
Railene sedang berada di perusahaan Kakeknya, Golden Company. Perusahaan multinasional yang naik perlahan ke permukaan dan berada di bidang properti. Namun baru-baru ini mulai mengembangkan pasarnya ke kancah Internasional bahkan menambah bidang lain yaitu teknologi.
Railene sedikit tahu tentang perkembangan perusahaan Kakeknya yang cenderung stabil. Namun, bagi Railene ini sedikit lambat. Ketika dulu dia menjadi CEO, pemulihan perusahaan milik ayahnya yang hampir bangkrut terhitung sangat cepat. Tidak sampai dua tahun, perusahaan itu berdiri kokoh dengan kekuatan aslinya. Lalu, perlahan meningkat dan menjadi tiga besar perusahaan nasional yang mendominasi. Peningkatan ini relatif terjadi sangat cepat. Tidak seperti Golden Company yang masih merangkak naik perlahan bahkan baru akan memasuki kancah Internasional setelah hampir dua puluh tahun didirikan.
Railene sedikit ingin memberikan pembaruan dan membantu meningkatkan kualitas internal perusahaan sehingga mampu lebih produktif di masa depan. Sayangnya, ia masih akan dianggap mengerikan ketika menunjukkan spesialisasinya di usia delapan tahun. Ia merasa tidak berguna sekarang.
Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah mengikuti Kakeknya dan berpura-pura bertanya banyak hal. Belajar bisnis dari nol seolah belum pernah mempelajarinya. Dalam hal berpura-pura dan sandiwara, Railene cukup mampu dan tak bercelah. Aura charming polosnya sangat membantu dan bagaimanapun binar cerah di matanya begitu nyata terlihat. Menarik, cantik, dan murni.
Dia memanfaatkan kelebihannya ini untuk perlahan-lahan memasuki dunia bisnis dan setelah belajar cukup, dia akan memberikan saran yang lebih rasional. Beberapa staff terdekat sudah tahu betapa jeniusnya cucu seorang Johar. Mereka kadang mendapatkan pertanyaan mengenai perusahaan dan menjawab dengan bahasa yang mudah dipahami. Mereka terbiasa begitu dan mengagumi Railene tanpa syarat. Gadis kecil itu memiliki tata krama yang baik, pintar, dan dapat mengerti semuanya dalam sekali penjelasan.
Sekarang dia bahkan sedang mengikuti rapat bulanan pemegang saham. Dia duduk di salah satu kursi di samping Kakeknya. Membaca-baca dokumen dengan serius. Sayangnya wajahnya yang masih anak-anak membuat tingkah Railene menjadi menggemaskan. Orang-orang melihat bahwa Railene seperti sedang mencoba terlihat seperti orang dewasa. Namun, tidak ada yang berkomentar apapun karena ada Johar di sana.
Rapat dimulai dan berjalan dengan lancar. Beberapa kali Railene menandai dan mencoret-coret dokumen di tangannya. Beberapa memperhatikan Railene seperti sedang menggambar-gambar isi dokumen. Mereka tidak berkomentar apapun atau keberatan karena bentuk yang dipegang Railene merupakan salinannya. Berpikir bahwa tidak masalah untuk gadis kecil itu bermain-main.
Hanya sekertaris Johar yang duduk cukup dekat dengan Railene yang tahu apa isi coretan gadis kecil itu. Jantungnya seperti berhenti berdetak sepersekian detik saat melihat isinya. Wajahnya penuh kejutan. Ia memandang Railene dan dokumen itu bolak-balik. Dengan tidak terlalu memperhatikan rapat, dia mencoba menenangkan dirinya.
Merasa diperhatikan, Railene menoleh ke samping dan tersenyum kecil. Ia mengangkat tangannya ke bibir dan membuat isyarat untuk diam. Jangan memberitahu siapapun tentang apa yang sedang dikerjakannya. Sang sekertaris hanya bisa mengangguk paham. Lehernya kaku dan bibirnya bergetar.
"Gadis ajaib."
__ADS_1
Railene samar mendengar isi pikiran si sekertaris dan bibirnya berkedut di ujungnya. Sepenuhnya tidak setuju dengan anggapan itu. Namun, dia tidak repot-repot menjelaskan atau melirik si sekertaris. Ia melanjutkan memeriksa dokumen itu. Lima menit kemudian, ia selesai dan menutupnya. Memandang sekeliling yang masih dalam suasana rapat membosankan.
Bulu mata panjangnya terkulai ketika dia menurunkan pandangannya. Sekilas pemandangan dan aura pemalas mencuat dari dirinya. Seolah itu jenis kepribadian asli yang langsung dapat begitu saja muncul.
"Chara, apa ada pengkhianat di antara orang-orang ini?"
Railene tiba-tiba penasaran. Tiga tahun lalu, perusahaan Kakeknya menemukan celah dan seorang manager tak bertanggung jawab hadir di tengah-tengah divisi marketing. Perusahaan hampir rugi besar karena penyelundupan yang dilakukan manager dan suap yang diterimanya dari seorang pesaing perusahaan lain. Railene marah saat itu namun tidak mengambil tindakan apapun. Kakeknya sudah cukup untuk turun tangan dan membuat manager itu meninggalkan jabatan dan perusahaan ini.
Sekarang, setelah beberapa tahun berlalu, ia masih penasaran apakah orang-orang yang berada di bawah naungan Golden Company sebagai para pemegang saham ini dapat diandalkan dan masih setia pada Kakeknya. Ia ingin tahu karena intuisinya berkata bahwa seseorang sedikit mencurigakan. Ini tidak setajam ketika ia menemukan sosok yang begitu jelas menyimpang dari jalurnya atau berkhianat.
"Belum ada. Orang-orang ini memiliki cukup otak untuk tidak melepaskan begitu saja perushaaan ini," ujar Inchara dengan nada suara yang melegakan.
Railene bergumam mengiyakan. Pandangannya masih ada pada meja dan tautan tangannya. Memikirkan banyak hal dan tidak memperhatikan jalannya rapat. Dia sudah mengerti hasilnya dan menunggu rapat selesai. Toh, ia menikmati kemalasannya yang tiba-tiba saja muncul.
Sementara semua orang sibuk dengan rapat, Railene mengeluarkan ponselnya dan memainkan game pertarungan. Dengan volume hening, ia membawa timnya semudah ia menggerakkan jarinya. Berpindah cepat dan terlihat seperti profesional gamer.
Si sekertaris masih di sampingnya dan kembali dibuat terkejut. Bukan karena kelincahan Railene dan permainannya yang luar biasa. Tapi itu karena ID game yang digunakan gadis itu.
Sekertaris itu juga merupakan veteran game selama setahun. Dia sering mendapati kawan-kawannya membicarakan legenda yang tidak pernah kalah dalam battle maupun permainan kelompok. Itu adalah akun bernama Second Life yang sekarang dilihatnya sedang dimainkan oleh Railene.
__ADS_1
Mengingat bahwa game ini sudah eksis selama tiga tahun, Sang sekertaris menahan napas tajam dan menghembuskannya perlahan. Dia baru saja menyadarinya bahwa tiga tahun lalu adalah debut Second Life dengan kemenangan berturut-turut bahkan ketika melawan karakter dengan level lebih tinggi. Berapa usia Railene saat itu?
Itu lima tahun. Nama besar yang ditakuti veteran itu adalah gadis kecil berusia lima tahun. Banyak spekulasi muncul tentang identitas dibalik akun Second Life, namun tidak ada satu pun yang benar. Kebenaranya justru mencengangkan bahkan ketika orang-orang mengetahuinya, mereka akan sweat drop saking terkejutnya.
Railene tidak mengetahui isi pikiran si sekertaris dan tetap bermain dengan gamenya. Sesekali ia bergumam sangat lirih hanya untuk mereaksi permainan cepatnya. Tidak sibuk merespon siapapun di sekitarnya.
Lima belas menit kemudian, rapat berakhir. Railene mengikuti Johar kembali ke ruangan CEO. Keduanya meninggalkan ruang rapat dengan cepat. Si sekertaris dengan gesit mengambil dokumen yang ditinggalkan Railene dan melihatnya. Ia terbatuk dengan keras dan menarik perhatian beberapa pemegang saham. Salah seorang mendekat dengan heran.
"Apa ada sesuatu Tuan Saka?" Tanyanya dengan gamblang.
Ia adalah salah seorang yang beberapa kali melirik Railene yang mengerjakan coretan di dokumen ini. Tangannya terulur dan memindai isi dokumen. Ia membacanya dengan cepat untuk menemukan kejutan yang sama. Wajahnya pucat pasi namun kecerahan di matanya menjelaskan segalanya bahwa dia senang.
"Apa... apa ini adalah sesuatu yang ditulis Nona Muda Aristokelly?" Tanya sang pemegang saham dengan tergagap. Tangannya gemetar memegang dokumen itu.
Saka sang sekertaris menghela napas sebelum mengangguk dengan mantap. "Itu benar, saya mengawasinya sejak lama," ujarnya menjelaskan segalanya. Keduanya terjebak dalam kebekuan yang begitu mengejutkan sekaligus mengagumkan.
***
Hai hai, terima kasih untuk yang udah menyempatkan untuk membaca cerita ini.
__ADS_1
Like jangan lupa.
Have a nice day!😊