
Railene berdiri di balkon, menghadap pemandangan rumah kaca yang redup. Dia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 23.30. Tiga puluh menit sebelum pergantian hari dan kedatangan ulang tahunnya yang ke-10. Melihat jam dari waktu ke waktu, hal-hal di hatinya mengganggunya sampai pada titik aneh.
Tiga hari berlalu sejak percakapan dan permintaannya kepada Lu Shizu. Di malam itu, dia meminta Lu Shizu untuk menanyakan kabar Penunjuk Jalan lain kepada Xiaoxiao. Tentu saja juga menanyakan tentang siklus yang dihadapi Orang Pilihan. Meskipun dia ragu bahwa Xiaoxiao mengetahui ini, bagaimana pun Xiaoxiao dan Inchara adalah jenis yang sama. Tapi, dia tetap memiliki beberapa harapan.
Akhirnya, di bawah pertanyaan dan permintaan Railene, Lu Shizu menanyakan hal-hal itu kepada Xiaoxiao di mimpinya. Railene sudah menebak bahwa itu hanya akan berupa ketidaktahuan Xiaoxiao. Dia tidak kecewa karena ternyata ada satu petunjuk yang membuatnya membuka celah pemikiran baru.
Xiaoxiao memberikan informasi kepada Lu Shizu bahwa ada siklus kelahiran dan kebangkitan kekuatan. Selama Orang Pilihan memiliki kekuatan besar yang nyata, semakin kuat Penunjuk Jalannya. Jadi, ini membuat Railene memiliki beberapa pemikiran tentang kebangkitan Inchara.
Menurut kemunculan Inchara saat dia berusia 5 tahun, mungkin dia juga akan kembali saat usianya menginjak 10 tahun. Siklus kekuatan dan kebangkitannya ditentukan dari ini. Dia hanya menebak dan menantikan saat ini.
Maka dari itu, di tengah malam yang sunyi dan dingin, Railene terjaga sepanjang malam untuk menemukan momen kemunculan Inchara. Dia berharap bahwa tebakannya benar dan lebih bagus lagi jika dia bisa melihat wujud dari suara yang selama ini bicara dengannya. Railene telah merasakan koneksi dengan Inchara selama bertahun-tahun dan baru kali ini terputus secara misterius. Hilang seperti kembali pada ketiadaan.
Dia bahkan tidak bisa mengakses padang rumput luas tempat dia dan Inchara membentuk banyak hubungan persahabatan. Railene telah menganggap Inchara sebagai saudarinya, dan menjadi terganggu ketika dia hilang. Maka dari itu dia menantikan saat ini.
Railene tidak khawatir tentang kejutan tengah malam keluarganya, itu tidak akan terjadi. Adopsi dari budaya matriarki keluarganya membuat statusnya dua kali lebih spesial. Tidak hanya dia adalah seorang pewaris dan kepala keluarga masa depan, tapi dia juga memiliki hak keistimewaannya sendiri. Jadi, sejak kecil, dia melarang keluarganya untuk membentuk kejutan tengah malam karena itu merepotkan banyak orang yang sedang beristirahat. Tentu saja mereka tidak keberatan dan dengan senang hati menuruti permintaan kecilnya.
Railene tidak akan diganggu tengah malam di hari ulang tahunnya. Jadi, ini harus waktu ekslusif dimana dia menantikan kehadiran Inchara. Melirik waktu lagi, Railene tidak tinggal lama di balkon. Mengunci pintu balkon, Railene menuju tempat tidur dan duduk dalam senyap. Ruang kamarnya tidak terang. Itu redup dan satu-satunya sumber cahaya hanya lampu tidur di nakas dan cahaya samar bulan purnama dari jendela balkon.
Dalam senyap, Railene mencoba memfokuskan untuk mengakses padang rumput di alam jiwanya. Itu masih belum berhasil karena ada sesuatu yang memblokirnya lagi dan lagi. Muncul ide untuk tidur dan mengandalkan mimpinya untuk masuk ke alam itu lagi, tapi dia tidak yakin ini akan berhasil. Jadi dia hanya menunggu dengan helaan napas panjang.
00.00.
Tidak ada yang terjadi. Railene melihat jam digital di samping tempat tidur. Mengerutkan kening dengan heran. Matanya yang cerah menunggu berangsur redup. Ekspresi wajahnya dingin dan dia merasa kehilangan di hatinya.
"Chara..., kapan kamu kembali?" Suaranya lirih dan hampir tidak terdengar.
Mengalihkan pandangan dari jam digital, Railene menjatuhkan dirinya terlentang. Menghela napas dan masuk selimut. Dia sedih, tapi dia enggan menangis. Dia kecewa, tapi harapannya terus diperbaharui. Dia masih belum menyerah pada harapannya dan terus menunggu.
__ADS_1
Tanpa sengaja ia tertidur dan bangun keesokan harinya. Dia menyadari bahwa semalam di tidur tanpa mimpi. Hari ulang tahunnya tiba, tapi dia tidak bahagia. Mengikuti Diza turun dan menyiapkan ritual sarapan di hari ulang tahun, Railene diberi hadiah satu per satu dari Diza, nenek, dan kakeknya. Wajahnya tersenyum ceria dan bibirnya mengucap kebahagiaan, tapi hatinya tidak bahagia.
Di sekolah, dia menjalani hari dengan kepura-puraan. Orang-orang di sekitar tidak menyadari ketidakbahagiaannya, kecuali Ben. Ben adalah pengamat ekspresi mikro Railene. Sekecil apapun dia membuat perubahan ekspresi, Ben akan menyadarinya dalam sekejap.
"Rai, kamu kenapa?"
Railene menggelengkan kepalanya. Ben tidak menyerah dan membawa Railene bolos pelajaran lagi. Menariknya ke perpustakaan dan membawakannya buku-buku kesukaannya. Tapi, Railene masih tidak tersenyum dengan tulus.
Ben berlari ke kantin dan membeli selusin yogurt, memberikannya kepada Railene dengan drama yang biasanya mereka mainkan. Railene hanya meminum satu dan tidak memiliki minat pada yang lainnya. Suasana hatinya membaik, tapi masih ada kesedihan di matanya.
"Hei, siapa yang gangguin kamu? Biar aku pukuli orangnya," kata Ben masih membujuk. Dia sangat khawatir kepada Railene.
"Bukan siapa-siapa. Aku baik-baik aja, Ben." Railene memandang Ben dengan prihatin. Anak laki-laki yang selalu mengikutinya itu sangat perhatian dan Railene tahu kehangatannya. Dia merasa lebih baik karena kehadiran Ben, tapi itu tidak menyangkal kesedihannya karena kehilangan Inchara.
"Hum, oke. Kamu bisa bilang ke aku kalau mau cerita sesuatu. Kamu tau, aku bakal selalu ada buat kamu. Jadi, jangan sedih, oke?" kata Ben pada akhirnya. Railene mengangguk dan tertawa. Merasa terhibur.
Sayangnya dia tidak bisa tidur. Dia berbaring terlentang dan merasa kosong sesaat. Dia sedih lagi. Berkali-kali lebih sedih karena penantiannya seharian ini benar-benar tanpa hasil. Dia tidak melihat Inchara. Sama sekali tidak merasakan koneksinya.
Melirik jam digital, dia tidak bisa menahannya lagi. Pukul satu malam, dia menangis. Menutup matanya dengan kesal, air matanya jatuh satu per satu. Rengekan kecil terdengar samar di dalam kamar yang sunyi senyap. Berguling ke samping, dia mengeluarkan segala emosinya seharian ini.
"Chara, kemana kamu pergi? Apa kamu ninggalin aku sendiri? Kenapa kamu pergi tanpa pamit? Kamu sengaja, kan? Kamu pasti sengaja bikin aku sedih karena kamu pengin liat aku nangis. Kamu jahat..., Chara kamu dimana? Kapan kamu kembali?"
Railene bergumam di tengah rengekan tangisannya. Dia sedih, sakit di hatinya. Dalam tahun-tahun kehidupan pertama maupun kedua, dia belum pernah merasa sesakit ini kehilangan seseorang kecuali saat kematian adik dan ibunya dulu. Hari ini ia mengingat rasanya, tidak nyaman. Dia tidak senang sama sekali.
"Chara... Inchara, kembalilah...,"
Hembusan singkat muncul meniup rambut di dahinya. Railene terdiam seketika. Alam jiwanya yang kosong tiba-tiba berfluktuasi. Rasa hangat menyebar di pembuluh darahnya dan dengan suara nyata, dia mendengar suara yang sudah lama tidak ia dengarkan.
__ADS_1
"Hei, Rail, kenapa kamu nangis?"
***
Chit Chat Rebirth :
Saya : Welkam bek, Inchara... Gimana rasanya liat Railene si hati batu nangis?
Inchara : (mode wawancara artis) Sebenarnya aku tidak menyangka ya, kalo Rail punya lebih banyak kasih sayang ke aku. Sejujurnya aku terharu dan akhirnya yakin kalo dia manusia.
Saya : Wah, sebuah konfirmasi yang manis.
Railene : Aku mau syuting naskah lain. Tolong biaya pelanggaran kontraknya
Saya : Hey, nggak bisa! Kamu harus selesaiin ini. Kamu tokoh utama sejak awal, Ini di pertengahan syuting dan kami membuang terlalu banyak waktu kalo harus syuting dari awal lagi. Nggak bisa, kamu tetap di sini!
Railene : Nggak peduli.
Saya : Oke, oke saya minta maaf. Jangan buat masalah lagi!
***
Sekian drama kecil di balik layar...
Jangan lupa like dan komentar.
Have a nice day!😊
__ADS_1