Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
65. Rencana dan PDKT


__ADS_3

Selena merasa bahwa dirinya pernah mendengar nama itu. Sebuah nama yang terasa akrab namun dia yakin itu asing baginya bahkan dia tidak tahu bagaimana menghubungkannya. Dia menatap Railene dalam diam. Merasa bahwa kerumitan masalah ini jauh melampaui harapannya. Skala yang tadinya ia anggap berada di tingkat bahaya menengah, mungkin terletak di bawah bayangan bahaya tertinggi.


Raksasa bisnis Kanada, itu tidak mungkin sederhana.


"Lalu, apa lagi?" Tanya Selena setelah terdiam dan terpekur selama beberapa menit.


"Ada sebuah tempat. Mirip museum kuno bergaya romawi, itu sebuah ruangan yang ada patung tokoh sejarah. Kumpulan patung yang berdiri melingkar dan saling membelakangi. Seorang perempuan yang sedikit tua meninggalkan Kakak di sana," ujar Railene menjelaskan. Itu terdengar seperti tragedi.


Selena terpekur dalam diam. Ia ingat bahwa ayah angkatnya menemukan dia di rumah sakit kota Athena, Yunani. Mungkin, kecelakaan itu terjadi di sana. Alasan mengapa ia kehilangan ingatan mungkin juga dimulai dari sana. Banyak pertanyaan tumbuh dalam benak Selena. Siapa sebenarnya dia? Siapa orang tuanya? Mengapa dia kehilangan ingatan? Mengapa ia ditinggalkan? Mengapa ia tiba-tiba ada di rumah sakit? Siapa yang membawanya? Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?


Selena tidak tahu. Ia memejamkan matanya erat. Kepalanya sedikit pening memikirkan misteri dalam hidupnya sendiri. Perlahan ia mencoba tenang. Dia akan menyelidikinya perlahan. Tepat setelah misi penting ini selesai, Selena akan mencari tahu tentang hidupnya sendiri saat itu.


Ia kemudian menoleh kepada Railene yang masih memandangnya dengan kening berkerut.


"Kakak nggak papa?" Tanya Railene.


Selena mengangguk. "Terima kasih, Railene." Selena berujar dengan syukur. Dia memang sangat berterima kasih pada gadis kecil yang baru dikenalnya dua bulan ini.


"Oke, bukan masalah besar," kata Railene menghibur.


Selena mengangguk lagi. Dia kemudian mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar dan memberikannya kepada Railene. Railene menerima dengan penasaran.


"Kita berangkat dalam dua hari. Kirimkan lokasimu sebelum jam 7 malam. Target akan makan malam di restoran Jepang dan kita jalankan rencana. Itu rincian tempat, konstruksi bangunan, dan posisi pasukan kami. Kamu bisa mencari posisi yang kamu inginkan. Aku akan mengaturnya untukmu," kata Selena menjelaskan dengan lengkap.


Railene mempelajarinya selama dua menit lalu menyerahkan kembali amplop besar itu. Ia mengerti dan mulai membahas tentang metode pengambilan informasi dan jarak yang dia butuhkan.


"Nggak ada jendela, ini berarti perlu ada pengawasan di dalam ruangan. Apa ini mungkin?" Tanya Railene.

__ADS_1


"Ini agak sulit. Orang ini sangat berhati-hati terhadap apa yang ada di depannya, tapi sedikit tidak peduli dengan lingkungan sekitar."


"Kalau gitu, aku bisa melakukan sesuatu dengan cara lain... ini mungkin bisa," kata Railene lalu keduanya terjerat dalam rencana dan perjalanan misi dua hari kemudian.


Setelah keduanya selesai membicarakan misi, Selena segara pamit dan Railene kembali syuting di lokasi. Pikirannya berkelana sementara. Setelah bertemu Selena, dia merasa bahwa hidupnya juga tidak sesederhana itu. Dia masih memiliki misi dalam hidupnya. Menemukan dua buku Ghost Gypsy lainnya, menemukan asal-usul ibu kandungnya yang misterius dan pergi ke tempat petunjuk itu berasal.


...


[Rail, ada kompetisi karate bulan depan, apa kamu mau ikut mendaftar?]


Railene baru saja duduk di depan meja belajarnya dan mendapatkan pesan itu. Pesan itu datang dari Ben.


Railene baru ingat bahwa dia sudah lama absen latihan karate karena kesibukan syuting. Dia sedikit menyesal dalam hatinya dan tiba-tiba merindukan latihan yang menjadikannya lebih mahir dalam gerakan terpadu bela diri.


Ingat bahwa tujuannya adalah menguasai sebanyak mungkin hal-hal yang dulu belum pernah ia pelajari. Salah satunya adalah karate. Dia juga diam-diam menghitung beberapa subjek yang dia kuasai selama delapan tahun petualangan hidup keduanya.


Tiga bahasa asing, musik, melukis, mekanika sederhana, pemrograman dan peretasan, karate, dan akting. Dia masih ingin menambah yang lainnya, tapi dia belum leluasa untuk bertindak sendiri. Jadi, dia berencana untuk memperdalam masing-masing bidang yang sudah ia pelajari dan menambahkannya sedikit demi sedikit.


[Aku ikut. Gimana daftarnya?]


Railene mengirim balasan dan langsung melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur. Ia akan mengeceknya nanti. Ia memutuskan mandi dan berganti pakaian untuk bersiap makan malam dengan Bundanya nanti.


...


Diza telah menyelesaikan laporannya dan segera membereskan mejanya. Ia berganti pakaian biasa dan keluar menuju tempat parkir. Rumah sakit masih beraktivitas namun kebetulan sudah jam pulang kerja. Dia juga tidak memiliki giliran jaga malam saat ini. Dia bersiap pulang dan makan malam dengan Railene.


Namun, baru saja Diza hendak menuju mobilnya di parkiran, dia mengenali seseorang yang sedang berdiri di depan mobilnya. Memegang telepon sambil menunduk. Jas dan pakaiannya rapi seperti biasa. Hanya saja, kali ini dia membawa koper berwarna abu-abu di sampingnya.

__ADS_1


Diza langsung mengenalinya dan sedikit terheran melihatnya di sini.


"Bram?" panggilnya sambil mendekat.


Pria dengan pakaian rapi itu mengangkat kepalanya dan tersenyum ke arah Diza. Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mengangkat tangannya, menyapa dengan tenang.


"Diza, apa kamu mau pulang sekarang?" Tanya Bram basa-basi.


Diza yang masih heran mengangguk. "Ya, aku baru mau pulang. Kenapa kamu ada di sini?" Tambah Diza bertanya.


Bram tersenyum takzim. Dia menatap Diza lamat-lamat dan tertawa sedikit. Memegang kopernya, dia mulai mengajukan permintaan.


"Aku ada urusan di Milan selama sebulan. Apa kamu bisa anterin aku ke bandara? Mobilku lagi masuk bengkel servis," kata Bram lancar. Masih dengan senyum cerahnya.


"Apa semua mobilmu masuk bengkel servis? Apa nggak ada taksi di luar? Gimana kamu bisa sampai sini kalau bukan naik mobil atau taksi?" Diza tertawa geli.


Dia berpikir bahwa alasan Bram sangat penuh celah. Dia tahu maksudnya dan itu hanyalah tindakan karena hubungan mereka sebagai "teman dekat". Tapi meskipun begitu, ini cukup aneh dan dia agak tercengang sejenak.


"Oh, itu... kebetulan aku baru dari hotel di samping rumah sakit. Aku ingat kamu juga kerja sebagai dokter di sini, jadi... aku mau ngerepotin kamu aja," ujar Bram dengan percaya diri. Namun, dia sangat terlihat jika sedang berbohong.


Diza tertawa dan tidak membalas lagi. Memutuskan untuk mengantarkan Bram sampai ke bandara. Bagaimana pun pria yang beberapa bulan dikenalnya ini akan berada di luar negeri selama sebulan. Anggap saja sebagai salam perpisahan sejenak.


***


Hai hai..., aku baru punya ide bikin romansa dikit. Antara Mama Diza sama Papa Bram, aku kepikiran bikin suasana PDKT yang agak nggak tau malu, terutama Papa Bram. Karena Diza dan Bram orangnya lurus dan kaku, aku mau bikin salah satu jadi agak jomplang dengan karakter di depan banyak orang.


Oke ini aneh.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentar.


Have a nice day!😊


__ADS_2