak akan menjadi lunak dengan mudah. Dia masih gadis keras kepala yang berpegang teguh pada apa yang sudah ia niatkan.


"Apa kamu yakin? Railene, kamu bisa menunda satu atau dua hari. Nggak harus sekarang banget," bujuk Ben ketika mereka sampai di lantai satu dan berjalan di lobi. Siswa kelas akhir baru pulang dan sekolah tidak terlalu ramai. Gedung SMP masih penuh dengan murid dan itu masih istirahat tambahan untuk kelas 9.


Railene berhenti berjalan ketika sampai di halaman sekolah. Dia menatap Ben tajam. Sedikit mendongak karena perbedaan tinggi keduanya.


"Ini pertama kalinya aku belajar karate. Emangnya aku bakal langsung dipukuli di hari pertama?" Tanya kemudian. Mengisyaratkan bahwa ia akan baik-baik saja karena ia akan belajar sebagai pemula.


Ben menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menggeleng dengan cengiran khasnya. Dia sedikit lupa jika latihan Railene tidak mungkin sama sepertinya yang sudah belajar dua tahun. Ia baru ingat bahwa Railene adalah pemula. Menyadari itu Ben segera terkekeh kecil. Pada akhirnya menyetujuinya dan bergerak mengikuti Railene menuju mobil jemputannya.


***


Nih janji double update-nya.

__ADS_1


Terima kepada pembaca yang masih setia dengan cerita ini. Jangan lupa like dan komentar. Kritik dan saran saya terima dengan tangan terbuka. Have a nice day...😊


__ADS_2