
Railene menghabiskan waktunya untuk membaca buku terakhir dari petunjuk kedua Ghost Gypsy. Itu benar-benar buku seri lain yang ditujukan untuk mendeskripsikan sebuah perjalanan dengan lebih detail. Berjam-jam kemudian, Railene selesai membacanya dan berhasil memetakan pikirannya.
Dia berjalan ke ruang utama Alam Jiwanya. Melihat Inchara duduk dengan jujur dan mengetuk-ngetuk holografik kuno yang ia sebut tablet. Tapi, Inchara menamainya Kiki. Nama itu berasal dari novel fiksi yang pertama kali dibaca oleh Inchara saat telah menjadi manusia. Dia menyukai karakter fiksi bernama Kiki dan memberi nama benda-benda khususnya dengan sebutan itu diikuti kode angka. Tablet itu sendiri bernama Kiki 2, yang berarti alat nomor 2 yang dimilikinya. Untuk Kiki 1, itu adalah sebuah kalung yang dipakai Inchara dengan fungsi merubah penampilannya sesuka hati, meskipun penggunaan benda ini terbatas waktunya.
Railene menghampiri Inchara, duduk di sampingnya. Inchara melihat jejak mata panda samar di mata Railene dan menawarkan pangkuannya sebagai bantal untuk Railene tidur. Railene terbiasa dan tiduran dengan nyaman.
"Chara, apa kamu udah dapat petunjuk yang waktu itu aku minta?" Tanya Railene ketika Inchara selesai mengetuk-ngetuk Kiki 2 untuk menjelajah informasi.
Inchara menunduk dan menggeleng sedih, "Tidak ada informasi apapun yang aku dapatkan. Temanku cuma tiga, dan semuanya punya Orang Terpilih yang masih muda," kata Inchara dengan nada agak menyesal.
Railene tidak pernah mendengar tentang informasi mengenai teman-teman Penunjuk Jalan Inchara selama bertahun-tahun ini karena merupakan rahasia khusus untuk Penunjuk Jalan. Tapi, Railene terkadang memikirkan tentang berapa banyak orang sepertinya di dunia ini. Siapa saja selain dia dan Lu Shizu, di mana mereka berada. Apakah ada yang mendahuluinya mengetahui semua hal atau adakah yang memiliki petunjuk lebih banyak darinya. Railene tidak tahu dan hanya bisa berspekulasi secara liar dengan banyak kemungkinan.
Mendengar Inchara yang tidak mengetahui hal-hal ini, Railene tidak mempermasalahkannya dan menghibur Inchara.
"Nggak apa-apa, kita bisa cari tau lain kali," kata Railene mencubit pipi Inchara seperti biasa.
Dia melanjutkan memejamkan mata, "Tolong bangunkan aku kalau udah pagi," kata Railene kemudian.
"Oke, oke. Selamat malam, Railene," kata Inchara menanggapi.
__ADS_1
"Selamat malam, Chara."
...
"Dia nggak ke sini?"
Suara muda yang berteriak kaget menggema di sebuah kantor CEO gedung perusahaan hiburan terkenal. Di depannya pria berusia hampir setengah baya menggelengkan kepala heran. Dia kemudian melambaikan tangan berniat mengusir dua anak muda yang salah satunya adalah anak sahabat karibnya.
"Om, kapan Railene ke perusahaan?" Tanya Alan sambil menepuk bahu sahabat karibnya, Gery yang barusan berteriak dengan tidak sengaja. Menghiburnya yang masih terlihat kecewa.
"Saya tidak tau. Railene selalu datang dan pergi sesuka hati," kata Jack, si CEO hampir setengah baya itu. Menjawab pertanyaan anak sahabatnya, Alan Maxime.
"Sesuka hati? Apakah boleh kayak gitu?" Tanya Alan dengan heran sekaligus aneh. Dia bukan fans Railene dan hanya mengerti bahwa kemampuan akting Railene sangat bagus dan dia cantik. Tapi, selebihnya Alan tidak tahu apa yang istimewa dari Railene. Gery kadang memberinya spoiler dan dia hampir melupakan sebagian besar deskripsi idola sahabatnya itu karena kurang peduli.
Sebelum dia pergi, Gery dengan berani menanyakan sesuatu kepada Jack.
"Om... Pak, eh Om..., boleh minta alamat Railene?" Tanya Gery dengan kebingungan di awal tentang menyebut panggilan Jack.
"Itu rahasia. Kalian bisa ketemu bulan depan, saat pertemuan casting naskah baru. Railene sudah pasti tokoh utama, dia biasanya ikut saya untuk memilih cast tambahan," kata Jack kemudian benar-benar mengusir dua anak laki-laki yang memiliki dua pemikiran berbeda di kepala masing-masing.
__ADS_1
Kata pertemuan bagi kedua anak laki-laki itu memiliki definisi dan ekspektasi yang berbeda. Bagi Gery, itu adalah pertemuan antara fans dan idola. Gery belum pernah bertemu Railene dengan sangat dekat, dia pernah muncul di pemutaran perdana film dua tahun lalu, dan saat itu Gery kebagian kursi yang agak jauh dari posisi Railene. Railene juga tidak bertemu di acara meet and greet. Semua fans gadis itu tahu betapa antinya Railene dengan acara-acara yang melibatkan banyak orang. Tidak ada yang tahu pasti kenapa, hanya banyak muncul spekulasi di grup penggemarnya dan terkadang menyebabkan banyak diskusi teori konspirasi. Para fans dan juga Gery tidak pernah tahu bahwa Railene hanya mengantuk dan ingin segera menyentuh tempat tidur kamarnya dan meninggalkan fans-nya dalam angan-angan yang tidak menjadi kenyataan. Bagi para fans, Railene tidak tersentuh, seperti kesan pertama dalam film pertama Railene tujuh tahun lalu. Peri dunia lain yang seperti dewi, tidak tersentuh dan acuh tak acuh.
Sedangkan bagi Alan, pertemuan dengan Railene adalah misinya untuk menyelesaikan tugasnya. Dia memang penasaran saat ini dan memiliki beberapa rencana di benaknya. Dia akan menunggu satu bulan sambil mempelajari detail informasi Railene. Meskipun dia tidak ambisius tentang menjadi pewaris hal misterius di keluarganya, Alan tidak ingin memiliki beban yang belum terselesaikan ini. Setidaknya, meskipun nantinya bebannya bertambah, itu ada hubungannya dengan keluarganya, bukan orang asing. Lebih merepotkan berurusan dengan orang di luar keluarganya.
"Ger, beri tahu aku semua informasi yang kamu tau tentang Railene." Alan membawa mobil sambil meminta tolong pada sahabatnya itu. Gery menoleh dengan aneh. Ini adalah pertama kalinya dia mendapati sahabatnya yang selalu serius, tertarik pada seseorang di luar lingkup yang dianggap akrab.
"Kamu mulai jadi fans Railene?" Tanya Gery kaget dengan kata-katanya sendiri.
"Bukan, aku penulis skenario film itu. Mempelajari karakter dan riwayat hidup artis itu bagian dari telaah naskah," kata Alan dengan meyakinkan.
Gery menatapnya datar dan tahu bahwa Alan berbohong dalam sekali pandang. Dia juga tahu alasan sebenarnya dari rasa penasaran Alan. Keduanya tidak pernah menyembunyikan apapun satu sama lain, termasuk urusan keluarga mereka. Jadi, dalam kalimat permintaan Alan, itu pasti ada hubungannya dengan barang yang dia anggap keramat karena selalu dibawa kemana-mana oleh Alan.
"Oke, jangan banyak omong kosong. Aku punya semua data Railene di komputer rumahku. Kamu bisa cari sendiri, foldernya aku taruh di database terbesar dan judulnya 'Railene'. Kamu masuk sendiri, aku mau latihan sampai malam," kata Gery lalu turun dari mobil ketika sampai di gedung klub basket universitas. Alan mengangguk dengan serius dan meninggalkan kampus dengan sekali jalan. Dia mempecepat laju mobilnya.
Gery melihat kepergian sahabatnya yang agak kencang dan menggelengkan kepala dengan aneh.
***
Hai hai, apa kabar semwaa?? Bentar lagi UAS-ku kelar tapi masih agak jauh dari selesai. So, aku bakal ijin libur nulis sampai hari jumat. Bye bye sementara~~
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentar.
Have a nice day!😊