Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
21. Halo, Kak Clau!


__ADS_3

Ben kembali gagal memahami gadis kecil itu. Meskipun begitu, dia belajar dari masa lalu dan mempercayai apapun yang gadis itu katakan. Railene selalu mengungkapkan kebenaran dan apapun prediksinya pasti akan terjadi. Ben selalu berpikir bahwa Railene adalah peramal yang baik. Terkadang ia menjangkau kapasitas yang tidak dapat dibandingkan dengan orang normal lainnya.


Di mata Ben, Railene adalah gambaran dari dua sisi antara malaikat dan iblis kecil. Dia sangat murni, tapi terkadang menyimpan perlakuan orang lain di hatinya untuk dibalaskan dua kali lipatnya. Bahkan saat korban sudah menerima karmanya, korban tidak akan berkutik dan memilih untuk tidak mencari masalah lagi. Railene adalah ketakutan yang dimiliki hati musuhnya. Tajam dan cerdas.


Selain itu, tampilan Railene adalah anak kecil sembrono yang suka melakukan apapun yang menarik perhatiannya, ramah, periang, dan pembelajar yang baik. Guru-guru menyukainya, teman-teman menyanjungnya sebagai adik perempuan kecil yang sangat lucu, dan Ben sendiri sangat nyaman jika bersama gadis itu. Bahkan dia memiliki keberuntungan yang bagus dalam hal belajar setelah Railene hadir.


Sekarang keduanya berjalan beriringan menuju kelas. Railene bersenandung kecil. Wajahnya yang cerah dan ceria itu sangat menarik dan semakin cantik. Beberapa kali Railene disapa oleh anak-anak kelas lain di koridor. Ya, lagi pula siapa yang tidak mengenal Railene ketika gadis itu sangat suka berkeliaran kemana-mana dan wajahnya terpajang di papan mading juara umum kelas.


"Rai, kamu yakin mengajak singa itu bermain? Kalo kamu bosan, aku bisa nemenim kamu. Aku serius, Rai... Claudya bukan orang yang akan menerima hal buruk terjadi padanya. Aku tau kamu yang rencanain Claudya nggak ngerjain PR. Kalo dia sampai tau itu kamu, dia bakal balas dendam ke kamu, Rai!" Ben mencemaskan Railene dan mulai memberi saran ketika mereka sampai kelas.


"Oh, kenapa kamu nuduh aku begitu? Aku kan ngomong jujur. Bukan berarti aku yang bikin Kak Clau nggak ngerjain PR!" Railene menatap Ben garang. Matanya mengerling nakal. Railene berakting dengan buruk hanya kepada Ben.


Menyadari bahwa Railene sangat keras kepala, Ben menghela napas panjang, menelan kecemasannya sendiri. Ketika Railene memutuskan untuk melakukan sesuatu, artinya gadis itu sudah merencanakannya dengan baik. Siapapun tidak akan mampu menghentikan niatnya.


"Baiklah, tolong bermainlah dengan ramah. Dia sangat membencimu. Kamu tau, kan?" Ben memperingatkan untuk hati-hati.


Railene menoleh dan tersenyum kecil. Ben selalu menjadi seseorang yang seperti itu. Railene dalam batinnya sangat menyadari bahwa perkataan Ben menunjukkan kepedulian yang sangat besar. Namun, di sisi lain, Ben tidak ingin menentangnya. Railene bahkan yakin, Ben akan menjadi yang pertama melindunginya jika menemukan hal-hal yang menyakiti Railene.


Namun, Railene sangat suka ketika melihat Ben panik dan cemas. Dia bahkan dengan sengaja terkadang mengerjainya hanya untuk melihat bocah laki-laki berkacamata itu panik.


"Kak Clau nggak benci aku. Dia memang nggak akran, itu kenapa aku ajak dia main. Aku yakin kami bakal akrab!"

__ADS_1


Railene berkata dengan sengaja. Matanya melirik ke arah meja yang berjarak lumayan jauh dari miliknya. Mendapati Claudya yang berwajah buruk karena menyadari sesuatu tentang buku PR matematikanya yang kosong. Railene tersenyum kecil melihat itu.


"Dia nggak akan punya waktu buat ngerjain apapun sekarang." Railene bergumam dengan senyuman dingin di wajahnya. Dia ingin membalas sesekali.


Railene mulai meletakkan kepalanya di meja dan tertidur. Ben menghela napas panjang karena tak sempat berucap. Dia kemudian bersiap.


Guru masuk dengan cepat. Memulai pelajaran dan berkeliling sebentar untuk ketertiban. Sampai meja Railene, dahinya mengerut dengan keheranan kecil. Mengapa juara kelas ini malah begitu malas saat ada di kelas?


Ben berkeringat di dahinya. Ia merasa deg-degan bahkan setelah sekian lama mengalami hal yang sama berkali-kali. Dan ia lebih cemas saat guru menatap Railene dengan pandangan yang tidak bisa dimengertinya.


"Bangunkan Railene!" perintah sang guru kepada Ben.


Ben mengangguk dan menggoyangkan bahu Railene. Gadis itu dengan cepat terbangun. Ia menguap kecil dan dengan sangat berkata, "Ada apa?"


Menengok, Railene tersenyum ketika melihat gurunya berdiri di belakangnya. Jenis senyuman polos yang murni alih-alih jenis lain seperti senyuman bersalah. Sang guru menghela napas panjang kemudian menyuruh Railene keluar dari kelas. Tak lupa meminta Railene mengumpulkan PR-nya.


Railene tetap tersenyum dan berjalan dengan damai. Dia mengumpulkan buku PR-nya dan keluar kelas dengan riang. Berdiri di depan kelas dengan senyuman. Menunggu seseorang menemaninya bermain.


Dua menit berlalu, pintu kelas akhirnya terbuka. Claudya, gadis bermata belo itu keluar dengan gemetar. Kesalahan pertamanya di sekolah dan juga kekesalannya pada diri sendiri hadir. Saat keluar, ia melihat Railene yang malah tersenyum cerah padanya.


Claudya terpaku sejenak sebelum kemarahan dan kebencian melintasi matanya dengan membara. Tangannya terkepal kencang. Dia mulai menyalahkan Railene karena kesialannya hari ini.

__ADS_1


Demi tidak dihukum lebih jauh, Claudya memalingkan muka dan berjalan menjauh. Turun ke lantai berikutnya untuk menuju perpustakaan. Mengabaikan Railene yang melambaikan tangan dan menyambutnya hangat.


Setelah Claudya menghilang, Railene mengubah senyumannya menjadi senyuman licik. Kilatan cerah dan semangatnya membara. Untuk ukuran tukang prank sepertinya dia, melihat kekesalan musuh adalah hal terbaik dalam hidupnya.


"Ya, setidaknya kekuatan mengatur keberuntungan ini benar-benar bekerja dengan baik!" Ujarnya lalu terkikik sendiri.


Railene berjalan mengikuti Claudya untuk mengganggu gadis itu lebih jauh. Membuat kekesalannya bertambah banyak dan pada akhirnya akan membuat kesalahan lebih banyak. Dalam kata-kata, Railene adalah pisau bermata dua di masa lalunya. Bahkan dengan kelahiran kembali, dia masih membawa kemampuan itu bersamanya. Sungguh cocok untuk memantik musuh hingga terbakar amarah.


Dan mengenai pengaturan keberuntungan, Railene mulai menyadarinya saat usianya lima tahun. Tiga tahun lalu saat pertama kalinya ia bertemu si pengkhianat yang memarahi Dokter Syam. Railene terus membuktikannya dan membuat kesialan untuk orang-orang yang memang pantas mendapatkannya. Sekarang, hanya orang baik yang bisa beruntung ketika bersama Railene. Dan ketika orang itu malah menjadi sial, itu karena dia berniat dengan jahat.


Kembali ke saat ini, Railene memasuki pintu perpustakaan dan menyapa penjaganya.


"Apa kamu dihukum lagi, Railene?" Tanya penjaga perpustakaan yang sudah berusia setengah abad.


Railene terkikik. "Aku tertidur di kelas dan Bu Helen yang perhatian membuatku keluar dari kelasnya untuk bermain. Bu Helen sangat baik, kan?" Ujar Railene dengan wajah yang tidak menunjukkan kebohongan sama sekali. Railene benar-benar beranggapan demikian karena daripada belajar dalam kelas, dia memang harus keluar untuk menggunakan potensinya dengan baik.


Penjaga perpustakaan tertawa lalu menyuruh Railene melakukan apapun di perpustakaan.


Railene tersenyum dan berjalan menuju lorong yang biasanta digunakan untuk menghukum siswa. Saat matanya menangkap sosok yang dikenalnya, seringai jahat mulai muncul. Dia mengubah ekspresinya dengan cepat dan berjalan cepat ke arah Claudya.


"Halo, Kak Clau!"

__ADS_1


***


Terima kasih atas like dan komennya. Nantikan lanjutan ceritanya.😊


__ADS_2