Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
53. Cemburu


__ADS_3

Kelas pertama tiba. Tepat pukul 7.30, seorang guru masuk dan memperkenalkan diri sebagai wali kelas. Seorang perempuan berusia 30-an dan memiliki penampilan lembut serta tampak ramah. Tapi hanya Railene yang tahu bagaimana penampilan lembut itu hanyalah kedok. Guru itu sangat ketat terhadap nilai dan merupakan salah satu guru killer terdistorsi. Samar namun memang tepat sasaran.


Guru yang tampak lembut ini akan membuat siswa merasa rileks dan mengemukakan situasi belajarnya secara terang-terangan. Hanya anak yang rajin belajar yang akan selamat di kelasnya. Sisanya, operasi diam-diam guru itu akan membuat orang-orang malas menjadi tertekan. Caranya mengajar memang lembut, tapi teliti dan memiliki arah yang jelas. Sekali ditandai oleh guru itu, seorang siswa akan diawasi sepanjang kelas.


Tekanan seperti itu adalah yang membuat merinding. Berbeda dengan guru killer yang tegas dan galak. Mereka mengemukakan sifat sejati mereka secara terang-terangan. Membuat siswa takut melanggar aturan dan menjadi patuh dibawah tekanan ganas. Namun, baik yang cara lembut atau galak, mereka sama-sama sulit diajak berkompromi jika tidak sesuai dengan aturan belajar yang mereka buat.


Railene tidak memiliki masalah dengan guru tipikal ini. Ia cukup rajin dan meskipun bisa saja menjadi sasaran di kelas, ia tidak akan pernah tertinggal secara nilai maupun keterampilan tugas. Mungkin akan ada teguran halus ketika ia tidak sengaja tidur atau membolos untuk berlarian kemana-mana.


Guru itu selesai memperkenalkan diri. Selang beberapa saat, ia memanggil dua siswa yang baru saja mendaftar untuk kelas unggulan akselerasi. Kelas dan program yang sama seperti milik Railene dan Ben.


Dua kepala kembar dengan ciri persis dan karakter betolak belakang muncul di depan kelas. Tepat keduanya menunjukkan wajah, anak perempuan di kelas secara alami berbisik dengan teman di sampingnya. Tersenyum-senyum sendiri melihat dua pangeran tampan yang memiliki wajah yang sama. Satunya tersenyum lebar dan celingukan, satunya lagi pendiam tanpa ekspresi.


Di bangku kedua dari belakang, Railene dan Ben mengenali dua bocah laki-laki itu. Itu tepat seperti prediksi Ben. Dua bocah itu adalah si kembar Kinoka yang merupakan kakak-kakak baptis Railene secara mental.


"Hari ini kita kedatangan siswa baru untuk program unggulan dan akselerasi. Kalian berdua bisa memperkenalkan diri." Sang Guru memberi instruksi.


Tepat setelah dipersilahkan, Arkan tersenyum cerah dan menyapa hangat.


"Halo semuanya, namaku Arkana Kinoka dan ini saudara kembarku Archian Kinoka. Kami kembar dan lulusan SD Sakura. Senang bertemu kalian!"


Arkan seperti biasa, tidak pernah melupakan perkenalan untuk saudara kembarnya. Archi terlihat tenang di permukaan namun hanya dia dan Railene yang tahu bagaimana gugupnya bocah di samping Arkan itu. Archi mengangguk sedikit sebagai sapaan sopan santun. Matanya tidak fokus ke depan tapi melihat ke arah lantai.


"Baik Arkana dan Archian silahkan duduk di belakang meja yang tersisa. Kalian bisa berbaur bersama teman-teman baru nanti setelah pelajar dimulai." Sang Guru kembali memberi instruksi.

__ADS_1


Arkan dan Archi mengangguk patuh dan duduk di kursi paling belakang. Kursi tepat di belakang meja Railene dan Ben. Keduanya menyapa Railene saat berjalan. Bahkan Archi juga sedikit tersenyum saat bertemu pandang dengan Railene.


Keduanya menyesuaikan tempat duduk dibawah tatapan penasaran teman sekelas lainnya. Arkan berbisik pada Railene dan meminta petunjuknya. Archi hanya diam dan mengikuti tindakan Arkan dengan mengatur tempat duduknya.


"Adik Rail, apa pelajaran di hari pertama masuk itu normal? Kenapa sekolahmu aneh sekali?" Arkan bertanya heran namun ada nada jenaka dalam suaranya.


Railene tersenyum singkat. Dia menoleh dan menjawab tenang.


"Ingatlah sekarang ini sekolahmu juga. Urusan itu silahkan tanyakan sama kepala sekolah," kata Railene menutup pembicaraan dan kembali melihat papan tulis. Mengabaikan cekikikan Arkan dan keaktifannya mengganggu dia.


Sementara tiga orang itu berinteraksi dengan ramah, Ben diam dengan cemberut. Wajahnya mendung sejak melihat dua bocah lelaki perebut sahabatnya hadir di depan kelas. Ia tidak berharap sama sekali bahwa dua orang itulah yang akan muncul. Dunia benar-benar sempit.


Railene meliriknya singkat dan heran dengan diamnya Ben. Wajahnya seperti sedang menghadapi tekanan besar. Railene tidak tahu apa itu, jadi ia bertanya padanya.


Ben menggeleng dengan senyum yang tertahan. "Nggak apa-apa," ujarnya lirih. Ia berusaha menyembunyikan ketidaksenangannya akibat kehadiran dua orang di belakang bangkunya. Dia melirik ke belakang beberapa kali.


Railene mengamati itu dan menjadi lebih bingung. Dia tahu Ben dan kembar Kinoka sudah saling mengenal di tempat pelatihan. Mereka juga sering terlibat bersama dan mengelilinginya dengan obrolan ringan. Sayangnya Railene tidak cukup peka untuk menyadari sikap kaku Ben.


Di pelatihan, Ben tampak normal dan alami karena dia merasa bahwa kedekatannya dengan Railene tidak ada yang bisa mengalahkan. Bahkan jika kedua orang itu hadir, mereka hanya akan bertemu di tempat pelatihan. Sekarang situasi berbeda. Kedua orang itu akan berada di sekitar Railene setiap hari. Ben membayangkan hal-hal akan berjalan tidak menyenangkan karena hal ini.


Di sisi lain, Railene tidak tahu apa-apa namun sedikit penasaran. Ben yang ia tahu, jarang memiliki masalah dengan mood. Hari ini Ben seperti memiliki mood buruk dengan tekanan yang berat. Seperti seseorang yang bertemu dengan musuh.


Railene memperhatikan dalam diam dan melihat Ben beberapa kali melirik belakang dengan permusuhan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Dia membatin bingung.


"Teman kecilmu itu tidak suka dua orang di belakang. Dia bermusuhan dan suasana hatinya buruk." Inchara tiba-tiba bersuara.


Railene tersentak dan menjadi bingung.


"Kenapa mereka bermusuhan? Ben selalu ramah dan baik sama mereka berdua. Begitu juga sebaliknya. Kamu nggak salah bilang begitu?"


"Entahlah. Aku tidak tahu emosi manusia. Tapi, dari yang aku lihat, teman kecilmu itu memang tidak menyukai dua orang di belakang. Aku tidak tau apa sebutan situasi itu. Semacam ada ketakutan di dalamnya. Seolah-olah dua orang di belakangmu bisa merebut apa yang jadi miliknya. Ya, seperti itu kira-kira." Inchara menjelaskan dengan tepat.


Railene masih mencerna dan meraba-raba. Dia tidak tahu apa itu. Sedikit bingung karena ternyata sahabatnya itu memiliki konfrontasi semacam itu dengan kedua kakak baptisnya. Dia akan menanyakannya nanti setelah istirahat.


Railene sama sekali tidak sadar bahwa sikap Ben terhadap dua orang di belakangnya berhubungan dengannya. Entah karena IQ yang terlalu tinggi sehingga EQ nya tidak seimbang atau karena Railene benar-benar tidak memiliki sedikit pun narsisme dalam dirinya. Konfrontasi para lelaki itu berawal dari dirinya sendiri.


Orang dengan EQ tinggi akan menyadari itu. Atau orang-orang dengan narsisme pasti akan memikirkan kemungkinan itu. Sayangnya Railene bukan termasuk ke dalam golongan bakat itu. Dia sama sekali tidak peka saat ini.


***


Perubahan jam update. Karena saya sering ketiduran di atas jam 9, makanya saya bikin jadi jam 3 sore update nya.


Jangan lupa like dan komentar. Terima kasih atas dukungannya.


Have a nice day!😊

__ADS_1


__ADS_2