Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
18. Berkeliaran


__ADS_3

"Gimana caranya?" Ben berbisik di sebelah Railene. Ia melirik Railene yang sedang mengerjakan soal pecahan dengan sangat enteng. Level yang menurut Railene tidak ada apa-apanya dibanding algoritma komputer.


"Nomor satu jawabannya dua per lima, nomor dua jawabannya satu per dua," ujar Railene ketika menengok soal milik Ben yang sangat gampang.


Ada dua buah kue dengan beberapa potongan berarsir. Yang satu hanya dua bagian dari lima potongan, yang satunya lagi tiga bagian dari 6 potongan. Ben langsung menjawab sesuai instruksi Railene. Keduanya meletakkan spidol di tempatnya dan kembali ke tempat duduk. Mendapatkan tatapan heran dari sang guru.


"Apa mereka sudah mempelajari ini? Kedua bocah itu bahkan dari tadi sibuk bermain," batinnya heran.


Railene dan Ben mendapat tatapan kagum dari semua siswa di kelas, kecuali satu sosok yang sejak awal memendam kecemburuan pada Railene.


Railene menyadari itu. Sejak pertama memasuki kelas ini seminggu lalu, ada beberapa mata yang memandangnya sebelah mata. Tapi, kini hanya sisa satu. Mungkin suatu hari nanti akan datang hal merepotkan bagi Railene karena orang lain yang tidak menyukai keberadaannya.


Guru kembali menjelaskan pelajaran dan menyelipkan seidkir pujian untuk Ben dan Railene karena berhasil mengerjakan dengan benar. Kembali kebosanan mengisi hari-hari Railene. Ia cukup terhibur hanya karena tingkah Ben yang beragam.


***


3 tahun kemudian.


Seorang gadis kecil sedang berdiri di depan pintu kelas. Hari ini ia dihukum karena tidur di kelas. Semalam ia menghadiri turnamen game besar-besaran dan memenangkannya dalam sekali menyerang. Sayangnya hal yang ia lakukan semalam membuatnya mengantuk di kelas. Ben mengomel di belakangnya. Teman semejanya bahkan ikut-ikutan jahil dan tidak membangunkan Railene yang memang sangat butuh istirahat.


Sekarang ia sudah kelas enam atau kelas lima? Intinya ia sudah masuk tahun terakhir di sekolah dasar. Hanya beberapa bulan lagi sebelum kelulusan. Usianya tepat delapan tahun saat ini.


Ia menerawang dan melihat koridor yang sepi. Haruskah ia kabur dan mengunjungi ruang kesenian yang sering ia kunjungi belakangan? Atau ia harus berlari ke ruangan Jean untuk mengajak perempuan dewasa itu bermain musik di ruang musik?


Ia mengintip ke balik jendela kelas. Pelajaran masih berlangsung. Tiba-tiba sebuah ide melintas di kepalanya. Ia tersenyum kecil dan mengirim sinyal kepada Ben di kelas melalui cermin yang ada di depan pintu kelas. Cermin yang biasanya digunakan oleh beberapa anak perempuan untuk berkaca dan membenarkan pakaian serta rambut mereka.


Ben di dalam kelas merasa silau sendiri. Setahunya, sinar matahari tidak seterik yang terlihat saat ini. Ia sedikit terganggu dan menjadi tidak fokus. Railene tertawa sendiri di koridor kelas. Tubuhnya yang masih saja agak pendek harus berjinjit di atas kursi panjang di depan kelas. Mengirim cahaya pantulan cermin tanpa khawatir ketahuan karena sang Guru sedang fokus menjelaskan.


Beberapa saat kemudian terdengar keributan dari kelas. Railene terkekeh kecil dan mengembalikan letak cermin. Membuat itu sejajar dengan letak yang seharusnya. Ia kembali berdiri di depan kelas dengan menghitung mundur.


3

__ADS_1


2


1


Krieet...


Terbukanya pintu kelas diiringi sosok anak laki-laki yang sedari tadi menjadi objek kejahilan Railene. Ia menoleh dan mendapati Ben berwajah masam. Kemudian Ben beralih menatap Railene dengan sebal. Sudah tahu bahwa ia kembali menjadi bahan kejahilan gadis yang lebih muda tiga tahun darinya itu.


"Kenapa kamu membuatku keluar?" Tanya Ben kemudian.


"Aku bosan sendirian," jawab Railene tidak mengelak.


Ben menghela napas tipis. Selama tiga tahun mengenal gadis kecil di sampingnya, ia berubah perlahan. Dia lebih bahagia bahkan meskipun terkadang harus melanggar peraturan bersama Railene. Ia tidak merasa bersalah berlebihan karena sangat wajar. Dia sekolah untuk menjadi pintar dan mempelajari hal yang ia suka. Seperti Railene yang selama tiga tahun terakhir menyukai seni dan sering kabur ke ruang musik atau ke ruang seni rupa. Kadang menitip absen dan kabur dari guru kemudian seseorang akan menemukannya sedang asik di laboratorium kimia gedung SMP.


Semua orang di sekolah bahkan sudah mengenal gadis kecil yang begitu jenius itu. Guru-guru akan berkata bahwa Railene membutuhkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi agak ia bertahan di kelas setidaknya dalam satu jam. Teman-temannya akan berbicara tentang bagaimana Railene tidak pernah pelit membagikan ilmunya. Saat jam kosong dan mendekati ujian tengah semester atau akhir semester pun, gadis kecil itu akan sukarela memberikan materi di depan kelas. Sebuah penjelasan yang sangat mudah dipahami.


Setelah itu, Railene akan kembali bermain-main dengan fasilitas sekolah. Terkadang mengajak Jean sebagai partner. Jika sudah seperti itu, tidak ada yang bisa menghentikan gadis kecil itu untuk pergi bermain. Lagi pula, siapa yang berani menentang pemilik sekolah dan murid kesayangannya? Guru-guru masih cukup menyayangi pekerjaan mereka. Lagi pula semua orang tahu bahwa Railene pintar. Ketika di kelas, gadis kecil itu akan mati kebosanan, jadi lebih baik membiarkannya berkeliaran kemana-mana selagi tidak meledakkan laboratorium manapun.


Orang-orang menyebut mereka duo jenius. Meskipun yang lebih superior adalah Railene, tapi karena terlalu sering kemana-mana bersama Ben, membuat mereka terlihat seperti saudara tak terpisahkan.


"Tak terpisahkan. Bahkan kami dihukum bersama," Ben membatin dengan pasrah.


Ia cukup bahagia, bahkan mungkin sangat bahagia karena mendapatkan teman yang sebaik Railene. Meskipun terkadang ia terserang minder karena kejeniusan Railene, tapi ia sangat bersyukur. Sejak kedatangan Railene ia tidak lagi kesepian dan kaku.


"Aku mau kabur. Kamu mau ikut?" Tanya Railene tiba-tiba.


Ben menoleh penasaran. Akan kemana lagi tujuan Railene saat ini?


"Kemana?"


"Aku menemukan ruang rahasia di perpustakaan, mau ikut nggak?"

__ADS_1


Ben menaikkan sebelah alis. Kapan ia menjadi terbiasa dan tidak terkejut atas penemuan Railene? Bahkan setelah tiga tahun, ia masih takjub tentang hal-hal yang Railene sampaikan mengenai banyak rahasia di sekolah.


"Ruang rahasia? Ada ruangan rahasia di perpustakaan?"


Railene mengangguk. Ia kemudian tersenyum kecil. Menatap Ben dengan kerlingan jahil yang biasanya.


"Ayo kita cek isinya!"


Sebelum Ben menjawab, Railene sudah menarik tangan anak laki-laki itu. Membuat Ben pasrah dan memutuskan mengikuti kemana Railene pergi. Tidak buruk bukan mengetahui hal-hal tersembunyi di sekolah. Daripada sibuk mendengarkan gosip horor antar siswa yang sama sekali tidak benar, Ben lebih memilih menyelidikinya bersama Railene. Namun, tetap saja, karakter Ben yang cerewet akan menjadi hal-hal yang membuat Railene kesal.


Tak berapa lama mereka sampai di depan perpustakaan. Railene masuk dan menyapa penjaga perpustakaan yang sudah sangat mengenalnya. Bahkan mereka sering mengobrol di waktu luang.


Setelah berbasa-basi dengan kejujuran seratus persen, Railene menuju lorong membaca yang agak menyudut. Dengan tenaganya yang tak seberapa ia mendorong sedikir rak buku tunggal yang hanya berisi beberapa novel usang.


Lalu, setelah setengah terbuka, terpampanglah pintu berlapis cat putih yang kenopnya terkunci.


"Ini ruangan rahasianya?"


Railene hanya menanggapi dengan senyuman dan mengambil jepit rambut. Mengotak-atik lubang kunci. Ben gugup di tempat. Ia menengok ke sana kemari, memastikan tindakan mereka tidak diketahui.


Dan tak berapa lama...


Cklek.


Pintu terbuka.


***


Hehe..., akan double update pada waktunya kok. Mungkin..., bulan depan? 😊


Oke, terima kasih yang sudah membaca cerita ini. Jangan lupa like beserta kritik sarannya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2