Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
112.


__ADS_3

"Anggota kru? Mana kartu identitasnya?" Tanya staf keamanan penuh rasa posesif. Dia dibayar mahal karena ada aktris terkenal di dalamnya dan direktur terkait yang tidak bisa dianggap remeh. Dia tidak bisa membiarkan dua pemuda aneh di depannya membodohinya.


Alan dan Gery yang diragukan terdiam beberapa saat, tapi Alan segera membuktikan diri. Dia mengeluarkan kartu identitas staf dari sakunya dan memperlihatkan ke staf keamanan. Pria berkumis yang tinggi dan agak berotot itu segera memeriksanya.


"Alan? Namamu pasaran sekali. Tahu, kan preman yang sok kegantengan di sinetron 'Anak Pinggiran' itu? Namanya juga Alan. Ckckck, mungkin penulisnya terinspirasi darimu."


Staf keamanan berdecak sambil menuju mejanya dan meninjau kartu identitas Alan. Sedangkan kedua pemuda itu terdiam mendengar komentar sang staf keamanan. Lebih tepatnya Alan yang tak bisa berkata-kata ketika mendengar itu. Sedangkan Gery terbahak di sampingnya, memegang perutnya dan menepuk-nepuk lututnya karena terpingkal. Wajah Alan langsung mengerut tidak senang dan dengan gaya klasik yang tampan, dia menendang sendi lutut Gery hingga temannya tersungkur berlutut di depannya.


"Ahaha... duh duh duh..., Lan, sakit tahu nggak, hahaha..."


Gery yang berlutut dengan lemas masih terengah-engah karena tawanya yang harus direm paksa. Dia terduduk kemudian dan menghela napas berkali-kali untuk menstabilkan diri. Lalu, dengan seringai yang mencurigakan, dia masih ingin meledek temannya itu. Dan sebelum itu terjadi, Alan sudah berjalan ke depan meja staf keamanan yang sedang memeriksa identitasnya. Mengabaikan Gery yang tidak jadi berbuat jahil.


"Bisa masuk, kan?" Tanya Alan pada staf keamanan.


"Bisa. Tapi, temanmu nggak punya kartu identitas kru, kan? Jadi, dia nggak bisa ikut masuk." Staf keamanan itu bernada lugas dan seperti mengubah wajah posesif tadi.


Alan melirik Gery yang mendekat dan tersenyum sinis. "Dia nggak perlu masuk. Terima kasih, saya masuk dulu," kata Alan tanpa menunggu Gery sampai.


Gery hendak mengejar namun terhalang staf keamanan yang berkacak pinggang di depannya.


"Nak, kamu harus punya kartu identitas kru atau aktor untuk masuk. Jangan mempersulit saya, oke? Sini temenin saya nonton sinetron yang baru tayang. Judulnya juga keren loh, 'Istriku Mantan Pacar Ayah dari Ibuku', keren sekali yang bikin hahaha...," ujar staf keamanan sambil menyeret Gery yang hatinya penuh perjuangan.


"Tapi saya-"


"Udah pasrah aja. Jangan tapi tapi, kalo orang luar non kru masuk, nanti saya yang dipecat. Oh, udah mulai. Ayo nonton!"


Staf keamanan itu pun bersikeras menahan Gery dan bersemangat menonton sinetron di layar ponselnya. Gery tidak tahu harus berkata apa, tapi di dalam hati dia sudah mengumpat dan menyemprot Alan dengan segala macam makian.


...


Alan memasuki gedung setting di kru dan menuju ruangan khusus yang sedang syuting naskahnya. Dia masuk dengan lancar setelah melewati pintu dan menemukan kesibukan syuting di baliknya. Mungkin ini hari keberuntungannya, dia langsung melihat Railene di lokasi syuting sedang berdialog dengan Kaho.


Penampilan Railene berbeda dari biasanya. Untuk menyesuaikan, pakaian yang digunakan lebih lusuh dan dengan make-up, wajah putih bersih Railene menjadi sedikit kumal khas anak-anak yang kekurangan. Temperamennya juga bukan lagi gadis elegan yang beraura aristokrat, tapi seperti mentalitas orang-orang di pinggir kota yang miskin dan penuh inferioritas.


Saat Alan melihat ini, dia tertegun di tempat. Ini pertama kalinya dia melihat Railene syuting langsung dan ini pertama kalinya juga ia melihat Railene memiliki aura menyedihkan yang kuat sampai memengaruhi orang sekitar. Meskipun aktingnya tidak secanggih Kaho yang kompleks dan tersampaikan dengan tepat sasaran, akting Railene adalah yang terbaik di rentang usianya saat ini.

__ADS_1


Alan menghela napas panjang dan merasakan kemampuan luar biasa Railene dalam aspek seni. Gadis itu menyampaikan perasaannya dengan sangat benar. Ia sampai ingin menangis melihat ironi yang sebelumnya ia anggap biasa saja. Toh, dia bukan golongan orang miskin. Dia juga tidak mengerti mentalitas mereka. Dan setelah melihat Railene berakting saat ini, dia tahu apa artinya memiliki perbedaan dan arti memiliki masalah yang berbeda juga.


"Oke, cut!"


Jack berteriak dari balik monitor. Kaho dan Railene berjalan mendekat, meninjau hasil tembakan mereka tadi. Alan ikut berjalan mendekat. Sebenarnya ia memiliki sedikit kegugupan sekarang. Setelah terpesona oleh Railene karena aktingnya, dia harus menyelesaikan bisnisnya saat ini. Alasan yang benar-benar membawanya ke sini adalah liontin tanda khas turun-temurun yang ia lihat di kalung Railene.


Dia seharusnya tidak menjadi sangat posesif untuk benar-benar mengetahui tujuannya. Dan langkah pertamanya salah saat itu. Dibandingkan dengan menanyakan sesuatu sepenting warisan keluarga dengan begitu lugas, lebih baik membuat sasaran mempercayai dirinya sendiri dan membuatnya merasa baik.


"Kurasa ini sudah bagus. Oke, kita lanjut ke set selanjutnya," ujar Jack yang terdengar puas.


Alan yang mendekat mendengarnya dengan ringan dan gagal mendekati Railene yang sudah kembali ke set di lokasi syuting. Dia diam-diam duduk di samping Jack dan penuh dengan keberadaan yang tidak bisa diabaikan. Jack menoleh dan melihat Alan yang duduk tegak di sampingnya. Wajah tampannya cukup serius dan Jack tidak mengabaikan arah pandangan Alan yang tidak menjauh dari sosok Railene.


"Apa yang kamu lihat?" Tanya Jack dengan jahil.


Alan menoleh dengan refleks dan tidak mengatakan apa-apa. Dia menggelengkan kepalanya dan bersiap untuk menonton syuting.


"Kapan syuting hari ini selesai?" tanyanya kemudian dan Jack meliriknya dengan sebelah alis terangkat.


"Kamu punya urusan?"


Alan tidak langsung menjawab, tapi berdehem canggung. Jack tidak memerdulikannya dan setelah set syuting berikutnya siap, dia mulai berteriak lagi untuk memulai. Alan tetap di sampingnya seperti patung tak bergerak dan tak berkata apa-apa. Dia diam memperhatikan dan menunggu bisnis orang lain selesai.


...


Dua jam berlalu dan adegan hari ini selesai. Railene menuju ke Jack untuk melihat hasil rekaman barusan sebelum menuju ruang ganti dan berkemas pulang. Tapi, dia menemukan bahwa ada Alan di antara Jack dan kru layar utama. Dia mengangkat alis bingung namun tidak kentara. Demi kesopanan dia menyapa dengan ramah.


"Halo, Kak Alan!"


"Hai, aktingmu sangat bagus!" Alan membalas dengan pujian tingkat penuh. Wajahnya tersenyum dan matanya dengan jernih memancarkan kejujuran. Itu pujian tulus yang tidak dibuat-buat, jadi Railene menerimanya.


"Terima kasih."


Railene balas tersenyum dan melihat monitor bersama Jack. Adegan sebelumnya berputar dan dia menyaksikan dengan puas seluruh hasilnya. Itu bagus seperti biasa, meskipun tidak semegah Kaho, dia tidak cemburu pada seniornya karena memiliki akting yang lebih baik darinya.


"Oke, kamu bisa pulang, Railene!" kata Jack sambil menepuk bahu gadis itu dengan senyum bangga dan puas.

__ADS_1


"Hmm, bye Om Jack!"


Railene segera menuju ruang ganti untuk menghapus Make up dan berganti pakaian. Dia ingin segera pulang dan menyelesaikan penyelidikannya hari ini dengan Inchara. Waktu syuting ini tepat waktu dan dia mungkin akan bergadang nanti malam untuk menyelidiki beberapa hal.


Namun, sebelum dia memasuki ruang ganti, sebuah suara menghentikannya.


"Railene, tunggu sebentar!"


Railene menoleh dan mendapati Alan berjalan mendekat dengan urgensi di wajahnya.


Sambil menghela napas tipis, dia menebak bahwa apa yang akan dihadapinya tidak jauh berbeda dengan yang ditanyakan pemuda ini beberapa waktu lalu.


***


Chit Chat Rebirth:


Railene: "Baik, hari ini wawancara bersama Kak Yuchi dan kita akan menanyakan beberapa pertanyaan."


Inchara: "Saya mau tanya!"


Railene: "Tunggu, Chara, aku dulu."


Inchara: "Oke..."


Railene: "Kak Yuchi yang terhormat, kemanakah kamu pergi selama ini? Eh eh- tunggu jangan pergi. Kak Yuchiii!"


Saya: "Saya ambil jemuran dulu. Lain kali!"


Ben: "Dia kabur lagi, kan?"


Inchara: "Hum hum, story galau di wa-nya belum dihapus. Sepertinya dia malas lagi."


Railene: "Ck, menyebalkan!"


***

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar.


Have a nice day!😊


__ADS_2