
Railene sudah menyelesaikan semua ujian dalam waktu kurang dari satu jam. Itu pun ia sedikit mengulurnya agar tidak terlalu abnormal. Pasalnya, ia mengerjakan semua soal berjumlah total 250 untuk seluruh pelajaran. Soal-soal yang dikumpulkan dari jenjang kelas tiga sampai kelas enam SD dan Railene menyelesaikan dengan sempurna.
Tidak hanya Jean yang terbengong takjub, kapala sekolah bahkan sampai ingin menampar dirinya sendiri berkali-kali. Ia sampai bertanya-tanya tentang benarkah usia anak itu baru lima tahun? Bukankah semua soal itu termasuk berat bahkan untuk anak-anak kelas enam?
Berbeda dengan respon kedua orang itu, Diza yang sudah terbiasa hanya mengelus kepala Railene lembut dan memujinya karena sudah berusaha dengan baik. Susan juga berbangga diri karena ia berperan penting sebagai bibinya di sini. Ia bahkan menatap Jean dengan ejekan di matanya. Seolah berkata "kamu bahkan nggak tau kalau Railene itu sangat cerdas?"
Jean berdecak kesal melihat tatapan Susan. Tapi, kemudian ia menyegarkan wajahnya lagi dan berpaling ke Railene yang sedang anteng memakan kue yang disediakan di meja. Gadis kecil itu lapar karena ini mendekati makan siang. Mereka memang datang agak siang sesuai dengan undangan Jean.
"Diza, putrimu benar-benar seorang jenius. Seharusnya Railene sudah memasuki jenjang yang lebih tinggi dari Sekolah Dasar dengan otak cerdasnya itu. Tapi, sayang sekali di negara ini pembuktian ada di atas kertas bernama ijazah. Jadi, anakmu harus melewati fase ini lebih dulu. Mungkin akan baik memasukkannya di kelas tiga untuk saat ini. Kami akan memantau perkembangan Railene dan itu juga memungkinkan dia untuk menempuh waktu sekolah tiga tahun. Ini syarat minimal yang bisa aku tawarkan ke kamu. Apa kamu keberatan?" jelas Jean menawarkan penawaran yang hanya dikhususkan untuk anak-anak super jenius seperti Railene.
Diza menghela napas tipis. Ia tahu bahwa putrinya memang tidak mungkin untuk menjadi biasa-biasa saja. Ia juga sangat tahu bahwa Railene mudah bosan dengan lingkungannya. Jika tidak ada sesuatu yang baru dan menarik buat Railene, gadis kecil itu akan menciptakan situasi yang lebih gila dan cukup memiliki resiko tinggi. Itulah yang membuat Diza selalu khawatir pada Railene. Putrinya itu selalu haus dengan segala hal yang belum diketahuinya.
Ia memandang Railene yang sedang makan kue sambil menatapnya polos. Wajahnya tidak menyiratkan apapun selain penasaran dengan jawabannya. Akhirnya ia terkekeh kecil, kalah dengan keimutan Railene.
"Mohon kerja samanya Jean. Aku harap itu keputusan yang baik dan tepat untuk Railene. Terima kasih atas penawaran berhargamu." Ujar Diza memberikan keputusan.
"Itu bukan masalah besar. Aku malah bersyukur kamu mau menitipkan Railene bersekolah di sini." Jean tersenyum lega dan memandang Railene seperti memandang seorang idola. Gadis kecil itu sangat luar biasa dan membuatnya selalu terkesan dengan apa adanya dirinya.
...
__ADS_1
Setelah pertemuan itu, Diza dan Railene diajak berkeliling menuju kelasnya di lantai sembilan oleh Jean. Satu lantai di bawah kantor Jean dan kepala sekolah. Kepala sekolah juga kembali menjalankan tugasnya, membiarkan pemilik sekolah melakukan tour singkat untuk calon muridnya. Sedangkan Susan sudah pamit dengan tidak rela karena harus menghadiri seminar penting di ruang konferensi rumah sakit di dekat sekolah itu, hanya berjarak kurang dari satu kilometer.
"Kegiatan belajar mengajar masih berlangsung. Kamu mau menyapa teman-temanmu, Railene?" tanya Jean yang menggendong Railene dengan ringan. Padahal gadis itu ingin berjalan-jalan, namun apalah dayanya, wanita dewasa itu benar-benar merindukannya karena sudah absen bertemu selama beberapa bulan.
Railene menggeleng. Ia tidak tertarik pada manusia-manusia di dalamnya. Yang ia ingin tahu adalah ada apa saja di sekolah yang besar ini hingga memiliki banyak lantai untuk menampung siswa dengan 11 kelas.
11? Benar. Kelas-kelas di SD ini memiliki sub-unit masing-masing. Dibagi menjadi sub A yang biasa disebut kelas unggulan dan sub B yang biasa disebut kelas normal. Sub A sendiri merupakan kelas akselerasi jadi hanya terdiri dari lima kelas dengan jumlah siswa per kelas maksimal tidak lebih dari dua puluh orang. Tentu saja tidak ada yang tinggal kelas. Jika sampai ada siswa yang tinggal kelas di sub A, maka akan langsung dipindahkan ke sub B sebagai denda hukuman karena tidak mampu mengikuti pelajaran dengan baik.
Railene meminta Jean untuk mengajaknya berkeliling sekolah. Tentu saja wanita berkacamata itu tidak menolak dan dengan senang hati menemani gadis kecil itu. Diza pun berkali-kali merasa tidak enak pada Jean karena Railene terlihat betah berlama-lama menahan Jean. Diza sedikit khawatir jika pekerjaan Jean terganggu karena Railene memintanya untuk menemani berkeliling.
Sayangnya, Jean memang sedang kosong jadwalnya--lebih tepatnya mengosongkan jadwal karena tahu akan bertemu Railene. Diza pun menjadi lega dan tidak mempermasalahkannya walaupun ia sedikit curiga bahwa Jean sengaja melakukannya hanya karena Railene. Pasalnya Jean bukan satu-satunya yang terobsesi dengan putrinya. Contoh lain bisa ditemukan di sekitarnya. Antara lain adalah Susan, Azura si remaja 18 tahun (tetangga Diza), Syam si dokter spesialis neurologi (teman kuliah Diza), Jacob si eksekutif muda rekan bisnis Diza, dan beberapa tetangganya yang sering main ke rumah mereka. Orang-orang itu mengidolakan Railene dengan pandangan seperti fans pada idola bintang papan atas. Sangat aneh dilihat, tapi Diza sudah terbiasa meskipun sering bertanya-tanya mengapa mereka melakukan itu.
Dimulai dari lantai sembilan, itu adalah lantai kelas khusus. Terdiri dari lima ruangan untuk lima kelas yang berbeda tingkat. Di lantai bawahnya, adalah kantin khusus untuk kelas unggulan dan beberapa fasilitas hiburan seperti tv dan beberapa permainan di ujung kantin.
Di lantai tujuh, terdapat kolam renang umum dengan fasilitas kamar mandi luas yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Di dalamnya juga terdapat loker ganti baju yang bersih dan terawat. Mungkin Railene akan sering-sering kemari untuk membantu meninggikan badannya. Ia agak tertekan karena tubuhnya sangat pendek sekarang. Padahal, dulu di kehidupan pertamanya, tingginya tidak kurang dari 170. Meskipun sudut pandang yang dilihatnya adalah view orang dewasa, dia masih bersyukur bahwa sekarang ia masih lima tahun. Ada banyak cara meninggikan badan di masa pertumbuhan, jadi dia cukup lega dengan itu.
Lalu, di lantai enam adalah ruang-ruang kesenian. Ada tiga ruangan yang diisi berbagai peralatan berbeda. Paling ujung adalah ruang musik berdinding peredam dengan berbagai alat musik dari yang modern hingga tradisional. Di sebelahnya adalah ruang kesenian tari serbaguna. Bisa dijadikan ruangan tari modern hingga tradisional. Lalu ruang yang terpisah pintu lift, di sisi kiri, adalah ruangan seni kriya dan gambar. Dijadikan satu karena lumayan luas untuk menampung semua benda-benda kerajinan dan lukisan para siswa.
Railene tertarik pada ruangan ini karena ia ingin mencoba melukis sesuatu dan mendalaminya dengan baik. Ia benar-benar berniat menjadi manusia multitalenta yang bisa membanggakan bundanya.
__ADS_1
Railene sudah diturunkan dari gendongan ketika sampai di sini. Ia merengek ingin jalan sendiri dan dengan berat hati disetujui Jean. Ia sudah nyaman membawa Railene di gendongannya, tapi sekarang harus puas dengan hanya menggandeng tangan gadis kecil itu, mengikutinya berlarian ke sana kemari. Diza hanya tersenyum, mengekor di belakang dengan tenang.
Selanjutnya adalah lantai lima yang hanya ditempati ruangan olahraga dan aula dengan tiga lapangan berjejer. Ada tribun empat sisi dengan masing-masing terdiri dari tujuh tingkatan tempat duduk. Biasanya digunakan untuk olahraga biasa, perayaan tahunan, pertunjukan dalam rangka acara sekolah dan masih banyak lagi kegiatan serbaguna di sana, termasuk upacara hari senin. Di salah satu sisi tribun, ada sebuah panggung kecil yang biasanya digunakan untuk tempat pembina upacara dan pemberian penghargaan untuk pemenang lomba-lomba sekolah.
Di lantai empat adalah lantai ruangan-ruangan kelas biasa yang terdiri dari enam kelas. Sesuai dengan tingkatannya. Interior dan eksterior kelas sama dengan kelas unggulan, hanya saja fasilitas yang diberikan tidak sebanyak yang diterima kelas unggulan.
Di lantai tiga ada kantin untuk kelas umum. Hampir sama dengan kantin kelas unggulan, hanya saja fasilitas dan operasionalnya dibedakan. Walaupun begitu, ini masih normal dan nyaman.
Di lantai dua, itu adalah ruangan khusus untuk guru dan karyawan. Seperti kantor dengan kubikel yang simple dan futuristik, ruang guru terlihat seperti kesibukan yang tidak pernah habis.
Lalu di lantai satu sendiri adalah lobi dengan ballroom untuk acara-acara dengan tamu penting. Seperti pesta dan acara perpisahan resmi untuk para siswa kelas akhir.
Sebenarnya gedung sekolah tidak hanya itu saja. Sekolah Internasional ini bernama Lakecoal Elementary-Junior High School (LEJHS). Seperti namanya, sekolah ini menyediakan jenjang pendidikan dari SD sampai SMP. Bangunan lain terdapat di samping bangunan untuk Sekolah Dasar. Lebih tepatnya terhubung oleh jembatan di lantai dua dan tiga. Siswa membaur di kantin dan seluruh kantor guru berpusat di lantai dua gedung SD.
Gedung untuk SMP sendiri terdiri dari lima lantai dengan letter L. Fasilitasnya berbeda dari gedung SD, tetapi tetap sama baiknya. Yah, seperti yang diharapkan dari sekolah Internasional, kualitas dan penunjang belajarnya sangat bagus dan istimewa.
Railene berpikir bahwa mungkin ia akan betah di sini.
***
__ADS_1
.