
Persiapan untuk syuting dan Ujian Nasional agak berdekatan, tapi Railene tidak pernah mempermasalahkan hal-hal ini. Dia telah memperlajari apa yang harus dipelajari dan yakin dapat lulus bahkan tanpa rajin memandang buku. Bukannya Railene meremehkan, namun tingkat kapasitas otaknya telah menyimpan semua pelajaran dalam memori jangka panjang.
Berbeda dengan Ben yang masih harus belajar dan meninjau untuk ujian, Railene bisa bebas berlarian dan mencari informasi tentang keluarga kandungnya melalui celah jaringan internet alias meretas. Dia cukup mahir akhir-akhir ini dan menemukan beberapa informasi. Tapi, sayangnya informasi itu agak kurang penting untuknya karena tidak dapat membantunya menemukan titik terobosan dan petunjuk lain.
Ini agak menjengkelkan. Railene uring-uringan dalam beberapa hari. Ini menyebabkannya kembali ke hobi lamanya, bekerja seperti orang gila. Di seluruh keluarga, sepertinya hanya Railene yang memiliki banyak kesibukan. Bahkan orang terdekatnya, Ben, jarang melihat hidungnya dalam beberapa hari terakhir.
Ben agak mengerti tapi sebenarnya tidak mengerti mengapa Railene bertingkah seperti ini. Dia bertanya-tanya apa yang mungkin merubah orang yang tadinya sangat santai dan acuh tak acuh menjadi robot yang bekerja tanpa henti dan tidak ada habisnya. Tidak hanya dia yang bingung, orang tua dan kakek neneknya juga bingung dengan tingkah Railene.
Namun, ketika mereka bertanya, Railene akan selalu menjawab dengan cuek bahwa dia menemukan hobi baru dan mengambil beberapa pekerjaan santai. Juga karena kesibukan untuk memulai syuting membuat Railene jarang berada di hadapan orang-orang. Mereka juga teralihkan dan meskipun terasa aneh, alasan Railene membuat mereka lega.
Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Railene kecuali Inchara.
Saat ini keduanya berada di ruang utama rumah Alam Jiwa. Railene berbaring di atas pangkuan Inchara dan menutup matanya. Dia tidak tertidur dan sedang memilah sesuatu untuk mendapatkan sebuah petunjuk penting yang didasarkan pada peristiwa astral yang belum dapat ia pecahkan.
"Chara, menurutmu faktor apa yang mempengaruhi kejadian itu?" Tanya Railene setengah bergumam. Dia tidak membuka matanya dan Inchara dengan tenang membelai kepala Railene untuk membuatnya rileks.
"Keberuntungan?" tebak Inchara. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Railene dan mengarahkan jawaban yang tergantung di benaknya.
"Itu benar, tapi kedengarannya nggak terlalu bertanggung jawab," kata Railene dengan helaan napas samar.
"Kalo gitu..., faktor internal?" tebak Inchara lagi.
"Apa maksudnya faktor internal?" Tanya Railene membuka mata dan memandang wajah indah Inchara.
"Suasana hatimu, tingkat kekuatan mental dan kondisi secara keseluruhanmu waktu itu. Apa ada yang istimewa?" Tanya Inchara masih mencoba berspekulasi.
Mengikuti pemikiran Inchara, Railene mengingat detail kejadian saat batu kristal itu pertama kali muncul. Dia memikirkannya dengan hati-hati. Ingatannya selalu bagus dan dengan cepat dia memutar kembali ingatan hari itu dengan sangat jelas di benaknya.
Tapi sayangnya dia tidak menemukan sesuatu yang spesial. Hari itu berjalan dengan sangat biasa. Railene tidak menemukan perbedaan yang bisa menjadi patokan suatu kondisi hingga menyebabkan kejadian seperti itu terjadi.
__ADS_1
Rangsangan apa yang memiliki pengaruh untuk proses yang begitu penting terjadi padanya? Atau apakah situasi itu merupakan siklus yang membutuhkan waktu atau kematangan tertentu untuk kembali ke keadaan itu? Railene bangkit dan berjalan menuju perpustakaan. Dia sepertinya mengingat sesuatu yang penting dari buku petunjuk Ghost Gypsy.
Inchara melihatnya pergi terburu-buru dan mengikutinya dari belakang. Dia merasakan emosi Railene dan tahu apa yang ingin dilakukan olehnya. Inchara juga bijak dan segera mencari buku yang berkaitan selain buku Ghost Gypsy.
Dalam satu jam selanjutnya kedua gadis itu terdiam di depan beberapa buku bersangkutan dan menganalisis lagi dan lagi.
"Ini dia!" Railene berseru dengan mata terbuka.
Inchara di sampingnya melihat isi buku dan memandang Railene yang menulis sesuatu di buku pentingnya.
"Siklus Ingatan, sebuah proses dimana Orang Pilihan menemukan titik hubungan antara dirinya dan takdir yang dimiliki," gumam Railene dengan nada serius.
"Siklus Ingatan adalah proses penting yang muncul saat Orang Pilihan udah dewasa. Tapi, kenapa itu lebih awal di aku?" Tanya Railene pelan. Alisnya berkerut dan tiba-tiba kesal.
Dia lalu memikirkan sesuatu dan menghela napas dengan pemikirannya. Lalu dia duduk di kursi, penuh penampilan dekaden. Inchara menepuk kepalanya pelan dan menggendong Railene langsung ke ruang utama.
Dengan perhatian, Inchara memasukkan bantal ke bawah kepala Railene dan menyelimutinya. Dia duduk di samping Railene dan memandangnya dengan polos. Kata-katanya adalah perhatian yang dia terapkan dari interaksi Ben dan Railene selama bertahun-tahun dia perhatikan.
"Mungkin kamu benar. Aku terlalu sensitif akhir-akhir ini." Railene memikirkannya sejenak dan langsung setuju.
"Oh, nggak. Itu dimulai setelah aku ketemu Kak Alan yang yang nggak bisa dibaca pikirannya. Juga kayaknya dirangsang Nona Kaho waktu kita ketemu di lokasi casting." Railene menyimpulkan dengan mudah dan menghela napas panjang.
"Oke, pikirkan besok. Tidurlah, besok ujianmu, jangan terlambat." Inchara mengingatkan dengan tenang.
Railene memandang Inchara dan tersenyum kecil. Menyadari perhatian gadis polos ini dari hari ke hari dan menyukai sisi manusiawinya yang menjadi lebih alami. Railene selalu menganggap Inchara sebagai manusia. Dia akan makan dengan Inchara, terkadang memintanya untuk tidur dan melakukan aktivitas manusia lain. Jadi, ketika melihatnya lebih alami dan perhatian, Railene sangat menyukainya.
"Oke, bangunin aku kalau udah pagi," kata Railene sembari mengosongkan pikirannya agar bisa rileks.
"Oke." Inchara menjawab dan tetap duduk bersila di dekat sofa lebar. Dia beralih ke aktivitasnya sendiri.
__ADS_1
...
Ujian Nasional diadakan serentak dan Railene beserta Ben datang lumayan pagi. Saat ini mereka berdua tengah berada di kantin sekolah. Railene sedang makan sarapannya sedangkan Ben meninjau pengetahuan umumnya sekilas, baru setelahnya ikut makan.
Di kantin ada beberapa yang lain selain mereka. Jadi, itu tidak terlalu sepi dan tidak ramai juga. Ditambah suasana asri di sekitar kantin membuat sarapan di sana terasa lebih damai.
"Apa kamu belajar untuk UN?" Tanya Railene menatap Ben yang membalik-balik buku catatan kecilnya beberapa kali.
Ben mendogak dengan wajah "hah?" kerennya. Tapi dia tersenyum geli kemudian setelah mencerna pertanyaan Railene. Dia menggelengkan kepalanya dengan sedikit sombong.
"Aku udah lama selesai di level UN. Ini materi buat ujian masuk perguruan tinggi," kata Ben dengan percaya diri.
Railene menatap Ben dengan malas dan menampilkan sedikit seringai licik ketika mendengar ini. Dia dengan sengaja mulai mengerjai kakaknya.
"Oh ya? Coba kamu jawab soal ini," ujar Railene sambil menggeser layar ponselnya dan menyerahkannya pada Ben.
"Soal fisika? Gampang..., eh, kok gini?" Ben tercengang ketika melihat soal yang dimaksud.
"Itu sesuai prediksi soal, kok. Liat ini, nomor satu esai." Railene menambahkan bahan bakar ke dalam api dan membuat Ben semakin panik karena tidak dapat memahami soalnya.
Setelah beberapa saat, Railene tertawa karena tidak tahan melihat Ben. Ben yang akhirnya sadar pun marah dan mengejar Railene yang berlari lebih dulu ke gedung kelas.
***
Jangan lupa like dan komentar.
Btw, saya lagi macet. Maaf semua😅
Have a nice day!😊
__ADS_1