
Railene duduk di kantornya. Setelah selesai dengan rapat pemegang saham, Railene sebagai pewaris perusahaan sekarang adalah semi-presiden perusahaan kakeknya. Dia bekerja lebih awal dan telah sering menangani urusan pengambilan keputusan dan lainnya selama beberapa tahun terakhir.
Awalnya para petinggi masih meremehkan bocah kecil Railene yang saat masuk ke perusahaan masih berusia 11 tahun. Saat itu Railene adalah gadis kecil cantik dengan gaun indah. Dia berjalan di samping kakeknya dengan patuh dan terlihat seperti gadis polos yang tidak tahu apa-apa. Akibatnya, semua orang tidak menyangka bahwa Railene mengikuti rapat besar dengan mitra penting dan memimpin rapatnya sendiri.
Kekacauan di perusahaan terjadi, para petinggi perusahaan berdebat dengan komentar meremehkan, hampir tidak mengingat posisinya sebagai bawahan kakeknya. Akhirnya kakeknya marah dan menyuruh mereka diam. Menjelaskan segalanya dan meminta mereka melihat hasil yang akan didapatkan berkat cucunya. Hanya dua orang yang mendukung itu dari awal sampai akhir. Mereka adalah dua sekertaris kakeknya yang telah melihat kemampuan Railene sejak berusia lima tahun. Bahkan saat usianya menginjak 8 tahun, sebuah kerja sama internasional ditinggalkan oleh Railene tanpa kekurangan atau cacat di dalamnya.
Dua sekertaris yang melihat perdebatan hanya tersenyum mengejek. Jadi bagaimana dengan anak usia 11 tahun yang memimpin rapat? Dapatkah orang-orang ini merancang kerja sama internasional di usia belia? Kedua orang itu meragukannya. Mereka telah menjadi fans garda terdepan dunia bisnis nona muda itu, mereka sangat senang menunggu orang-orang itu malu karena menghina nona muda mereka.
Akibatnya, para petinggi yang berpartisipasi dibungkam saat rapat dengan mitra. Awalnya mitra juga terkejut dan merasa terhina karena sikap kakeknya yang tidak menganggap serius kerja sama mereka. Tapi itu segera hilang ketika Railene membuka suara dan memimpin rapat. Menjelaskan kerja sama dengan mata terbuka dan garis yang jelas. Semua pertanyaan dijawab dengan tepat dan bahkan gadis itu bisa memprediksi keuntungan pasar yang dapat diperoleh dalam kerja sama mereka.
Seperti yang diprediksi, semua yang hadir merasa bahwa mereka baru saja melihat keajaiban dunia. Hanya beberapa orang yang tahu bahwa Johar memiliki cucu angkat yang mengambil pendidikan lebih awal dari anak lain dan sangat pintar. Tapi mereka tidak menyangka bahwa gadis itu lebih pintar dari yang mereka kira. Itu jenius bisnis yang dibawa Johar ke dalam rumahnya.
Pada saat itu perusahaan gempar dengan gosip yang menyebar dimulai dari sekertaris para petinggi yang awalnya meremehkan Railene. Railene juga menjadi populer di perusahaan mitra. Namun berita ini ditekan oleh Johar dengan cepat. Sadar bahwa terlalu banyak menjadi pusat perhatian tidak baik untuk pertumbuhan Railene. Hingga saat ini, desas-desus di luar hanya disimpulkan sebagai rumor belaka. Tidak ada yang berani membuktikannya juga karena perusahaan itu juga merupakan perusahaan kelima terbesar di negara.
Kembali ke saat ini, Railene melihat beberapa dokumen sekilas dan bersiap pulang ke rumah. Enaknya menjadi semi-presiden adalah waktunya luang dan tidak sesibuk seperti saat dia menjadi presiden di kehidupan pertamanya. Dia menghubungi Ben yang biasanya sedang bergosip dengan kakeknya di kantor presiden.
"Chara, sepertinya kita harus menunda pencarian ke Maldives sampai bulan depan," kata Railene menghela napas dan duduk di kursinya.
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Inchara yang tiba-tiba muncul di atas meja kerja Railene. Terbiasa dengan kemunculannya yang tiba-tiba, Railene tidak lagi kaget.
"Tiga minggu lagi akan diadakan casting, ada waktu sebelum masuk kru selama satu bulan. Dua bulan selanjutnya syuting dan ujian nasional. Hmm, kita bisa berangkat di satu bulan setelah casting. Itu waktu yang cukup dan aku bisa minta izin cuti saat itu," kata Railene.
"Oke, apa yang harus aku persiapkan?"
"Peta dan senjata," kata Railene serius.
"Oke!" Inchara tidak banyak bertanya karena tahu tujuannya. Railene telah merencanakannya dengan sangat baik dan bisa mengandalkan rencana itu untuk apapun.
"Rail, mau langsung pulang? Makan malam di luar dulu ya?" suara yang dikenalnya berasal dari pintu kantor. Railene mengangkat kepalanya dan melihat Ben yang berdiri di ambang pintu dengan gaya kasual yang hangat.
Railene memandang Inchara dan memberikan telepati. "Perencanaan selesai. Ben bisa jadi tameng buat menghalau Bunda," kata Railene secara rahasia.
Ben berdiam di pintu tanpa tahu apa yang tengah direncanakan Railene untuknya. Senyumnya masih cerah dan menyapa Inchara dengan gembira. Dia tidak tahu bahwa akan ada jebakan di masa depan yang akan membuatnya memiliki tanggung jawab berat. Railene yang menganggap rencananya sempurna tersenyum lebih cerah, Ben yang dalam suasana hati yang baik tapi tidak tahu apa-apa juga tersenyum cerah, Inchara yang polos dan mengetahui segalanya ikut tersenyum cerah.
"Makan malam dimana?" Tanya Railene sambil berjalan ke arah pintu diikuti Inchara di belakangnya.
__ADS_1
"Ada restoran sushi yang baru buka di jalan komersial dekat sekolah, aku denger rasanya enak dan ratingnya lumayan. Mau coba?" Tanya Ben sambil berjalan menuju lift.
Railene mengangguk. Mengikuti Ben dan beberapa kali disapa oleh karyawan kantor. Mereka yang melihat dua bersaudara itu akan menyapa ramah dan kagum. Satu karena mereka adalah eksekutif perusahaan, dua karena mereka adalah artis dan model, tiga karena mereka masih muda dan terlihat sangat baik dalam penampilan maupun sikap.
Ben mengambil mobilnya dan menuju restoran sushi. Ketiganya mengobrol bersama dan saling bercanda. Terutama Inchara dan Ben yang memang klop jika disatukan. Terkadang Railene berharap bahwa Inchara adalah manusia sejati agar dia bisa menjodohkan dua orang itu untuk bersama. Sayangnya itu hanya pemikiran lewat dan Railene masih memiliki sedikit keberatan. Dia agak tidak mau Inchara yang polos dan agak pendiam akan tercemar oleh Ben yang berisik. Jika itu terjadi, hari-harinya akan sangat berwarna, terlalu banyak warna.
Sampai di restoran sushi yang ditunjukkan oleh Ben, ketiganya keluar dan menuju tempat yang sudah direservasi. Itu harus dilakukan karena keduanya merupakan publik figur yang terkenal terutama di kalangan remaja. Petugas yang melayani juga terkejut melihat mereka, tapi karena keprofesionalannya, dia dengan cepat kembali tenang. Mereka menggunakan reservasi VIP yang disiapkan dan kerahasiaannya terjaga.
Mereka masuk ruang reservasi bertepatan dengan keluarnya dua anak muda yang juga sedang menjelajah kuliner. Kedua orang itu adalah Alan dan Gery. Titik berpotongan kedua grup itu nyaris bisa melihat satu sama lain, tapi sayangnya takdir tidak membuat mata mereka saling bertabrakan.
Gery dan Alan keluar restoran sushi dengan puas tanpa tahu bahwa orang yang mereka cari ada di ruang VIP di sebelah mereka makan tadi.
***
Jangan lupa like dan komentar
Have a nice day!😊
__ADS_1