
Intensitas syuting mulai meningkat. Railene yang telah selesai UN bergabung di kru sejak pagi. Dia sedang merias wajah dan sesekali menyeruput susu kotak yang biasa dia minum jika tidak sempat sarapan. Di sampingnya, Maria duduk sambil menyoroti pesan dari perusahaan dan pemberitahuan umum tentang jadwal terbaru Railene selain syuting film.
"Rail, kompetisi melukis di Prancis dipastikan tiga minggu kemudian. Minggu depan kamu ada pertemuan sama mitra bisnis dari Jerman, dan terakhir kamu harus mendaftar di universitas sebelum tanggal 6 Juni. Ada tiga kampus yang menawarkan kamu untuk belajar beasiswa penuh, dan satu penawaran dari EPS. Sisanya dari Singapura dan China." Maria berkata dengan wajah tanpa ekspresinya.
Railene mendengarkan dengan baik dan sedikit terkejut tentang sesuatu. Dia menoleh ke arah Maria dan menatapnya dengan intens. Maria mengangkat alis dan bertanya-tanya apa yang Railene lihat.
"Kakak bilang tadi, EPS?" ulang Railene dengan hati-hati. Penata rias berhenti sejenak karena Railene bergerak. Dia memperhatikan Maria dan Railene, ingin tahu mengapa Railene bereaksi sedikit lebih banyak.
"Ya, EPS. Kamu dapat e-mail pribadi dari sekolah ini. Ada apa?"
"Sekolah? Aku belum pernah dengar nama sekolah ini sebelumnya. Railene, mungkinkah sekolah yang tidak terkenal?" Tanya penata rias yang ikut berdiskusi.
Railene terdiam sesaat dan mengangguk. Senyum di bibirnya naik sedikit dan matanya memancarkan rasa ketidakberdayaan. Dia tersenyum ke arah penata rias dan Maria.
"Ya, ini sekolah yang tidak dikenal orang banyak."
"Nah, Railene, kamu sangat pintar. Pilih saja sekolah yang lebih terkenal dan bagus," kata penata rias lalu kembali melanjutkan riasannya di wajah Railene.
"Hmm," gumam Railene tanpa melanjutkan obrolan.
Dia mulai menutup matanya dan masuk ke Alam Jiwa untuk menemui Inchara. Dia berlari ke arah ruang utama dan bertemu Inchara yang sedang duduk membaca buku cerita lainnya. Melihat Railene, Inchara meletakkan bukunya dan menunggu Railene duduk di sampingnya.
Railene duduk di samping Inchara dan wajahnya memiliki senyum yang belakangan hilang karena teka-teki yang semakin rumit. Inchara merasakan kegembiraan Railene dan merasa bahagia juga. Railene tanpa banyak basa-basi langsung menceritakan hal menarik yang membuatnya buru-buru menemuinya secara repot-repot, padahal Railene bisa menggunakan telepatinya untuk bicara dengan Inchara.
"Chara, EPS mengundangku buat belajar di sana! Kamu tau EPS? Edelweiss Peculiar School. Itu adalah tempat para jenius berkumpul dan dikatakan memiliki sistem sekolah yang sangat fleksibel dan misterius. Banyak orang menduga bahwa sekolah itu terletak di dekat hutan Amazon dan ada juga yang mengatakan itu berada di pegunungan Swiss. Tapi aku percaya itu berada di pegunungan Swiss. Itu adalah tempat tujuan akhir perjalanan Ghost Gipsy!" ujar Railene yang bersemangat tinggi.
__ADS_1
Inchara yang mengetahui pikiran Railene langsung tersenyum bahagia. Dalam perjalanan Ghost Gipsy pada buku pertama, memang dikatakan bahwa itu menjelajahi salah satu hutan di China dan ada sebuah tempat bernama Taffy di Amazon. Tapi, ada satu tempat lagi dimana awal mula sebuah rahasia diberitahukan. Ghost Gipsy menulisnya dengan samar, tapi Railene menebaknya. Sebuah dararan salju di Swiss adalah tempat di mana Railene bisa menemukan petunjuk buku Ghost Gipsy yang kedua.
Perjalanan panjang sebagai Orang Terpilih, membuat Railene harus mengurutkan banyak teka-teki yang kelihatannya tidak saling berhubungan. Tapi, dia harus menghubungkan itu sehingga dapat dibaca dan dimengerti apa yang dimaksud. Railene sendiri tidak pernah berpikir untuk menyerah. Esensi misteri dalam dirinya meskipun terasa melelahkan untuk dicari, tapi cukup menyenangkan untuk diketahui.
"Rail, lalu apakah kamu berencana menerima undangan ini?" Tanya Inchara yang mengerti pikiran Railene.
"Aku merencanakan itu. Tapi, masih perlu persetujuan Bunda. Ada hal-hal yang harus aku persiapkan dalam beberapa bulan sebelum bergabung." Railene masih tersenyum, tapi ekstasinya tidak sejelas tadi.
"Tentang pemuda bernama Alan itu?" Tanya Inchara.
"Ya, dan juga tentang Nona Kaho serta asistennya."
Railene mencurigai kedua orang ini karena mereka memberinya perasaan yang sama seperti yang diberikan Alan. Meskipun sangat sulit untuk mendapatkan informasi dari kedua orang itu karena mungkin mereka bukan orang biasa, Railene tidak berencana menyerah. Dia masih memiliki rencana lain untuk mendapatkan informasi serta pengaturan agar dia mengerti beberapa hal secara ringkas.
Inchara yang merasakan pikiran Railene hanya menatapnya sambil tersenyum. Setiap hari persepsinya tentang manusia agak menajam. Itu mungkin berhubungan dengan Railene yang memiliki lebih banyak kekuatan mental setelah berlatih selama bertahun-tahun. Tapi, dia juga tahu satu hal bahwa perkembangan Railene terlalu cepat untuk ukuran Orang Terpilih.
"Kenapa kamu tidak keberatan jika umurmu semakin pendek?" Tanya Inchara saat itu.
Railene yang sedang membaca buku barunya hanya tersenyum dan mengatakan sesuatu yang tidak ia pahami, "Ada beberapa hal yang selalu menjadi pertanyaanku. Siapa aku yang sebenarnya. Aku di masa lalu atau aku yang sekarang. Apakah semua perjalanan hidupku adalah lintas yang telah ditentukan atau hanya sesuatu yang tidak sengaja aku dapatkan. Kalau itu takdir, bisakah aku ngubah itu? Hal-hal ini yang bikin aku mungkin nggak peduli sama sisa usia. Lagi pula, aku udah merasakan kehangatan dunia setelah penyesalan terbesar hidupku," katanya dengan senyum cantiknya.
Saat itu Inchara merasakan fluktuasi emosi Railene yang tidak biasa. Dia tahu semua kisah Railene, tapi dia tidak tahu pengaruh hal-hal itu bagi Railene. Yang ia sadari adalah, Railene merasa bahwa hidupnya yang berharga bukan apa-apa dibandingkan semua pengalaman yang mungkin saja bukan miliknya.
"Lagi pula, seberapa singkat perjalanan menemukan jawaban ini? Kita aja sampai sekarang kebingungan cari petunjuk...," kata Railene diiringi tawanya yang indah di sore yang hangat.
Inchara mengingat itu saat ini dan merasa bahwa Railene memiliki dunia yang sangat rumit dan indah. Inchara suka saat bersama Railene karena dia merasa bahwa dunianya sedikit berkembang dengan Railene di sisinya. Railene membuatnya merasa manusiawi. Dan dia menyukai perasaan itu.
__ADS_1
"Kali ini Alan mungkin nggak akan bisa menghindari penyelidikan kita. Ayo, Chara. Kita selesaikan yang di sini dan berpetualang bersama!" Railene berkata dengan ceria.
Inchara mengangguk antusias dan memeluk Railene dengan hangat.
...
Di sisi lain, sebuah mobil melaju di jalan dan Alan yang tengah mengemudi bersin.
"Seseorang membicarakanmu!" kata Gery dengan santai.
"Siapa?" Tanya Alan mengerutkan kening.
"Entah, mungkin hantu!"
Mobil berhenti. "Hei, beli kopi di mesin itu!" kata Alan menunjuk mesin minuman di pinggir jalan.
Gery berjalan keluar dengan gusar dan setelah beberapa langkah, dia mendengar decit mobil. Dia menoleh dan mendapati bahwa Alan meninggalkannya.
"ALAAAAAN!!!"
***
Hai hai...
Jangan lupa like dan komentar.
__ADS_1
Have a nice day!😊