
Claudya terhimpit antara mengaku dan tidak mengaaku. Jika dia mengaku, orang tuanya akan menghukumnya dengan sangat keras. Namun, jika tidak mengaku, orang tua Railene dan para guru sudah mengerti dan melihat bukti.
Di bawah tatapan orang-orang dewasa di sekitarnya, ia sangat gemetar. Dia benar-benar menyesali tindakannya. Railene bukan gadis biasa. Ibunya adalah dokter berpengaruh sekaligus pengusaha yang telah berjaya lima tahun terakhir. Railene juga memiliki dukungan kuat dari Jean yang ia tidak tahu apa hubungannya. Tapi mereka seperti Bibi dan keponakan yang saling menyayangi.
"Aku...," Claudya sekali lagi terbata.
Ia melirik ayah dan ibunya yang menatapnya setajam silet. Terutama ayahnya. Membayangkan bagaimana ia dihukum dengan keras karena tidak mematuhi aturan atau nakal, ia menjadi gemetar. Claudya benar-benar tertekan secara mental.
"Railene dulu yang mengataiku!" Pada akhirnya itu yang dia ucapkan.
Membuat orang-orang di sekitar mengernyitkan dahinya heran. Curiga terhadap kebohongan. Benerapa guru dan Kepala Sekolah tidak percaya itu. Pasalnya mereka sangat mengenal Railene dan bagaimana gadis itu berperilaku. Railene tidak pernah mengejek bahkan menggunakan kata-kata yang bermakna menghina kepada orang lain.
Sementara semua orang tahu, sejak awal Claudya tidak menyukai Railene karena selalu membuatnya bermasalah. Seperti melaporkan kecerobohan Railene hingga gadis itu diusir dari kelas, menyebar perkataan yang tidak benar tentang Railene kepada teman-teman sekelasnya. Bahkan salah satu guru tahu salah satu kejahatannya yang lain, menukar jawaban Railene hingga gadis itu mendapatkan nilai yang lebih rendah daripada rata-rata.
Claudya suka memainkan intrik dan membuat Railene dalam masalah, semua orang tahu itu kecuali orang tuanya, Diza, Jean, dan Kepala Sekolah.
Diza mengernyit tidak senang. Raut wajahnya sedingin es. Dia beku dalam kemarahan yang berkilat di matanya.
"Railene mengataimu?" Diza bertanya retoris.
Claudya mengangguk gugup.
__ADS_1
"Apa kamu tahu setiap yang diceritakan Railene tentang teman-temannya kepada saya?" Suara Diza menjadi lebih rendah.
Claudya menggeleng. Dia melirik Diza ketakutan dan melihat ke orang tuanya yang berwajah keras. Terutama ayahnya. Ibunya terlihat ingin membela, namun ia tidak diizinkan sebelum ada yang mempersilahkan.
"Kamu Claudya, kan?" Tanya Diza lagi. Caludya mengangguk.
"Gadis penurut yang sangat rajin dan begitu serius. Tidak pernah lupa mengumpulkan tugas, sangat baik dalam ujian, suka berbagi pada temannya, dan suka menolong," Diza menjeda sejenak. Tatapannya masih terpaku pada Claudya yang terkejut mendengar kalimat Diza.
"...Itu semua adalah apa yang Railene ceritakan tentang kamu. Dan sekarang, kamu menuduh anak saya mengataimu sampai-sampai kamu mau mencekiknya hingga mati?" Diza menatap dengan dingin.
Diza lalu menatap orang tua Claudya dengan intens. Matanya menyiratkan ancaman jika mereka berani bicara dan membela bocah bersalah itu. Ibu Claudya adalah tipikal yang sekali digertak dia akan diam dan menurut, sedangkan ayahnya adalah tipe sebaliknya. Namun, ayah Claudya bijak dalam kata-katanya. Ia kooperatif dan memandang Claudya dengan tatapan peringatan.
"Apakah kalian tahu keadaan Railene sekarang? Karena bocah ini mengaku dia dikatai oleh Railene, dia menecekik Railene hingga mengalami traumatis kerongkongan sampai sulit menelan, trauma otot dan tulang sampai sangat sakit bahkan saat saya menyentuh untuk memeriksanya. Apakah ini cukup dan balasan yang sangat wajar? Gadis ini terlalu kejam." Diza mencela dengan sangat dingin. Nada suaranya rendah dan mencekam.
Orang tua Claudya mengetatkan rahang mereka. Saat mendengar apa yang dikatakan Diza, mereka menatap Claudya yang pucat dengan ancaman. Mengaku dan mari jangan berurusan dengan hukum.
Sebelum suaranya keluar, ketukan di pintu membuat semua orang menoleh. Jean mempersilahkan masuk. Seorang laki-laki dengan setelan jas rapi menyapa Diza dengan hormat. Ia kemudian duduk setelah dipersilahkan.
"Apa yang kamu dapatkan?" Tanya Diza langsung.
"Beberapa bukti mengungkapkan bahwa Railene tidak bersalah dan murni menjadi korban. CCTV menangkap dimana Railene mendatangi perpustakaan dan mengobrol dengan Claudya sebelum kejadian itu terjadi. Karena tidak menangkap isi obrolan, saya melakukan penyelidikan dengan bertanya pada beberapa orang yang ada di sekitar. Anak-anak kelas lima sedang belajar di perpustakaan dan beberapa dekat dengan kejadian. Bahkan yang melaporkan kejadian tercekiknya Railene, adalah salah satu siswa itu," ujar sang pria.
__ADS_1
"Salah satu siswa laki-laki yang melihat Railene masuk perpustakaan ingin mengobrol dengan Railene sehingga mengikutinya. Tapi, Railene datang untuk bertemu Claudya dan mengajaknya bermain. Tidak ada kata-kata yang salah. Railene benar-benar menganggap Claudya teman yang baik bahkan dia ingin dekat dengan Claudya. Namun, dari beberapa kesaksian, Claudya selalu menolak Railene bahkan sering membuat masalah bagi Railene hingga kejadian tercekik itu terjadi," ujar si pria membuat Claudya benar-benar sepucat mayat.
"Ah, maaf sebelumnya. Saya Gerald, pengacara khusus keluarga Aristokelly," ujar si pria kemudian. Memperjelas bahwa Diza serius ingin menindaklanjuti ke ranah hukum jika keluarga Claudya tidak mau kooperatif.
"Bagaimana kamu bahkan sangat kejam pada gadis yang mau berteman denganmu? Kamu bahkan mencekiknya sampai hampir mati karena hal-hal yang tidak beralasan. Tuan dan Nyonya Franz, apakah kalian yakin putri kalian tidak mengalami gangguan mental? Dia menyerang dengan brutal seorang gadis kecil yang sama sekali tidak tahu apa-apa!" Jean marah di tempatnya. Ia tidak bisa lagi menahan opininya sendiri.
"Claudya, mengaku dengan jujur!" Tuan Franz berkata tegas dan marah. Dia memandang putrinya itu dengan pandangan yang mungkin membunuh gadis itu.
Claudya menjadi tertekan. Ingatannya kembali pada Railene dan bagaimana wajahnya. Amarah menguasai dadanya. Ini semua karena gadis itu. Jika saja Railene tidak masuk dan mencampuri sekolah ini, dia tidak akan terjebak dalam hal-hal yang seperti ini.
"CLAUDYA!" Bentakan Tuan Franz menyadarkan Claudya le dunia nyata. Tiba-tiba matanya kosong. Ayahnya tidak pernah peduli usahanya. Dia takut mengecewakan ayahnya yang selalu menuntutnya untuk menjadi yang pertama sehingga ia mulai menyalahkan Railene karena gadis itu selalu menjadi yang pertama.
"Iya. Aku benci Railene!" Ungkap Claudya dengan kalimat yang jelas.
Wajahnya menunduk namun dia menyembunyikan pancaran gelap di matanya. Beragam emosi mengisi hatinya dan tiba-tiba dia merasa bahwa dia tidak memiliki tempat dimana-mana. Teman-teman membencinya, orang tuanya hanya menyayangi kakaknya yang selalu sukses. Dimana pun ia pergi dan datang, semua orang membandingkannya dengan orang lain yang lebih baik. Dia tidak memiliki tempat sama sekali.
Diza yang memperhatikan dalam diam mengetahui apa yanh terjadi. Dia mencoba meredakan amarahnya yang sangat besar. Dia tahu gadis Claudya itu memiliki masalah pada mentalnya yang mulai terganggu dan sangat tahu penyebabnya. Bagaimana pun ia adalah dokter yang peka terhadap perasaan orang di sekitarnya.
***
Hai, maaf terlambat. Saya ketiduran hehe...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya. Jika ada kritik dan saran, saya terima dengan tangan terbuka. Terima kasih yang sudah menunggu cerita ini.😊