
Railene duduk tegak dengan kacau. Rambutnya yang halus berantakan, beberapa jejak air mata di pipinya membuatnya terlihat seperti gadis cantik dengan kesedihan. Butir air yang tersisa di matanya membasahi bulu matanya. Kecantikan yang sedih dan mudah membuat luluh setiap orang yang melihatnya.
Di depannya berdiri gadis kecil lain dengan tinggi badan yang sama seperti Railene. Rambutnya abu-abu keperakan dengan fitur wajah imut. Kulit dibalik gaun sederhananya seputih giok. Halus dan jejak kelembutan susu membuatnya terlihat indah. Matanya sejernih air tenang berwarna kelabu gelap. Ada sebuah tanda di keningnya dengan garis halus seperti tato putih berbentuk abstrak. Menambahkan aura magis dan sejenak Railene bisa menghubungkannya dengan peri kecil.
Gadis kecil itu kini memandang Railene dengan bingung. Alisnya fleksibel membentuk garis lengkung yang cantik. Railene terpesona sesaat. Meskipun keindahan ini tidak melampaui kecantikannya sendiri, Railene belum pernah melihat gadis yang secantik dan selaras keidahannya seperti gadis di depannya.
"Kamu... Chara?"
Tanya Railene tanpa memperhatikan penampilan cantiknya yang berantakan.
"Ini aku, apa kamu baik-baik aja? Kenapa kamu nangis?"
Sosok gadis yang mengaku sebagai Inchara mendekati Railene dan mengusap pipinya dengan lembut. Menghapus air mata di pipinya. Railene membiarkannya dan tertegun. Inchara beralih merapikan rambut Railene dengan kelembutan.
"Ini kamu?" Tanya Railene lagi memastikan.
Dia memegang telapak tangan Inchara yang sejuk dan nyaman. Memastikan bahwa orang di depannya nyata dan merupakan eksistensi yang dia tunggu sejak seminggu ini. Railene belum pulih dari keterkejutannya dan perlahan mencerna keadaan.
"Ini aku, Inchara," kata Inchara lagi. Tanpa jejak ketidaksabaran dan masih ada senyum cerah di wajahnya.
Railene turun dari tempat tidur, menyeret Inchara berdiri tegak lalu memutarinya dua kali. Sampai di depannya lagi, Railene mengulurkan tangannya di pipi Inchara. Dia mencubit-cubitnya dengan ringan dan masih dengan ekspresi heran. Inchara berdiri bingung tapi tidak menyingkir. Dia bahkan menyerahkan dirinya untuk disentuh-sentuh Railene yang penasaran.
"Kamu beneran jadi manusia? Gimana kamu muncul? Terus kenapa waktu itu kamu hilang seminggu?" Tanya Railene bolak-balik sambil mengguncang bahu Inchara.
"Aku jadi manusia. Aku dikirim ke sini sama orang yang selalu ngasih informasi ke aku di padang rumput. Aku pingsan dan baru bangun tadi," kata Inchara menjawab satu per satu pertanyaan Railene dengan polos.
Railene mengangkat alisnya bingung. Kemudian menyeret Inchara lagi untuk duduk di atas tempat tidurnya. Siap menginterogasi dan menerima jawaban yang selama ini dia ingin ketahui.
__ADS_1
"Ceritakan lengkapnya!" katanya dengan serius.
Kemudian selama satu jam keduanya berbicara secara tanya jawab. Railene bertanya banyak dan Inchara menjawab lebih banyak. Tapi tampaknya itu masih harmonis, Inchara juga tidak terlihat terganggu dengan semua pertanyaan Railene. Tidak ada sentuhan emosi kesal di wajahnya. Bagaimanapun Inchara bukan manusia sejati dengan emosi kompleks. Dia masih bayi lima tahun yang hanya dipengaruhi pikiran Railene yang rumit.
Inchara sendiri bercerita bahwa seminggu yang lalu, ada sosok yang datang padanya dan mengaburkan pandangannya. Dia pingsan dan merasa bermimpi dalam tidurnya. Dia tidak tahu proses apa yang terjadi dan berapa lama waktu berjalan, ketika bangun, dia sudah melayang di sisi tempat tidur Railene, melihat Railene menangis. Dia langsung turun dan bertanya pada Railene seperti yang dilihat Railene pertama kali.
Namun, Inchara datang bukan tanpa informasi. Sosok yang mengirimkannya ke sini memberinya sebuah tanda di dahinya yang memiliki fungsi pengetahuan yang perlu diketahui oleh Orang Pilihan. Sebagai Penunjuk Jalan Railene, Inchara memberitahu Railene tentang apa yang bisa diketahuinya saat ini dan menyimpan yang belum bisa diketahui oleh Railene.
"Petunjuk untuk buku Ghost Gypsy yang kedua terletak pada kunci di dalam sampul buku pertama. Kamu harus membuka sampulnya dengan kekuatan mental atau temukan petunjuk dari penyerapan pengetahuan di buku. Kamu udah jarang pakai kekuatan menyerap pengetahuan dari buku langsung, haruskah kamu latihan lagi?" Inchara menjelaskannya dengan tepat.
"Aku nggak tau. Apa petunjuknya hanya buat nemuin kuncinya?"
"Iya. Ada kunci buat membuka petunjuk kedua. Itu berbentuk motif rune di dalam sampul buku pertama."
Railene terdiam dan menoleh ke rak buku terdalam di kamarnya. Dia berjalan dan mengambil buku Ghost Gypsy pertama yang belum dia kembalikan sejak diambil saat itu. Dia membuka sampulnya dan meraba di dalamnya, ada beberapa tonjolan halus yang tidak Railene perhatikan sebelumnya. Meskipun bukunya tidak berat, sampulnya keras dan seperti memberi beberapa milimeter ruang di dalamnya.
"Kayaknya belum bisa. Aku belum cukup kuat," kata Railene dengan helaan napas di udara.
Inchara memandanginya dengan senyum kecil. "Kamu harus latihan lagi. Ayo, sekarang saat kamu latihan, energimu akan mengalami peningkatan dua kali. Aku juga punya fungsi lain sebagai Penunjuk Jalan," kata Inchara dengan polos dan riang.
Railene mendongak dan bertanya penasaran.
"Kamu tau, aku bukan manusia sejati. Aku bisa menghilang dan muncul kapan aja. Juga bisa terbang dan jadi transparan kayak hantu. Dan cuma orang tertentu yang kamu izinkan yang bisa liat aku dalam keadaan ini. Jadi, aku setengah manusia dan setengah hantu," kata Inchara menyebutkan fungsinya dengan senang hati.
"Jadi, tubuh fisikmu benar-benar nyata atau nggak?"
"Itu nyata,"
__ADS_1
"Apa kamu juga makan dan tidur?"
"Aku tidak butuh itu, tapi bisa melakukannya kalau aku mau,"
"Kalo kamu nggak tidur atau makan, apa kamu jadi lemah?"
"Tidak. Aku mendapatkan energi dari zat di udara. Selama masih ada udara, aku baik-baik aja. Oh ya, angin juga bisa memperkuat energiku."
"Wow, kamu jadi makhluk super." Railene benar-benar kagum dan berhenti memikirkan hal duniawi yang sia-sia untuk Inchara.
Dia awalnya ingin meminta Diza untuk menampung Inchara sebagai saudara perempuannya. Tapi, itu memang kurang efektif karena Inchara dan Railene menjadi terbatas gerakannya. Lagipula, jika Inchara memiliki identitas yang tidak bisa dijelaskan asal usulnya, itu akan merepotkan tugasnya sebagai Penunjuk Jalan.
Inchara juga bukan manusia sejati. Dia adalah jiwa yang dapat memadatkan tubuhnya hingga menyerupai manusia meskipun hanya bisa dilihat oleh orang yang dikehendakinya. Dia tidak bisa membiarkan Inchara terjebak dalam situasi yang berhubungan dengan manusia lain. Inchara masih lemah dalam identifikasi emosi. Dia hanya tahu bahwa Inchara hanya memiliki emosi riang, sedih, dan sisanya bingung.
"Apa kamu nggak apa-apa begini?" Tanya Railene memastikan.
"Aku baik-baik aja. Ini memudahkanku berpindah-pindah. Oh ya, aku membangun rumah di padang rumput. Kamu bisa berkunjung ke sana!" Inchara menambahkan.
"Berkunjung ke padang rumput? Gimana caranya? Lewat mimpi?"
Railene tentu saja bingung. Selain di dalam mimpi yang bisa membiarkannya benar-benar berada di sana, saat ia sadar, dia hanya bisa melihat visual padang rumput. Tidak benar-benar berdiri di sana.
"Tentu aja bisa!" Inchara tertawa kecil.
***
Hai hai, jangan lupa like dan komentar.
__ADS_1
Have a nice day!😊