Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
74. Final


__ADS_3

Putaran pertama selesai. Tim dari dojo Railene ada 3 yang menang dari junior dan 4 dari senior. Itu sudah cukup unggul karena kebanyakan dojo hanya memiliki 4 atau 5 kemenangan total.


Railene sedang istirahat dan mendengarkan instruksi pelatihnya. Di sampingnya, Archi sedang memijat pergelangan kakinya. Ia memperhatikan sebentar dan melihat masalahnya. Archi cedera. Meskipun berhasil di putaran pertama, itu juga membuatnya terluka.


"Gimana kakimu?" Tanya Railene lirih.


Archi yang pendiam dan sudah agak akrab dengan Railene menggelengkan kepalanya. Wajahnya mengerut tidak nyaman dan hanya berjuang menggosok cederanya sendiri. Railene menghentikan kegiatannya karena takut Archi salah menggeser sendinya.


"Bilang ke sensei, aku dengar hari ini cuma penyelesaian semi-final tingkat senior. Masih ada waktu besok. Semakin cepat diobati semakin cepat membaik," ujar Railene menasehati.


Archi terdiam dan mengangguk patuh, dia memanggil pelatih dan mengurus cederanya segera. Anggota tim junior agak khawatir karena salah satu kemenangan yang tersisa dibawa oleh Archi. Railene melirik Laura yang meminta penjelasan.


"Waktu tendangan, lawan agak licik. Pendaratan nggak sempurna, tapi Archi nahan sampai pertandingan selesai," kata Railene dengan tenang.


"Dia selalu nggak bilang apa-apa. Huh...," komentar Jefri di belakangnya. Meskipun kalah, dia masih memiliki mentalitas yang bagus.


"Archi selalu pendiam dan menahan apa-apa sendirian. Lain kali kita perlu memperhatikan kalau nggak lagi sama Arkan. Selain saudaranya, biasanya orang-orang gagal ngertiin Archi. Ehmmm..., kecuali Railene," kata Darren menimpali.


Railene hanya tersenyum dan fokus pada pemulihan tenaga.

__ADS_1


...


Babak semi-final dimulai. Ben yang masuk dalam kategori senior harus bertanding lagi. Lawannya kali ini lebih tua dua tahun namun sangat kurus. Itu terlihat keras dan sepertinya tipikal yang pantang menyerah.


Ben sendiri memiliki postur yang bagus dan bonus wajah tampan. Banyak dari penonton adalah para gadis yang menyukai visual, berteriak di sekitar tribun, sangat riuh dan berisik. Railene sendiri sudah sepenuhnya beradaptasi dan terbiasa dengan ini. Toh, kemungkinan besar Ben akan menjadi kakaknya. Dia tidak keberatan Ben menjadi begitu populer dan keren di mata publik.


Pertandingan berjalan sengit. Ben sepertinya melawan sosok yang unggul tapi dia sendiri memiliki banyak taktik. Dalam dua menit pertandingan, berkali-kali saling mengejar skor satu sama lain. Ben dipukul beberapa kali dan masih sering menyerang pihak lain dengan tendangan. Salah satu kekuatan Ben adalah tendangannya yang cepat dan kuat. Lawan memiliki ketangguhan yang layak dan sangat pandai menangkis.


Namun, pada akhirnya Ben berhasil memenangkan pertandingan di detik terakhir. Seluruh tim mereka bersorak dan penonton di tribun berteriak kesenangan. Melakukan hormat terkahir, Ben berjalan ke tim dan langsung disambut pelukan teman-teman senior.


Selain pertandingan Ben, ada 3 senior lagi yang bertanding dan hanya satu yang berhasil bertahan hingga juara akhir. Besok adalah semi-final junior, sekaligus final junior-senior. Pertandingan ini cepat karena tidak banyak dojo yang berpartisipasi. Lagipula kebanyakan tidak berada di tingkat mahir. Semua pemenang biasanya adalah juara bertahan dari tahun ke tahun dan merupakan orang yang sangat sulit dikalahkan. Ini juga yang Railene rasakan saat pertama kali mengikuti pertandingan.


Hari berlalu dan pertandingan semi-final junior dimulai. Railene dalam kondisi stabil dan memiliki banyak renungan dengan Inchara. Dia memiliki sedikit ide untuk menggunakan kemampuan mentalnya dan memenangkan pertandingan. Tapi, dia masih menganggap itu curang dan masih ragu.


"Kemampuanmu adalah bagian dari hal yang kamu latih. Semakin kuat fisikmu, kondisi mentalmu tiga kali lebih kuat. Kau kira tidak masalah menggunakan sedikit kekuatan mentalmu. Itu setara mempraktikkan kekuatan," ujar Inchara dalam alam batinnya.


Railene selalu diam di saat seperti ini. Dia merasa Inchara semakin mudah mengungkapkan pendapatnya dan semakin manipulatif dalam kalimatnya. Dia selalu berpikir bahwa Inchara sendiri adalah sebuah eksistensi mandiri yang jiwanya sedang bersembunyi di dalam batinnya untuk mengumpulkan kekuatan. Dia sendiri berfungsi sebagai inang yang mendukung Inchara tetap ada dan semakin kuat.


Awalnya Inchara adalah jiwa kosong yang memiliki sangat sedikit pengetahuan. Pemikiran belum berkembang dan polos seperti anak-anak yang belum bertemu dunia. Informasi datang dari keilahiannya yang tidak bisa diraih oleh Railene, sisanya mungkin mengawasi Railene tanpa rasa penasaran berlebih. Intinya, Railene menyadari perkembangan Inchara sejak Inchara menyentuh koneksi dengan sesama penunjuk jalan bagi orang terpilih. Semacam grup dan kelompok bermainnya sendiri. Mungkin di sana Inchara berbicara dengan penunjuk jalan yang mengadopsi kepintaran inangnya lebih awal. Ia tertular dan berkembang menjadi pemikiran individu yang kuat.

__ADS_1


"Kamu semakin buruk. Jangan bergaul untuk jadi manipulatif. Kamu harus belajar hal baik," ujar Railene dalam hati membalas.


Railene kembali fokus pada pertandingan. Di depannya adalah gadis 9 tahun yang terlihat lebih tangguh dan keras darinya. Tapi, dari matanya bisa terlihat bahwa kekuatan mentalnya agak mudah diterobos. Railene memikirkan kalimat Inchara dan memutuskan untuk melatih kekuatan mentalnya. Kemajuan baru untuk mempengaruhi lawan secara mental.


Pertandingan dimulai dengan saling hormat dan Railene pertama-tama memandang langsung ke mata gadis di depannya. Kesan awal gadis itu terhadap Railene adalah kecantikan yang tenang dan sangat agung. Railene memiliki aura bangsawan kuat seperti generasi kuno yang mendominasi kedudukan tinggi. Tipe ratu-ratu dengan perjuangan besar.


Gadis kecil itu menatap mata Railene dan seketika merasa dirinya sangat kecil. Railene dan auranya sangat mendominasi dan tenang. Tapi, di sisi lain membuat orang merasa bahwa ada naga dalam darahnya. Membuat gadis kecil itu semakin merasa kontradiktif. Yang terlihat di mata dan perasaannya sangat berbanding terbalik. Jelas Railene adalah gadis kecil yang lebih pendek darinya, tapi mengapa itu beratus kali lebih besar dalam perasaannya.


Akibat kekacauan emosi dan mental lawan, Railene menyerang dengan tanpa ragu dan cepat. Tidak memberi kesempatan untuk membalas. Railene tahu bahwa kondisi fisik gadis itu lebih baik darinya jadi dia harus cepat membereskannya. Di bawah tekanan mental Railene gadis itu dengan mudah jatuh dan memberi Railene poin berkali-kali.


Railene menang dan dengan sangat dalam meninggalkan kekaguman di tulang gadis itu. Dia kalah, tapi dia merasa terhormat entah kenapa. Dia bertanya-tanya tentang apakah lawan yang sebelumnya merasakan hal yang sama? Dia tidak tahu. Tapi dia benar-benar mengagumi Railene di akhir pertandingan.


***


Hai maaf libur terus karena kemarin2 sakit. Belum sembuh total sih, tapi better.


Jangan lupa like dan komentar.


Have a nice day!😊

__ADS_1


__ADS_2