
Railene berlibur hanya satu hari satu malam. Keesokan harinya dia telah kembali ke lokasi syuting untuk melanjutkan syutingnya. Bagian krusial dimana tokoh yang diperankan Railene ditemukan sebagai bakat oleh orang berbahaya dimulai. Di sana perjalanan hacking nya akhirnya bermula serta tekanan depresi dari tokoh sang ibu mulai terlihat.
Jack juga mulai mengejar kesempurnaan dan Railene benar-benar mempraktikkan pengetahuan hack-nya di beberapa adegan film itu. Hubungannya dengan Kaho pun menjadi junior dan senior yang saling menghormati dan belajar bersama membuat kemajuan syuting. Kebetulan keduanya cocok saat mengobrol tentang akting dan Railene belajar banyak dari Kaho. Dia juga tidak menanyakan hal-hal yang membuatnya ragu. Menurutnya, waktunya belum tepat dan dia harus mencari tahu lebih jauh tentang beberapa hal lain yang harus diperhatikan.
Saat syuting, Railene juga menyempatkan bekerja untuk perusahaan kakeknya. Bertemu klien, membuat rencana efisien, dan berbaur di antara kolega bisnis yang lebih tua darinya. Dia juga menyempatkan mengikuti lomba melukis tingkat dunia dan berhasil memenangkan juara pertama seperti biasanya.
Dan akhirnya, dia mendaftar di sekolah baru pada tanggal 5 Juni. Bersama Diza, Railene terbang ke Swiss seperti yang dia perkirakan dan mendaftar ke sekolah unik itu. Ben dan anggota keluarga lainnya tidak bisa mengikuti karena memiliki jadwal yang masing-masing tidak memungkinkan mereka mengikuti Railene ke negara lain.
Perjalanan kali ini, Railene telah mempersiapkannya dengan baik. Dia lebih menantikan banyak hal di masa depan dan pada kenyataannya dia perlahan memahami esensi keberadaannya dengan uji coba banyak hal di Alam Jiwa. Beberapa kali dia melibatkan Alan dan meminta pemuda itu menjelaskan apa yang ditinggalkan leluhurnya. Meskipun itu tidak selalu berjalan lancar karena alasan Alan yang belum mempelajari semua buku-buku dari leluhurnya.
Kembali ke saat ini, Railene turun dari pesawat pribadi bersama Diza di Bandara Internasional Zurich. Keduanya tidak tergesa-gesa dan memilih menjeda perjalanan dengan menginap di hotel milik salah satu kolega bisnis kakeknya di sini. Dia dan Diza juga mengenalnya karena beberapa kali ikut serta dalam pembahasan bisnis. Hubungan mereka dengan kolega bisnis ini juga dapat dibilang sangat baik bahkan kakeknya merupakan teman kuliah kolega bisnis ini di masa lalu.
Mereka menuju titik penjemputan dan melihat asisten kolega bisnis kakeknya. Nama asisten itu adalah Lorenz, laki-laki dengan fitur wajah khas Eropa setinggi 1,8 meter. Dia mengenakan setelan jas biru tua dan tersenyum ramah ke arah mereka. Lorenz berusia 43 tahun dan merupakan generasi yang sama dengan Diza. Keduanya akrab dan saling menyapa dalam bahasa Inggris standar.
"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu Tuan Lorenz?"
"Sangat baik. Bagaimana denganmu, Miss Diza?"
"Saya merasa baik. Terima kasih sudah menyempatkan menjemput kami. Itu merepotkanmu," ujar Diza dengan senyum ramah. Berbeda dengan sikap bisnisnya yang kaku.
__ADS_1
"Tidak merepotkan sama sekali. Jangan terlalu sopan, kita sudah kenal lama," kata Lorenz diakhiri tawa.
Mereka sudah mengenal lama lebih dari 7 tahun dan sama-sama akrab. Jadi, Diza memiliki ketulusan yang jarang dia berikan kepada kolega bisnis lain yang biasa. Railene di sampingnya mendengarkan dengan tenang.
"Dan Railene, bagaimana kabarmu?" Lorenz kemudian melihat ke arah Railene. Tatapan seperti tetua melihat anak-anak ini membuat Railene merasakan ketulusannya. Ditambah isi pikiran Lorenz seperti orang tua yang melihat anaknya tumbuh.
"Sangat baik. Lama tidak bertemu, Tuan Lorenz. Bagaimana kabar Tuan Louis?" Railene menjawab dalam bahasa Jerman yang dia pelajari sejak dua tahun silam.
Lorenz terlihat terkejut tapi ekspresinya gembira.
"Dia baik-baik saja. Kamu akan bertemu nanti dan dia akan senang mendengar kamu bicara begitu fasih dalam bahasa lokal kami. Kamu tetap jenius kecil yang selalu mengagumkan!" kata Lorenz dengan bangga dan menghela napas kagum.
"Terima kasih. Saya masih belajar." Railene menjawab rendah hati.
Meskipun bukan pertama kalinya dia menaiki mobil seperti ini, tapi tetap menjadi pengalaman yang jarang dia alami. Dia tidak memilikinya karena meskipun dia memiliki uang dan mampu membelinya, baginya limusin terlalu high profile di negara Indonesia. Dia tidak membutuhkan pengakuan status sosial yang berlebihan. Itu justru mengundang banyak masalah apalagi dia adalah figur publik. Ketika netizen dan orang-orang yang membencinya tahu, gosip dan desas-desus akan membuatnya membuang banyak waktu berharga. Tidak efisien dan mengganggu. Jadi dia tetap rendah hati dan tidak berlebihan dalam hal konsumsi barang mewah.
Railene dan Diza berencana menginap di sebuah kota bernama Hottingen. Daerah ini terletak di distrik 7 di Zurich dan merupakan daerah yang dekat dengan pusat pengembangan Zurich. Hotel yang ditujunya bernama The Dolder Grand, salah satu hotel bintang lima di sana yang memiliki pemandangan hijau asri khas tanah Swiss. Itu salah satu hotel milik Louis yang memiliki penilaian tinggi.
Rencana menginap ini juga akan menjadi rencana liburan keduanya setelah menyelesaikan pendaftaran di EPS keesokan harinya. Keduanya telah lama tidak pergi bersama dan Railene ingin menikmati waktu santainya bersama Diza. Sebelum hari-hari sibuknya dimulai Railene ingin dekat dengan orang yang disayanginya lebih banyak.
__ADS_1
Sesampainya di hotel, Railene langsung menyukai suasananya. Sepi, terawat, dan udaranya sejuk. Saat ini di Swiss sedang musim semi dan suhu rata-rata sekitar 20°C, sangat cocok untuk menjelajah beberapa destinasi terkenal sebelum puncak kedatangan turis pertengahan bulan sampai akhir bulan.
"Bunda, lusa ke Kota Lucerne, boleh? Aku udah lama pengin ke sana sama Ben, tapi belum sempat terus." Railene mengajukan permintaan kepada Diza saat keduanya sampai di kamar hotel VIP.
"Boleh. Bunda juga pengin ke Jembatan Kapel. Dulu pernah ke sana sekali tapi cuma buat perjalanan bisnis. Bunda belum sempat jalan-jalan," ujar Diza menanggapi. Dia mengelus kepala Railene penuh kasih sayang dan menyetujui permintaannya dengan senang hati.
Railene bersorak dan bersiap untuk beristirahat. Dia masuk kamarnya dan menghubungi Ben. Berencana untuk pamer kepada teman-temannya yang sedang sibuk dengan jadwal pekerjaan saat liburan datang.
Railene: [Kak, aku mau liburan sama Bunda selama seminggu. Kita bakal ke Kota Lucerne dan jalan-jalan di sana! Ayo ikut!]
Tak lama balasan pesan masuk.
Benedict: [Rail, aku tau kamu jahat. Liat ini, aku menderita di kantor huhuhuu..., Papa terlalu serem, Kakek juga serem. Railene..., cepet balik ke sini, aku butuh otak kamu!!😭😭]
Railene: [Sampai jumpa bulan depan~~😊]
Railene hanya tersenyum melihat penderitaan dua kali lipat Ben di bawah tekanan dua ketua perusahaan besar. Diam-diam berdoa bahwa Ben akan dapat menahannya dalam waktu lama sehingga waktu bersantainya juga diperpanjang.
"Maaf Ben, aku pengin bersantai dulu, hehe."
__ADS_1
...****************...
Oh ya, saya baru bikin cerita chat story for the first-time. Judulnya "Daily of Broccoli Circle". Genre Komedi Fantasi dan romance ala kadar (ga romantis kayaknya), dan keknya komedinya juga aneh. Ya pokoknya itulah. Kalo mau baca, bisa mampir hehe... Mbok kamu semua kepo...