Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
113. Memutuskan untuk Bicara


__ADS_3

"Ada apa, Kak?" Tanya Railene dengan senyum menggantung di bibirnya.


"Apa kamu punya waktu sebentar. Ada hal yang harus aku kasih tau ke kamu," kata Alan dengan nada sopan biasanya. Wajahnya tersenyum ramah, seperti anak laki-laki tampan idola sekolah yang mencoba bergaul dengan orang yang diminatinya.


Railene yang tidak bisa membaca pikirannya masih menebak-nebak di dalam hatinya. Cabang pikirannya banyak dan dia memiliki hubungan personal yang lebih luas di kehidupan ini. Hanya saja, intensitasnya juga terbagi dan klasifikasi orang-orang di sekitarnya benar-benar membentuk strata. Orang terpenting adalah keluarganya, strata kedua adalah sahabat dan teman yang dikenalnya sejak kecil. Strata selanjutnya adalah kenalan yang berbicara bisnis dengannya dan memiliki hubungan yang dilandasi keuntungan. Dan yang terakhir adalah orang asing atau orang yang lewat dalam hidupnya begitu saja.


Awalnya Railene memasukkan Alan dalam klasifikasi strata terendah, orang asing. Tapi melihat keterlibatannya dengan keanehan di sekitarnya, Railene harus menguji lagi dan lagi. Alan adalah orang asing yang aneh baginya, tapi dia hampir yakin akan satu hal ketika melihat fitur wajah lelaki ini baik-baik. Railene berani menebak bahwa Alan memiliki hubungan dengan hal-hal magis Orang Pilihan sepertinya.


Kembali pada saat ini, dia berdiskusi dengan Inchara dan mengawasi gerak-gerik Alan. Railene sudah menyerah dengan metode membaca pikiran dan masa lalu sejak lama. Dan menggunakan metode hacking juga belum menemukan detail. Tapi urusan orang ini pasti penting. Oleh karena itu, dia mempertimbangkan untuk mengambil jalur langsung dan paling primitif dalam kamusnya. Bertanya secara blak-blakan.


"Oke, aku ganti baju dan hapus make up dulu. Gimana kalo ngobrol di kafe depan jalan komersial Film dan TV? Kebetulan di sana VIP-nya bagus."


Railene memutuskan untuk mengobrol.


Alan yang mendengar jawaban Railene langsung tersenyum lebih lebar. Reaksi pupil matanya lebih bersemangat. Namun, mungkin karena kebiasaannya sejak kecil, dia tetap terlihat bermartabat dan menjaga penampilan emosinya dengan baik. Tidak bocor dan berlebihan seperti udik.


"Oke oke, aku pesan dulu VIP di sana. Kamu bisa menyusul nanti dan janjinya atas namaku. Gimana?"


Alan menawarkan alternatif hemat waktu dan Railene setuju tanpa banyak kata. Setelahnya keduanya berpisah. Dan Railene menghilangkan senyumnya, wajahnya menjadi serius tapi menghela napas panjang tanpa daya.

__ADS_1


"Anak yang baik. Chara, menurutmu apakah dia akan kembali mengungkit kalung dengan simbol ini?"


Railene berjalan menuju ruang gantinya sambil berbisik ringan. Dia mengeluarkan kalung berliontin simbol bunga itu dari saku bajunya. Karena syuting, dia harus melepasnya sebentar dan bisa memakainya lagi setelah adegan berakhir. Dia selalu membawanya kemana-mana karena takut kehilangannya ketika dia meninggalkannya di tempat lain atau ruang ganti.


"Hei..., aku nggak tau. Tapi Rail, seperti yang aku bilang sebelumnya. Alan memiliki terobosan misi yang kamu jalani."


Inchara keluar dan melayang di sampingnya. Berbicara dengan nada kekanakkan yang biasa dan hampir tidak memerlukan emosi khusus.


Inchara mengamati Railene dan dia dapat merasakan ada sedikit emosi yang tercampur dalam batin Railene. Inchara masih tidak mengerti emosi rumit ini. Hanya saja, untuk hal-hal ini, dia memiliki rasa kurang nyaman yang agak mengganggu. Hatinya yang entah dimana menjadi gatal. Inchara akrab dengan ini karena memiliki kesamaan dengan perasaan ingin tahunya yang biasa. Hanya saja, perasaan dari Railene lebih intens dan kompleks. Dia ingin menggaruk sesuatu tapi tidak tahu dimana yang gatal. Menyebalkan adalah kesimpulan akhirnya.


"Lebih langsung untuk lebih cepat tau. Chara, aku merasa beberapa hal udah dekat tapi pada saat tertentu terasa masih sangat jauh. Dan ini membuatku merasa bahwa akan ada musuh yang menyerangku sebentar lagi." Railene terkekeh ringan dan menghela napas. Berganti baju dengan pikiran yang sibuk dan wajah tanpa emosi berlebihan.


"Kamu memang punya musuh. Tapi aku nggak tahu apakah itu udah muncul atau belum. Nggak apa-apa Rail, ada aku di sampingmu, aku bisa melindungi kamu!" Inchara berkata dengan senyum menghibur yang dia pelajari dari Ben.


Railene meliriknya dan tersenyum cantik. Wajahnya yang muda dan luar biasa menjadi keindahan yang dapat menghancurkan negara. Inchara terpesona dan ikut tertawa bahagia.


...


Di restoran Jepang ruang VIP.

__ADS_1


Alan duduk berhadapan dengan Railene. Gery di sampingnya sudah menjadi batu idiot yang beku dan basah kuyup. Bertemu idolanya hampir membuat Gery kehabisan napas. Matanya tertuju pada Railene. Beberapa menit sekali lupa bernapas karena suara Railene. Dan jantungnya yang bekerja keras hampir lepas ketika melihat senyum Railene. Wajahnya sudah konyol dan Alan sebagai temannya, untuk pertama kalinya merasa malu.


Ini sudah hampir setengah jam dan pemuda ini sudah dalam posisi duduk seperti itu tanpa bergerak. Jika bukan kedipan mata dan napasnya yang sesekali tersengal itu masih ada, orang hampir mengira dia patung.


Makanan baru saja disajikan dan Railene tidak keberatan dengan pandangan orang yang mengaku sebagai fans beratnya itu. Pengalaman dua kehidupannya membawanya pada pertemuan dengan berbagai jenis orang. Apalagi saat ini dia memiliki profesi sampingan aktris kelas atas. Dapat dipahami bahwa dia pernah bertemu dengan hampir semua jenis penggemar dan orang asing yang melihatnya sebagai bintang. Bahkan dia pernah bertemu dengan pembencinya yang kriminal, jadi dia tidak memiliki tekanan tentang pandangan pemuda itu sama sekali. Itu tidak ada apa-apanya dibandingkan situasi konferensi pers dan kejaran pembenci yang ingin membunuhnya.


Dia hanya diam-diam bergosip dan tertawa dalam hati bersama Inchara yang telah memasuki Alam Jiwa. Hampir seratus kali dia mendengar namanya dan pujian di pikiran pemuda itu untuknya. Pemuda bernama Gery ini sangat konyol hingga membuatnya hampir lepas kendali tertawa terbahak-bahak. Dan sesekali senyum jenakanya bocor hingga dia hampir menyembur ketika melihat wajah memerah Gery dan reaksinya terhadap apa yang sedang dia lakukan.


Berbanding terbalik dengan Railene yang tenang dan bergosip, Alan merasa malu dan sangat ingin memukul sahabatnya yang hampir terbang melayang ini. Dia tidak tahan lagi sehingga setelah makanan selesai disajikan, dia benar-benar mencubit dengan keras paha sahabatnya yang tebal itu. Dengan ancang-ancang, Alan mengambil sumpit sambil menarik kulit Gery.


Akibatnya, di dalam ruang VIP restoran Jepang langganannya, Railene dikejutkan dengan suara menggelegar pria muda yang wajahnya terdistorsi.


"AAAAWWWWW!! SAKIIIIT!"


***


Hai hai... update lagi. Btw, saya masih harus nabung chapter dan kali ini mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan. Tapi untuk update, saya usahakan untuk dipersingkat daripada sebulan sekali. Bisa jadi dua minggu sekali, bisa jadi seminggu sekali. Tergantung tabungan chapter dan kesibukan di dunia nyata. Tapi tenang aja, saya udah inget jalan ceritanya dan konsepnya udah jelas, jadi saya tinggal nulis aja sampai ending. Happy reading all~~


Jangan lupa like dan komentar. Tolong kritik saran juga karena saya rasa kemampuan nulis saya agak menurun.

__ADS_1


Have a nice day!😊


__ADS_2