
"Halo, Kak Clau!"
Yang dipanggil menolehkan kepalanya. Melihat sosok gadis cantik yang imut itu berjalan ke arahnya dengan senyuman menawan, membuat Claudya mengerutkan dahi. Membenci situasi dimana kehadiran Railene di sekitarnya begitu mengganggu dirinya.
"Jangan mendekat!" tegas Claudya tidak membuat Railene berhenti berjalan.
Ia semakin mendekati Claudya hingga membuat gadis itu melotot horor. Railene sedikit terkikik di hatinya namun tidak mengubah ekspresi wajahnya yang ceria. Dia sampai di depan Claudya dan tersenyum makin lebar.
"Hai, boleh aku main bareng Kak Clau?"
Claudya melotot ke arah Railene dengan tidak suka. Gadis itu bahkan mendorong Railene menjauh. Wajahnya sedikit memerah karena amarah.
"Cuma anak kecil kayak kamu yang mikir hukuman itu cuma mainan. Pergi!" usir Claudya namun tak membuat Railene berkutik. Gadis kecil itu meskipun terdorong mundur, dia tidak menyerah.
"Kenapa Kak Clau dihukum? Apa Kak Clau membuat kesalahan?" Tanya Railene seolah tak tahu apa yang terjadi. Wajahnya yang polos mengerut bingung dan cemas.
Claudya memandangnya sejenak. Terpaku pada kilatan manis yang muncul di mata Railene. Hanya sebentar sebelum dia mengalihkan pandangan dan mendengus dengan garang.
"Bukan urusanmu!" Balas Claudya dengan wajah yang menyiratkan betapa terganggunya dia karena Railene.
"Aku kan tanya. Kak Clau dari tadi main menyusun buku. Aku pikir Kak Clau lagi main," ujar Railene polos.
Matanya mengerjap lucu. Dia terlihat sangat manis dan menggemaskan. Claudya di tempatnya menjadi merinding. Tiba-tiba ia memilki keinginan untuk menjelaskan kepada Railene. Namun, ia segera lebih marah lagi karena hampir saja terpesona pada sikap gadis di depannya.
"Buat apa mainan nyusun buku kalo aku lebih butuh belajar di kelas! Kamu cuma bisa ganggu, pergi!" Claudya menjadi lebih galak. Suaranya naik satu oktaf.
"Aku mau nemenin Kak Clau main. Kak Clau kan baik, Kak Clau selalu biarin aku main keluar kelas. Aku berterima kasih. Tapi, kan sekarang aku nggak sendiri. Aku bisa main sama Kak Clau!" penampilan Railene yang seperti itu membuat Claudya melotot makin horor.
Dia baru mengerti satu hal mengapa Railene malah tampak bahagia ketika diusir keluar kelas. Gadis kecil itu berpikir dengan cara yang aneh. Alih-alih mengatakan bahwa semua itu adalah hukuman, gadis kecil itu malah menganggapnya sebuah permainan.
__ADS_1
Claudya segera memahami kesalahpahaman ini. Dia menatap Railene aneh. Menyelediki kebohongan di wajah gadis itu. Sayangnya mata itu terlalu jujur. Railene dengan pemikirannya yang absurd itu benar-benar bermain sepanjang waktu ketika dia dikeluarkan dari kelas.
Tiba-tiba dia menjadi lebih kesal. Tujuannya untuk membuat Railene marah selalu gagal karena hal ini. Dan dia terus melakukannya selama bertahun-tahun. Membuang usahanya kembali sia-sia. Ia melihat Railene dengan kebencian yang semakin menjadi.
Sekarang ia melihatnya seperti gadis itu sedang berakting. Wajahnya yang polos dan sorotnya yang jujur membuatnya merasa diejek. Sebelumnya ia senang dengan fakta Railene dikeluarkan dari kelas untuk hukuman. Namun, ia tidak menyangka bahwa yang sebenarnya terjadi adalah ia yang membiarkan Railene menjadi sebebas burung. Ia merasa sangat kesal.
"Kamu!" Claudya sangat marah sampai kehabisan kata-kata. Rasanya ia sangat ingin mencakar wajah Railene.
"Kak Clau kenapa? Apa Kak Clau nggak suka main sama aku? Padahal kata kakak-kakak yang lain mereka suka main sama aku," ujar Railene menunduk. Memprovokasi dengan kalimat yang semakin membuat Claudya marah.
Benar. Alih-alih dibenci, Railene malah mendapatkan seluruh perhatian kelas karena mengkhawatirkannya. Sedangkan Claudya, mendapat tatapan marah karena membuat Railene dikeluarkan dari kelas. Bahkan Ben menjauhinya dengan sikap dingin. Claudya merasa diejek.
Dia menatap Railene nyalang. Gelegak amarahnya sangat membara. Tanpa menahannya, Claudya menuju Railene dan bertindak menghajarnya.
"Kamu harusnya mati!"
Tangan Claudya mencekik leher Railene. Dia mendorong Railene hingga ke tumpukan rak buku. Railene berteriak keras sebelum tertahan dan merasakan sakit di lehernya. Dia menatap Claudya dengan wajah memohon. Mulai kesulitan bernapas.
"Kak... Clau... lep.. as!" Railene terbata dengan wajahnya yang mulai pucat. Ia menghirup udara sebisanya namun tidak bisa masuk dan dia merasa sangat sesak.
"Nggak! Aku benci banget sama kamu!" Claudya berkata dengan bengis.
Railene hampir pingsan ketika mendengar sebuah teriakan dari ujung lorong. Ia terjatuh dan batuk. Dengan segera menghirup udara sebanyak-banyaknya. Suara di sekitarnya berdengung, namun ia bisa melihat beberapa guru dan siswa datang ke arah mereka.
Setelah itu Railene benar-benar pingsan. Cengkeraman Claudya tidak main-main. Itu meninggalkan bekas merah keunguan di leher putih Railene. Membuat gadis itu hampir patah tulang lehernya. Kemarahannya sangat besar dan Railene sendiri cukup terkejut dengan tindakan Claudya.
Dia dibawa ke ruang kesehatan sementara Claudya segera digiring menuju kepala sekolah dan beberapa guru dipanggil. Diza, Jean, dan orang tua Claudya dipanggil. Dalam waktu satu jam rapat dadakan itu diadakan dengan serius.
...
__ADS_1
"Bagaimana bisa anak sekecil Railene dicekik hingga hampir mati! Saya tidak akan pernah menganggap ini hanya kenakalan biasa. Pak, mohon kebijakansanaanya! Sama mau anak ini dikeluarkan dari sekolah. Dia tidak bisa dibiarkan tinggal karena terlalu kasar!" Diza berkata dengan dingin. Wajahnya yang cantik tak tersentuh, matanya sangat beku hingga meninggalkan gelenyar dingin di punggung orang-orang yang hadir.
Diza telah melihat Railene di ruang kesehatan. Dia langsung datang di panggilan pertama kepala sekolah. Meluncur ke sekolah dan untung saja itu bertepatan dengan jam praktiknya yang sudah selesai.
Diza sangat sedih melihat Railene. Amarahnya memuncak setelah melihat bekas cekikan di leher putih Railene. Dia berjanji tidak akan melepaskan pelakunya begitu saja. Railene, adalah putrinya yang ia jaga dengan sangat hati-hati. Bahkan sekalipun dalam hidupnya, ia tidak pernah menyakiti Railene secara fisik maupun mental. Dan orang lain dengan keberanian yang entah datang darimana, malah membuat Railene begitu menderita. Diza tidak bisa mentolerirnya
Jean juga datang setelah dia dihubungi kepala sekolah. Dia sangat cemas dengan keadaan Railene hingga tanpa peduli rapat masih berlangsung, perempuan itu sudah melajukan mobilnya menuju sekolah. Wajahnya sangat kaku sekarang. Dia memandang Claudya dan kedua orang tuanya dengan pandangan mengerikan.
"Baiklah, mari kita dengarkan penjelasan Nak Claudya dulu. Mengapa dia bertindak seperti itu. Claudya, bisa kamu jelaskan?" Kepala Sekolah memang terkenal bijak. Dia tidak suka menjilat atau bersikap bias terhadap seseorang yang tidak memiliki kekuatan materi. Dan meskipun dia dihadapkan pada Jean sang pemilik sekolah serta Diza sang dokter yang memiliki reputasi sangat baik di rumah sakit, ia masih bersikap tenang.
Claudya yang ditanyai sangat gugup. Ia hampir menangis sekarang dan menyesali tindakan impulsifnya. Sayangnya sangat terlambat untuk menyesal sekarang. Alih-alih menghindari masalah, ia malah membawa keluarganya terseret kasusnya. Ia merasa sangat-sangat buruk.
***
Chit Chat Rebirth:
Railene : Kak Clau, kenapa jahat banget sih! Ini akting lohh, akting! Kenapa aku dicekik beneran!
Claudya : Ya maap. Kan sesuai naskah. Aku kan cuma menghayati.
Diza : *tak* Kalo Railene mati, kamu yang saya bunuh ya!
Claudya : Ya tuhan..., maap tante...
Saya : Sudah. Lebih baik kita menuju adegan selanjutnya. Yok!
Railene : Kak YC terlalu bias. Kenapa aku nggak dikasih keadilan hiks.
Saya : Rail, apa gajinya terlalu banyak? Kamu akting dengan sangat baik. Terlalu baik. Itu mengerikan. Haruskah aku mengurangi gajimu sedikit?
__ADS_1
Railene : Oke, mari lanjutkan adegan teman-teman.
Saya dan semua : ...