Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
7. Jenius Kecil


__ADS_3

3 Bulan kemudian...


Railene sedang bermain dengan neneknya. Di sekitarnya berserakan buku kain bergambar yang bagi Railene terlalu membosankan. Ia sudah mengucapkan kata pertamanya sebulan lalu. Tepat di usianya yang ke tiga bulan. Sekarang dia sudah memasuki usia empat bulan beberapa hari. Ia mulai belajar tengkurap dan duduk.


Namun, karena pada dasarnya Railene adalah bayi yang aktif dia mulai merangkak rendah. Sesekali mengesot karena tulang dan ototnya belum benar-benar kuat. Pergerakan itu dianggap luar biasa oleh keluarganya. Mengingat bahwa Railene terlahir prematur, mereka tidak menyangka jika bayi itu berhasil tumbuh dengan kemampuan yang biasanya dimiliki oleh bayi di umur yang sedikit lebih tua.


Bahkan Railene lebih menyukai mengambil buku-buku milik bundanya dibandingkan dengan semua mainan yang dibelikan oleh mereka. Dia akan menangis jika buku yang sedang ia pegang diambil oleh orang lain. Tidak peduli bagaimana pandangan aneh orang-orang bahkan tetangganya yang suka berkunjung karena ketagihan melihat Railene. Bayi itu tidak akan menyerah dan semakin haus karena semua pengetahuan yang masuk dalam ingatannya benar-benar membuatnya ketagihan untuk mengetahui lebih banyak.


Terutama buku-buku kedokteran umum semasa Diza kuliah dulu. Itu adalah hal mendasar yang terkadang Railene membutuhkan waktu sedikit lebih lama (dua atau tiga hari) untuk memahami semua yang ada di dalamnya. Istilahnya, ia mencerna apa yang dikonsumsi otaknya. Sejauh ini dia sudah menyerap belasan buku. Dan karena daya ingatnya yang luar biasa tajam, dia berhasil menyimpan semua informasi itu di dalam otaknya rapat-rapat.


Railene juga memiliki kebiasaan baru. Dia lebih suka mengamati bundanya bekerja. Karena terkadang, Diza memilih membawa pekerjaannya ke rumah demi tidak lembur--kecuali jika ada pasien darurat. Hal ini dimanfaatkan Railene untuk menemani bundanya di ruang tamu. Dia akan diam dan anteng. Ikut melihat ke dalam laptop bundanya yang berisi laporan keuangan perusahaan kakeknya.


Jika hal itu sudah berlangsung, Diza merasa tenang karena Railene bisa dia awasi dengan mudah sambil mengerjakan pekerjaannya. Diza yang dulunya gila kerja dan hanya pulang seminggu sekali, kini menjadi orang yang paling cepat menyelesaikan absen dan pulang tepat waktu. Ia benar-benar berubah menjadi lebih baik berkat kehadiran Railene.


Di saat-saat seperti itu, terkadang Railene menunjukkan sebuah hal yang membuatnya disebut anak ajaib. Bagaimana tidak, ketika Diza melakukan salah ketik atau salah memasukkan angka ke dalam laporan bulanan, Railene akan langsung bertindak. Ia bersuara dan menunjuk-nunjuk layar laptop sampai Diza mengerti dan menyadari kesalahannya.


Di awal saat Railene melakukan itu, Diza tentu saja terdiam lama. Ia memandang Railene yang ikut menatapnya dengan polos seolah berkata "kenapa Bunda diam?". Railene tidak pernah sadar bahwa tindakannya adalah hal yang abnormal. Ia hanya terbiasa berpikir cepat, menyelesaikan masalah yang ada secepat mungkin tanpa peduli bahwa tindakannya dipertanyakan oleh orang lain.


Diza sampai benar-benar berpikir bahwa Railene sudah bisa membaca ataupun mengetahui angka-angka di usia empat bulan. Itu memang benar, tapi ada sangkalan tertentu karena dilihat dari sisi manapun, Railene hanyalah bayi berusia empat bulan yang baru bisa tengkurap dan duduk. Tingkahnya terkadang alami seperti bayi pada umumnya, tapi sering juga aneh dan tidak terduga.


Sejauh ini, Diza sering khawatir jika Railene jauh darinya. Meskipun itu hanya kekhawatiran yang tidak diperlukan. Bagaimanapun juga, saat Diza tidak sedang bersamanya, Railene akan sibuk dengan dunianya.

__ADS_1


"Railene..., kenapa kamu bisa ngerti yang bunda kerjain?" tanya Diza mengagetkan Railene.


Tapi, kemudian dia tertawa ceria "Tatata... unda.. da.. da.." ocehnya masih tidak bisa dimengerti Diza. Tapi, demi melihat wajah imut putrinya, Diza mengabaikan keanehan itu. Ia hanya bersyukur bahwa Railene ada di sampingnya dan menganggap semua itu adalah kebetulan yang selalu menyertainya.


...


7 bulan kemudian...


Railene berlarian sambil menyeret kereta mainannya yang berisi ensiklopedia dan buku-buku yang ada di rak kamar Diza. Setelah berhasil mencurinya, ia menyeretnya kemana-mana dan terus tertawa, mengabaikan kepanikan para maid yang ditugaskan menjaganya. Ada dua orang baby sitter yang menjaga Railene dan mereka harus bekerja ekstra karena putri tunggal di rumah ini sangat aktif dan pintar bersiasat. Sedangkan neneknya hanya mengawasi karena tidak kuat mengikuti Railene kemana-mana. Diza bahkan harus memasang alat pelacak di anting-anting Railene agar gadis kecil itu tidak hilang-hilangan. Karena sejak usia tujuh bulan dia sudah bisa berjalan, berproses dengan cepat hingga sering lari sendiri di usia yang ke sebelas bulan ini.


"Nona..., jangan lari-lari! Nanti jatuh," baby sitter dengan nama Mala itu terus berteriak panik ketika Railene menuruni tangga dengan berlarian.


Railene pura-pura tidak mendengarnya. Di pelukannya kini ada sebuah buku tebal, itu kamus bahasa Mandarin yang akhir-akhir ini jadi favoritnya. Ia meninggalkan sejenak seluruh ensiklopedia di kereta mainannya dan memilih untuk bersenang-senang sendiri.


"Aaah! Baba!!" Railene berteriak ketika tubuhnya terangkat di udara. Bukunya terjatuh dan ia mulai memberontak turun dari lengan kekar kakeknya yang ia panggil dengan nama kesayangan "Baba". Ini faktor kebiasaannya sejak berusia lima bulan.


"Tulun! tamusnya tatuh... Baba!" rengek Railene mulai memasang jurus andalannya. "Cuty-Shining-Eyes!" teriaknya dalam hati seperti mengucap mantra.


"Ini, kakek ambilkan. Jangan lari-lari makanya" tanpa menurunkan Railene, kakeknya memberikan buku kamus tebal itu pada Railene karena melihat wajah memelas cucunya.


"Memangnya kamu tau ini buku apa, hem?" Setelah menyuruh para maid dan penjaga Railene beristirahat, kakek Railene, Johar Wisanggeni, membawa Railene dalam gendongannya menuju ke halaman belakang yang terdapat taman kecil di sana.

__ADS_1


"Tamus Tina!" ujar Railene bersemangat. Ia sepenuhnya sudah menerima takdirnya sebagai anak balita. Jadi, ia memutuskan belajar dan bersenang-senang semaunya sendiri. Seperti anak kecil. Tak ia sangka bahwa itu sangat menyenangkan untuknya. Jadi, ia baik-baik saja dengan sifat kekanakannya itu. Jiwanya yang asli dulunya pun, memang sedikit kekanakan.


"Kamus China? Memangnya kamu udah bisa baca?" tanya Johar pura-pura menjahili cucunya.


"Hu um, Bunda batain buat Lailene." ujar Railene yang kini sudah membuka kamusnya, mencoba mengingat karakter China yang sangat rumit dan banyak. Itulah mengapa Railene membutuhkan waktu lama. Ia sudah menyerap isinya, hanya saja, ia belum menghafal dengan benar semuanya seminggu ini. Masih ada karakter yang tertukar dan terkadang ia salah mengartikan. Meski memiliki ingatan jangka panjang yang tajam dan bagus, tapi untuk mencerna semuanya dalam sekali waktu, itu membuatnya pusing.


Setelah berkutat dengan kemampuannya, akhirnya Railene tahu bahwa ia bisa mengendalikan dirinya untuk tidak asal menyerap informasi dari buku hanya karena menyentuhnya. Ia bisa mengaturnya sesuai niat. Jika ia hanya ingin melihat isinya saja, ia tidak akan menyerapnya, kecuali isinya bagus dan menambah wawasannya.


"Cucuku sangat pintar, kayaknya Baba bakal kirim kamu ke sekolah lebih cepat." ucap Johar membuat Railene menghentikan membaca bukunya. Dia menatap kakeknya bingung.


"Apakah kamu bercanda, Baba? Aku baru berusia sebelas bulan. Belum genap setahun dan kamu sudah menyuruhku bersekolah? Tidak, tidak! Hari-hari menyenangkanku baru saja dimulai dan aku harus menukarnya kembali untuk belajar semua hal yang sudah kuketahui? Aku lebih memilih pergi bersama Bunda dan latihan memeriksa kandungan orang." batin Railene yang tidak rela hari-hari damainya dengan keluarga dan semua maid hilang berganti kesibukan sekolah. Apalagi di usianya yang sekarang, hanya PAUD dan TK kecil yang bisa dimasukinya. Membayangkan dirinya bergaul bersama bocah-bocah bodoh, membuat Railene kesal. Bisakah ia langsung masuk jenjang universitas?


"Lailene nda mau" sahut Railene dengan bibir mengerucut lucu. Wajahnya yang sangat imut terlihat seperti sedang menahan tangis.


"Oh, tentu-tentu. Sekarang kamu belum bisa bersekolah. Nanti kalau kamu sudah berusia tiga atau empat tahun, baru kamu bisa masuk ke sekolah." hibur Johar tidak tega melihat wajah imut Railene yang hampir menangis.


Ia telah lama tahu bahwa cucunya memang abnormal. Sangat-sangat ajaib. Di usianya sekarang, Railene bahkan sudah banyak mengerti konsep dunia dan istilah-istilah umum yang tidak normal jika diketahui anak sekecil itu. Semua kata berawalan "seharusnya" itu tidak berlaku untuk Railene. Gadis kecil itu sudah lebih dulu mendobraknya dengan tidak sabaran. Membungkam orang dewasa dan mengumumkan ke seluruh lingkungannya bahwa keajaiban itu memang ada.


Contohnya adalah Railene. Balita imut yang disebut Bayi Jenius oleh semua orang yang pernah melihatnya.


***

__ADS_1


.


.


__ADS_2