
Bangun pada pukul 8, Railene bersiap untuk pergi ke calon sekolah barunya. Sarapan pagi ini cukup sederhana karena tidak cocok untuk makanan berat. Railene masih terlalu malas untuk makan yang berkalori tinggi. Dia tidak suka kenyang di pagi hari, itu membuat perutnya sakit di siang hari sehingga malas makan.
Setelah selesai sarapan, Railene membawa beberapa berkas dan kartu identitas digitalnya. Keduanya menaiki Volkswagen yang dipinjamkan oleh Louis kepada mereka. Dengan Diza yang menyetir keduanya menuju sebuah daerah bernama Steinhausen. Ini bukan tempat sebenarnya dari EPS, tapi tempat ini merupakan tempat penjemputan khususnya untuk menuju ke sekolah sesungguhnya. Menurutnya dan Inchara, EPS terletak di wilayah Grindelwald, sebuah daerah yang dikelilingi pegunungan salju.
Letak sekolahnya sangat tersembunyi dan penjemputan kemungkinan besar menggunakan helikopter karena melewati medan yang merepotkan jika menggunakan mobil. EPS juga tidak dapat ditemukan di peta umum dan disamarkan sebagai daerah pegunungan karena merupakan wilayah penting yang terlindungi.
"Bunda pernah ke Steinhausen?" Tanya Railene saat keduanya berada di jalan.
"Belum. Kebanyakan berbisnis di pusat kota dan beberapa distrik komersial. Ini pertama kalinya Bunda ke daerah pinggiran." Diza menjawab sambil tersenyum.
Railene mengangguk paham. Dia memiliki pemahaman teks berdasarkan buku panduan dan beberapa pengetahuan dasar tentang wilayah pinggiran ini. Jauh dari kota, tetapi sangat asri dan memiliki pemandangan yang lebih indah. Perumahannya jarang-jarang dan benar-benar terasa sangat Eropa tradisional. Jika difantasikan itu seperti suasana di film Brave, pepohonan hijau dan sungai jernih di antara hutan-hutannya. Mengagumkan.
"Kita mungkin sampai setengah jam lagi. Kamu udah bawa semua yang dibutuhkan?"
"Um, udah semua. Persiapan masuk EPS sangat sederhana selama siswanya memiliki undangan. Mereka sangat mementingkan kesejahteraan siswa," ujar Railene dengan riang.
__ADS_1
"Itu bagus. Meskipun Bunda harus melepas kamu sendirian di negara ini, Bunda lega kalau kondisi lingkungan tempat kamu belajar dan tinggal sangat baik." Diza berbicara sambil menghela napas, sedikit kekhawatiran dan kelegaan terdengar di antara kata-katanya.
"Ya, Bunda nggak perlu khawatir. Aku pasti baik-baik aja kok. Toh kebutuhan sehari-hari di sana sangat memadai. Jadi, aku nggak punya masalah yang perlu dikhawatirkan." Railene menepuk lengan Diza dengan cara menenangkan. Dia tahu Diza memiliki banyak kasih sayang dan kekhawatiran tentangnya. Terlebih lagi, dia memiliki banyak hal khusus di rumah yang tidak bisa secara langsung disesuaikan di asrama siswa EPS. Tapi, bagaimanapun, dia memilih keputusan itu sendiri, jadi dia telah siap menerima konsekuensi dari keputusannya.
"Itu bagus," ujar Diza tersenyum.
Keduanya mengobrol sepanjang perjalanan. Setengah jam kemudian mereka sampai di sebuah rumah dengan panorama pertanian. Sebuah tanah terbuka di sampingnya menampung sebuah helikopter bertanda khusus di bodinya. Bunga edelweiss yang akrab terlihat di matanya dan beberapa orang keluar ketika mendengar suara mobilnya datang.
Railene dan Diza keluar setelah parkir di sisi rumah besar itu. Keduanya menghampiri tiga orang dengan ciri khas yang berbeda. Dua pria dan satu wanita. Salah satu pria berusia sekitar 60 tahun dengan pakaian intelektual profesor tua. Senyum di wajahnya sangat ramah dan matanya bersinar ketika melihat Railene. Pria satu lagi mungkin berusia sekitar 40 tahunan dengan kacamata bundar di hidungnya. Dia memiliki pakaian seperti penduduk setempat yang dia temui beberapa kali di jalan. Wajahnya tidak tersenyum namun dia tidak memiliki aura bermusuhan. Satu lainnya adalah wanita yang terlihat sedikit lebih muda namun seusia dengan pria berkacamata itu. Wajahnya cantik dan halus dengan jejak kerutan di sudut matanya ketika tesenyum. Fitur wajahnya seperti orang Asia, putih, dan agak mungil di antara dua pria besar.
Railene tersenyum sopan dan ikut menyapa bersama Diza. Dia memperkenalkan diri dan ketiga orang tersebut juga memperkenalkan diri.
Pria tua yang ramah bernama Arnold Frank, dia adalah wakil kepala sekolah dari EPS. Di sampingnya, satu-satunya wanita itu bernama Yu Zhiwei, berasal dari China. Dan pria berkacamata itu bernama Conrad Heinz, dia adalah pemilik rumah ini dan merupakan putra kepala sekolah EPS yang sedang berlibur dan bersantai di rumahnya sendiri.
Ketiganya menyambut masuk Railene dan Diza. Setelah beberapa perjamuan santai, Railene dan Diza mengikuti Arnold dan Yu Zhiwei ke dalam helikopter khusus empat orang. Conrad tetap tinggal di rumahnya karena dia memang hanya pemilik rumah untuk tempat penjemputan dan penyambutan sederhana Railene.
__ADS_1
Melewati batas perairan dan beberapa pegunungan, keempatnya sampai di sebuah halaman rumput luas yang dikelilingi bangunan setengah lingkaran. Bangunan batu abu-abu yang memiliki arsitektur khas Eropa dan terdapat jalan kecil bebatuan di tepinya. Railene dapat merasakan kekhasan dan perbedaan tempat ini dari dunia luar. Seperti memasuki peradaban lampau yang telah melewati ruang dan waktu.
Dan yang pasti, udara di sini lebih dingin beberapa derajat. Untungnya dia menggunakan mantel dan sweater hangat di dalamnya. Meskipun kakinya masih sedikit kedinginan karena hanya mengenakan satu lapis celana panjang.
Railene akhirnya juga tahu tebakannya meleset ketika berbincang dengan wakil kepala sekolah tadi. Tapi memang tidak terlalu jauh. Wilayah EPS berada di sisi lain pegunungan salju Grindelwald, masih merupakan bagian pegunungan Alpen. Sangat terpencil namun luar biasa indah. Railene merasa jatuh di sebuah dunia fantasi yang sama dengan film Beauty and The Beast.
Railene langsung menyukai tempat ini. Inchara juga keluar saat ini untuk menjelajah, tentunya masih hanya dia yang melihat keberadaan gadis itu. Dia berputar di sekitar Railene dan setelah mendapatkan izin Railene, Inchara menjauh untuk menjelajah seluruh isi EPS.
"Waktu pembelajaran tidak pasti. Itu tergantung selama apa kamu dapat menguasai pembelajaran. Itu bisa satu tahun atau beberapa bulan saja. Semuanya bisa diatur sesuai tingkat studi siswa, dan bila telah memenuhi syarat serta dianggap lulus atau mahir, kamu bisa meninggalkan sekolah ini menjadi lulusan."
Kata wakil kepala sekolah kepada Railene dan Diza saat keduanya memasuki kantor kepala sekolah. Di dalam ruangan seluas sekitar 4 meter ini, Railene dapat menemukan berbagai ciri khas rumah Eropa kuno versi modern. Sebuah perapian di tempatkan di salah satu sisi ruangan, tidak ceroboh, dan nuansa kunonya sangat luar biasa mirip. Namun, dia tahu ini adalah bangunan baru.
Saat ini dia duduk di sofa dalam ruangan, memandangi sekelilingnya sekilas dan perlahan mendengarkan deskripsi Arnold Frank kepadanya tentang sekolah ini. Seperti yang dia harapkan dari EPS. Orang-orang yang belajar juga memiliki kualitas otak yang luar biasa.
"Ada banyak departemen di sekolah kami. Beberapa memilih lebih dari dua fokus, tapi tidak jarang juga yang hanya memilih satu fokus. Ketika mereka ingin belajar hal lain, mereka bisa mengajukan untuk mendaftar bidang lain yang mereka kuasai."
__ADS_1
...****************...