Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
84. Kehidupan Biasa


__ADS_3

Railene mengagumi kunci sejenak dan kemudian mengambilnya untuk membuka buku hijau tanpa judul. Bentuk kuncinya hanyalah balok kecil dengan putaran bergerigi di ujungnya. Dengan hati-hati, dia membukanya. Rune di tubuh kunci bersinar redup dan kemudian terdengar bunyi klik kecil. Gembok terbuka.


Namun, sebelum Railene membuka uraian tali buku, Inchara mengingatkannya bahwa pagi sudah tiba dan dia terlambat tiga puluh menit. Railene menghela napas sedikit tidak berdaya dan keluar bersama Inchara. Dia melihat jam di nakas dan segera mandi serta berganti baju.


Karena terlambat memulai hari, Railene tidak sempat untuk mandi seperti biasa dan hanya mandi dengan cepat. Dia sedang berganti baju ketika ketukan di pintu kamarnya terdengar.


"Rail, apa kamu udah siap? Kenapa kamu belum turun?" suara Ben terdengar heran karena biasanya Railene akan turun sepuluh menit sebelum sarapan. Tapi sekarang sudah lebih dari lima belas menit waktu sarapan dimulai dan Railene belum turun. Jadi, dia heran dan menghampiri kamar Railene untuk mengajaknya sarapan.


Railene keluar segera dengan tas sekolahnya. Inchara di belakang Railene mengikuti dan menyapa Ben. Ben sudah terbiasa melihat keberadaan makhluk non-manusia di sebelah Railene dan ikut menyapa dengan akrab.


"Aku telat bangun, apa Bunda sama Papa udah berangkat?" tanya Railene kemudian turun bersama Ben.


"Belum, mereka nunggu kamu. Kenapa kamu bisa bangun telat? Nggak biasanya," ujar Ben dengan nada heran.


"Ceritanya panjang. Nanti kukasih tau," kata Railene lalu menyapa Diza dan Bram. Mereka sarapan bersama dan berangkat sedikit lebih terlambat dari biasanya.


Karena Ben telah mengemudi sendiri, Railene duduk di mobil bersama Ben dan berangkat ke sekolah. Sebenarnya Railene belum resmi berumur 15 tahun, tapi itu hanya berjarak beberapa bulan dari awal tahun. Karena telah berganti tahun, Railene menganggap dirinya berusia 15 tahun sekarang. Ben sendiri berusia 17 lebih sedikit dan sudah memiliki SIM serta KTP sendiri. Jadi, dia aman untuk mengemudi.


"Rail, kenapa kamu bangun telat?" Ben menagih cerita dari Railene seperti biasa. Sejak Railene memberitahu Ben tentang Inchara dan seluk beluk sebagian kecil dari rahasianya, Ben lebih antusias tentang apa yang mungkin dilakukan saudara perempuannya itu. Dia berpikir tentang hal-hal magis yang keren ini ternyata bisa ada di dunia nyata dan bukan sekedar imajinasi dalam novel-novel fantasi.


"Kamu mengemudi dulu. Aku takut kamu nabrak sesuatu kalo aku cerita sekarang," kata Railene yang terbiasa dengan sikap Ben. Hanya Railene dan orang-orang terdekatnya saja yang tahu bagaimana cerewet dan antusiasnya Dewa Kulkas di sekolah mereka ini.

__ADS_1


"Oke oke, kita segera sampai," ucap Ben menambah kecepatan mobilnya. Railene terbiasa dengan kecepatan ketika mengemudi sendiri, tetapi tidak ketika orang lain mengemudi. Bayangan kecelakaan di kehidupan pertamanya membuatnya sedikit traumatis dengan hal-hal yang tidak bisa dia kendalikan sendiri.


"Jangan ngebut atau aku nggak bakal kasih tau kamu!" Railene mencengkeram sabuk pengaman dengan erat dan mengomel kepada Ben. Ben seperti biasa langsung menurut dan menahan antusiasnya dalam hati.


Sabar... sabar... sebentar lagi sampai...


Railene mendengar gumaman Ben dalam hatinya dan menghela napas lega. Sejak beberapa tahun setelah meningkatkan kekuatan, Railene sudah dapat mendengar pikiran dan kata hati orang lain. Itulah mengapa dia menjadi kecantikan yang nakal di sekolahnya. Dia menganggap setiap laki-laki kecuali saudara-saudaranya sebagai serangga pengganggu dan melihat semua anak perempuan sebagai alien yang asing di matanya.


Dia memang bergaul dengan baik, tapi dia menjaga jarak dengan sangat erat tanpa membiarkan orang lain terlibat dalam hidupnya lebih dalam. Railene tahu pikiran setiap orang dan mengerti benar tentang sifat manusia. Maka dari itu, meskipun dia melihat beberapa niat murni dalam pikiran beberapa orang yang ingin berteman dengannya, Railene dapat melihat sifat manusia mereka yang mungkin akan berpaling atau mudah menyimpang dari kemurnian itu. Karena itu, banyak yang tahu dan menyukainya, banyak juga yang membencinya karena dia juga adalah selebriti kelas satu di industri hiburan.


Mereka sampai di sekolah dan masuk ke kelas. Seperti biasa, Ben berubah menjadi kulkas berjalan dan Railene dengan gaya cantik murni yang nakal. Matanya melihat sekeliling dan menemukan kelas sedang rusuh tentang PR yang akan ditagih guru kimia killer pagi ini. Seperti biasa juga, mereka akan melihat Railene dengan kagum dan kemudian panik lagi tentang PR. Railene kasihan kepada mereka dan akan tetap di kelas sepanjang pelajaran kimia. Dia adalah pembawa keberuntungan dan akan selalu beruntung kemana pun dia pergi, juga akan membawa keberuntungan untuk orang-orang sekitarnya. Itu masih terbukti selama bertahun-tahun hingga sekarang.


"Jadi apa yang kamu lakukan sampai telat bangun tadi pagi?" tanya Ben berbisik dan Railene menghela napas dalam hati. Ya, Ben masih menagihnya pada saat keributan ini.


"Apa kamu benar-benar mau dengar sekarang? Sebentar lagi pelajaran dimulai dan guru bakal masuk," ucap Railene santai.


"Kalo gitu, ayo bolos. Kamu bisa cerita dengan bebas nanti," kata Ben dengan senyum membujuk.


"Aku nggak bolos sekarang. Nanti, nanti aku cerita," kata Railene dengan janji kedua.


Ben menghela napas frustrasi. Tingkat penasarannya yang tinggi membuatnya tidak tertahankan. Dia ingin mendengar ceritanya sekarang dan tidak ingin menunggu lagi dan lagi.

__ADS_1


Railene melihat pikirannya dan menghela napas dengan tidak berdaya. Dia melihat Inchara yang duduk di atas mejanya dan mengangkat alis dengan ide. Mengirim telepati kepada Inchara, makhluk non-manusia dengan tanpa nafsu kuat itu langsung setuju tanpa syarat.


Inchara berpindah meja dan duduk di depan Ben dengan senyum spoiler. Ben memperhatikan dengan alis terangkat. Sebelum bertanya apa yang terjadi, dia mendengar Inchara berkata dengan nada gosip yang Inchara pelajari dari teman-teman perempuan sekelas Railene yang suka menggosip.


"Biar aku ceritakan sesuatu. Kamu mau dengar apa yang Railene lakukan sampai telat bangun, kan?" kata Inchara masih mempertahankan senyum spoiler yang berbau gosip.


Ben mengangguk semangat dan mencondongkan tubuh tertarik. Berhadapan dengan Inchara, Ben bersiap mendengarkan dengan antusias. Penasaran, dia sangat penasaran.


Ketika keduanya melakukan ikatan gosip seperti itu di depan Railene, Railene merasa bahwa kedua orang itu membuatnya terheran-heran. Dia bingung dan rumit, baru menyadari bahwa entah sejak kapan, keduanya tidak lagi murni anak baik polos yang dikenalnya beberapa tahun lalu. Railene merasa bahwa dia adalah sosok orang tua yang melihat anak-anaknya bermetamorfosis sedikit demi sedikit sehingga menjadi banyak. Ya, mereka banyak berubah dan menjadi sangat manusiawi ketika sedang bersama.


Namun, tetap saja dia bingung. Dia merasa bahwa tindakan cerita biasa ini telah berubah menjadi gosip terpanas di kalangan keluarganya. Ini sangat lucu dan Railene melihatnya dengan tercengang, terutama ketika dia melihat senyum spoiler Inchara yang lebih mirip pembawa acara gosip yang sesekali dilihat Cecil, gadis make-up yang duduk di depannya.


"Ini aneh...," batinnya dengan sedikit halus.


***


Hai hai... maaf jarang muncul.


Jangan lupa like dan komentar.


Have a nice day!😊

__ADS_1


__ADS_2