Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
94. Mencurigakan


__ADS_3

"Oke," kata Railene singkat. Dia tiba-tiba menjadi penasaran tentang tujuan Alan datang kepadanya.


Keduanya duduk di sofa lobi. Tidak ada yang duduk selain mereka, beberapa orang yang lalu lalang tidak terlalu ramai dan cenderung jarang. Hanya ada satu resepsionis di meja yang sesekali melirik ke arah mereka.


Railene duduk di sofa tunggal dan Alan duduk di sofa di sampingnya. Garis diagonal terbentuk dan Alan menghadap Railene untuk bicara. Dia sejujurnya merasa agak gugup dan kaku untuk pertama kalinya ketika bicara dengan seseorang. Apa lagi gadis secantik Railene yang sudah diklaim sebagai adik perempuan nasional para pemuda di seluruh jaringan. Atau mungkin pacar nasional mereka.


"Apa yang mau Kakak bicarakan?" Tanya Railene ketika melihat Alan tidak kunjung bicara. Dia peka terhadap perubahan suasana dan sekilas melihat sedikit kegugupan di mata pemuda itu. Railene ragu sejenak dan menganggapnya tidak serius.


"Sebelumnya, aku dapat titipan dari seseorang dan ini mungkin berhubungan denganmu. Aku mau memastikan sesuatu dulu," kata Alan kemudian mengeluarkan ponselnya dan mengetuk sebuah gambar di galerinya. Itu adalah simbol.


Alan menunjukkan gambar itu kepada Railene, "Apa kamu punya benda dengan simbol kayak gini?" Tanya Alan sambil memperhatikan ekspresi Railene dengan gugup.


Raut wajah Railene tidak berubah dan tetap agak acuh tak acuh, tapi ada kilatan heran di matanya. Railene mengamati gambar itu sekilas dan dapat mengenalinya secara langsung. Simbol itu adalah gambar yang sama di ukiran kalung dari ibu kandungnya dan gelang yang ia dapatkan beberapa waktu lalu. Jejak keraguan muncul di matanya dan dia tidak segera menjawab.


Pertama, Railene melihat ekspresi Alan dan mempelajari apa tujuan pemuda ini menanyakan hal seperti simbol rahasia ini. Railene hanya dapat melihat jejak antisipasi dan gugup di mata pemuda itu dan merasa tidak yakin sama sekali tentang apa hal yang dinantikan oleh Alan. Dia ingin sekali mengetahui isi pikiran pemuda itu untuk mengonfirmasi tujuan pihak lain menanyakan hal itu. Juga, bagaimana Alan mengetahui simbol itu, Railene ingin tahu. Sayangnya pemuda itu tidak dapat dipengaruhi untuk dibaca pikirannya.


Dia berdiskusi cepat dengan Inchara dan segera menekankan beberapa kesimpulan dasar. Tanpa melewatkan ekspresi mikro Alan, Railene dapat mengenali beberapa petunjuk. Alan mencarinya kemungkinan besar sebagai misinya untuk mencari barang-barang dengan simbol itu. Railene tidak tahu untuk apa, tapi dia bisa menebak dua hal mendasar. Alan mencari pemilik barangnya atau Alan mencari barang tersebut.


"Chara, kemungkinan mana yang lebih mungkin?" Tanya Railene retoris. Dia sudah memutuskan salah satu dan dia hanya ingin mendengar kenyamanan dari persetujuan Inchara.


"Dia mungkin mencari barang dengan simbol itu. Sebelumnya, waktu pertama kali kita bertemu dengan orang ini, dia melihat kalung yang kamu pakai." Inchara menambahkan informasi yang membuat Railene semakin percaya dengan idenya.


Dia mungkin tahu bahwa Alan memiliki dua kemungkinan lain ketika mencari barang dengan simbol itu. Itu bisa jadi karena pemuda itu menginginkannya atau bisa jadi sebuah penentu identitas yang dia cari. Railene sudah lama tahu bahwa simbol ini bukan sekedar simbol biasa. Ini memiliki hubungan dengan ibu kandungnya dan misteri yang dibebankan padanya sebagai Orang Pilihan. Sekilas Railene bertanya-tanya tentang apa hubungan Alan dengan simbol ini. Kenapa dia bisa tahu simbol yang dia yakin adalah bagian dari misteri tentang identitasnya.


Railene tidak yakin, tapi untuk saat ini dia memilih untuk menyembunyikannya. Dia tidak mengenal Alan dan tidak tahu latar belakang maupun tujuannya. Ada hal baik dan jahat di dunia ini. Railene memilih untuk menjadi waspada dan berpura-pura tidak mengenali simbol itu. Dia tidak bisa memprediksi dan mempercayai Alan.

__ADS_1


"Aku nggak tau. Apakah ini simbol sesuatu?" Tanya Railene dengan aktingnya yang sempurna.


Railene mengangkat kepalanya dengan wajah normal tanpa fluktuasi. Dia melihat Alan mengerutkan kening dan tampak ragu. Diam sejenak, Alan masih belum menyerah.


"Ini simbol yang penting. Sebelumnya, aku liat itu di liontin kalungmu, makanya aku tanya. Juga, buat memastikan sesuatu, boleh aku liat liontin kalung yang kamu pakai?" Alan sangat langsung dan Railene menjadi semakin yakin dengan tebakannya.


Namun, dia sangat tenang saat ini. Dengan telepati, Railene meminta Inchara untuk memunculkan ilusi pengubah bentuk simbol di liontin kalungnya. Dia tidak bodoh dan polos untuk menunjukkan kalungnya apa adanya. Ada hal-hal yang harus dan lebih baik disembunyikan untuk saat ini.


Railene setuju setelah setengah detik kalungnya berubah bentuk. Dia mengeluarkannya dan menunjukkan itu kepada Alan. Alan melihat bentuk simbol huruf R dengan gaya seni kuno di liontin kalung Railene dan menghela napas kecewa. Itu hampir mirip dengan simbol yang dia maksud, tapi itu berbeda sama sekali. Sebulan yang lalu, dia melihatnya sekilas dan tidak dapat memastikannya.


Meskipun dia berkata dan mensugesti dirinya sendiri untuk yakin dan bahkan memberitahu Gery dengan mantap, Alan masih memiliki keraguan. Dia tidak yakin dan merasa itu ilusi singkat karena rasa frustrasi setelah sekian lama mencari keberadaan orang dengan perhiasan bergambar simbol itu. Dan hari ini, dia menjadi percaya bahwa yang ia lihat sebulan lalu di kantor Jack memang sebuah ilusi semata. Faktanya, Railene bukan orang yang dicari karena kalungnya memiliki simbol berbeda dan sekilas memang agak mirip.


"Apa ini kalung yang kamu pakai sebulan lalu?" Tanya Alan dengan jejak harapan terakhir.


Mendengar ini, Alan menjadi semakin putus asa. Dia menghempaskan punggungnya ke sofa dengan menghela napas panjang penuh kekecewaan. Di mata Railene, itu terlihat menyedihkan dan dalam kesannya terlihat seperti orang yang baru saja dicampakkan. Untungnya wajah tampannya menyelamatkan postur tubuhnya yang putus asa.


Railene berkedut di sudut bibirnya ketika melihat ini. Tidak yakin apakah harus menangis atau tertawa. Sejujurnya, Alan terlihat agak menyedihkan saat ini.


"Kenapa, Kak?" Tanya Railene dengan sengaja dan berakting polos.


Alan menggelengkan kepalanya dan melihat Railene, "Cuma bisnis pribadi. Ngomong-ngomong makasih udah meluangkan waktunya," katanya dengan tulus. Kali ini tidak ada udara aneh maupun antusiasme yang sebelumnya dia pancarkan.


Railene merasa agak lega dan semakin mencurigainya. Dia berniat pamit dan akan langsung pulang. Tapi, Alan kembali menghentikannya dengan alasan lain yang menurutnya agak tiba-tiba.


"Tunggu Railene, bisa minta foto bareng?" Tanya Alan dengan wajah memohon.

__ADS_1


Railene tidak tahu sebelumnya bahwa laki-laki seperti Alan akan meminta foto dengannya. Bagaimana pun, sejak awal Alan bukan penggemarnya. Dia merasa aneh saat ini.


"Itu untuk temanku. Bukti," ujar Alan dengan cepat seolah ingin menghindari kesalahpahaman. Railene tidak mengatakan apa-apa dan mengangguk. Lagi pula, setelah ini mereka akan bekerja sama, tidak masalah bersikap ramah dengan rekan kerja.


***


Chit Chat Rebirth:


Alan : Aku nggak nyangka Railene bakal bohong dan bikin aku harus menunda misi lagi dan lagi. Hiks..., sayangku... kamu jahat.


Railene : Kak Yuchi, kamu dapetin orang ini dimana sih? Kenapa juga harus ditambahin jadi tokoh yang mungkin jadi pasanganku. Liat dia, norak banget! (berbisik)


Saya : Nemu di jalan. Dia mau dibayar murah, makanya saya setuju.


Railene : (menatap tidak percaya) Kak Yuchi, apa kru kita bener-bener miskin? Kamu bahkan nggak bisa bayar aktor dengan biaya mahal sekarang.


Saya : Railene, terkadang pemborosan properti lebih mahal dari gaji aktor. Kamu harus menerima kenyataan ini. (mengambil semangka dan berlalu)


Railene : ....


***


Jangan lupa like dan komentar.


Have a nice day!😊

__ADS_1


__ADS_2