
Diza memutuskan mengajukan cuti sebulan untuk fokus merawat Railene di awal-awal pertumbuhannya. Baik sebagai dokter maupun sebagai CEO trainer di perusahaan ayahnya. Berkat semua kontribusi Diza dan sejak bekerja belum pernah mengajukan cuti, Diza diizinkan dengan mudah. Direktur rumah sakit yang merupakan sahabat Diza sejak menjadi residen pun memberikan kesempatan untuk Diza agar wanita itu sembuh dari penyakit gila kerjanya. Ayah Diza juga menyetujui keputusan Diza bahkan menyuruhnya memperpanjang cuti.
Saat ini, Diza membawa Railene jalan-jalan ke taman di dekat rumah mewahnya. Diza juga membawa serta ibunya alias nenek Railene, menikmati pagi yang hangat. Beberapa kali mereka menyapa tetangga yang lewat. Untunglah mereka adalah orang-orang dari kalangan berpendidikan dan tentu saja beradab. Mereka menghormati privasi dan tidak suka mengurus urusan orang lain. Tidak sibuk menghakimi seperti tetangganya dulu.
Sedangkan Railene yang sudah memiliki nama akhirnya lega. Ia sejak beberapa hari, tidak berhenti bersikap ceria bahkan tidak merepotkan Bundanya dengan tingkahnya yang terlalu aktif. Dia mencoba menahan diri agar Bundanya tidak kerepotan.
Saat matanya menangkap dunia yang begitu damai ini, ia banyak berpikir dan terpekur dengan rencana. Apa yang akan ia lakukan ke depannya? Dia akan mengulang kehidupan menjadi anak-anak, remaja, lalu menjadi manusia yang berguna dan bisa membanggakan untuk Bundanya. Bagi Railene, itu mudah apalagi dia akhir-akhir ini memiliki semacam kemampuan baru.
Saat itu, Diza tidak sengaja meletakkan jurnalnya di dekat Railene saat ia bekerja sambil mengawasi Railene. Saat Diza mengambilkan asi untuknya, Railene tidak sengaja merasa kepo dengan apa isi jurnal itu. Lalu tangannya menyentuhnya dan di saat itulah, informasi kedokteran masuk ke dalam ingatannya. Dan ia mengerti sepenuhnya apa yang ada di dalam jurnal itu.
Itu membuat Railene terkejut tentu saja. Ia diberitahu oleh Malaikat bahwa dia memiliki kemampuan mengetahui masa lalu orang lain yang menatap matanya. Tapi tidak dengan kemampuan menyerap informasi seperti spons ini. Railene terdiam lama sampai Diza kembali dan memanggil-manggilnya.
Untung saja, dengan cepat Railene dapat memulihkan keceriaannya sebelum membuat Diza semakin panik karena melihatnya diam dan melamun kosong.
Hingga sekarang, saat dia di taman, dia masih memikirkannya.
"Kenapa aku bisa melakukannya?" batin Railene dengan wajah bayinya yang sedikit berkerut di dahi. Tangan dan kakinya yang biasanya bergerak-gerak pun sekarang hanya diam, terkulai di kasur kereta bayi.
Tanpa disadari Railene, kedua wanita yang merupakan bunda dan neneknya, sedang menggosipkannya.
"Ibu, apa ibu merasa kalau Railene akhir-akhir ini sering diam? Dia ceria kadang-kadang. Itu pun karena kita yang ngajak dia ngobrol." Keluh Diza sambil menatap putrinya yang hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu. Sangat tenang. Jauh dari Railene yang biasanya berisik tertawa atau menangis.
"Sejak kapan dia seperti itu, nak?" tanya nenek Railene.
"Aku nggak terlalu yakin, tapi aku melihatnya seperti itu beberapa hari lalu. Aku meninggalkannya sebentar untuk membawakannya asi, tapi saat aku kembali, dia sudah diam dan melamun. Aku sempat panik karena Railene nggak merespon saat aku panggil atau sentuh. Dia seperti berada di fokus lain. Aku khawatir dia kenapa-napa, Bu." ujar Diza.
"Apakah Railene melihat sesuatu ya?" gumam ibu Diza yang didengar oleh Diza.
"Maksud Ibu apa?" tanya Diza bingung dan sedikit khawatir.
"Bukankah biasanya bayi memiliki temannya sendiri? Bayi bisa melihat entitas lain karena penglihatan mereka berbeda dengan orang dewasa." jelas ibu Diza.
"Tapi, Bu. Bukannya itu berlaku untuk bayi yang belum bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sekitarnya? Sedangkan Railene itu sudah bisa melihat dengan jernih bahkan sejak hari pertama dia ada di dunia." bantah Diza yang sudah mengetahui fakta itu.
"Railene tetaplah bayi berusia kurang dari dua bulan, Diza. Beberapa inderanya pasti masih terikat dengan hal lain yang tidak kita ketahui." ujar ibu Diza.
__ADS_1
"Begitukah? Tapi, kalau keterusan gimana, Bu?" Diza masih cemas karena itu adalah pengalaman pertamanya merawat seorang anak.
Ibu Diza menenangkannya bahwa itu hanya bersifat sementara.
Railene sendiri sekarang masih memikirkan kemampuan barunya. Darimana asalnya? Apakah berkah ataukah kekuatan monster yang ia dapatkan ini? Bahkan tanpa semua penyerapan super itu, Railene sudah sangat jenius dengan IQ di atas 160. Dan sekarang dia kembali menjadi bayi. Hal itu memungkinkan peningkatan IQ karena otak anak-anak memang memiliki penyerapan yang sangat cepat. Jika Railene berlatih lagi, bukan mustahil jika dia bisa melampaui angka 160 jika sudah remaja atau dewasa.
"Wah, bukannya ini sebuah kecurangan yang nyata?" Dia terus bicara sendiri dalam batin.
Sebenarnya Railene ingin betanya pada Malaikat Izrail. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara menghubungi makhluk suci itu. Ia hanya pernah bertemu ibunya dan itu pun lewat mimpi.
Itu dia. Mimpi.
Kebetulan sekali dia mulai merasa mengantuk. Sambil menikmati pemandangan taman dan lalu lalang orang, Railene perlahan memejamkan mata dan mulai tidur. Mengabaikan gosipan bunda dan neneknya tentang dirinya.
"Sepertinya Railene tidur." ujar Diza yang kembali mengamati putrinya.
Ia menutup atap kereta bayi untuk menghalangi sinar matahari yang mulai terik. Tak terasa sekarang sudah pukul sepuluh pagi. Mereka segera kembali ke rumah dan melupakan percakapan mereka tentang keanehan Railene.
***
"Kenapa Bunda mengambil cuti cuma buat merawatku?"
"Bunda sangat cantik, apakah dia melakukan perawatan kulit? Eh, tapi semuanya terlihat alami... dan dalam ingatannya juga dia hanya menjaga pola makan dan olahraga teratur. Berarti memang itu yang terjadi."
"Ternyata Bunda juga sama denganku, tidak terlalu tertarik untuk menjalin hubungan percintaan. Mungkinkah faktor operasi pengangkatan rahimnya mempengaruhi pemikiran Bunda? Bisa jadi."
"Bunda tampak lebih bahagia dari sebelumnya. Apakah pengaruh dari gelarku sudah bekerja dengan baik?"
Oh, Railene bahkan lupa bahwa misinya tidur tadi untuk bertanya pada malaikat tentang kemampuannya. Tapi, dia tidak bertemu dengan sosok itu. Malah memimpikan hal lain yang tidak bisa ia atur sendiri dalam alam bawah sadarnya. Saat bangun pun, ia sudah menyerah begitu saja. Menerima kemampuan itu dan menganggapnya sebagai bonus dan kompensasi atas kelahirannya ke dunia kembali.
Railene sekarang sudah melepaskan dot botol dan kembali bergerak-gerak lincah. Seolah mengajak bundanya untuk mengobrol dengannya.
"Hei, Bunda! Ajari aku berjalan!"
Yang didengar Diza : "Ouuu uuooo oek!"
__ADS_1
"Kenapa sayang? Kamu sudah kenyang?" Diza menyingkirkan botol asi yang masih tersisa setengah. Ia membenahi posisi Railene di gendongannya dan terus berbicara pada putrinya.
"Oouuu uuu oeek oek..." (Translate : Aku bilang aku ingin belajar berjalan, Bunda!)
"Railene minta apa, hem? Mau main sama Bunda?"
"Oeek, uuumm." (Translate : Jalan! Jalan! Aku ingin berjalan!)
"Ululuuh..., anak Bunda yang manis..., suka banget kalo ngobrol sama Bunda, ya. Iya?"
Railene akhirnya diam. Dia menyerah dengan rencananya. Pada akhirnya yang keluar dari bibirnya memang bukan kalimat semestinya. Membuatnya kesal saja.
Ia hanya memperhatikan Diza yang berusaha membuatnya tertawa. Itu berhasil. Diza membuat wajah-wajah lucu yang entah mengapa di mata Railene itu terlihat menggelikan. Dia belajar banyak hari itu bahwa menjadi bayi, berarti menjadi receh dengan selera humor rendah. Sungguh, mungkin dia perlu memperbaikinya di lain waktu.
***
Chit Chat Rebirth :
Renzi a.k.a Railene : Kapan aku tumbuhnya sih, Thor? Perasaan aku jadi bayi mulu di 4 episode ini. Capek aku tuh..., mana kagak ada yang ngerti omonganku.
Saya : Saya suka bayi dan fase yang mereka alami. Kalo mau tumbuh, saya sarankan kamu makan asi lebih banyak.
Renzi a.k.a Railene : Eh? Itu beneran mempercepat pertumbuhan kah?
Saya : Kamu coba aja sendiri.
Diza : Kenapa anakku punya nama lain?
Saya : *Menjauh karena sakit perut setelah ngakak panjang*
Renzi a.k.a Railene : Bunda... *hiks, menangis di pojokan*
.
.
__ADS_1