Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
120. Dimensi dalam Kalung


__ADS_3

"Chara, beberapa hari lalu Kak Alan memberitahuku tentang benda-benda ini dan hubungannya dengan akumulasi energi mental," ujar Railene sambil menunjuk ke arah tiga perhiasan yang dia kumpulkan selama ini. Salah satunya adalah kalung yang dia pakai.


"Kamu pernah bilang kalau kekuatan mental yang aku kumpulkan lebih banyak dari yang seharusnya, kan?"


Inchara mengangguk mendengar pertanyaan Railene. Dia memang dapat melihat bahwa energi yang dikumpulkan dalam diri Railene lebih dari mencukupi di usianya. Tapi juga memiliki pengaruh pada usianya yang berkurang sedikit dari yang seharusnya.


"Kalau begitu seharusnya aku bisa coba untuk mencari tahu salah satu fungsi dari tiga benda ini. Setidaknya yang setara dengan informasi yang seharusnya aku terima dalam kategori kekuatanku." Railene menganalisis dan memegang liontin kalungnya di telapak tangan.


"Sebaiknya kamu melakukannya di ruang spiritual, ada kemungkinan kamu mungkin kekurangan energi setelah mencoba atau mengakses salah satu isi benda ini. Itu membahayakan kalau kamu nggak punya aliran energi yang lebih besar di sekitar," ujar Inchara mengingatkan Railene.


Railene mengangguk dan kemudian membawa ketiga benda itu ke ruangan meditasinya. Di sana energi lebih fokus terkumpul dan cukup untuk menyelamatkannya dari kekurangan energi. Dia pun duduk di tengah ruangan.


Inchara tetap di sampingnya, menjaga Railene jika mungkin terjadi kecelakaan. Dia terhubung dengan Railene secara batiniah dan dapat merasakan keadaan Railene yang sesungguhnya. Jadi, untuk menjadi bodyguard, dia dapat diandalkan kurang lebih.


"Aku akan mulai. Chara, kalau misal terjadi sesuatu, kamu bisa coba bangunkan aku. Lakukan segala cara." Railene berpesan dan Inchara mengingatnya.


Beberapa detik kemudian, Railene perlahan menyalurkan energi mental di dalam tubuhnya ke kalung yang dia gunakan. Benda pertama yang dia dapatkan. Seharusnya itu menjadi percobaan yang layak untuk pertama kalinya.


Fokus Railene tidak bercabang. Energi biru samar bergerak di sekitar liontin kalungnya. Simbol yang sudah dikenalnya mengukir sendiri dan perlahan tertutup warna kebiruan. Aliran waktu tetap, tapi dalam keadaan pikiran Railene, dia tengah berusaha menerobos badai salju di tengah lapangan bersalju yang luas. Putih dimana-mana dan udara dingin perlahan menembus sumsum tulangnya.

__ADS_1


Awan kelabu di atasnya, angin berhembus membawa butiran salju lembut. Railene berjalan perlahan, tapi kakinya tenggelam di salju hingga di atas lutut. Dia berjuang di tengah kedinginan dan kesulitan bergerak. Railene tidak menyangka bahwa dimensi dalam kalung ini memiliki kondisi ekstrem seperti ini.


Sambil berusaha bergerak maju, Railene mengobservasi sesuatu di sekitarnya. Tidak dapat melihat apapun. Hanya daratan putih yang kontras dengan kelabu di langit. Sedikit gelap dan Railene perlahan merasakan bahwa tangannya membeku.


Namun, sebelum Railene memutuskan untuk keluar karena tidak tahan beku, sebuah suara yang dikenalnya datang. Suara Inchara bersama sebuah pengingat penting yang justru dia lupakan saat ini.


"Railene, semua benda-benda yang berhubungan denganmu selalu memiliki kekuatan psikis. Entah itu ujian, serangan, dan kondisi pikiran, kamu harus fokus bahwa kekuatan psikis adalah faktor utama," ujar suara Inchara yang bergema di benaknya.


Railene hampir melupakannya.


"Psikis adalah kekuatan. Pikiran... dapat dikendalikan," gumamnya dengan ekspresi tercerahkan.


Perlahan dia membentuk garis dimensi musim panas semi yang hangat di tengah dataran luas padang rumput. Dalam pikirannya dia mengatur suhu yang seharusnya dia rasakan saat musim panas. Bayangan dalam batinnya bergerak di sekitar tubuh Railene.


Lapangan salju yang luas dengan langit kelabu perlahan berganti menjadi padang rumput musim panas dengan pepohonan jarang di sekelilingnya. Udara perlahan menghangat dan salju menguap hingga benar-benar hilang. Langit yang kelabu juga mulai berganti warna. Biru cerah dan mentari di balik awan putih bersinar.


Railene yang membeku perlahan merasakan rasa hangat di sekitarnya. Dia membuka mata dan melihat visual dimensi ruang yang terlihat di matanya. Indah, dan ketika berjalan sendirian, Railene benar-benar tidak merasakan intimidasi seperti di awal saat memasuki dimensi ini.


"Aku berhasil, hei..., ini sangat indah," kata Railene dengan helaan napas lembut.

__ADS_1


Dia tersenyum ringan dan berjalan maju. Ingin melihat ruangan macam apa yang dia masuki saat ini. Sebuah dimensi yang dapat diatur menggunakan perasaan dan bayangannya adalah dimensi yang menyenangkan ketika dia menguasainya.


Railene berjalan sejauh 100 meter sebelum menemukan sebuah rumah kecil di balik pohon lebar. Railene terkejut karena dalam imajinasinya, dia tidak menggambarkan rumah seperti itu. Dengan firasat yang dia bawa, Railene memasuki rumah itu karena tahu bahwa dia akan mendapat suatu keberuntungan.


"Rumah ini mungkin bagian dari petunjuk dan inti utama dari ruang dimensi ini, kan?" Railene bertanya pada udara. Hanya berupa retoris karena dia akan menganggapnya begitu sejak awal.


Perlahan dia memasuki rumah setelah membuka pintu kayu yang memiliki ukiran luar biasa rumit dan indah. Di dalam rumah yang dia lihat hanyalah ornamen-ornamen patung kayu berwujud binatang-binatang tidak dikenalnya. Atau dapat dikatakan itu adalah berbagai miniatur kayu setengah hewan dan manusia, sebagian besar. Misal, salah satu yang dikenalinya hanyalah Centaur, perwujudan tubuh bagian atas manusia dan bagian bawahnya berupa badan kuda. Makhluk yang hanya muncul dalam mitologi ini terlihat realistis.


"Pemilik rumah ini sangat imajinatif," komentarnya ketika melihat sebagian besar dari berbagai miniatur itu. Beberapa terlihat lucu karena mirip beast, beberapa terlihat menyeramkan dan kurang lebih dapat dijuluki sebagai monster.


Railene tidak menyentuh benda-benda itu karena ada kemungkinan dunia dimensi ini memiliki penghuni. Sama seperti Inchara yang sejak dia dilahirkan, dia ada di Alam Jiwa. Mungkin konsep dimensi ruang ini sama dengan yang diketahuinya sebelumnya. Jadi, dia melanjutkan perjalanan ke sebuah pintu di ujung.


Pintunya memiliki pola dengan simbol yang dikenalnya di tengah. Pola itu ditutupi batu safir yang biru jernih di atasnya. Entah bagaimana Railene tahu, di dalam hatinya dia menemukan sebuah keinginan untuk menyentuhnya dan itu akan membuka pintu itu seluruhnya.


Jadi, Railene meletakkan telapak tangan kanannya di atas batu safir seukuran setengah bola voli itu dan seketika benda itu bereaksi. Batu safir itu berpendar dalam cahaya redup dan Railene merasakan seketika bahwa kekuatan mentalnya tersedot dengan sangat cepat.


Dia ingin melepaskannya, tapi firasatnya mengatakan bahwa dia tidak boleh melepaskannya sekarang jika dia tidak ingin gagal. Maka dari itu dia bertahan. Mencoba bertahan setidaknya sampai dia benar-benar tidak punya cukup kekuatan.


Lima belas detik berlalu, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Dia ujung jarinya dia merasakan kesemutan yang luar biasa. Dan ketika dia merasa bahwa kekuatannya benar-benar menjadi semakin tipis, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa pintu di depannya perlahan terbuka dari tengah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2