Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
63. Syuting


__ADS_3

Setelah pertemuan dengan Selena, Railene kembali ke rutinitas sehari-harinya. Dalam lima hari, dia dipanggil untuk menandatangani kontrak dan syuting film seminggu kemudian. Railene juga berhasil menghubungi Selena setelah merakit sebuah laptop mini dengan penampilan yang kurang menarik. Tapi, bagi para hacker, itu adalah harta berharga karena kecepatan akses dan kualitasnya sepuluh kali lebih baik dari laptop biasa.


Railene juga telah menerima informasi pribadi seorang ******* yang akan dia perhatikan dalam misi bersama Selena beberapa hari ke depan. Dia mempelajarinya sambil mendengarkan guru di kelas. Sesekali meminta Arkan untuk berlatih naskah dengannya, menambah kecemburuan Ben beberapa persen.


Hingga hari syuting tiba, dia dan Arkan kembali ke gedung Film dan TV paling besar di tengah kota. Kembali bertemu dengan Angga sebagai pemeran Oba. Untuk Arkan sendiri, dia terpilih sebagai karakter pendamping, seorang anak laki-laki dari kepala suku yang bernama Kiniun. Karakter Kiniun adalah tipe periang yang suka melanggar aturan. Dia sering bermain dengan anak singa yang dia beri nama Aburo.


Kiniun dan Oba tidak berselisih, namun suatu saat akan menjadi teman seperjuangan ketika Oba kembali ke desa untuk mengalahkan musuh besar kaum itu. Kiniun juga yang nantinya akan menjadi orang kepercayaan Oba. Kisah yang sangat heroik.


"Railene, Arkan, apa kabar?" Angga menyapa ramah. Sebagai seorang senior aktor di level remaja, Angga memiliki kepribadian yang baik dan bertanggung jawab. Dia tidak menindas juniornya dan banyak orang menyukainya.


"Halo Kak Angga. Aku baik, Rail juga baik," ujar Arkan secerah biasanya.


Ketiganya mengobrol dan mulai membahas naskah. Karena ini adalah akhir pekan, syuting dimulai dari pagi. Railene dan Arkan juga akan meminta cuti sekolah selama satu bulan perekaman. Railene sendiri tidak menyangka bahwa suatu hari dia akan membolos dengan alasan pekerjaan selama sebulan lamanya. Itu sedikit tidak terduga karena lintasan hidupnya mulai berkelok menuju banyak bidang.


Arkan dan Angga kebagian syuting pertama. Mengisahkan kisah di desa suku. Tentang Oba yang dikucilkan hingga diusir, dan Kiniun yang tidak memperhatikan apapun selain singa kecilnya. Kiniun juga diam-diam membantu Oba dengan menembaki orang-orang yang menghina Oba. Dia memiliki senjata ketapel mekanik dan membuat kerumunan kesal hingga bubar.


Railene duduk di samping sutradara Jack dan melihat monitor. Latar belakang pedesaan ini diciptakan menurut fantasia yang mempesona. Mungkin akan lebih indah nantinya ketika ditambah efek CG. Dia juga memperhatikan keterampilan akting para aktor pendukung yang kesemuanya lumayan. Menurut standarnya yang seorang pemula, semua tindakan mereka termasuk dalam kategori bagus dan sesuai. Tidak berlebihan dan intensitas suasananya dapat tercapai dengan sempurna. Itu keren.


"Apa yang kamu lakukan? Pergi ke ruang ganti dan ambil riasan. Kamu memiliki adegan setelah beberapa adegan tambahan ini," kata asisten sutradara. Nadanya lembut dan tegas.


Railene menoleh dan mengangguk. Berjalan ke ruang ganti dan memakai jubah kebesaran Eda Mimo. Itu sangat bagus dan terbuat dari bahan berkualitas. Railene sendiri bisa memperkirakan bahwa biaya syuting film ini mencapai ratusan juta. Dari pengaturan latar, kostum, alat peraga, kamera, dan pencahayaan, semuanya berkualitas. Dari segi naskah juga sangat bagus, apalagi aktor-aktornya merupakan artis A-list yang sudah berkecimpung di dunia hiburan begitu lama. Sangat profesional. Biayanya pasti sangat besar.


Railene telah mengenakan pakaian yang dipersiapkan khusus sesuai ukurannya. Dia berjalan menuju beberapa orang penata rias. Duduk dan bertanya-tanya tentang hal yang tidak ia ketahui.

__ADS_1


"Kakak, apa perlu make up?" Tanya Railene polos. Ia memperhatikan wajah sempurnanya di cermin. Merasa cukup dengan penampilannya sendiri.


"Ah, itu perlu. Ini untuk mempertajam aja. Kamu cantik dan luar biasa dan lebih baik kelihatan lebih cantik lagi, kan?" kata penata rias yang sedikit centil di depan Railene ini.


"Nggak bagus jadi terlalu cantik, itu merepotkan." Railene membalas dengan senyum kecil di wajahnya.


"Cantik itu memang merepotkan, tapi taukah kamu bahwa orang cantik 70% lebih mudah mendapatkan apa yang dia inginkan cuma karena dia cantik?" kata penata rias lagi.


"Tapi itu bukan hal yang baik, kan? Cantik hanya karena wajah. Kualitasnya kemampuan dan lain-lainnya akan menghancurkan ekspektasi orang kalau nggak sesuai," pendapat Railene lagi. Dia merasa nyaman mengobrol dengan penata rias di depannya.


"Oh, gadis kecil, kenapa kamu berpikir begitu banyak? Berapa umurmu? Kenapa terdengar seperti orang yang sudah tua dengan pengalaman hidup puluhan tahun?" kata si penata rias dengan kerutan samar di keningnya. Meskipun nadanya bercanda, tapi Railene merasa sedikit tertohok.


"Aku mengamati orang-orang," jawabnya kemudian.


Railene tersenyum kecil dan hanya bergumam setuju. Make up yang dilekatkan di wajahnya tidak terlalu kompleks namun fokus pada bagian mata. Aura penampilannya menjadi jauh lebih menonjol. Gaya rambutnya juga disesuaikan dengan kepang sisi kanan kiri dan sisanya dibiarkan tergerai. Railene berdiri di depan cermin dan tertegun sejenak.


"Chara, kurasa aku punya ekspektasi bahwa penampilanmu jika jadi manusia akan seperti ini. Mungkin dengan wajah yang beda,"


"Kamu terlalu cantik Rail. Kuharap aku secantik kamu. Tunggu... tapi aku tidak tau apakah aku perempuan atau laki-laki. Gimana kamu tau kalau aku cantik?"


"Kamu perempuan. Aku tau karena suaramu lebih lembut dan kamu punya karakteristik sifat perempuan dimana-mana."


"Oh begitukah? Itu bagus. Ngomong-ngomong, kapan kamu membantuku menjadi manusia??"

__ADS_1


"Hmmm aku mau syuting dulu. Sampai jumpa nanti!"


Railene tidak mendengarkan Inchara lagi. Dia keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju setting panggung. Orang-orang masih belum sadar dengan langkah kakinya yang tanpa suara. Angga dan Arkan dengan beberapa orang sebagai penduduk desa, masih syuting. Sampai kemudian Arkan berteriak heboh dan menyebabkan NG.


Jack hendak mengomel, tapi suara teriakan Arkan selanjutnya membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Railene!"


Railene berhenti berjalan dengan canggung. Menatap Arkan yang berbinar dan melongo. Dia mengedarkan pandangan pada semua orang di sekitar. Semuanya, para aktor, kru, bahkan Jack dan asisten sutradara menahan napas. Railene tersenyum kecil dengan perasaan lucu. Dia diam-diam membenarkan bahwa kecantikan memang merepotkan dimana-mana dia berada.


"Hai," suara lembutnya akhirnya memecahkan keheningan. Lalu terdengar banyak bisikan bersemangat.


"Rail, kamukah itu? Wow, kamu cantik banget. Tunggu sebentar. Kak Vin, Kak Vin, dimana ponselku, aku mau foto Railene!"


Arkan sudah berlarian dengan semangat tinggi. Railene hanya diam dan tiba-tiba ingin mengeluh.


***


Nasib orang cantik adalah menjadi pusat perhatian. Ya ya ya... ini cuma fantasi. Tapi, silahkan bayangin sendiri hehe...


Jangan lupa like dan komentar.


Have a nice day!😊

__ADS_1


__ADS_2