
Dua hari berlalu sejak perdebatan keluarga Aristokelly. Tiga orang dan satu non-orang berdiri di pintu pemeriksaan bandara. Maria yang telah menjadi asisten Railene selama bertahun-tahun, sedikit memulihkan emosinya yang tadinya hampir hilang. Dia lebih banyak tersenyum, dan perhatiannya bertambah sedikit lebih teliti.
Bersama Ben, Maria, dan Inchara, Railene melangkah ke ruang tunggu dan bersiap masuk ke pesawat. Mereka memesan kursi kelas bisnis yang memiliki fasilitas yang lebih baik. Alasan utamanya adalah karena Railene dan Ben dengan kompak tidak terlalu menyukai obrolan di kiri dan kanan mereka jika menggunakan kelas ekonomi, atau terlalu sepi jika menggunakan kelas pertama.
"Kak, jadwal kita setelah mendarat apa aja?" Tanya Railene setelah mereka duduk di kursi pesawat. Ben dan Railene duduk bersama dan Maria terpisah satu kursi.
Ada sedikit orang di dalam pesawat kelas bisnis. Beberapa memiliki usia rata-rata di atas 30 tahun dan paling muda adalah Maria dalam kelompok usia itu. Railene dan Ben hanyalah remaja yang sepertinya tidak di tempatnya. Tapi, tidak ada yang peduli.
"Kamu bebas sampai besok siang. Kakak udah pesan hotel di daerah yang kamu minta. Setelah makan siang besok, kita ke sana." Maria telah mengingat di luar kepala. Dia selalu efisien dan Railene juga mengerti.
Ketiganya beristirahat selama di pesawat dan sesekali mengobrol. Ben sendiri selalu diam-diam bercanda dengan Inchara. Karena penerbangan kurang lebih delapan atau sembilan jam, mereka banyak tidur ketika bosan atau memesan makanan pada pramugari yang menawarkan.
Setelah mendarat, ketiga orang langsung menuju hotel dengan mobil yang dipesan dari hotel tempat mereka akan menginap. Semua pengaturan atas usul Diza dan Bram yang memiliki beberapa investasi di wilayah ini. Ben maupun Railene tidak menolak dan dengan murah hati menerima kebaikan kedua orang tuanya. Mereka sudah bersyukur jika diizinkan berangkat sendiri dan hanya bisa menerima pengaturan itu.
Dari bandara Internasional Velana, mereka menuju Hulhumale dan menginap di Airport Beach Hotel dengan pemandangan pantai yang menakjubkan. Tempat itu juga terkenal dan merupakan tempat yang sering dikunjungi wisatawan. Railene sendiri berencana bersantai selama sehari sebelum menemui Master Hacker yang diperkenalkan oleh Selena.
...
Di malam hari, Railene duduk bersandar di kursi hotel dan memandang keluar. Pemandangan malam di Maldives sangat indah dan dapat dilihat banyak orang bersenang-senang sepanjang tahun di tempat ini. Railene tidak berniat untuk mengunjungi tempat-tempat itu karena pernah mengalaminya dulu. Meskipun itu untuk perjalanan bisnis, sesekali dia berlibur dan menghela napas sejenak.
Di depannya saat ini ada laptop kecilnya, mengisi beberapa koordinat yang dimaksudkan dalam surat Selena. Inchara di sampingnya duduk dan ikut melihat-lihat. Mereka tidak melakukan banyak hal kecuali melacak titik koordinat yang ditentukan.
Beberapa menit berlalu dan Railene menemukan titik temu di dua koordinat yang berdekatan. Namun, itu masih jauh dibandingkan jarak rumah antarkompleks di lingkungannya. Railene menentukan jarak dan memang tepat di dekat hotel yang akan mereka datangi besok.
__ADS_1
"Kak Selena bilang dia orang tua yang merepotkan, tapi wilayah tempat tinggalnya agak janggal. Apa dia benar-benar orang tua?" Tanya Railene dengan heran.
Meskipun dia melihat penampilan sosok master itu dari ingatan Selena, tapi itu sudah beberapa tahun yang lalu. Karakter seseorang yang eksentrik mudah sekali berubah dan aneh jika polanya tetap sama. Tapi, dari tempat tinggal yang didapatkan Railene, dia tidak yakin bagaimana sifat dari orang ini.
Jika disebut tua, itu tidak tepat. Pasalnya dia bertempat tinggal di dekat wilayah dengan aktivitas malam tinggi dan terkenal sebagai tongkrongan anak muda dari berbagai kalangan. Semua jalan dan gang-gang yang rawan dengan kejahatan tapi menjadi tempat terseru sepanjang tahun di pulau ini. Biasanya orang tua selalu menghindari tinggal di tempat-tempat berisik seperti ini, apalagi dari deskripsi Selena, orang tua ini agak pemarah dan pendek emosi.
"Apa mungkin itu seperti tempat rahasia yang orangnya tinggal di bawah tanah?" Tanya Railene mulai berspekulasi dengan semangat. Agak menyenangkan untuk menemui hal-hal seperti novel di dunia nyata.
"Orang tua ini mungkin banyak gaya," ujar Inchara ikut berkomentar.
"Mungkin. Gimanapun, aku bakal belajar dari dia. Semoga orang ini nggak terlalu aneh. Akan menyebalkan punya guru yang punya sirkuit otak yang beda," kata Railene setelah menutup laptopnya.
Dia masuk ke kamarnya sendiri dan melihat kopernya yang utuh di sebelah kursi dan meja dalam kamar. Dia mengambil ponselnya dan melihat pesan beberapa temannya yang baru mendapat kabar bahwa dia pergi berlibur. Tentu saja itu hanya Arkan, Archi, dan Lu Shizu. Railene memang tidak memberitahu ketiganya bahwa dia akan pergi tiba-tiba.
Inchara duduk di atas tempat tidur dan memainkan beberapa ornamen unik di sekitar kamar hotel. Gadis itu sepertinya hanya menaruh penasaran kepada hal-hal atau benda asing yang baru ia temui.
Railene menelepon Arkan yang otomatis menelepon rumah keluarga Kinoka.
Dalam satu detik langsung dijawab disusul dengan teriakan heboh Arkan.
"Railene kenapa kamu pergi liburan nggak ngajak akuu!"
Railene menjauhkan ponsel sejenak dan tersenyum enggan. "Kamu berisik dan liburan ini nggak cocok buat kamu." Railene membalas dengan nada santai yang kejam.
__ADS_1
Terdengar seru-seruan sejenak. "Aaah, kamu jahat banget. Apa kamu diajarin Ben suoaya durhaka sama kakak baptismu? Awas kalian pulang dapet hukuman!" Arkan meraung dengan lebay.
Railene menggeleng kepala heran. Sejak kecil hingga remaja, Arkan sepertinya tidak pernah berubah di depannya. Kekanakkan dan sangat heboh dimana-mana. Railene hendak menjawab tapi sebuah suara lain datang. Sepertinya Archi merebut telepon dari Arkan. Terdengar suara bertengkar sejenak dan suara wibawa Archi terdengar.
"Rail, kamu berapa lama di sana?"
Pertanyaan Archi lebih normal dan Railene menjawab dengan normal juga.
"Mungkin sebulan, mungkin tiga minggu. Aku belum tau, tergantung berapa lama aku bisa menguasai pelajaran dari guru di sini." Railene menjawab. Rencana tentang belajar komputernya sudah diketahui oleh orang-orang satu gengnya sejak naskah film barunya keluar. Mereka hanya tidak tahu dimana dan dengan siapa dia akan belajar atau kapan waktunya. Baru sekarang terkonfirmasi dan tiga orang lainnya gagal merecokinya.
"Huh, itu lama." Archi membawa sedikit keluhan di dalam suaranya.
"Ada apa?"
"Kamu tau, ada lomba basket tingkat nasional dan diadakan di kampus dekat kota film. Tadinya aku mau minta tolong ke kamu buat tanding bareng anak basket perempuan. Mereka juga minta tolong soalnya ada satu anggota yang cedera." Archi menjelaskan keperluannya dan Railene menghela napas. Dia agak bertanya-tanya tentang mengapa banyak orang mencarinya untuk membantu mereka melakukan sesuatu. Mungkin ini kekurangan yang dimiliki orang berbakat. Mudah lelah karena suka dimintai sana-sini.
"Sayangnya aku nggak bisa selama empat bulan ke depan. Ada syuting setelah aku belajar komputer. Maaf," ujar Railene dengan nada yang dibuat-buat.
Archi menghela napas di seberang, sudah tahu bahwa Railene hanya berpura-pura kecewa.
***
Jangan lupa like dan komentar.
__ADS_1
Have a nice day!😊