
Railene cukup antusias menyambut latihan perdananya. Di masa lalunya, dia hampir tidak pernah menyentuh bela diri dan segala macam pelajaran yang membutuhkan banyak kekuatan. Ada banyak bodyguard yang ditempatkan dimana pun ia bepergian. Dia tidak bebas berjalan-jalan. Orang-orang akan segera menjauhinya dan menganggapnya nona muda dari keluarga yang tidak bisa disinggung.
Itu cukup merepotkan. Railene tidak mau dipandang dengan cara yang sama. Meskipun sekarang keluarganya juga merupakan seorang taipan, tapi mereka tidak berlebihan dan bahkan cenderung memiliki kehidupan pribadi yang terbuka. Semua orang tahu keluarga harmonisnya. Ada beberapa bodyguard, tapi itu khusus acara tertentu. Itulah yang membuat Railene bersemangat belajar bela diri.
Saat ini ia dan Ben ada di mobil yang sama. Itu adalah jemputan Railene awalnya, Ben menumpang hanya karena tujuan mereka sama. Bocah berkacamata itu juga sudah meminta sopirnya untuk tidak menjemputnya karena akan bersama Railene.
Dalam perjalanan, Ben menjelaskan apa yang diminta Railene. Tentang lingkungan berlatihnya, orang-orang di dalamnya, dan bagaimana jadwal mereka diatur dalam latihan selama periode tertentu. Para pelatihnya juga merupakan profesional yang berpengalaman.
Ada beberapa kelas yang dipisahkan berdasarkan usia dan tingkatan sabuk. Railene masih sabuk putih alias pemula. Ia akan belajar bersama teman-teman seusianya atau yang lebih tua sedikit. Tidak banyak anak seumurannya yang belajar di tempat pelatihan. Rata-rata mereka yang belajar di masa muda akan menyewa pelatih untuk berlatih pribadi di halaman belakang rumah mereka. Kebanyakan dari mereka adalah tuan muda atau nona muda keluarga yang memiliki kekayaan berlebih.
Awalnya Diza akan melakukan itu untuk Railene. Tapi gadis kecil itu menolak karena ingin memiliki teman dan bertanding di kejuaraan yang akan diadakan setiap tahun. Mungkin, jika ia beruntung dan memiliki waktu luang, ia akan memulai karirnya di bela diri. Bagaimanapun ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melakukan segala yang ingin ia lakukan selagi masih muda. Ia akan berhenti main-main dan mulai fokus pada satu hal ketika dia sudah dewasa atau mungkin remaja.
"Untuk pemula, biasanya pelatih akan memintamu melakukan hal melelahkan. Apa kamu suka olahraga?" Tanya Ben mulai sebagai senior rendah hati Railene.
Railene mengangguk. "Aku suka olahraga. Setiap minggu Bunda sama aku lari di sekitar rumah," ujar Railene.
Ben berkerut sebentar sebelum mengangguk mengerti. Ia ingat rumah Railene memang sangat besar. Itu hampir seperti istana dengan taman bunga dan rumah kaca yang subur. Halamannya luas dan ada banyak fasilitas mewah yang menjamin kesejahteraan hidup Railene. Jadi, ketika Railene bilang bahwa ia hanya berolahraga di sekitar rumah, ia percaya bahwa itu cukup. Bahkan sangat-sangat cukup. Sekarang ia yakin Railene tidak akan mudah kelelahan.
"Itu bagus. Ketika menjadi pemula, kamu nggak akan langsung diajarin jurus. Tapi kamu perlu membangun dasar-dasar kekuatan karate. Kuda-kuda misalnya, dan masih banyak lainnya," ujar Ben menjelaskan.
Railene mendengarkan dengan seksama. Ini benar-benar hal baru baginya. Untuk kali ini ia akan mendengarkan Ben dengan sungguh-sungguh. Ia tidak ingin bertindak konyol dan menjadi memalukan ketika baru memulai latihan.
__ADS_1
Keduanya mengobrol, atau lebih tepatnya Railene bertanya dan Ben menjelaskan panjang lebar. Sopir keluarga Railene tersenyum kecil mendengarkan percakapan dua anak kecil di bangku belakang. Ia sudah bekerja dengan keluarga Aristokelly selama bertahun-tahun semenjak kelahiran Railene. Untuk ke sekian kalinya, ia melihat nona mudanya sangat tertarik belajar bela diri. Mungkinkah nona muda akan menambah daftar keahlian baru setelah musik dan seni? Pikirnya.
Mobil yang membawa Railene dan Ben akhirnya sampai di pelataran gedung tempat berlatih. Railene menatapnya dengan antusias. Ia ingat terakhir kali bersemangat seperti ini adalah ketika ia meminta Bundanya untuk membuatnya belajar lima jenis alat musik. Itu sudah dua tahun lalu. Dan dengan kemampuan itu dia sudah sering tampil di perlombaan hingga menjadi juara bertahan. Namanya dikenal oleh beberapa pemusik dan juri orkestra.
Sekarang dia merasakan perasaan bersemangat yang sama. Akankah ia menguasai karate dan bertanding suatu hari nanti? Ia sedikit menantikannya.
Keduanya masuk ke dalam gedung ditemani seorang bodyguard yang paling dekat dengan Railene. Railene memanggilnya Paman Tam. Seorang pria berusia dua puluh lima dengan struktur wajah tegas namun memiliki pandangan yang lembut hanya kepada Railene. Wajahnya tampan dan cukup untuk membuat perempuan manapun menolehkan kepala dua kali hanya untuk melihatnya lagi.
"Nona, ini adalah seragammu," Paman Tam memberikan sebuah setelan putih dengan tali sabuk putih kepada Railene. Railene menerimanya dengan berbinar.
Setelah memasuki gedung, mereka sampai di lapangan latihan. Masih banyak yang belum datang dan Railene buru-buru pergi mengganti baju setelah ditunjukkan toilet ganti untuk perempuan oleh seorang senior pembantu pelatih yang juga seorang perempuan.
"Chara, gimana penampilanku?" Railene meminta pendapat pada Inchara yang ia ingat sudah bisa melihat visual dunia luar dan bicara padanya melalui batin.
Beberapa detik hening sebelum sebuah suara mengudara.
"Kamu terlihat keren. Tapi itu lumayan kebesaran untuk tubuhmu. Kenapa kamu kecil sekali?"
Railene berdecak gemas. Nada Inchara tidak merendahkannya, namun ia merasa kesal karena isi perkataan Inchara. Ia sadar bahwa tubuhnya tidak mengalami banyak perubahan selain tinggi badannya yang bertambah beberapa centi. Tapi itu masih belum cukup. Railene bahkan masih dibawah 125cm. Ia tertekan karena tubuhnya kecil dan wajahnya tidak jauh berbeda dari saat usianya lima tahun. Ia sama saja seperti bayi bau susu.
Orang-orang juga sering mengira bahwa dia adalah anak kecil berumur tidak lebih dari enam atau lima tahun. Itu menjengkelkan karena ia sekarang sudah berumur delapan tahun. Dia tidak terima karena sering diremehkan dan disuruh tidak ikut campur dalam hal-hal yang sudah seharusnya ia lakukan.
__ADS_1
"Apa aku mengatakan hal yang salah? Kenapa wajahmu kesal?" Suara Inchara kembali terdengar.
Railene menghela napas tipis. Menyerah pada kenyataan dan menormalkan wajahnya. Ia harus sabar karena memiliki teman yang lebih tidak peka dari laki-laki.
"Nggak papa, Chara. Aku suka seragam ini. Ini emang keren," ujar Railene menahan dirinya sendiri untuk menyentil kening Inchara. Ia ingat Inchara masih belum memiliki wujud. Jadi ia harus menahannya sampai Inchara sudah memiliki bentuk dan tubuh yang solid.
"Aah!" Tiba-tiba Inchara berteriak.
Railene mengangkat alis, "Ada apa?"
"Tidak tahu. Tiba-tiba aku merasa dingin di belakang. Aku juga hampir bersin."
Sudut bibir Railene berkedut. Apakah bahkan eksistensi yang hanya berbentuk suara bisa merinding dan bersin ketika sedang disumpahi seseorang? Ia merasa Inchara menjadi lebih manusiawi akhir-akhir ini. Dan bagaimana caranya dia bersin?
"Apa kamu udah punya hidung?" Tanya Railene dengan nada datar yang sedikit sangsi. Ia meragukan banyak hal tentang Inchara.
***
Untuk sementara satu bab per hari, hehe. Kalau luang dan punya banyak ide saya pasti update banyak kok.
Jangan lupa like dan komentarnya. Terima kasih untuk yang masih setia menunggu dan membaca cerita ini. 😊
__ADS_1