Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
44. Agen Rahasia 2


__ADS_3

Wanita itu membeku dan tersadar beberapa saat kemudian. Railene memanfaatkan itu untuk mengetahui identitas wanita di depannya. Ia agak bergetar dengan semangat ketika tahu apa profesi sebenarnya dari sosok di depannya.


Wanita itu kemudian bereaksi. Dia sedikit menunduk dan berbicara kepada Railene. Ekspresinya melunak namun tetap ada rasa dingin tertinggal di matanya.


"Bagaimana aku bisa membantumu?" Tanyanya dengan tenang.


Railene mendeteksi semacam tekanan kuat dan berbahaya dari wanita di depannya. Dia seperti seseorang yang selalu melakukan hal-hal tersembunyi dan rahasia sehingga aura yang dibawanya terbentuk menjadi sedemikian kuat. Dalam hati Railene mengagumi karakter kuat sosok di depannya.


"Tolong angkat aku sedikit, aku akan mencuci tangan dengan cepat. Maaf merepotkanmu," sahut Railene dengan tenang. Ada senyum kecil terselip dan itu sangat cantik.


Wanita itu mengangguk. Ia berdiri di belakang Railene, dan mengangkatnya dengan mudah. Bagaimana pun Railene masih seperti bayi dengan berat badan yang minim. Wanita itu bahkan mengernyit heran ketika merasa bahwa gadis kecil di dekapannya terlalu ringan.


Railene mencuci tangan dengan cepat. Dia merasakan lengan wanita yang menolongnya sangat kokoh dan memiliki struktur otot terlatih di balik kulitnya. Railene kembali berdecak kagum dalam hati.


Setelah selesai wanita itu menurunkan Railene. Dia juga membantu Railene mengambil tisu. Dengan cekatan Railene menyelesaikan kebutuhannya.


"Terima kasih, Nona." Railene berkata dengan ceria. Mempertahankan wajahnya yang tenang. Namun, jelas ada kilat semangat baru yang muncul di matanya.


"Sama-sama," ujar wanita itu hendak pergi sebelum Railene meraih tangannya.


Wanita itu dengan bingung menunduk lagi. Sedikit menyipit karena senyuman gadis kecil itu menjadi sedikit misterius. Ada kilat nakal yang melintas di matanya. Dalam sekali pandang, wanita itu tahu bahwa Railene sedikit tidak biasa untuk ukuran seorang anak kecil.


"Apa ada sesuatu lagi?" Tanyanya kemudian.


Railene tersenyum lebar dan mengangguk. Dia kemudian mengisyaratkan wanita itu untuk menunduk. Menuruti gadis kecil itu, sang wanita mendengar bisikan Railene di telinganya. Hanya satu kalimat dan itu membuatnya membeku di tempatnya.


Railene secara alami tahu apa yang dipikirkan wanita itu dan tidak mengatakan apa-apa untuk menjelaskan. Dia menjaga jarak sedikit dan kembali tersenyum. Binar di matanya sangat tulus dan membuat wanita itu akhirnya tersadar.


Namun, sebelum dia bisa bereaksi, Railene sudah berpamitan dan melarikan diri.

__ADS_1


"Terima kasih sekali lagi. Semoga Nona berhasil dalam misi," ujar Railene lalu keluar toilet dengan berlari kecil.


Wanita itu terdiam lagi dan matanya menajam. Merasa bahwa seluruh dunia seperti terjungkir balik saat ini. Dia mempertanyakan siapa identitas sebenarnya gadis yang baru saja ia temui? Mengapa di bahkan tahu tentang misinya dan apa yang ia cari? Lalu apakah gadis kecil itu sudah menebak identitasnya? Wanita itu terpekur lama.


Di sisi lain Railene sudah kembali dan berjalan di samping Johar. Keduanya mengobrol ringan dan kembali ke pesta perjamuan.


"Apa tadi di dalam ada seseorang?" Tanya Johar penasaran.


Railene mengangguk lalu bercerita singkat.


"Kakak di dalam bantuin Railene tadi. Wastafelnya terlalu tinggi, jadi Railene digendong buat cuci tangan. Baba, Kakak tadi kuat banget. Masa gendongnya cuma pake satu tangan. Railene kan berat, tapi Kakak tadi kuat. Railene pengin deh bisa sekuat Kakak tadi. Baba, gimana caranya biar kuat?"


Keduanya berbincang sepanjang perjalanan.


...


"Apa kalian yakin Nona Selena akan keluar dari sisi ini? Kalian sudah memastikannya?" Tanyanya pada Tim IT. Nadanya sembrono namun memiliki semacam aura khusus yang tidak main-main. Dia tidak terlihat cemas atau meragu terlalu banyak. Malah terlihat sebaliknya dan tampak malas.


"Itu benar. Kami memberitahunya bahwa semua pintu terblokir oleh orang-orang yang menyadari bahwa barang itu hilang di tempat. Sepertinya Nona Selena menemukan celah dan akan keluar dari salah satu balkon kamar," ujar salah satu dari tiga Tim IT.


"Itu sudah satu menit sejak dia mengkonfirmasi. Seharusnya dia akan segera sampai. Orang-orang yang mengejar masih terjebak di dalam hotel. Mereka masih mencari ke ruang pengawasan dan kami telah mengendalikannya sejak tadi. Beberapa rekaman yang menunjukkan Nona Selena sudah dihilangkan." Sosok lain dari Tim IT berbicara.


Pria yang sedang berdiri sendiri bergumam dan masuk mobil. Menginstruksikan ketiganya untuk melaju meninggalkan area hotel lebih dulu. Tim IT setuju dan segera pergi.


Tak berapa lama, sosok dengan dress hitam terjun begitu saja dari lantai dua. Dia mendarat dengan selamat setelah roll ke depan. Menjinjing sepatu hak tingginya dan berjalan dengan normal ke arah mobil.


"Ayo pergi!" Perintahnya begitu dia masuk mobil. Nada suaranya datar dan dingin. Ia melirik ke arah balkon dengan tatapan rumit, meninggalkan dirinya tanpa jejak.


Pria tadi berdehem. Mobil terakhir melaju cepat dan segera bergabung dengan jalanan macet. Pria itu tidak bertanya tapi melirik wanita di sampingnya. Menunggu laporan yang dibawa.

__ADS_1


Selena masih memikirkan kejadian di toilet dan merasa aneh dalam setiap inci pemikirannya. Dimana pun ia menemukan alasan, itu tidak masuk akal karena bersumber dari anak kecil yang bahkan tidak lebih tinggi dari dapur wastafel. Ia mempercayai bahwa gadis kecil tadi begitu misterius dan tidak sederhana sama sekali. Ia menyadarinya.


"Apa yang terjadi?" Pria tadi akhirnya menyela karena Selena tidak segera bicara dan malah terdiam, larut dalam pikirannya.


Selena melirik pria di sampingnya dan berdehem singkat. Ia ingat posisinya dan segera melaporkan.


"Saya membawa barangnya. Seseorang menemukan tempat khusus itu kosong dengan cepat. Awalnya saya terjebak, namun seseorang menolong saya," ujar Selena melaporkan segalanya.


"Seseorang? Kamu yakin dia sekutu?" Tanya sang pria mengerutkan kening.


"Dia bukan musuh. Dan jalan keluarnya jelas membuat saya dapat kembali dengan selamat. Menurutmu, bisakah saya berkeliaran dengan bebas ketika semua orang berpatroli di setiap lantai?" Selena menggelengkan kepala dengan skeptis. Dia mempercayai instingnya. Dan pada pandangan pertamanya tentang gadis kecil yang dia temui, dia tidak merasakan sesuatu yang salah kecuali kemisteriusannya.


"Siapa dia?" Tanya pria di sampingnya masih mengejar.


"Saya tidak tahu. Dia tampak biasa namun misterius di saat yang sama. Kamu tidak akan menduga semua hal yang saya lakukan untuk jalan keluar adalah atas sarannya," sahut Selena lalu membuang muka ke arah jalanan. Dia tidak memberitahu bahwa itu hanyalah anak kecil yang terlihat seperti berusia 5 atau 6 tahun. Pikirannya kembali tenggelam.


Pria di sampingnya tidak melanjutkan namun memikirkannya dengan hati-hati.


"Ini misi pertamamu dan seseorang membantumu memecahkan masalah. Tunggu keputusan atasan untuk membuatmu terlibat dalam misi besar." Pria itu tidak membantu, tapi mengingatkan.


Selena terpekur dan mengangguk, "Saya tahu, saya akan mengambil cuti saya selama menunggu," ujarnya.


"Baik." Pria itu mengangguk. Tidak bicara lebih banyak.


***


Jangan lupa like dan komentar. Terima kasih kepada pembaca yang masih setia membaca cerita ini.


Have a nice day!😊

__ADS_1


__ADS_2