
"Oke, kita lanjutkan baca bagian selanjutnya," ujar batin Railene mengalah. Dia lelah untuk mengerti keabsurdan Inchara.
Namun, sebelum Railene membuka halaman selanjutnya, ia mendengar langkah kaki mendekati kamarnya. Railene tahu siapa yang datang dan dengan cepat mengganti buku kuning kusam itu dengan catatan matematika yang kebetulan ada di dekatnya. Ia membuat soal seolah sudah melakukannya sejak lama.
Tak berapa lama Diza mengetuk pintu dan masuk ke kamar Railene. Ia mendapati Railene yang sedang duduk di meja belajar dengan pandangan serius menatap buku. Seolah itu secara alami membuat Diza berpikir bahwa Railene sangat serius sampai tidak mendengar ketukan pintu.
Diza tersenyum dan melangkah mendekati Railene.
"Sayang, makan malam udah siap. Kita makan malam dulu yuk, belajarnya lanjut nanti," ujar Diza lembut. Mengelus rambut halus Railene yang sepanjang punggung. Itu masih sedikit basah karena ia habis mandi dan keramas.
Railene mendongak dan tersenyum melihat wajah Bundanya. Ia mengangguk patuh dan menggandeng Diza keluar kamarnya. Berceloteh tentang menu makan malam. Keduanya bergabung dengan nenek dan kakeknya yang sudah duduk di meja makan. Keluarga itu menghabiskan malam yang hangat. Untuk sesaat, Railene mengabaikan terjemahan isi buku itu dan menikmati waktunya dengan keluarganya.
...
Di suatu tempat yang hanya berupa kabut.
"Dia menemukan petunjuk pertama?"
Sosok berjubah abu-abu dengan ikatan kepang di sekitar keningnya, bertanya pelan. Di sampingnya seorang perempuan dengan penampilan sama tersenyum takzim. Ada kilat aneh yang muncul sebelum itu menghilang dan menjadi senyum maklum.
"Dia masih belum mampu membacanya sendiri. Lagi pula, ini masih terlalu dini. Keturunan Omen-Tune terakhir ada di sisinya untuk menjaga dia. Semuanya akan berjalan sesuai takdir," ujar si perempuan dengan senyuman sekali lagi.
Sosok di sisinya mengangguk. "Dia sudah dapat berkomunikasi dengan baik, ini merupakan kejutan yang baik. Dia memang terlahir menjadi superior," ujarnya kemudian.
__ADS_1
"Perjalanannya masih sangat panjang. Dia akan menemukan banyak hal yang memuaskan rasa penasarannya. Biarkan dia bermain lebih lama. Lagi pula di kehidupannya yang sebelumnya, dia begitu menderita." Si perempuan berpendapat. Wajahnya melembut dengan sedikit kehangatan.
"Kamu benar. Tidak ada yang bahkan setegar itu untuk berdiri sendirian di tengah badai dan binatang buas di sekitar. Dia membalas kesengsaraannya dengan banyak kesenangan. Itu bagus untuk jiwanya," sahut sosok di sampingnya.
"Mari kembali!" Si perempuan mengajak. Sosok di sampingnya mengangguk.
Kedua orang itu berbalik dan memasuki kabut berwarna merah muda di belakangnya. Meninggalkan cermin yang diapit batu pualam murni berukiran tumbuhan halus. Cermin itu memperlihatkankan sosok gadis delapan tahun yang dikelilingi keluarganya yang bahagia.
Getaran halus menggerakkan pualam. Cermin itu kembali terkubur di dalam pualam alami yang kembali menutup. Seolah tidak ada visualisasi apapun di sana sebelumnya.
...
Keesokan harinya, Railene berangkat sekolah seperti biasanya. Semalam, ia tidak sempat melihat kembali buku Ghost Gypsy. Dia ketiduran saat menemani Diza membuat laporan untuk jurnal kedokterannya. Akhirnya ia bangun pagi dengan mengabaikan buku itu untuk sementara waktu. Lagi pula, ia sudah tahu bahwa Inchara dapat membantunya menerjemahkan isinya.
Tidak ada yang tidak mengenal Railene di sekolah itu. Dalam kurun tiga tahun, merupakan siswa yang menempati urutan pertama untuk nilai sempurna semua mata pelajaran. Dia menyumbang puluhan piala seni, baik itu musik maupun seni rupa. Ada belasan piala olimpiade berbagai tingkat untuk tingkatannya yang dibawa pulang Railene. Tidak ada pengunjung perpustakaan paling rajin selain Railene.
Selain segudang prestasi, dia dikenal sebagai penyusup kecil dan tukang prank yang usil. Suka bermain-main dan aneh meskipun terkadang misterius. Tidak ada satu pun gedung atau ruangan di sekolah ini yang luput dari kunjungan Railene. Semuanya sudah dia jelajahi, bahkan gedung SMP di sebelahnya tidak ketinggalan.
Railene suka mengganggu anak laki-laki nakal yang suka menggunakan trik-trik kecil pada siswa pertukaran dari luar negeri. Mereka cerdas banyak bahasa dan membodoh-bodohi siswa yang belum terlalu mengerti. Bagaimanapun ini adalah sekolah internasional. Setiap tahun ada siswa pertukaran yang dikirim untuk belajar budaya satu sama lain.
Di saat-saat itulah Railene beraksi mengganggu para trikster kecil itu. Membuat mereka menangis atau terkencing di celana karena banyak gangguan yang ia rencanakan. Seseorang bahkan pernah menyebutnya iblis kecil. Oh, itu sebutan dari Ben untuknya.
Satu tahun lalu, pada saat Railene masih kelas empat, dia pernah membuat kejadian yang fenomenal. Setidaknya itu menjadi bahan pembicaraan kelas empat. Kejadian yang menargetkan sekelompok siswa laki-laki yang pintar namun nakal.
__ADS_1
Railene entah bagaimana dapat mengetahui gosip bahwa salah satu anak pertukaran pelajar dikerjai di toilet laki-laki dengan suara hantu yang dibuat-buat. Itu menyebabkan siswa laki-laki pertukaran pelajar dari Australia itu takut dan enggan pergi ke sekolah selama seminggu. Railene yang sedang bosan akhirnya membuat hal-hal remeh.
Dia mengunjungi laboratorium komputer SMP. Saat itu kelas empat sedang belajar di laboratorium komputer gedung SD. Railene sudah mencatat tiga meja komputer yang ditempati oleh ketika anak laki-laki nakal itu dan keluar, berpura-pura pergi ke toilet. Hanya Ben yang tahu niat asli gadis kecil itu, namun dia hanya menghela napas dengan cemas.
Railene di sisi lain menjadi penunggu laboratorium komputer gedung SMP. Dia masuk ke forum sekolah dan meretas tiga komputer yang menjadi tempat tiga siswa nakal bermain. Dengan ekspresi tenang dan licik, Railene mencari referensi film horor. Ekspresinya yang tersenyum licik sendirian di laboratorium komputer, ditambah saat itu sedang memutar film horor, menjadi hal yang membuat orang bergidik ngeri ketika melihatnya.
Dengan tenang, Railene menyambungkan koneksi wall komputer lawan dengan komputernya. Setelah terhubung dia memutar video horor itu. Karena sudah terhubung dengan ketiga komputer siswa nakal, otomatis layar komputer mereka menampilkan adegan horor yang ditampilkan layar komputer Railene.
Ketiganya menjerit-jerit dan melompat dari kursi. Salah satu terjatuh dan mengompol saking menakutkannya hal itu. Dua lainnya menjerit dengan gemetaran. Adegan itu begitu heboh dan siswa kelas empat mengerumuni meja ketiga siswa itu. Semua orang merasa terteror.
Di sisi lain, Railene sudah meninggalkan laboratorium komputer dengan senyuman cerah. Ia menuju gedung SD dan menyaksikan kehebohan itu dengan senyum cerah. Ben melihat itu dan tidak bisa untuk tidak berkomentar khawatir.
"Apa yang kamu lakuin? Ini ulah kamu kan? Kalo ketahuan gimana?" Ben memburu bertubi-tubi. Keduanya ada di pojok jadi bebas dari pantauan.
"Tenang aja, hari ini CCTV ruang komputer mati, semua orang di kelas dan mereka sibuk belajar. Aku nggak ketemu siapapun di jalan. Ini bakal dianggap fenomena mistis. Keren, kan?" Railene terkikik di tempatnya. Semua yang dikatakannya adalah benar. Dia sudah mempertimbangkan banyak hal dan melakukan itu dengan persiapan. Tidak ada bukti, tidak ada yang mencurigainya. Dia lolos bagaikan peluru tak terhentikan.
"Kamu mirip iblis kecil kalo ketawa gitu tau," komentar Ben bergidik ngeri.
"Hohoho, julukan yang bagus," ujar Railene membalas. Tidak peduli dengan kengerian orang di sampingnya. Ia cukup puas melihat tiga pembully mental itu terkena serangan mental.
***
Double update untuk mengganti yang kemarin. Kemarin lupa belom diupload rupanya wkwkwk.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya. Terima kasih.😊