
Railene mencapai kesepakatan dengan Selena. Ia sudah tahu semua yang ingin dicapai Selena dan dia juga memberitahu Selena tentang sedikit kemampuannya. Tentu saja itu tidak semua. Dia hanya mengatakan bahwa dia bisa membaca masa lalu orang lain dengan mudah.
Selena tentu saja tidak percaya sebelum Railene menceritakan secara lengkap tentang riwayat hidupnya sendiri. Selena pada akhirnya percaya dengan perasaan ngeri dalam batinnya.
"Apa kamu bisa membaca pikiran juga?" Tanya Selena menjadi penasaran. Aura dingin dan tajamnya telah lama mereda. Itu digantikan keakraban yang melegakan.
Selena tidak pernah membagi kata dan cerita hidupnya pada siapapun. Ketika Railene tahu segalanya, dia entah mengapa merasa lega. Setidaknya ada seseorang yang memahami tindakannya meskipun itu hanyalah seorang gadis kecil dengan kemampuan membaca masa lalu yang sangat misterius.
Dengan cepat ia merasa akrab dengan Railene. Toh Railene telah mengetahui segalanya dan dia bisa dengan mudah membawa dirinya. Dia bahkan menginginkan sepotong informasi yang mungkin akan Railene dapatkan dari ingatannya yang kabur.
Keduanya mengobrol sampai hampir pagi.
"Nggak. Akhir-akhir ini kayaknya beberapa kali bisa dengar suara pikiran orang lain, tapi itu jarang banget." Railene jujur tentang ini. Identitasnya bersih dan ia tahu bahwa Selena menganggapnya sudah sama-sama membuka rahasianya. Itu memang benar, tapi Selena tidak tahu bahwa yang diutarakan Railene hanya sepotong rahasia kecil.
"Apa kamu mengembangkan kekuatan supernatural sendiri?" Selena masih dalam tahap penasaran tingkat akut.
"Aku mengembangkannya. Tapi untuk yang membaca masa lalu, itu terjadi sejak lahir."
"Bagaimana kamu belajar mengembangkannya?"
Railene terdiam. Ia mengingat hal-hal dalam kurun waktu satu tahun ini dan dia benar-benar merasakan perubahan untuk pertama kalinya adalah dua bulan sebelum Ujian Nasional. Dimulai dari sentakan dalam pikirannya, bagaimana ia tiba-tiba bisa bicara dengan Inchara di luar alam mimpi, dan stimulan dari getaran pikiran orang lain yang terkadang bisa dia dengar.
Itu semua terjadi begitu saja. Dia tidak melatihnya dengan sungguh-sungguh namun itu meningkat ketika ia lebih sering menggunakan pikirannya untuk bekerja. Akhir-akhir ini juga ia sedikit menjadi pemalas dalam bergerak. Pikirannya sangat aktif dan demi mempermudah segalanya, ia membuat banyak trik berguna. Secara tidak langsung, itu berarti dia memiliki pelatihan penggunaan pikiran dengan cara sederhana.
__ADS_1
"Aku menjadi pemalas dan mulai banyak menggunakan pikiran untuk mempermudah banyak hal. Apakah itu dianggap latihan untuk mengembangkan?" Railene sedikit skeptis.
Selena mengerutkan keningnya samar. Merasa itu cukup unik namun dia benar-benar heran. Bisakah itu benar-benar terjadi hanya karena pelatihan yang sepertinya dianggap enteng oleh gadis kecil itu? Selena tidak tahu harus berkata apa.
"Apa kamu punya spesifikasi situasi tertentu waktu kamu bisa dengar pikiran orang lain?" Tanya Selena.
Railene menggeleng namun alisnya berkerut samar memikirkan sesuatu.
"Aku coba memahami sesuatu dan sepertinya itu dipengaruhi oleh seberapa kuat seseorang memikirkan tentang itu sehingga tiba-tiba aku bisa mendengarnya."
"Berapa rasio kemungkinan dalam sehari? Apa itu stabil dan konstan?"
Railene menggeleng lagi, "Itu jarang dan bahkan aku bisa nggak dengar apapun selama seminggu dari pikiran orang lain."
Selena mengerutkan kening lagi. Sejak beberapa saat lalu yang ia pikirkan adalah bagaimana membentuk suatu kekuatan yang magis seperti itu. Semasa kecilnya, ia ingat pernah mendengar tentang orang-orang yang mempelajari telekinesis dan telepati sebagai pendukung kekuatan tersembunyi sebuah keluarga misterius. Dia entah mendengarnya dimana dan tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Tapi ia tahu ada hal-hal seperti itu di dunia ini. Contohnya adalah sosok gadis kecil di depannya.
Masalah dan kasus Railene adalah jarang. Selena heran mengapa Railene mengatakan semuanya kepadanya dengan begitu mudah bahkan tanpa keraguan di matanya. Mereka hanya orang asing satu sama lain dan baru memiliki total tiga pertemuan dalam waktu singkat.
Railene menggeleng atas pertanyaan Selena. Dia tersenyum kecil tapi matanya memunculkan kerumitan yang kompleks. Selena entah bagaimana bisa memahami sesuatu dari hal ini.
Railene mengalami situasi dimana dia lebih meyakinkan dirinya sendiri untuk jujur pada orang asing dengan karakter yang sesuai daripada jujur pada orang yang dikenal namun katakternya tidak terlalu sesuai. Selena berpikir mungkin orang tua gadis kecil itu memiliki karakter yang terlalu rasional dan bahkan sedikit overprotektif kepadanya. Selena juga tahu bahwa Diza, sebagai Bunda Railene adalah seorang wanita modern yang dipenuhi nilai-nilai intelek yang harmoni dan bahkan mungkin tidak akan serta merta percaya pada keajaiban. Dia sudah menyelidikinya sebelumnya.
"Kenapa kamu bilang ini ke aku? Gimana kalau misal aku berkhianat dan membiarkan kamu diincar sebagai objek penelitian?" Selena sedikit menguji Railene.
__ADS_1
"Kak Lena bukan orang yang begitu. Aku tau, semua rahasia bahkan bakal dibawa sama Kakak sampai mati kalau itu seharusnya nggak boleh diketahui orang lain," ujar Railene lugas.
Selena sedikit terkejut namun wajahnya tanpa riak. Ia mengamati mata hitam Railene yang bersinar dan jernih dibawah cahaya remang ruangan. Aura dari gadis kecil di depannya memang berbeda. Dia tidak bisa menyangkalnya bahwa sekarang dirinya terasa seperti sedang menghadapi orang dewasa dibanding anak-anak.
"Baik." Selena mengangguk kecil.
Railene menggenggam gelas susunya dan meminumnya sampai habis. Meletakkan gelasnya di meja, dia mengambil sebuah kertas dan bolpoin dari atas meja kecil. Lalu dengan serius menulis sesuatu.
Selena tidak tahu apa yang ditulis oleh gadis kecil itu. Ia hanya melihat wajahnya yang menunduk hingga memperlihatkan bulu mata panjangnya yang indah membentuk bayangan di pipinya. Bibir kecilnya membentuk seringai kecil yang terlihat licik. Selena tidak tahu apakah itu imajinasinya atau bukan, tapi melihat Railene yang sedang menulis seperti itu, ia seperti melihat orang-orang di balik layar komputer yang tahu segalanya. Itu disebut hacker.
"Apa kamu belajar akting?" Tanya Selena tiba-tiba. Ia hanya penasaran karena aura Railene selalu berubah-ubah sepanjang waktu. Seperti sosok dengan berbagai kepribadian. Dan yang lebih mengesankannya lagi, semua karakter dan auranya terlihat kuat dan mendominasi.
"Hmm? Nggak. Aku belum pernah akting," ujar Railene mendongak sebentar lalu lanjut menulis.
Selena menghela napas tipis. Hampir tidak terdengar bahkan dengan telinga super. Ia melihat Railene semakin intens dan mengenalinya sebagai bakat muda yang jika dikembangkan, akan bisa mendominasi di tingkat tertinggi strata hidup manusia.
"Kamu belajar program komputer?" Tanya Selena lagi. Ia masih ingin mengorek banyak hal dari gadis kecil di depannya. Menarik sekali. Bahkan tatapan tajamnya sudah sepenuhnya hilang sekarang. Itu digantikan dengan kemurnian rasa penasaran dan ketertarikan.
"Hu um. Karyawan IT di perusahaan Kakekku adalah teman baikku. Mereka suka ngajarin aku kalau ada waktu luang. Gimana Kak Lena tau aku belajar program komputer?" Tanya Railene yang nampaknya sudah menyelesaikan tulisannya di kertas.
***
Maaf ngilang beberapa hari karena hal-hal yang tidak bisa diprediksi.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar. Update dua buat mengganti yang kemarin-kemarin hehe. Maap dikit.
Have a nice day!😊