Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
101. Learn #2


__ADS_3

Railene belajar hampir sepanjang pagi dan berhasil menyelesaikan lima buku karena dia menggunakan kemampuan bawaannya yaitu menyerap informasi buku secara lengkap. Lima buku itu sebenarnya hanya memakan waktu tidak lebih dari setengah jam untuk mengingatnya. Yang membuatnya lama adalah dia harus mencernanya dengan baik dan memahami detailnya dengan benar. Itu cukup memakan waktu lama.


Railene memilih buku-buku dengan bahasa yang akrab dengannya lebih dulu, yaitu buku berbahasa Inggris, Belanda, Latin, dan Rusia. Ada lebih sedikit buku dengan bahasa yang Railene belum terlalu akrab di antaranya bahasa Tagalog, Tamil, dan Albania. Dia cukup tahu mengapa orang-orang yang menulis buku tidak menggunakan bahasa universal standar internasional, ini karena buku yang mereka tulis hanya untuk pribadi. Dan kalaupun digunakan sebagai pemberian kepada orang, penerima hadiah juga merupakan orang yang menguasai multilingual seperti S sehingga dia dapat menggunakannya.


Setelah menyelesaikan buku kelima, Tepat pukul 12 siang, S memanggilnya untuk makan siang.


"Hei, lanjutkan nanti dan makanlah dulu." S terlihat dalam suasana hati yang baik setelah memasak. Dia juga telah berganti baju menjadi pakaian santai celana pendek selutut dan kaus dua lapis yang tidak terlalu fashionable.


Inchara masuk ke Alam Jiwa, hanya Railene dan Ben saja yang mengikuti. Setelah Ben menyerah dengan buku-buku itu, dia lebih memilih mengurus media sosial Railene dan sesekali bergabung dalam obrolan grup teman-teman satu pergaulan mereka. Dia mengikuti Railene karena penasaran dan juga lapar.


"Apakah kamu yang memasak semua ini?" Tanya Ben yang tercengang melihat hidangan di atas meja pantri.


S mendengus dengan jijik dan dengan tajam melemparkan kata-kata pisau ke jantung rapuh Ben.


"Apakah kamu bodoh? Tidak ada yang bisa mengakses tempat ini kecuali aku. Mengapa masih bertanya pertanyaan yang sudah jelas jawabannya? Hei, gadis, kenapa kamu membawa anak bodoh ini?" ujar S sambil duduk dan menyodok hidangan dengan mewah. Mengabaikan pertanyaannya sendiri yang hanya bersifat retoris.


Railene tersenyum sedikit tidak berdaya kemudian menepuk pundak Ben dengan perhatian. "Ayo makan dulu," ujarnya.


Ben yang kesal menahannya. Dia agak marah tapi tidak bisa menjawab pertarungan verbal itu. Dia akui bahwa pertanyaannya sendiri agak bodoh dan tidak cocok untuk ditanyakan kepada orang dengan temperamen seperti S.


Ketiganya makan dengan tenang. Kebiasaan di meja makan selalu diterapkan di mana pun dia berada. Tenang, diam, dan menikmati makanan. Lagi pula masakan S sangat lezat. Beef stew khas Prancis dengan kentang tumbuk, kaserol dari sosis, asparagus panggang dan beberapa jenis salad. Minuman yang disediakan oleh S adalah red wine dan pilihan lainnya adalah jus beri. Melihat menu makanan di atas meja dan merasakan rasanya, itu memiliki berkah tersendiri.


Itu benar-benar lezat di lidah Railene. Bahkan Ben tidak bisa berhenti makan karena masakan S. Itu setara dengan koki kerajaan yang memasak dengan bahan berkualitas tinggi.


Diam-diam, Railene yang selalu makan dengan porsi banyak, menjadi iri dengan kehidupan mewah dan makanan kelas atas ini. Tapi, ia cukup bersyukur juga karena ada beberapa rasa khas Eropa yang tidak terlalu dia sukai karena terlalu berlemak. Dia masih lebih menyukai makanan oriental dengan rempah. Yang terpenting, ada nasi yang menjadi ciri khasnya.


Setelah makan, ketiganya beralih ke ruang tamu. S tidak segera mengajari Railene praktiknya. Railene juga tahu bahwa fondasi teorinya belum sepenuhnya bisa dimengerti. Jadi, dia tetap membaca buku-buku itu sambil sesekali merumuskan pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada S ketika dia selesai membaca buku-buku itu.


"Baca semuanya sampai selesai. Tanyakan apa yang tidak kamu tahu setelah membacanya. Aku akan bekerja," ujar S dengan sekenanya dan masuk kembali ke ruang kerjanya. Meninggalkan Ben dan Railene yang tetap duduk di ruang tamu. Railene dengan buku-buku pelajarannya, dan Ben dengan kebosanannya.


...


Setelah pukul 8 malam, Maria menjemput kedua remaja itu dan pulang kembali ke hotel. Railene telah menyelesaikan sebagian besar buku-buku itu dan berhasil membujuk S untuk membiarkannya membawa dua buku yang belum dibacanya. S mengizinkannya dengan mudah karena selain kagum pada kecepatan membaca Railene, dia juga menyukai murid yang rajin seperti Railene.

__ADS_1


Ben yang bosan sepanjang hari akhirnya melepaskan diri dan makan malam dengan Railene di hotel. Maria sendiri sudah makan malam dan hanya menemani mereka.


"Kupikir masakan pria tua itu cukup bergizi, kenapa dia nggak jadi koki?" Ben bergumam sambil makan. Mengingat rasa makanan yang disiapkan oleh S membuatnya membandingkan dengan makanan standar hotel. Perbandingan yang kejam.


"Hobi pribadi sama pekerjaan beda tingkatnya. Kamu suka hobimu dan bisa ngelakuinnya kapan aja, kalo pekerjaan itu harus terus-menerus, jadi gampang membawa tekanan." Railene berkata dengan mudah.


Faktanya dia memang merasa demikian. Dia memiliki pekerjaan di masa lalu dan menjadikannya sebagai hobi untuk menghibur diri. Tapi, Railene tidak pernah bisa menikmatinya dengan nyaman karena sebagai CEO perusahaan besar, dia memiliki banyak tanggung jawab dan tekanan yang tidak setara dengan karyawan di bawahnya. Sekarang, Railene telah memiliki banyak hobi dan pekerjaan utamanya selalu terdistorsi dengan santai. Dia tidak pernah merasakan tekanan apapun karena dia menikmatinya berdasarkan kemauannya sendiri tanpa tuntutan orang lain.


"Hmm, itu mungkin bener...," ujar Ben kembali makan.


Railene menoleh dan mendapati Maria yang diam-diam melihat sekitar.


"Kak, apa kamu punya pengaturan pribadi dalam beberapa hari?" Tanya Railene.


Maria menggelengkan kepalanya. "Hanya janji hari ini, selebihnya aku menemanimu dan Ben. Apa kamu perlu sesuatu?"


Railene memang membutuhkan sesuatu setelah memikirkan pembelajaran hari ini. Dari buku-buku yang dibacanya, dia tahu bahwa laptop rakitannya masih memiliki kekurangan tertentu. Selain karena sudah berusia lebih dari lima tahun, laptopnya memiliki beberapa bagian yang harus diperbarui dan ada beberapa komponen yang harus dilengkapi.


"Apa kamu tau tempat buat jual komponen laptop?"


"Ya, ada beberapa yang perlu diganti." Railene mengangguk paham.


"Mungkin kamu bisa tanya orang tua itu, kayaknya dia tau banyak soal elektronika begitu," ujar Ben yang mendengarkan percakapan.


"Oke, aku bakal tanya Mr. Smith besok," kata Railene mengangguk ringan.


Ketiganya kembali ke kamar suite masing-masing dan Railene segera berendam di bak mandi sambil memikirkan sesuatu. Tiba-tiba Inchara memberinya sinyal tertentu dan memintanya memasuki Alam Jiwa.


Railene tidak tahu apa yang terjadi. Dia mengenakan jubah mandi dan masuk Alam Jiwa dengan tubuhnya. Menemui Inchara di rumahnya, dia mendapati bahwa Inchara sedang duduk di ruang utama sambil memegang sebuah bola kristal biru bercahaya di tangannya.


***


Chit Chat Rebirth:

__ADS_1


Inchara : Kurasa urusanmu sangat banyak akhir-akhir ini. Kenapa aku terkesan tidak berguna buatmu?


Railene : Aku nggak merasa gitu, tapi memang adeganmu semakin sedikit. Ck, Kak Yuchi kejam.


Saya : (lewat sambil makan es krim) Apa saya kejam?


Railene : Kamu kejam. Liat, kamu menggertak Inchara yang manis. (mengusap rambut Inchara)


Saya : (memandang Inchara yang melihat es krim di tangannya) Kamu mau?


Inchara : (mengangguk dengan berenergi) Aku mau.


Saya : Apa kamu marah sama saya karena adeganmu sedikit?


Inchara : Tidak. Kamu baik.


Saya : (mengangguk puas) Dapatkan es krim di belakang, kamu bisa makan sesukamu.


Inchara : Yes... (berlari dengan semangat)


Railene : (tercengang) Kamu! Kamu nyogok Chara!


Saya : Kamu juga bisa ambil es krim. Aku liat tadi Ben hampir menyekop satu ember penuh.


Railene : (berlari ke belakang penuh semangat)


Saya : Anak-anak kecil mau memeras saya? Liat kalian, disogok es krim langsung senang. Ckckck... naif.


***


Hai hai..


Jangan lupa like dan komentar.

__ADS_1


Have a nice day!😊


__ADS_2