
Railene meyakinkan Bundanya dua hari berturut-turut. Dia mengatakan segalanya tentang bagaimana dia ingin menambah hobi baru selain semua yang ia pelajari beberapa tahun ini. Railene mengaku bahwa ia tertarik pada dunia akting dan ingin bermain peran di dalam sebuah film setidaknya sekali dalam hidupnya.
Diza yang notabenenya tidak tahu tentang entertainment mencoba mencari tahu dalam dua hari itu. Memanfaatkan koneksinya untuk memastikan dan menyadari bagaimana dunia hiburan berjalan. Ia tidak ingin putrinya mengambil jalan yang memberatkannya di saat ia masih belum mampu menghadapi seluruh dunia yang kejam.
Diza adalah orang yang dulunya menderita kehilangan begitu banyak. Ia kehilangan seseorang yang dicintainya, ia kehilangan kemampuan untuk hamil, dan tidak bisa menjaga dirinya dari kenyataan pahit tentang semua orang yang membencinya. Hingga Railene hadir dan merubah segala dalam dirinya. Diza merasakan banyak harapan yang dibawa Railene padanya. Ia kemudian memiliki tekad dan keberanian yang hilang. Ia ingin menjaga Railene dengan seluruh upaya dan hal yang ada padanya. Railene adalah hal paling berharga untuk Diza.
Railene duduk di samping Diza saat ini. Keduanya berada di ruang tamu dan masih bicara tentang hal yang sama. Audisi yang akan diikuti Railene.
"Bunda, Railene cuma mau coba. Belum tentu lolos. Lagian ada Ben sama Kak Arkan yang ikut," kata Railene membujuk.
Diza menatap Railene dengan menyipit. Kemudian ia membuang muka agar tidak luluh pada wajah imut putrinya. Mata indah Railene, suara dan wajah imutnya sangat menggodanya untuk memberikan apapun yang dia inginkan. Diza menghela napas tipis.
Railene adalah pusat pesona. Jika dia memasuki industri hiburan, dia akan langsung mendapat banyak sorotan. Diza khawatir itu akan mempengaruhi kehidupan Railene dan semua hal yang akan dia lakukan di masa depan. Akan ada banyak orang yang baik dan jahat di sekitarnya. Akan ada banyak fans dan pembenci diantara orang-orang di sekelilingnya.
Diza langsung mengingat kejadian beberapa bulan lalu tentang Claudya. Claudya hanyalah salah satu dari jenis pembenci yang ada di dunia ini. Dia membenci Railene dan hampir membunuhnya karena kehilangan kendali. Dan jika ia menjadi artis cilik, akan lebih banyak orang yang tahu tentang Railene. Akan lebih banyak orang yang membencinya karena iri atau cemburu.
Diza menghela napas lagi dan memandang Railene yang masih mendongak penuh harap.
"Biar Bunda pikirin satu hari lagi, oke?" Diza memberikan keputusan.
Railene mengangguk patuh. Dia tahu Bundanya sedang khawatir tentangnya. Dia sama sekali tidak ingin membuat Bundanya khawatir, tapi ini adalah salah satu kesempatannya untuk memperoleh akses dengan dunia luar sebanyak yang dia inginkan. Dan dia harus lebih sering berhubungan dengan banyak orang sebagai koneksinya.
"Sekarang kamu tidur. Udah malam, besok masih harus sekolah," ujar Diza menggiring Railene menaiki tangga dan menuju kamarnya.
Railene menurut dan memutuskan untuk tidur.
...
Dua hari kemudian.
"Apa Bundamu udah ngasih izin, Rail?" Arkan bertanya untuk ke sekian kalinya meskipun hari ini adalah yang pertama.
__ADS_1
Jika sebelumnya Railene selalu menggelengkan kepala dengan wajah datar, sekarang gadis kecil itu mengangguk dengan senyum kecil. Wajah polosnya mengungkap keceriaannya. Menerima isyarat itu, Arkan tersenyum puas.
"Bunda izinin aku ikut audisi," kata Railene.
Arkan bertepuk tangan sekali lalu tertawa, "Kalau gitu ayo aku temani daftar? Formulir diambil di ruang guru," katanya dengan bersemangat.
Arkan sudah mendaftar sebelum Railene. Sedangkan Ben menunggu keputusan Railene. Setelah beberapa hari lalu diizinkan ayahnya untuk mendaftar, Ben langsung menghubungi Railene dan menunggunya diizinkan. Mendengar Railene sudah boleh mendaftar, ia langsung berdiri di sampingnya.
"Ayo ambil formulir bareng! Aku juga diizinin Papaku." Ben berkata dengan senyuman hangatnya.
Melihat kedua laki-laki di depannya bersemangat, Railene menghela napas tipis. Ia menggeleng dengan senyum yang masih terpasang di wajahnya. Hal itu membuat keduanya bingung.
"Kamu nggak akan daftar sekarang?" Tanya Arkan.
"Bukan, aku udah didaftarin sama Bunda. Tadi pagi langsung ke Tante Jean dan mengajukan formulir untuk bidang akting. Jadi, aku nggak akan ngambil formulir lagi. Sekarang giliran Ben," ujar Railene menjelaskan.
Keduanya mengangguk dan kembali duduk di tempat duduk. Railene menaikkan alis heran. "Ben nggak jadi ambil formulir?" Tanyanya.
"Harusnya besok," ujarnya.
...
"Orang tua yang mengikutimu di mal beberapa bulan lalu adalah penyelenggaraan acaranya. Apa ini ada hubungannya denganmu, Rail?"
Railene sedang duduk di auditorium sekolah dan menempati bangku penonton. Ia menunggu gilirannya untuk berakting dan menguji dirinya. Ada tiga juri yang terlibat dan semuanya asing bagi Railene. Namun, yang ia tahu semua juri itu adalah orang-orang profesional yang sukses di bidang ini.
Salah satu dari juri itu adalah seorang produser dan sutradara terkenal yang banyak memenangkan penghargaan atas film-filmnya. Jack Arison, seorang pria berdarah campuran berusia 42 tahun yang membawa industri hiburan mengalami kemajuan pesat. Railene tidak menyangka akan melihat orang sukses itu di audisi yang dia anggap enteng ini.
Melihat kehadirannya, Railene tahu bahwa audisi ini sangat penting dan menentukan sesuatu dari penilaian pria itu. Dan sejak Inchara mengatakan bahwa Jack adalah orang yang sama yang menguntitnya beberapa kali tiga bulan lalu, dia percaya bahwa ini sedikit berhubungan dengannya. Bukannya ia sangat percaya diri, tapi instingnya mengatakan demikian. Dan menurut Railene, mengadakan audisi seperti ini jelas merupakan samarannya untuk menemukan talenta yang dicarinya.
"Chara, orang ini mungkin mencariku. Kata Kak Arkan, orang ini nggak ada selama audisi dua hari sebelumnya. Dan dia tiba-tiba muncul di hari terakhir audisi. Kamu liat itu, juri lain bahkan nggak menyangka itu dan kaget waktu pertama kali liat dia." Railene membicarakan pikirannya dengan Inchara.
__ADS_1
"Nah, itu benar juga. Rail, apa kamu benar-benar tidak kenal dia? Sebenarnya dia bukan orang jahat dan auranya cukup bijaksana. Dan dia mencarimu. Aku memastikan bahwa kamu akan lolos bahkan sebelum kamu bisa menunjukkan aktingmu," ujar Inchara diakhiri cekikikannya.
Railene sedikit terhibur namun wajahnya tetap datar. Yang dikatakan Inchara mungkin benar. Jika yang dicarinya adalah dia, maka sebelum audisi ini diadakan, Railene bahkan sudah lolos lebih dulu. Namun, ia memikirkan fakta lain bahwa pria itu hanya mencari talenta berbakat. Dia berpikir bahwa bukan hanya dia yang diikuti oleh orang itu selama berbulan-bulan lalu. Harusnya ada orang lain juga yang membuatnya menjalankan audisi besar seperti ini.
"Pasti banyak talenta yang dia dapatkan makanya dia bikin acara sebesar ini," kata Railene dengan menghela napas tipis.
Tanpa Railene ketahui, Jack melakukan ini hanya untuk Railene seorang. Bahkan jika ada bakat lain, Jack tidak begitu tertarik. Pria itu adalah perencana yang gila. Dia rela mengorbankan sumber dayanya hanya untuk menciptakan seni yang sesuai dengan kriterianya. Dia menyukai film dan segala hal di dalamnya. Tidak peduli berapa banyak yang ia habiskan untuk mendapatkan talenta yang sesuai, Jack akan mencoba banyak cara hingga dia mendapatkan jawaban akhir dari orang yang dia incar.
Railene akan mengetahui motif dan kegilaan Jack dalam beberapa hari ke depan. Dan dia mungkin tidak tahu apa yang harus dia lakukan pada orang semacam Jack.
***
Chit Chat Rebirth :
Railene : Om-om penguntit, kamu niat sekali ya...
Jack : Apa talenta favoritku benar-benar se-tidak sopan ini? YC, katakan sesuatu! Kenapa kamu membuat talenta favoritku seperti ini?
Ben : Om, aku harus mengingatkanmu lagi. Kamu sudah dicap jelek oleh Railene. Dia mungkin akan memanggilmu penguntit selamanya.
Jack : Kamu dengar itu, YC? Cepat ubah karakternya! Ini mengerikan!
Railene : Ck, Om Penguntit terlalu berisik!
Saya : Sungguh dramatis...
***
Jangan lupa like dan komentar. Terima kasih!
Have a nice day!😊
__ADS_1