
Railene akhirnya berangkat sekolah di hari ke lima. Dia menggunakan syal untuk menutupi luka di lehernya. Di hari pertama masuk, teman-temannya mengelilingi mejanya. Bertanya kabar Railene dan penasaran bagaimana bentuk lukanya karena tercekik.
Kebanyakan, meskipun tidak semua, sangat sedih ketika melihat Railene dalam kondisi seperti itu. Bagiamana bisa ada yang tega menyakiti gadis kecil imut dan cantik seperti Railene. Sisanya membicarakan Claudya yang tidak muncul lagi setelah dikeluarkan dari sekolah dan diblokir dari Sekolah Dasar mana pun di pulau ini. Terpaksa keluarga itu akhirnya pindah ke luar pulau bertepatan dengan pemindahan lokasi kerja ayah Claudya. Tentu saja itu adalah ulah orang-orang yang mendukung Railene dan mengaturnya hingga keluarga Claudya tidak terlihat lagi. Bagaimana pun, Diza, Jean, dan Kakek Neneknya memiliki pengaruh yang besar dalam dunia bisnis.
Railene sudah menduga itu, namun ketika tahu dari ingatan Jean dan Diza, dia masih cukup terkejut. Meskipun begitu, Railene tetap senang. Dia dulunya memang tipikal yang membiarkan orang bertemu karmanya sendiri, tidak membalasnya. Namun, sekarang setelah dia melihat orang-orang yang disayanginya membalas hanya untuk dirinya, Railene terharu dan bahagia. Harusnya memang begitu. Dia tidak boleh lemah dan hanya bermain trik kecil saja ketika membalas dendam. Itu harus setimpal.
"Railene, apa masih sakit?"
Seseorang bertanya. Railene ingat namanya adalah Vania, sosok gadis kacamata yang sangat kepo akan segala hal. Railene pernah berpikir bahwa jika gadis itu menjadi wartawan, pasti dia akan sukses.
"Nggak kok. Ini tinggal bekasnya aja." Railene menjawab ramah. Dia tersenyum kecil.
Vania berbinar di depannya. Mendapati ekspresi wajah itu, entah mengapa Railene mendapatkan firasat yang sedikit tidak mengenakkan. Dan benar saja, belum selesai Railene menduga, Vania kembali membombardirnya dengan pertanyaan.
"Boleh liat bekas lukanya? Apa itu berdarah? Atau ada lingkaran cincin di lehermu?"
Bibir Railene berkedut. Pertanyaan macam apa itu. Railene kemudian memandang sekitar. Mengapa orang-orang yang mengelilinginya juga memasang wajah antusias itu.
"Oh... nggak ada darah... itu kayak digigit nyamuk bekasnya," ujarnya menahan kegelian di hatinya.
"Oh ya? Boleh aku liat? Pasti itu besar kan, makanya kamu pake syal!" Vania kembali bersuara.
Situasi macam apa ini? Siapapun tolong aku...
Wajah Railene lebih banyak memiliki kedutan. Dia heran mengapa anak-anak ini begitu penasaran hanya karena dia mendapatkan luka cekikan. Railene berpikir mungkin karena sekolah ini adalah basis internasional yang selalu menerapkan bahwa tindakan kekerasan adalah salah, mereka mungkin tidak pernah menyaksikan adegan kekerasan sebelumnya. Tidak memiliki penggambaran tentang luka dan bekas yang tertinggal dari setiap jenis luka.
Tapi..., kenapa harus dia yang menjadi korban keingintahuan teman-temannya ini?
Railene melirik sekitar. Mencari keberadaan Ben yang biasanya memblokir semua orang untuk membuat Railene terganggu. Railene tidak menemukannya dimana-mana. Di saat-saat seperti ini bocah berkacamata itu malah belum muncul.
"Ini nggak nyaman dilihat," ujar Railene dengan wajah polos dan murni.
__ADS_1
Seseorang tidak tega melihatnya. Itu adalah bocah laki-laki yang suka berbagi makanan. Tatapannya yang lembut menjadi kesal saat bertemu Vania.
"Kenapa kamu pengin tau banget? Railene mungkin malu karena punya bekas luka. Kamu gimana sih? Kamu kan juga perempuan, masa nggak ngerti!" Dia mengomel kepada Vania dengan suaranya yang setengah kesal.
Vania menoleh. Balas melotot kepada bocah laki-laki itu. Ia membenarkan letak kacamatanya dan berkacak pinggang.
"Aku kan cuma tanya. Emangnya kamu liat aku maksa-maksa Railene? Aku juga minta izin ke Railene. Kamu yang nuduh-nuduh!" Balas Vania dengan tajam.
"Aku nggak nuduh. Kamu itu kayak penasaran banget, kasian Railene jadi nggak nyaman gara-gara dipaksa kamu!" Si laki-laki kembali membalas.
"Iih, dibilang aku nggak maksa! Kamu yang nuduh-nuduh nggak jelas. Kamu tau nggak tindakan menuduh tanpa bukti bisa bikin kamu dituntut?!" Vania bersikeras. Nadanya menjura dengan sedikit arogansi. Vania belajar tentang hukum dari ayahnya yang merupakan pengacara, semua orang tahu itu.
Si anak lelaki terkejut, wajahnya sedikit pucat tapi dia enggan menyerah. "Mana ada! Aku nggak nuduh kamu ya! Kamu yang duluan maksa-maksa. Kan itu juga nggak baik!" Jawab si lelaki belum mau kehilangan pendapatnya.
Railene menghela napas tipis. Ia melihat teman-teman yang lain dan tidak ada yang bisa diandalkan untuk memisahkan kedua orang ini. Mereka sibuk berbicara dan berbisik. Lalu ada juga yang membela Vania, ikut memarahi si bocah laki-laki. Kemudian itu berubah menjadi dua kubu. Tim laki-laki yang membela si anak lelaki, dan tim perempuan yang membela Vania.
Railene menjadi linglung dan kemudian memijat keningnya perlahan. Tubuhnya agak sedikit pendek dan suaranya tidak cukup besar untuk menghentikan seru-seruan dua orang itu. Dia agak tidak berdaya ketika melihat yang lain hanya menyoraki. Ini masih pagi, ada beberapa yang masih belum datang ke sekolah. Namun sebagian besar sudah datang. Sayangnya di antara teman-temannya yang sudah datang, dia tidak mendapati ketua kelas maupun Ben.
Akhirnya ada seseorang yang iba dengan wajah imut nan menyedihkan itu.
"Udah, Van. Liat tuh, kalian nakutin Railene!" ujar salah seorang temannya menarik tangan Vania dan menunjuk Railene yang sedang memajang wajah versi teraniaya. Itu cukup menggemaskan dan membuat iba semua orang. Oh, aura charming itu begitu kuat sampai-sampai beberapa anak laki-laki memegangi dada mereka dengan wajah terperangah. Beberapa sisanya memerah karena memandangi kecantikan Railene.
Siswa perempuan tidak jauh berbeda. Mereka mendesah dengan gemas. Bertanya-tanya tentang bolehlah mereka menjadikan Railene boneka kesayangan dan membawanya pulang?
Oh.., adik kecilku sangat imut dan begitu menggemaskan!
Semua orang hampir menjeritkan kalimat itu dalam hati mereka.
Mendapati keterpesonaan orang-orang di sekitarnya, Railene tiba-tiba hampir tertawa geli. Entah karena terlalu banyak kepala yang mengatakannya atau karena efek kemampuannya yang bertambah, dia bisa mendengar apa yang mereka pikirkan tentangnya. Sejujurnya ia hampir selalu melihat wajah-wajah itu setiap kali ia melewati semua orang. Namun, efeknya tidak sekuat ini.
Railene mendapati teman-teman sekelasnya menjadi sedikit aneh. Mereka seolah tersesat dalam kebahagiaan saat melihat Railene. Mereka seolah melihat makhluk yang mempesona dengan aura yang sangat hebat.
__ADS_1
Tiba-tiba Railene dapat mendengarkan isi kepala semua orang satu per satu. Keningnya berkerut karena telinganya menjadi lebih berisik sekarang. Itu cukup membingungkannya karena dia hampir tidak tahu siapa yang bicara tentang apa. Tapi ada satu hal yang pasti, mereka memiliki kekaguman yang hebat tentang Railene.
Railene tersentak ketika dia mendengar satu suara yang mendominasi.
"Aristokelly!"
"Inchara? Kamukah itu?" Railene membatin dengan terkejut.
***
Chit Chat Rebirth:
Railene : Apa cita-citamu?
Inchara : Jadi manusia. Sesuai naskah yang--
Saya : Stopp!!! Jangan spoiler! Dasar anak-anak bandel. Bukannya latihan malah gosip di sini! *menjewer keduanya*
Railene : Bundaaa..., Kak YC nakaaaall, huaaaa!!! *menangis*
Inchara : Aduh sakit! Eh? Sejak kapan aku punya kuping? Railene, aku jadi man-- aaa... sakit Kak YC!
Diza : Ya ampun YC! Lepasin Railene! *panik dan menabok YC*
Saya : Aduh, kok saya ditabok? Mereka yang nakal gara-gara gosipin spoiler di depan kamera. Kok saya yang dipukul?
Diza : Kamu melanggar hak asasi manusia kalo menjewer mereka. Kamu gimana sih? Mau saya tuntut? *Menuju Railene dan Inchara lalu membawa mereka pergi*
Saya : *mengerjap bingung* Yang sutradara di sini siapa sih?
.
__ADS_1