
"Railene, apa kamu beneran nggak belajar? Besok udah ujian loh," sungut Ben ketika melihat Railene dengan santainya membaca buku cerita. Alih-alih membaca buku pelajaran atau mereview materi, gadis kecil itu malah membaca buku terjemahan dengan anteng. Dia tidak terganggu dengan gerutuan Ben dan tidak melakukan apapun untuk mulai belajar.
"Kamu harus santai sebelum ujian datang. Itu membantumu menjawab ujian dengan lancar," ujar Railene untuk setidaknya membungkam Ben beberapa waktu.
Ben terpekur sebentar sebelum menghela napas secara konstan. Dua kali, dia merasa kemalasan Railene perlahan meningkat dari hari ke hari. Yang pertama adalah aspek dalam mengajar, yang kedua adalah aspek dalam belajar. Railene bahkan tidak pernah memiliki pandangan gugup pada situasi apapun. Ini membuatnya selalu bertanya-tanya.
"Apakah kamu alien?"
Pertanyaan itu terlontar dari Ben begitu saja. Railene di sisi lain tidak menganggap itu penting, tapi dia berpikir sebentar. Ia lalu memandang Ben dengan serius.
"Kamu bener. Aku alien dari planet Mars," ujarnya dengan kening berkerut.
Ben terbahak beberapa saat lalu cemberut. Ia tahu Railene sedang meledeknya dan tidak bisa berkata banyak. Gadis kecil di depannya telah bermetamorfosis dengan sangat baik. Bahkan tingkat menyebalkannya naik beberapa level. Membuat Ben resah karena meskipun kesal, ia tidak bisa atau tepatnya tidak tega membalas Railene.
"Rai, ajari aku satu materi aja, ya? Please...," bujuknya masih berlanjut.
Railene acuh tak acuh. Kembali ke penampilannya yang seperti boneka porselen. Berdiam membaca buku dengan tenang. Tidak peduli pada sekitarnya termasuk pada Ben.
Dia sudah tahu kompetensi Ben dan anak laki-laki itu sudah cukup mampu mencerna sendiri. Hanya saja, terkadang paranoidnya mengenai ujian membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Dia sering meminta Ben untuk memahami baik-baik apa yang dibacanya. Terbukti bahwa laki-laki itu cukup paham. Letak masalahnya adalah kecemasan tanpa dasarnya saja. Ben terlalu gugup menghadapi ujian.
Meskipun lebih muda dari Ben, Railene adalah orang yang pernah dewasa. Bagaimanapun dia memiliki kestabilan mental yang lebih baik daripada mental normal usianya saat ini. Itu artinya dia lebih memiliki kendali atas hal-hal yang berhubungan dengan emosi, pikiran, dan batin. Berbeda dengan Ben yang memiliki tujuan mengikutinya dengan benar. Ben akan cemas jika dia tidak melakukan sesuatu dengan baik. Dan kegugupannya saat ini adalah karena pemikirannya sendiri yang kacau. Dia merasa belum cukup mampu dan mengejar Railene sedemikian rupa agar memahaminya dengan benar.
__ADS_1
Railene sebenarnya mengerti konsep dan aliran pemikiran Ben. Namun, terkadang dia perlu mengabaikannya untuk membentuk momentum untuk dirinya sendiri. Ben perlu menyadari bahwa, tanpa Railene, dia bisa dan mampu asalkan bisa menyelesaikan kecemasannya sendiri. Menekannya hingga yang tersisa berupa kesadaran untuk mengejar dengan kepercayaan diri.
Kata-kata saja tidak cukup untuk Ben. Laki-laki itu perlu pembuktian dan pembelajaran sendiri. Dia bisa berpijak dengan kokoh ketika mentalnya kuat dan dapat stabil dalam keadaan genting.
Jadi, hari ini Railene membiarkan Ben. Pada akhirnya anak laki-laki itu berhenti merengek dan duduk di sampingnya. Menekuri buku teksnya sendiri. Keningnya sering berkerut-kerut, lalu matanya akan berbinar begitu memahami satu hal. Diam-diam Railene mengawasi dengan puas.
...
Hari ujian.
Railene diantar oleh Diza pagi-pagi sekali. Gadis kecil itu hanya membawa perlengkapan menulis di tasnya. Dia berjalan santai di lobi ketika turun dari mobil. Membalas sapaan beberapa orang yang menyapanya. Mereka semua adalah anak-anak kelas enam dan ada juga murid kelas lima unggulan yang setara dengan kelas enam. Sekolah sepi karena adanya Ujian Nasional. Hanya siswa yang berkepentingan dan guru-guru pengawas yang datang.
Sayangnya itu tidak berlaku bagi Railene. Gadis kecil itu berjalan menuju lift dan menekan tombol menuju lantai kelas ujiannya. Itu masih lantai yang sama dengan kelasnya, hanya saja dia menempati kelas dua.
Ruang ujian diatur dengan mengisi bangku dari kelas satu hingga dua. Sisanya dibiarkan kosong karena siswa kelas lain diliburkan. Ujian dilaksanakan secara tertulis dengan mengarsir lembar jawab yang mampu terbaca komputer.
Dia melihat Ben di antara siswa yang duduk di kelas satu. Karena inisial nama mereka berbeda, Ben dan Railene terpisah ruangan. Namun, ketika Railene melewati kelas satu, Ben melihat siluet Railene dan bergegas keluar kelas. Ia akan berkonsultasi kepada Railene untuk ujian pertama mereka.
"Railene!"
Railene berhenti berjalan dan menengok dengan tenang. Wajahnya memancarkan ketenangan yang tiada batas. Siapa pun yang melihat sorot matanya, mereka akan secara otomatis rileks dan kehilangan ketegangan. Hal itu berlaku juga kepada Ben.
__ADS_1
"Dimana kursimu?" Tanya Ben kemudian. Ia berjalan di samping Railene dan menuju kelas dua.
"Baris ke ketiga, dekat jendela." Railene menunjuk salah satu kursi kosong di dekat jendela. Intensitas cahaya yang pas dan sepertinya sangat nyaman untuk duduk di sana.
Ben mengangguk. Ia mengambil tas Railene dan terkejut karena sangat ringan. Ia menoleh dan paham bahwa Railene tidak membawa apapun selain kotak pensilnya. Railene terlihat tersenyum ceria dan mengabaikan ketidakberdayaan Ben.
"Apa kamu belajar dengan cukup?" Tanya Ben penasaran.
"Ya. Aku belajar cukup kok." Railene menjawab segera.
Dia menjawab yang sebenarnya. Tapi, penyiratannya berbeda dengan yang dimaksud Ben. Ben juga menyadari itu dan tidak bisa tidak menghela napas. Dia tidak berjuang untuk mengomel lagi karena dia tahu seberapa mampunya Railene menghadapi ujian ini. Dia hanya khawatir jika dia tidak akan sebagus Railene. Jadi dia menemuinya untuk mengobrol demi mendapatkan ketenangan.
"Aku belajar semalaman. Tapi, cukup gugup. Aku takut kalo nggak bisa jawab pertanyaan. Bisa aja ada yang susah banget, kan?" Ben memulai curhat. Dia duduk di samping Railene dan tidak bersuara keras. Beberapa teman yang belajar sedang fokus menghafal beberapa materi atau menguatkan ingatan. Jadi, Ben tidak akan bicara keras untuk mengganggu mereka.
"Jangan cemas. Kita udah mempelajari semua yang mungkin keluar. Tetap tenang dan fokus aja sama soalnya. Jangan pikirin waktu yang berjalan dan jawab pertanyaan yang mudah dulu. Hmm, jangan lupa juga buat teliti. Kalo udah lakuin semua itu, ujianmu berarti lancar." Railene memberi nasihat dengan berbisik. Matanya berbinar cerah memberi kepercayaan untuk Ben.
Anak laki-laki itu mengingat kata-kata Railene. Ia juga memperhatikan binar di mata Railene dan menjadi rileks. Tersenyum dengan lebar meskipun sedikit gugup. Namun, dia tahu pikirannya telah tertata dan jauh dari kata cemas. Ia hanya memahami kalimat Railene dan dengan bijak menerapkannya.
***
Like. Terus scroll. Triple up coming...
__ADS_1