
Dua hari kemudian, empat orang berkumpul di depan mall. Railene yang baru saja datang melihat tiga orang yang sedang mengobrol satu sama lain. Di belakang mereka ada dua bodyguard dengan gaya berbeda. Satu dengan penampilan kasual, lainnya memakai jas hitam klasik.
Mendekati mereka, Railene menyapa si kembar dan Lu Shizu.
"Kakak!" Lu Shizu memanggil ceria.
"Apa kalian udah nunggu lama?" tanya Railene.
Ketiganya menggelengkan kepala. "Kami baru ketemu juga, ayo main!" ajak Arkan langsung.
Semuanya mengangguk. Archi tidak banyak bicara seperti biasa, hanya sesekali menanggapi jika ada hubungannya dengan dia. Railene berjalan di samping Lu Shizu dan memperhatikan setiap kata yang diucapkan gadis kecil itu.
Mereka berjalan ke arah time zone karena berencana untuk bermain. Railene juga sesekali menyarankan permainan yang dia kuasai dengan baik. Di masa lalu, dia akan pergi dengan Ben ke tempat-tempat ini. Sayangnya hari ini Ben tidak bisa pergi karena acara keluarganya. Ben terpaksa ikut ayahnya untuk mengikuti acara itu.
Railene yang dulu terlalu pendek atau bermasalah dengan beberapa permainan karena tinggi badannya, kini sudah lebih baik dan menjadi mahir. Gelar keberuntungan dan Ratu Arcade-nya belum sirna. Dia bahkan semakin keren jika bermain. Menarik penggemar baru di sekitarnya, termasuk si kembar dan Lu Shizu.
Berputar-putar di sekitar untuk bermain, mereka akhirnya pindah ke taman hiburan terbesar di kota. Berpisah dan duduk di mobil masing-masing. Kecuali Lu Shizu yang mobil jemputannya pulang lebih dulu karena kebiasaan. Railene menawarkan tumpangan ke Lu Shizu dan segera disetujui. Akhirnya Railene bisa berdua bersama Lu Shizu.
Dia duduk di belakang bersama Lu Shizu untuk mengobrol apa saja. Karena ada sopir sekaligus bodyguard Lu Shizu di depan, Railene tidak membahas yang ingin ia ketahui saat ini. Obrolan hanya seputar sekolah, permainan populer, atau hobi masing-masing.
"Jadi kamu bisa main skateboard?" Tanya Railene dengan takjub ketika Lu Shizu membicarakan hobinya
Sejujurnya agak tidak menyangka bahwa gadis kecil yang manis ini memiliki hobi yang berbanding terbalik dari kesan mungilnya. Railene tidak tahu karena sudah lama ia tidak bertemu Lu Shizu dan kontak mental untuk pengetahuan masa lalu Lu Shizu belum diperbaharui. Ia belum mengintip pikiran Lu Shizu lagi dan hanya melakukan percakapan normal.
__ADS_1
"Hu um, tapi aku belum jago. Aku baru belajar selama dua bulan. Ini juga hobi baru dan seru," kata Lu Shizu dengan gembira.
"Yah, itu keliatannya seru dan keren. Lain kali aku mau liat kamu main skateboard, boleh kan?"
"Oke oke boleh. Apapun buat Kakak!" seru Lu Shizu dengan semangat tinggi.
Railene tertawa menanggapi Lu Shizu. Lu Shizu terlalu polos dan murni. Dia adalah anak-anak yang berpikir sederhana dan mudah termotivasi dengan dorongan yang positif. Dia tiba-tiba memikirkan kualifikasi Orang Pilihan. Yang bisa ia mengerti saat ini hanyalah bahwa Orang Pilihan hanya terpilih jika seseorang mengalami keajaiban dalam hidupnya. Terlepas dari asal jiwa dan kepribadiannya, Orang Pilihan hanya akan memenuhi syarat setelah terkoneksi dengan Penunjuk Jalan.
"Kakak, apa kamu percaya hantu?" Tanya Lu Shizu tiba-tiba.
Railene menoleh dengan mengangkat alis. Sejujurnya dia tidak tahu apakah hantu itu ada atau tidak. Dia tidak memikirkannya dan hanya menyadari konsepsi jiwa manusia dan alam lain di dunia ini. Terlepas dari apa yang beredar tentang hantu di sekitarnya, dia tidak terlalu meyakininya.
"Aku nggak tau. Ada apa?"
Lu Shizu sedikit mengerutkan kening, "Aku sering mimpi aneh dan ngomong sama orang yang nggak keliatan di dalam mimpi itu, terus kadang-kadang kami main bareng. Tapi, aku nggak tau siapa dia dan nggak liat orangnya. Aku pikir, dia pasti hantu," kata Lu Shizu sambil berbisik. Menghindari pendengaran dua orang dewasa di depan mereka.
Melihat ekspresi polos Lu Shizu, Railene memutuskan untuk menanggapi dulu.
"Apa orang yang ngomong sama kamu nggak ngasih tau kamu tentang siapa dia?"
Lu Shizu menggeleng dan melanjutkan, "Dia bahkan nggak tau namanya, makanya aku panggil dia Xiaoxiao. Jadi, apa dia hantu?" Tanya Lu Shizu.
Bibir Railene berkedut. Dia merasa bahwa proses pertemuan ini sangat mirip antara dia dan Inchara. Inchara awalnya juga seperti Xiaoxiao. Tidak tahu apapun termasuk nama dan identitas keberadaannya. Jernih dan sepolos kertas putih yang tanpa debu.
__ADS_1
Menanggapi Lu Shizu, Railene memastikan sambil berbisik. Sedari dia dan Lu Shizu mengobrol, dia telah memasang penghalang mental untuk mencegah kedua orang dewasa di depannya tahu tentang isi pembicaraan. Kekuatan mentalnya bisa membuat manipulasi untuk menampakkan keharmonisan percakapan kanak-kanak antara dia dengan Lu Shizu. Jadi, Railene tidak takut akan kebocoran.
"Sebelum bahas ini, apa kamu memberitahu orang lain tentang ini?" Tanya Railene serius.
Lu Shizu menggeleng. Railene menghela napas lega dan meminta Lu Shizu menceritakan awal mulanya. Dia mendengarkan dengan penuh perhatian dan detail pertemuan antara keduanya hampir mirip dengan pengalaman Railene.
"Jadi, awalnya kamu bermimpi untuk pertama kalinya di usia 6 tahun. Berarti sekarang kamu udah hampir dua tahun ngobrol sama Xiaoxiao?"
"Iya, awalnya jarang dan bisa sampai lima bulan sekali. Terus dalam tiga bulan ini, hampir setiap malam aku mimpi dan ngobrol sama Xiaoxiao. Jadi aku cari tau di internet tentang mimpi dan hantu. Xiaoxiao nggak tau apapun dan kadang-kadang ngomong tentang kunjungan orang luar di hutan," kata Lu Shizu.
"Hutan?"
"Iya, setiap aku mimpi aku selalu dikelilingi hutan yang bersih dan segar, terus ada air terjunnya juga. Tapi, aku sendirian."
Railene tiba-tiba mengerti dan menyimpulkan sesuatu. Alam jiwa setiap Orang Pilihan berbeda satu sama lain. Jika miliknya adalah padang rumput luas tak berujung yang indah dan sejuk, alam jiwa milik Lu Shizu adalah hutan menenangkan yang segar dan alami. Dia tidak tahu alam jiwa milik Orang Pilihan lain, tapi dia menyimpan informasi ini begitu saja.
"Oh, itu keren. Aku juga pernah mengalami hal yang sama kayak kamu. Ada orang yang selalu ngomong sama aku di mimpi dan namanya Inchara. Tapi, kamu nggak perlu khawatir, mereka itu orang baik dan bukan hantu," kata Railene memahami konsep sederhana Lu Shizu.
Mata Lu Shizu bergetar dengan kejutan dan menatapnya lebih bersemangat.
"Kakak juga punya teman itu?"
***
__ADS_1
Hei, jangan lupa like dan komentar.
Have a nice day!😊