
Angga memperagakan sebagai Oba. Railene mengikuti alur, membawa sedikit suasana magis yang kental. Seperti sesuatu yang asing namun sangat indah dan megah.
"Apa aku akan mati?" kata Oba dengan tertatih.
Dia mengikuti cahaya biru terakhir yang mengantarkannya ke depan sebuah telur raksasa. Telur putih dengan corak perak yang terlihat seperti bekas cakar oleh hewan liar. Dalam keputusasaannya, Oba mendekati telur itu dan darah di tangannya menempel pada cangkang.
Dalam sedetik telur itu retak. Cahaya samar menembus cangkang dan berbinar dalam pantulan tetes air dari gua. Oba terduduk dengan mata takjub. Hampir berteriak gila karena melihat keajaiban di depannya.
"Apa yang terjadi?"
Lalu sosok dengan jubah putih dan cahaya keperakan muncul. Sosok dewi yang disebut Eda Mimo. Eda Mimo memandang Oba dengan sisa cahaya di tubuhnya. Wajahnya tanpa ekspresi, dingin, tak terjangkau.
Oba bertatapan dengan Eda Mimo selama beberapa detik sebelum pihak lain mengulurkan tangannya dengan anggun. Cahaya kecil perak muncul di tangannya, itu tertuju pada Oba dan memasuki kening anak laki-laki itu. Lalu, terdengar suara jernih yang sangat enak di dengar.
"Kamu membangunkanku, kamu harus jadi temanku," kata Eda Mimo.
Oba masih diam. Dia sedang dalam proses menyembuhkan luka dan mengobati kelaparannya. Cahaya tadi adalah penyembuhan dan berkah oleh Eda Mimo. Oba tidak tahu dan hanya menerima cahaya itu dengan damai. Dia juga merasakan bahwa ada kekuatan besar dalam dirinya sendiri setelah cahaya itu memasuki tubuhnya.
Hanya berkisar satu menit, dia kemudian merespon Eda Mimo yang telah berdiri di depannya. Memandang tanpa ekspresi tapi ada rasa penasaran dalam matanya.
"Kamu sangat menyedihkan, aku akan membantumu," ujar Eda Mimo lagi. Suaranya masih sejernih kristal, namun ada sedikit nada tanpa simpati di dalamnya. Oba hanya mengangguk, masih menjadi autis dalam keterkejutannya.
"Oke, good!" Teriak Jack di sisi monitor. Senyum lebarnya tidak bisa disembunyikan.
Railene dan Angga dengan cepat pulih dari pemeran. Mereka saling memandang dan tersenyum satu sama lain. Railene mengungkapkan rasa terima kasih.
"Aktingmu cukup bagus, apa kamu berlatih selama ini?" Tanya asisten sutradara.
"Iya, aku dipaksa Om Jack buat latihan. Jadi aku latihan," kata Railene menggunakan kata-kata naif.
Jack di samping asisten sutradara merasa difitnah. Karena meskipun dia memang menyuruh Railene untuk berlatih, dia tidak memaksanya sama sekali. Wajahnya berkedut dengan emosi campur aduk. Dia tahu bahwa gadis kecil itu sudah menjadi musuh kecilnya sejak pertama kali mereka bertemu.
Asisten sutradara tertawa terbahak-bahak. Kemudian keduanya mengobrol sebentar dengan tanya jawab singkat. Railene dipersilahkan keluar setelah pengumuman bahwa dia terpilih sebagai pemeran Eda Mimo keluar.
Angga mengantar Railene ke backstage dan bertanya tentang info kontak satu sama lain. Railene tidak keberatan dan mengatakan informasi kontak resmi perusahaan yang disiapkan. Itu juga dipegang oleh asistennya, Maria.
__ADS_1
Railene selesai syuting dan kemudian pulang lebih dulu. Dia meninggalkan Arkan yang masih casting karena memiliki sesuatu yang penting. Dia pergi dengan mobil perusahaan bersama Maria.
Melirik tanggal, Railene ingat bahwa hari ini adalah apa yang dijanjikan olehnya untuk menghubungi Selena. Dia berkerut sebentar sebelum memandangi Maria dengan terang-terangan. Merasa diperhatikan, Maria menoleh singkat dan bertanya.
"Ada apa?"
"Kakak itu asistenku, apa kamu menurutiku atau menuruti perusahaan?" Tanya Railene.
Maria melirik sekilas, "Ada situasi khusus dimana saya harus mengikuti perusahaan, tapi seharusnya jika tidak bertentangan dengan perusahaan, aku harus menurutimu," kata Maria.
Railene tersenyum sekilas. Dia mengulurkan tangannya dengan menadah di depan Maria. Maria meliriknya dengan bingung.
"Boleh pinjam hp Kakak?" Tanya Railene dengan manis. Senyum di wajahnya cerah.
"Apa yang kamu lakukan dengan ponselku?" Tanya Maria dengan heran. Meskipun begitu, dia tetap memberikan ponselnya kepada Railene.
"Untuk bisnis rahasia," jawab Railene jujur. Tidak menjelaskan lebih, Maria juga tidak bertanya lebih jauh.
Railene sudah membuka email dengan halaman penyamaran hacker. Dia memasukkan kode dan mengirim email kepada Selena dengan lancar. Membuat janji dan mengembalikan pengaturan ke semula. Setelah selesai, dia mengembalikan ponsel kepada Maria.
"Sama-sama," jawab Maria masih tanpa ekspresi. Dia tidak terlihat penasaran dengan apapun yang Railene lakukan.
"Umm, aku belum pengin pulang. Kakak bisa anter aku ke suatu tempat?" Tanya Railene kemudian.
"Kemana?"
Railene menyembutkan sebuah tempat dan Maria terdiam selama beberapa detik. Dia menoleh dan melihat Railene yang sedang menatapnya. Keduanya terdiam. Railene menunggu jawaban Maria, sedangkan Maria menjadi heran kenapa Railene ingin mengunjungi tempat seperti itu.
"Oke," kata Maria akhirnya.
Railene tersenyum senang. Dan kembali meminta sesuatu. Memastikan pihak perusahaan tidak melacaknya.
"Oh, bisakah kita mematikan GPS untuk pelacakan perusahaan untuk sementara? Aku nggak mau perjalanan ini ditemukan siapapun," ujar Railene.
Maria menepikan mobil dan menatap pada Railene. Tanpa ekspresi namun ada keheranan di matanya.
__ADS_1
"Saya tidak bisa. Ini salah satu protokol keamanan perusahaan. Apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan?" Tanya Maria. Nadanya tidak tertarik dan seperti hanya sebuah formalitas. Railene tahu itu dan tidak menjawab.
"Ini bukan apa-apa. Kalau gitu bawa aku ke toko permen di dekatnya," kata Railene dengan rencana kedua.
Maria diam beberapa detik sebelum menjawab patuh, "Baik."
"Apa kamu bakal melaporkan hal-hal ini ke Kak Tamara?" Tanya Railene dengan nada sedikit lebih rendah.
"Tidak," kata Maria.
Railene menghela napas lega. Tamara dan perusahaan adalah satu sama lain. Dia tidak ingin perusahaan mengetahui hal-hal yang dia lakukan karena itu akan terhubung ke Jean dan Diza. Untuk menghindari semua pertanyaan tentang tujuannya dan banyak hal, dia harus menyembunyikan dan meletakkan tempat lain sebagai penyamaran.
Keduanya tidak bicara lagi dan mobil melaju ke tempat yang dituju.
...
Di sebuah ruangan kerja dengan banyak tumpukan dokumen, sosok perempuan duduk di depan layar komputer. Dia memindai email dan menemukan satu yang aneh. Nama kode dan angka yang sedikit lebih rumit dari yang lain.
Dia segera membukanya dan menemukan titik koordinat bergerak. Ada sebuah tempat yang ditandai tapi itu berubah dalam hitungan detik. Kalimat singkat yang langsung ia kenali sebagai janji satu bulan lalu muncul di layarnya.
"Taman hiburan ramai, pindah toko permen."
Perempuan itu merasa sedikit lucu dengan kalimat ini. Tidak lama setelah ia membaca pesan, itu segera terhapus tanpa jejak. Dia menyadari bahwa tingkat pengetahuan teknologi gadis kecil di seberang sana telah meningkat pesat.
Dia adalah Selena. Diam selama beberapa detik, dia bangkit pada detik berikutnya. Mengeluarkan sebuah kotak kayu berisi barang-barang yang diinginkan gadis kecil di seberang sana dan bergegas keluar. Untungnya dia ingat letak koordinat dan nama tempat yang ditandai perubahannya.
Dia menuju mobilnya dan segera meluncur ke tempat itu.
***
Hai hai... misi menegangkan akan dimulai hehe...
Jangan lupa like dan komentar ya... Terima kasih.
Have a nice day!😊
__ADS_1