
Railene sedang berdiri di depan pintu ruang kerja Diza. Sejak keluar dengan perenungan tingkat tinggi, Railene memutuskan untuk mulai mencari tahu dari masa lalunya. Dia yakin bahwa ibu kandungnya ada hubungannya dengan semua hal-hal misterius di balik identitasnya. Dan Diza, pasti memiliki informasi dari ibu kandung Railene sejak dia mengadopsinya.
Tok tok.
Railene mendengar suara izin Diza untuk masuk setelah mengetuk pintu. Dia menghela napas panjang dan masuk. Menghampiri Diza yang sedang menulis jurnal kedokterannya.
Melihat Railene masuk, Diza tersenyum dan menyudahi pekerjaanya. Dia memfokuskan diri kepada Railene. Biasanya, jika hari sibuk dan bukan hal-hal khusus, putrinya tidak akan datang untuk menemuinya saat dia bekerja. Jadi, Diza berjalan menuju sofa yang ada di ruang kerja, duduk di sebelah Railene dan menaruh semua perhatiannya pada putrinya.
"Kamu mau ngomong sesuatu?" tanya Diza dengan senyum hangat di bibirnya.
Railene membuka mulutnya untuk bicara tapi kemudian terdiam. Dia tiba-tiba memikirkan sesuatu. Menoleh pada Diza yang memperhatikannya dengan cermat, Railene tidak menjawab untuk waktu yang lama.
Pada akhirnya, dia menghela napas panjang dan tersenyum manis ke arah bundanya.
"Bunda, aku mau bikin rumah pohon," kata Railene pada akhirnya.
Diza sedikit terkejut mendengar permintaan Railene. Ini agak tiba-tiba dan kedengarannya tidak sesuai dengan kepribadian Railene yang agak dewasa. Dia memandangi Railene satu detik dan tertawa di detik berikutnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba mau bikin rumah pohon?" tanya Diza kemudian.
"Biar punya markas. Aku sama Kak Ben, Kak Arkan, dan Kak Archi kan suka kumpul bareng, tapi kami nggak punya markas. Kumpulnya ganti-gantian di rumah masing-masing. Terus kami kepikiran bikin rumah pohon biar sekalian jadi markas. Lebih enak dan kumpulnya juga nggak perlu bawa barang-barang masing-masing karena udah ada di markas. Boleh, ya, Bunda?" kata Railene dengan bujuk rayunya. Dia memeluk lengan Diza dengan manja.
Diza tertawa lagi dan mengangguk. Dia kemudian menawarkan untuk membuatnya agak dekat dengan rumah. Railene setuju dan memilih lokasi di sekitar danau yang ada di dekat hutan sekitar komunitas perumahan. Meskipun itu agak terpencil, tapi pemandangannya indah dan lokasinya sejuk. Sangat cocok untuk bersantai dan bersenang-senang bersama teman-teman.
__ADS_1
Railene keluar dari ruang kerja Diza dan kembali ke kamar setelah mengajukan permintaan dan membahas detail yang diperlukan. Dia memang memiliki ide itu bersama ketiga laki-laki yang dia anggap saudaranya beberapa bulan lalu. Tapi, dia belum sempat membahasanya sampai saat ini dia mengajukan permintaan kepada Diza. Ini hanya alasan yang ditukarnya dengan hati-hati.
Railene melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berbaring terlentang dengan wajah agak tertekan. Dia tidak jadi melancarkan rencana awalnya dan menjadi frustrasi.
Inchara yang mengamati proses dari awal sampai akhir, berjalan dan berbaring tengkurap di sampingnya. Memandang wajah Railene yang tertekan. Dia mengerti emosi Railene dan bisa merasakannya, tapi dia agak kurang paham alasannya.
"Rail, kenapa kamu tidak jadi mengatakan permintaan aslimu?" tanya Inchara dengan nada bingung yang polos.
Railene menoleh lalu tersenyum kecil. Dia mengulurkan cakarnya dan mencubit-cubit pipi Inchara, kebiasaan kecilnya. Inchara membiarkannya dan masih menunggu jawaban Railene. Dia agak penasaran sekarang. Inchara bukan manusia dan tidak mengerti kerumitan pikiran manusia.
Melihat Inchara yang benar-benar ingin tahu, Railene menghela napas. Dia menjatuhkan tangannya dan kembali berbaring terlentang, tapi masih memandangi wajah Inchara. Dia tahu bahwa makhluk non-manusia ini tidak akan mengerti, tapi entah kenapa dia ingin curhat kepadanya setiap kali dia membuat pikiran yang kalut. Setelah sekian lama, baginya, Inchara adalah tempatnya membuat curahan hati. Gadis polos yang selalu penasaran dan mengikutinya tanpa syarat, menjadi teman terbaiknya dan tidak pernah menghakimi siapa pun. Terkadang dia berpikir bahwa akan sangat baik jika manusia semuanya memiliki hati dan pikiran seperti Inchara. Tapi dia tahu itu tidak mungkin. Maka dia hanya bisa mensyukurinya dan menjadikan Inchara sebagai bagian dari hidupnya.
"Bunda selalu bilang kalau aku putrinya dan Bunda nggak tau kalau aku udah tahu identitas asliku bahwa aku bukan anak kandungnya. Kalau tiba-tiba aku datang ke dia terus nanyain tentang ibu kandungku, menurutmu apa reaksinya?" tanya Railene menatap Inchara.
"Bunda Diza bakal marah." Inchara menjawab mantap dan langsung disambut tawa kecil Railene.
Melihat Railene tertawa, Inchara ikut tertawa. Tapi kemudian Railene menggeleng. Menyalahkan jawabannya. Inchara bingung lagi dan melihatnya dengan tatapan bertanya.
"Bunda bakal sedih. Bunda sayang sama aku dengan sangat tulus dan menganggapku sebagai putrinya sendiri. Dia mau aku menganggapnya sebagai ibu satu-satunya. Dia nggak akan membuat aku sedih dengan kenyataan bahwa dia ibu angkatku." Railene bicara dengan pelan lalu memperhatikan Inchara yang sepertinya perlahan mengerti.
Railene tersenyum, "Chara, Bunda nggak boleh tau kalau aku tau rahasianya karena kalau dia tau, dia akan sedih," ucapnya sambil menggosok kepala Inchara dengan lembut.
"Aku mengerti. Jadi, karena kamu tidak mau bikin Bunda Diza sedih, apa kamu bakal cari tau sendiri?" tanya Inchara dengan kesimpulan. Terbiasa bicara dan mengikuti Railene membuatnya dengan mudah menebak satu atau dua rencana ringan Railene dari banyak rencana rumit.
__ADS_1
"Tepat!" kata Railene dengan senyum yang lebih lebar. Inchara ikut tersenyum dan menanyakan bagaimana Railene akan mencari tahu sendiri informasi ibu kandungnya.
"Aku bakal belajar hacking lebih dalam sama guru misterius yang dikenalkan Kak Selena," kata Railene kemudian mengingat tawaran Selena untuknya sekitar enam tahun lalu sebagai imbalan atas informasi yang dia berikan untuk misi Selena.
Dia sudah lama tidak melihat agen rahasia perempuan itu. Terakhir bertemu adalah tahun lalu di saat ulang tahunnya yang ke-14. Lalu tiba-tiba Selena menghilang tanpa kabar dan hanya meninggalkan satu kotak kecil berisi surat dan buku bahasa sandi rahasia. Railene tidak berusaha mencarinya karena surat di dalam kotak itu memberitahunya bahwa Selena akhirnya mengingat masa lalunya dan akan mencari tahu penyebab semua hal yang terjadi di dalam hidupnya.
Railene setuju diam-diam karena tahu dengan jelas tentang kehidupan Selena yang begitu rumit. Bahkan sangat rumit dan membuat orang berpikir bahwa seluruh dunia sedang berusaha menyakitinya sedemikian rupa hingga dia hancur. Harapan Selena tentang kehangatan sudah kecil, tapi Railene tahu itu masih ada. Dia berharap Selena akan menemukan kebenarannya dan menemukan cahayanya saat itu berakhir.
Bersama surat itu juga, ada sebuah alamat e-mail yang sepertinya sangat rahasia. Itu adalah sosok yang diperkenalkan Selena sebagai sosok master dan dewa hacker yang tidak pernah tertangkap dengan prestasi kegagalan di bawah satu persen. Orang yang sangat kuat dan pintar. Railene harus mencarinya.
"Chara, kita bakal liburan ke Maldives," kata Railene dengan tekad di wajahnya.
"Oke!" kata Inchara bersemangat tanpa tahu dimana itu Maldives. Keduanya tertawa terbahak-bahak di dalam kamar Railene tanpa tahu atau peduli pada Ben yang jongkok dengan penasaran di depan pintu kamar Railene karena mendengar suara tawa yang tiba-tiba.
Ben bergumam penasaran, "Apa mereka bermain drama lagi?"
***
Hai hai, aku bakal sering ngilang sampai minggu depan.
Jangan lupa like dan komentar.
Have a nice day!😊
__ADS_1