Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
15. Si Pengkhianat


__ADS_3

Railene memperhatikan perempuan itu dengan intens. Kemudian memutar bola matanya malas. Ia mengenali dengan baik siapa perempuan bersetelan ini. Ingatannya yang tajam mampu merekam dengan sangat jelas bahwa perempuan ini adalah salah satu yang memiliki sifat terburuk dari orang-orang yang pernah dikenalnya di masa lalu.


Sedang sibuk memarahi Syam, membuat perempuan itu bernilai lebih rendah dari penampilannya karena kata-katanya yang tidak tersaring. Terlihat tidak pernah dididik dengan tata krama yang elegan dan berkelas. Hanya penampilan saja tidak cukup membuat seseorang bernilai tinggi di hadapan yang lainnya.


"Om nggak papa?" Suara imut Railene memecah omelan si perempuan. Wajahnya yang polos menjadi perhatian selanjutnya. Beberapa orang di sekitarnya terkesan dan langsung mengatakan dalam hati bahwa betapa imutnya gadis kecil itu.


"Eh? Kenapa kamu di sini? Duduk aja di tempat tadi ya...," ujar Syam membujuk. Menyamakan tingginya dengan Railene.


Railene menggeleng. Ia kemudian menoleh dan mendapati si perempuan juga terpaku padanya. Menatap tajam ke arah si perempuan, Railene berkata dengan polos.


"Kenapa tante marah-marah ke Om Dokter?" Railene berwajah imut itu sangat lucu ketika marah. Pipinya menggembung gemas dan matanya berbinar tajam.


Si perempuan terkejut karena dirinya yang dimaksud oleh gadis kecil itu. Kemudian ia ingat bahwa bajunya masih kotor gara-gara tumpahan sup. Ia menatap tajam ke Syam dan mengomel.


"Gimana nggak marah? Liat bajuku kotor gara-gara dokter sial*n ini! Tau nggak semahal apa baju ini? Gila ya, makanya kalo jalan pake mata! Bisa nggak sih nggak usah buru-buru? Bikin orang dongkol aja!"


Railene mengerjap beberapa saat. Ia menjadi benar-benar tidak suka dengan perempuan di depannya. Namun, kali ini ia ingin memberinya pelajaran sedikit.


"Sial*n? Apa itu sial*n?"

__ADS_1


Beberapa orang di sekitar mereka bertiga bereaksi. Para orang tua yang sudah memiliki anak menggeram di balik meja masing-masing. Salah satu dengan dandanan berkelas menghampiri dan berdiri di samping Railene.


"Nona, tolong jangan sembarangan mengatakan hal kasar di depan anak kecil. Apa Anda tidak diajari untuk berkata sopan? Saya pikir penampilan Anda sesuai dengan integritas dan harga diri yang berkelas. Tapi ternyata penampilan juga bisa menipu," ungkap si Nyonya yang sepertinya orang berpengaruh.


Wajah beberapa orang mengangguk setuju. Mengatakan diam-diam bahwa mereka mendukung argumen si Nyonya. Perempuan itu bertambah marah. Wajahnya merah hingga telinga.


"Heh, nenek tua! Nggak usah ikut campur bisa nggak? Urusanku cuma sama Dokter bangs*t ini. Mending urus urusanmu sendiri!"


Perempuan itu semakin menggila. Beberapa orang benar-benar tidak tahan dan langsung berwajah buruk. Perempuan ini benar-benar membuat malu.


"Om, apa itu bangs*t?" Pertanyaan Railene memperburuk kemarahan orang-orang.


"Benar-benar buruk. Apakah Anda benar-benar tidak mengerti yang namanya sopan santun? Baju seperti itu tidak lebih mahal dari mental anak-anak yang masih polos. Anda bahkan mencemarinya dengan kata-kata kotor yang tidak seharusnya dia dengar! Dokter ini pun tidak sengaja dan sudah minta maaf. Bahkan berniat mengganti pakaian Anda yang tidak seberapa harganya! Benar-benar membuat malu!" Nyonya lainnya maju membela. Dia lebih terang-terangan dan wajahnya terjaga dengan kemarahan di bola matanya.


Tak berapa lama muncul sosok laki-laki yang berwajah buruk karena saat ia kembali dari toilet, perempuan yang datang bersamanya itu membuat masalah lagi. Ia benar-benar malu dan pasti akan langsung menyeret perempuan itu untuk segera pergi dari sana. Tempramennya yang begitu membuatnya sering lupa daratan dan tidak sadar siapa yang dilawannya itu.


Si laki-laki mengenali dua nyonya yang berdiri di depan Railene. Mereka masing-masing adalah dua perempuan pemegang saham di rumah sakit ini. Dan perempuan udik yang suka berkata kasar itu menghancurkan reputasinya hingga ke akar. Dengan langkah cepat dan penuh kemarahan, laki-laki itu menarik tangan si perempuan agar ia berhenti bicara.


Melihat siapa yang datang, si perempuan terkejut. Namun, ia merasa senang karena ia berekspektasi bahwa dirinya akan dibela oleh laki-laki yang sedang ia dekati ini. Sayangnya itu hanya angan belaka.

__ADS_1


"Maafkan teman saya. Untuk Dokter Syam, saya juga minta maaf karena memperpanjang masalah ini. Anda tidak perlu mengganti baju atau apapun itu. Dan untuk kata-kata kasarnya, saya mohon maaf dan sangat menyesal karena itu harus didengar oleh anak-anak. Jika Anda semua berkenan, kami akan pergi dan menyelesaikan masalah di sini."


Wajah berwibawa dari laki-laki itu membuat si perempuan memucat. Sebaliknya, Syam yang namanya dikenali menjadi tersadar. Ia pun segera minta maaf dan mempersilakan mereka berdua pergi dari kafetaria rumah sakit.


Railene memperhatikan lamat-lamat kedua orang itu menjauh. Dia sedikit puas karena pasti kedua pengkhianat itu pasti akan bertengkar hebat. Bukan hanya mengoyak kepercayaan Syam sebagai dokter kunci dari yayasan rumah sakit ini, namun perempuan itu juga menyulut kemarahan dua pemegang saham terbesar di rumah sakit. Nyonya-nyonya dari keluarga Shima dan Sinaga, keluarga dengan urutan kekayaan di peringkat ke-3 dan ke-5.


Mengapa Railene menyebut keduanya pengkhianat? Itu karena di masa lalu, Railene pernah berhubungan dengan kedua orang itu. Iblis masa lalu yang suka menjilat sana-sini. Mengguncang dengan cara curang dan berdalih memutar balik keadaan. Jika saja dulu Railene terpengaruh pada kedua orang itu, mungkin sudah sejak dulu Railene menjadi gelandangan di kehidupan pertamanya.


Tapi, keberuntungan berpihak padanya. Seolah terbiasa menghadapi saingan bisnis dengan embel-embel licik, ia bisa membedakan mata berambisi dan mata yang penuh dengan kekejaman. Dunia bisnis dan orang dewasa memang kotor terutama mereka yang berjalan di jalan itu.


Beralih ke saat ini, Dokter Syam menggendong Railene dan berterima kasih kepada kedua Nyonya itu. Mereka berbasa-basi singkat dan bertanya siapa Railene ini. Dan Syam menjawab dengan jujur. Mereka berbincang sebentar dan Railene beberapa kali mendapatkan pertanyaan. Dijawab dengan cerdas dan polos. Membuat kesan baik bahwa Bundanya sangat bijak dan baik dalam mendidiknya. Mendengar hal itu Railene sangat senang.


Ia berpikir bahwa sopan santun memang sangat penting. Dimana pun dan kapan pun, hal itu berlaku dan membuat orang-orang segan berhadapan dengannya. Memperlakukannya dengan sama baiknya kecuali orang-orang udik yang tidak tahu tata krama. Seperti si perempuan tadi contohnya.


Sepertinya hari ini Railene dipenuhi dengan nostalgia. Dia bertemu keponakan dari orang kepercayaannya sekaligus bertemu dua musuh besarnya di masa lalu. Dia kembali mengulik dan takdir memang sesuai. Kedua pengkhianat itu sepertinya sedang dalam kesulitan. Lalu situasi mereka bertambah sulit karena keduanya berhasil mendapatkan kebencian dari dua keluarga berkuasa. Sungguh malang.


***


Like and comment please.

__ADS_1


Thank you.


.


__ADS_2