Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
95. Tiba-tiba


__ADS_3

"KAKAAAAK!"


Suara Railene terdengar di seisi rumah. Gadis 14 tahun yang berlarian dengan terburu-buru itu membuat bingung para maid dan penjaga. Railene berlari ke atas dan langsung menuju kamar Ben. Tanpa aba-aba, gadis itu mendobrak pintu kamar Ben yang tidak terkunci.


Sosok laki-laki tinggi yang sedang tidur di atas kasurnya terbangun dengan kaget karena suara bantingan pintu. Dia berdiri otomatis dan melihat dengan linglung. Matanya belum sepenuhnya terbuka dan samar melihat Railene yang berdiri di depannya.


"Rail?" suaranya serak dan bingung. Dia menggaruk lehernya tanpa sadar, berperilaku khas seperti orang yang baru bangun.


Namun, Railene tidak membiarkannya diam terlalu lama. Dia mendekat dan mengguncang-guncang Ben dengan hingga laki-laki jangkung itu sedikit goyah dan perlahan sadar dari pusing. Matanya sedikit lebih jernih dan kemudian melihat wajah panik Railene. Alam bawah sadar dan reaksi alaminya lebih cepat dari fungsi otaknya untuk mencerna sesuatu.


Dia ikut panik dan memegang Railene dengan erat. Melihat sekeliling dengan mulut penuh ocehan waspada.


"Railene ada apa? Apa kamu terluka? Apa ada kebakaran? Kenapa? Siapa yang gangguin kamu?"


Mendengar pertanyaan-pertanyaan aneh Ben, perlahan Railene tenang dan kemudian menjauh. Membiarkan Ben sadar terlebih dahulu untuk kemudian mengagetkan jantungnya. Ucapan sederhananya tidak sederhana bagi Ben.


"Kak, aku dalam bahaya, kita harus ke Maldives secepatnya!" kata Railene dengan wajah tenang yang kontras dengan wajah Ben yang semakin panik.


"Ada apa? Kenapa bahaya? Ada pembunuh kah? Rail, kamu nggak papa, kan?" Ben semakin panik dan Railene agak terhibur dengan penampilannya.


Saat ini Ben hanya mengenakan celana selutut kuning dengan logo bebek di seluruh permukaan, baju lengan pendeknya kusut, dan rambutnya berantakan. Wajah bantal Ben mendukung penampilan tampannya berubah menjadi penampilan pengemis yang tampan. Sekarang sosok itu panik dan gemetar dengan mata yang tidak fokus. Penampilan menyedihkan ini lucu di mata Railene.


Setelahnya, Inchara bahkan keluar dan ikut tertawa melihat seperti apa Ben saat ini. Kedua gadis itu tertawa dengan gembira dan Ben perlahan kebingungan. Akal sehatnya kembali perlahan dan semburat samar kemerahan muncul di leher putihnya merambat ke pipinya. Dia malu dan marah.


"RAILEEENE!"


Teriakan dan sorak keluarga Aristokelly menghidupkan seluruh rumah hingga membuat para maid maupun penjaga menghela napas panjang.


...

__ADS_1


"Jadi, ada apa?" Tanya Ben dengan wajah cemberut. Hampir belum memaafkan kejadian beberapa jam lalu.


Saat ini ketiganya sedang duduk di kamar Railene. Inchara sibuk dengan buku cerita anak-anak dan Railene duduk di sampingnya sambil menggunakan laptop kecilnya yang lusuh. Dia kemudian memandang Ben dan tersenyum.


"Ini tentang rencana perjalanan ke Maldives yang beberapa hari lalu aku bilang ke Kakak. Kita harus mempercapat dan berangkat lusa. Apa Kakak udah bilang ke Bunda sama Papa?" Railene berujar seolah itu wajar dan biasa.


"Apa?!"


Wajah kaget Ben seperti tersambar petir. Dia menatap Railene horor dan kemudian terfokus pada konteks yang dikatakannya. Dia mengira adiknya sedang bercanda.


"Railene, apa kamu bercanda?" Tanya Ben serius.


Railene menggeleng. "Aku serius. Kita bener-bener harus berangkat lusa. Masalahnya udah mendesak banget," kata Railene dengan wajah yang ikut serius.


Ben menghela napas. Dia diam dengan bingung. Beberapa hari lalu, Railene mengatakan kepadanya bahwa dia ingin pergi ke sana untuk urusan dan bertemu dengan seorang guru yang akan mengajarinya keterampilan komputer lebih lanjut. Sejujurnya Ben bingung kenapa Railene harus pergi jauh-jauh ke sana hanya untuk itu. Dia tidak mengerti Railene dan tidak bisa bertanya.


Sejak awal, dia tahu bahwa adiknya memiliki banyak rahasia yang tidak biasa dan seperti terpisah dari kehidupan manusia lain. Railene bisa memiliki Inchara yang diduga hantu olehnya, membuktikan bahwa adiknya memiliki misteri di balik hidupnya. Ben tidak yakin dan beberapa hal yang dia tahu, dia sadar bahwa itu bertentangan dengan ilmu ilmiah dan logika. Di mana di dunia sekuler modern orang -orang dapat memiliki kekuatan ruang pribadi? Hanya Railene, yang pintar dan aneh.


Dan bukan hanya sekali Railene memintanya untuk ikut serta dalam perjalanan asing yang melibatkan hal gaib itu. Dia juga sadar bahwa dia adalah orang yang paling Railene percayai dalam hidupnya. Jadi, dia tidak mempermasalahkan apapun meskipun Railene sering menjadikannya tameng penutup dan penanggung beban dari masalah yang diciptakan gadis itu. Dia tidak pernah mempermasalahkan bahkan untuk yang satu ini.


"Aku belum bilang ke Bunda sama Papa. Tapi, kenapa harus lusa banget?"


Railene membaca pikiran Ben dan menemukan bahwa yang dipikirkan laki-laki di depannya hanyalah bagaimana membuat alasan untuk membuat Bunda dan Papa mempercayai alasan kepergiannya. Railene terdiam sesaat dan tersenyum. Selalu seperti ini, Ben tidak pernah mempertanyakan keputusannya untuk melakukan banyak hal aneh. Dia akan melakukannya untuk Railene. Railene juga menyadari itu dan menghela napas panjang. Kakaknya sangat penyayang.


"Aku punya ide gimana bilang ke Bunda sama Papa. Kakak cuma perlu memastikan bahwa kita bisa pergi lusa. Gimana?"


Ben mengangguk tenang. Dia selalu seperti ini dan tidak berubah selama bertahun-tahun. Railene tersenyum cerah dan mengutak-atik laptop kecilnya.


Inchara di sampingnya merasakan perasaan gembira dan hangat Railene. Dia menoleh ke arah Ben yang sedang berpikir tentang sesuatu. Inchara tersenyum lembut dan kembali menundukkan kepalanya, membaca buku anak-anak lalu bergumam pelan.

__ADS_1


"Emosi manusia yang indah,"


...


Di suatu ruang hotel di pinggir kota pelabuhan, seorang perempuan dengan wajah dingin memandangi lautan luas di kejauhan. Jendela balkon yang terbuka menampilkan sosoknya yang cantik namun berbahaya. Aura kuat dan dinginnya tidak tersentuh. Dia sendirian dengan menggenggam sebuah batu giok bersimbol bunga.


Kamar di belakangnya gelap dan dingin. Banyak berkas dan kertas lukisan berserakan di atas meja kerjanya. Sosok-sosok kabur dalam gambar memiliki estetika yang sangat baik.


Beberapa detik dalam udara jernih, sosok perempuan lain memasuki ruangannya. Dia anggun dan tinggi. Berjalan mendekati perempuan yang dingin dan berbahaya. Lalu berhenti tepat di depan meja kerja yang memiliki banyak kertas sketsa.


Hening selama beberapa detik dan suara gadis anggun itu memecahkan kedinginan yang mencekam di dalam ruangan.


"Dia mewarisi miliknya dan Tradisi Leluhur sudah mengetahui keberadaannya. Kakak, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" ujar perempuan anggun di belakang.


Sosok perempuan dingin itu menundukkan kepalanya. Dia mengusap batu giok putih di tangannya dengan sedikit kesedihan dan nostalgia. Penampilannya yang dingin dan berbahaya sedikit berkurang. Ada kilat kasih sayang di matanya ketika melihat simbol yang tidak asing di tangannya.


"Kita tunggu dia kembali," katanya dengan dingin dan dalam.


"Oke," kata perempuan di belakangnya. Senyumannya menjadi lebih lembut. Lalu dia berkata dengan kelembutan yang sama.


"Kakak, dia akan kembali cepat atau lambat. Jangan menyalahkan dirimu," ujarnya.


Perempuan dingin yang berbahaya itu hanya bergumam pelan. Kembali menatap laut di kejauhan, matanya berkilat rumit.


***


Hai hai, aku kembali and tolong jangan marah karena ga update2. Aku ga update karena akunku ke-log out dan lupa email mana yang aku pake buat masuk. Itu berlangsung selama beberapa hari sampai aku nemu riwayat pendaftaran akun di histori lepi. hehe... maafkan daku...


Umm, jangan lupa like dan komentar.

__ADS_1


Have a nice day!😊


__ADS_2