
Sebelumnya mohon maaf, saya lupa masih ada karya ini untuk ditulis hehe...
Selamat membaca..
...
Pria tua yang disebut kakek oleh Alan menoleh dengan acuh tak acuh dan mengangkat alis. Ekspresinya heran dan ada ketidaksukaan di matanya karena acara bersantainya diganggu oleh putra dan cucunya. Dan seperti pemiliknya, kedua kucing itu juga ikut menoleh lalu kembali ke mode bersantai seolah tidak peduli ada manusia lain di sekitar.
Alan bergegas maju dan duduk di bangku yang berseberangan dengan tahta sang kakek beserta kucingnya. Hudson mengikuti teladan putranya dan menyapa sambil duduk di samping Alan. Dia melihat ayahnya beserta dua kucing dengan ekspresi terdistorsi ketika melihat tingkah mereka yang mirip.
"Butuh sesuatu?" Tanya Kakek Alan dengan nada kurang menyenangkan. Alan terbiasa karena itu hal wajar ketika waktu santai kakeknya bersama para kucing terganggu. Alan juga tahu bahwa kedatangan ayahnya dan dia adalah gangguan di jam krusial.
Awalnya dia mengatakan kepada Hudson untuk datang lebih siang karena jadwal kakeknya di pagi hari tidak dapat diganggu. Ada jam-jam tertentu dimana kakeknya tidak bisa diganggu. Satu di pagi hari sampai pukul 9, lainnya di sore hari antara pukul 4 sampai 6, yang terakhir adalah waktu jam 10 malam ke atas. Tapi, Hudson memiliki bisnis penting di siang hari dan harus menyelesaikan pertemuan dengan kakek Alan saat ini juga. Akibatnya dua orang putra dan cucu itu mendapatkan wajah asam sang kakek.
Hudson tidak bereaksi banyak ketika melihat sikap ayahnya. Bagaimana pun sejak kecil dia menghadapi keanehan temperamen lelaki tua itu. Hanya saja dia tidak akrab dalam beberapa tahun terakhir karena bisnisnya sehingga tidak tahu jadwal harian ayahnya itu.
"Ayah, Alan ingin menyampaikan sesuatu," kata Hudson dengan nasa serius.
Alan yang disebut namanya akhirnya gugup juga. Ini kecerobohannya sebelumnya bahwa dia melewatkan kesempatan menyelesaikan misinya sendiri. Dia tidak tahu sebelumnya dan sekarang sudah terlambat untuk menyadarinya. Apalagi, pihak yang bersangkutan tidak ditemukan di negara ini sekarang.
"Apakah penting?" tanya kakek Alan dengan mengangkat sebelah alis acuh tak acuh.
Hudson mengangguk, "Ini berhubungan dengan warisan itu," katanya kemudian.
__ADS_1
Sikap acuh tak acuh kakek Alan langsung menghilang. Dia memandang Hudson lalu ke cucunya yang terlihat gugup. Dari penglihatannya, dia merasa bahwa kabar ini akan buruk di telinganya. Tapi, dia masih penasaran.
"Pergi ke ruang kerja!" perintahnya sebelum berdiri memimpin. Sepasang ayah-anak mengikuti dengan patuh. Kucing-kucing yang bersantai melambaikan ekornya seolah mengucapkan selamat tinggal dan selamat bersenang-senang. Alan meliriknya dengan bibir berkedut.
Ketiganya memasuki ruang kerja yang terlihat kuno. Beberapa rak buku memenuhi sisi sebagian dinding. Kebanyakan buku lama yang tebal dan memiliki sampul keras. Buku-buku itu memiliki beberapa bahasa yang berjejer berdasarkan tipe, penulis, dan tahunnya.
Hudson dan Alan duduk di sofa ruang kerja, kakeknya duduk di sofa tunggal. Ia memasang pose memerintah dan melirik anak serta cucunya dengan curiga.
Selama bertahun-tahun hidup, kabar sepenting ini adalah hal yang dia syukuri bisa ia dengar. Banyak generasi dalam keluarga cabang seperti miliknya melewatkan momen kelahiran dan kehadiran Orang Pilihan dalam klan karena hanya terjadi sekali dalam seribu tahun. Karena saat Orang Pilihan bangkit, maka kejayaan klan dapat terus dilestarikan dan tugas-tugas tersembunyi di dunia tidak akan goyah sehingga menyebabkan bencana bagi orang awam.
Kali ini anak dan cucunya membawa kabar tentang warisan itu yang berarti kemungkinan besar tentang Orang Pilihan. Dia menantikannya meskipun dia tahu kabar ini agak kurang menyenangkan di telinganya. Tapi, dia berharap dapat memiliki harapan di antara kabar itu.
"Katakan!" perintahnya dengan nada serius.
"Beberapa waktu lalu, aku ketemu sama seseorang yang punya kalung yang polanya mirip dengan cincin warisan. Waktu pertama aku belum memastikan karena itu pertemuan pertama dan aku cuma lihat sekilas," katanya dengan nada yang jelas.
"Tapi untuk yang kedua kalinya, aku nemuin dia dan memcoba memastikan pola dalam kalungnya dan cincin warisan sama. Aku nggak langsung kasih dan memperlihatkan polanya dulu terus tanya apa dia kenal simbol itu. Awalnya aku yakin dia orang yang kucari, tapi setelah lihat pola kalungnya, ternyata bukan." Alan menjelaskan dengan singkat tanpa merinci apapun yang dia lakukan sehingga membuat orang waspada.
Sejujurnya dia baru menyadari tentang perilakunya ketika dia diceramahi oleh ayahnya beberapa saat lalu. Cara memastikannya sangat salah dan tentu saja dia akan kesulitan menemukan orang yang dimaksud jika menggunakan metode itu.
Ayahnya memberitahunya bahwa yang disebut Orang Pilihan selalu cerdas dan memiliki banyak rahasia yang sangat besar. Hidup dan kehadiran mereka istimewa sehingga sangat berbeda dari orang biasa. Orang Pilihan jauh lebih waspada terhadap orang baru yang tidak dia ketahui sehingga mereka tidak akan menjawab apapun yang mencurigakan secara jujur.
Metode Alan sebelumnya membuat "yang mungkin Orang Pilihan" menjadi waspada dan memilih menutupinya. Sebagai keluarga cabang dari klan utama, tugas setiap keluarga hanyalah sebagai perantara dan penguat, bukan mewaspadai orang-orang "yang mungkin Orang Pilihan". Alih-alih menggunakan metode yang diajarkan dalam buku peninggalan kakek buyutnya, dia malah melakukan sebaliknya.
__ADS_1
Ketika kakek Alan mendengar cerita ceroboh cucunya, keningnya berkerut dalam. Dia memandang Alan dengan tatapan seolah melihat orang bodoh. Bagaimana dia melupakan hal terpenting dari "cara memastikan Orang Pilihan"? Apakah keturunannya ini sudah agak melemah kepintarannya?
"Alan, tulis informasi orang yang kamu temui dan serahkan padaku dalam satu jam. Setelah itu salin buku aturan keluarga 10 salinan tanpa istirahat. Kamu bisa mulai sekarang!" kata kakeknya dengan nada tegas seolah mencoba menjaga kesabarannya.
"Sepuluh salinan??!! Kakek, itu terlalu banyak!" keluh Alan dengan nada pahit setengah memohon.
"Kerjakan atau aku akan menambahkannya lagi!" perintah kakek Alan yang langsung membuatnya terdiam. Kehilangan harapan untuk bebas dalam waktu lama.
...
Di sisi lain dunia, Railene dan Ben kembali menemui S dan belajar dengan lebih mendesak.
Sejak Railene kembali dari petualangan yang ia anggap mimpi beberapa hari lalu, dia tidak bisa melupakannya. Dia juga beberapa kali masuk kembali melalui kontak dengan kristal yang tertinggal waktu itu, tapi sayangnya tidak berhasil. Inchara juga kurang memahami fase Railene karena itu berantakan dan lebih cepat dari yang sebenarnya. Ia menjadi agak bingung dan tidak dapat membantu Railene dalam menjawab dan menemukan jawabannya.
Akibatnya, Railene agak frustrasi dan melampiaskannya dengan belajar hacker lebih keras dari siapapun. Orang-orang di sekitarnya menjadi agak khawatir kecuali S yang semakin puas dengan murid yang kelewat rajin ini. Railene juga tidak memperhatikan banyak hal lain dan fokus pada perkembangannya sendiri. Sesekali dia akan mengecek bagian perpustakaan Alam Jiwa, memastikan tidak ada buku baru atau petunjuk lain yang harus dia perhatikan.
Selama sebulan akhirnya dia selesai belajar dan dapat dikatakan sebagai pemula profesional dalam bidang retas-meretas. Dengan pujian S dan seperangkat hadiah berisi perlengkapan untuk membantu mengembangkan kecanggihan laptop buatannya, Railene kembali ke negaranya dengan pikiran yang sedikit santai tapi rumit.
***
Hai jangan lupa like dan komentar.
Have a nice day!😊
__ADS_1