
Railene dan Ben bersiap di depan ring basket. Ini adalah hal yang cukup merepotkan untuk Railene. Tubuh pendeknya tidak mendukung sama sekali. Setiap kali ke sini, Railene akan menghindari permainan ini. Namun, karena dia hari ini sedang senang, dia ingin mencoba. Hasilnya, ia benar-benar kecewa dengan tingkat pertumbuhan tulangnya.
Ben dengan mudah memenangkan game ini kali ini. Railene tahu dia tidak akan menang dengan kesulitan ini. Meskipun poin yang dihasilkan Ben tidak banyak, tapi itu lebih baik daripada hasil nol poin milik Railene. Dia sama sekali tidak bisa mencapai ringnya.
"Kamu terlalu licik!" Komentar Railene memandang Ben yang sedang bersorak senang karena menang.
Ben tertawa mendengar gerutuan Railene. Dia datang kepada Railene dan meringis. "Ini kemenangan pertamaku melawanmu. Aku harus berbahagia karena kamu masih kecil. Nggak papa, suatu saat nanti kamu pasti jadi tinggi, kok!" Ben berkata dengan nada seperti orang dewasa yang memaklumi anak-anak.
Railene membenci pembicaraan ini. Dia tidak suka diusik tentang tinggi badannya. Apalagi menghubungkannya dengan umurnya yang masih muda. Dia menatap Ben dengan permusuhan dan menginjak kaki Ben dengan kesal.
Anak laki-laki itu mengaduh, namun tidak marah. Ia tetap tertawa, kali ini sambil meminta maaf. Melihat wajah imut Railene yang menggembung karena sebal, Ben tidak tahan dan ingin datang mencubitnya ketika tiba-tiba tangannya ditampar Railene.
"Aaww, kenapa kamu nampar tanganku?" Ben bertanya dengan nada sedih. Alasan utamanya karena ia gagal mencubit pipi berlemak bayi yang putih bersih milik Railene.
"Kamu habis pegang bola, banyak kumannya. Nggak boleh pegang-pegang wajah. Kotor!" Railene mengomel dengan lucu. Ben mengangguk-angguk dan menatap kedua telapak tangannya. Membenarkan perkataan Railene.
Beberapa orang yang menonton di sekitar begitu gemas. Namun, sebelum mereka bisa mendekat, aura menyeramkan Paman Tam berhasil menahan mereka untuk tidak mendekat. Semua orang yang melihat itu hanya bisa pasrah dan menghela napas dari jauh. Memegangi dada mereka yang tersentuh karena adegan manis di antara dua bocah itu.
Keduanya berdebat sebentar dan Ben berhasil membujuk Railene untuk melanjutkan bermain trampolin. Keduanya berjalan keluar Timezone dan mengarah ke tempat khusus untuk bermain trampolin. Mereka memilih daerah anak-anak yang banyak zona empuknya.
Paman Tam mengikuti setelah menyerahkan seluruh tiket yang ia bawa pada seseorang di dekatnya. Seseorang itu terkejut tapi tidak bisa menolaknya. Hanya menghela napas setelah melihat ketiganya pergi.
Railene dan Ben tenggelam dalam permainan. Keduanya bermain tebak-tebakan dengan memperagakan gaya sambil melompat. Ben terlalu jujur dengan gaya yang dijelaskan, dan lagi itu mudah sekali ditebak. Sedangkan Railene bersikap sebaliknya. Dia membuat gaya yang sulit diidentifikasi oleh Ben sehingga Ben sulit menebak dengan benar. Mereka bermain kurang lebih dua jam.
__ADS_1
Ben kalah dan harus mentraktir Raielne es krim sepuasnya. Dia tidak masalah dengan itu. Toh, uang sakunya masih banyak. Setelah puas makan es krim, Railene pulang ke rumahnya.
Seperti biasa dia mengantarkan Ben pulang lebih dulu. Setelah itu dia baru pulang ke rumahnya sendiri. Karena kelelahan bermain, dia tertidur selama perjalanan pulang.
Sampai mobil berhenti di bergerak, Railene membuka mata karena kepekaannya pada sekitar. Dia melihat ada mobil lain yang pernah dilihatnya sebulan lalu. Itu ada di halaman rumahnya.
Dengan heran Railene turun dan bergegas masuk rumahnya. Saat masuk, dia bisa mendengar suara dua orang yang sedang mengobrol akrab. Salah satunya adalah suara Diza, yang lainnya adalah suara seorang pria. Dengan penasaran dia masuk berdasarkan karakter cerianya.
"Bunda, Railene pulang!"
Dia menerobos ke ruang tamu dan melihat sosok tamu yang wajahnya terlihat familiar. Railene tidak yakin dimana dia pernah melihat orang itu, tapi entah kenapa dia merasa bahwa wajah itu cukup mirip seseorang. Dia juga yakin sebelum ini belum pernah bertemu dengan tamu Bundanya yang satu ini.
"Kamu udah pulang. Sini dulu sayang," panggil Diza menginterupsi pikiran Railene.
"Kenalan sama Om Bram. Dia teman bisnis Bunda," ujar Diza dengan tenang.
Sosok yang dinamakan Bram melihat Diza dan Railene melihatnya sedikit memiliki kedutan di wajahnya ketika Diza berbicara tentangnya. Railene tidak mengerti namun dia menuruti kata-kata Diza. Ia berjalan mendekat dan menyalami Bram.
"Halo, Om. Nama saya Railene."
Railene bersikap formal karena ini merupakan pertemuan pertama mereka. Bram memiliki sedikit kejutan di wajahnya namun itu berubah dengan cepat menjadi senyuman. Railene mengidentifikasi itu sebagai penerimaan dari salam perkenalannya.
"Halo halo..., nama saya Bram Alexander. Senang bertemu denganmu, Railene."
__ADS_1
Suara berat namun menyenangkan itu sedikit menyentak Railene. Itu jenis nada yang lembut dan tegas di saat bersamaan. Menampilkan gelenyar percaya diri dan sesuatu seperti dominasi yang pas. Tidak berlebihan, tidak kurang.
Setelah perkenalan singkat itu, Diza memperkenalkan Railene sebagai putri satu-satunya yang berharga setelah dengan lembut meminta Railene untuk makan siang dan naik ke kamarnya. Railene menurut dan tidak banyak bertanya. Dia makan ditemani oleh perawatnya sejak kecil, Mala. Dia masih dipekerjakan untuk mengurus Railene selama Diza atau Kakek Neneknya tidak bisa menemani.
"Nona, makanan sudah siap," ujar Mala diangguki Railene. Sebenarnya dia agak keberatan dengan sikap formal Mala, bagaimanapun perempuan berusia empat puluhan itu sudah merawatnya sejak kecil. Namun, meskipun Railene sudah sering meminta Mala untuk bersikap santai, perempuan yang sudah memiliki pembelajaran tata krama sendiri itu enggan menerima itu. Jadi, Railene membiarkannya.
Namun, dia sering mengajaknya bicara. Seperti sekarang ini. Bisa dibilang dia sedang sedikit bergosip tentang pria bernama Bram tadi.
"Bibi, apa Om yang di ruang tamu pernah datang ke rumah?" Tanya Railene tanpa basa basi. Ia sudah duduk di kursinya, dan menyimpan beberapa lauk di atas piringnya.
"Iya Nona. Setahu saya beliau adalah salah satu pemilik perusahaan multinasional yang sedang bekerja sama dengan perusahaan Tuan Johar. Nyonya Diza menangani urusan ini karena memiliki kelonggaran waktu. Beliau pernah dua kali mampir ke rumah untuk membahas bisnis dengan Nyonya Diza," ujar Mala menjelaskan dengan rinci. Ia membiarkan Railene untuk mengambil makanannya sendiri karena Railene tidak terlalu suka dilayani.
"Dua kali? Berarti ini kunjungan ketiganya?" Tanya Railene memastikan. Alisnya sedikit naik dan dia heran.
"Benar, Nona." Mala menjawab lugas.
Railene berpikir sebentar dan mulai makan. Keheningannya saat makan sudah biasa terjadi. Dia belum pernah mendapati Bundanya memiliki kunjungan teman bisnis sesering ini. Biasanya jika teman bisnis biasa, Diza akan mengadakan pertemuan biasa di luar. Terkadang ada tamu yang mampir namun tidak pernah lebih dari sekali. Kecuali Jean dan beberapa yang sudah mengenal Railene dari kecil, Bundanya tidak terlalu suka menerima tamu bisnis di rumah.
"Sedikit nggak biasa," gumamnya yang masih bisa didengar Mala. Perawat itu tidak berkomentar apa-apa.
***
Hai hai, sesuai request, aku triple update hari ini. Terima kasih yang masih setia membaca cerita ini. Jangan lupa like dan komentarnya.
__ADS_1
Oh, maaf juga kemarin nggak update, ada sesuatu hehe.