Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
43. Agen Rahasia 1


__ADS_3

"Om Bram juga datang?"


Railene sedikit berbasa-basi untuk menahan Bram di tempat. Saat pertemuan pertama mereka, dia tidak sempat membaca orang ini melalui matanya. Jadi dia dengan ceria memintanya duduk dan mulai melihat masa lalunya untuk memastikan sesuatu.


Selama beberapa detik Railene mencapai tiga kesimpulan besar dan sekarang mengerti mengapa dia memiliki keakraban dengan wajah Bram.


Pertama, Bram adalah rekan bisnis Kakeknya dan saat ini menangani proyek kerja sama yang dipimpin Bundanya. Itulah mengapa dia belum pernah melihat sebelumnya karena Kakeknya tidak pernah membawa rekan bisnis ke rumah serta dia tidak tahu semua rekan bisnis Kakeknya. Untuk alasan ini, Railene mengerti dan tidak heran mengapa dia tidak mengenalinya saat pertama bertemu.


Kedua, Bram atau yang bernama asli Abraham Alexander adalah ayah dari sahabat karibnya di sekolah. Siapa lagi jika bukan Benedict Alexander atau yang biasa ia panggil Ben. Ini menjelaskan mengapa dirinya merasa wajah Bram sangat akrab. Temannya sendiri adalah wajah sehari-hari yang sudah muak dia pandangi. Jadi, dia hafal bagaimana strukturnya dan kemiripan Ben dengan Bram hampir 80 persen. Dia mengenalinya dalam sekali pandang namun gagal mengidentifikasi ke arah sana.


Ketiga, ini fakta yang cukup informatif untuk Railene karena berhubungan dengan Bundanya. Bram adalah laki-laki yang sedang mendekati Diza untuk hubungan asmara. Melihat bahwa dia begitu tegas sejak muda dan gagal jatuh cinta selain kepada mendiang istrinya, Railene tahu bahwa Bram adalah lelaki yang setia. Namun, mungkin karena pesona dan kepribadian Diza yang sangat mengesankan, Bram mulai merasakan lagi kehangatan yang bernama cinta.


Dalam kasus ini, Railene tidak akan ikut campur karena melibatkan Bundanya. Selama Bundanya bahagia, ia akan ikut bahagia. Dan jika Bram benar-benar serius, kemungkinan besar nanti dia akan menjadi ayah tirinya. Ben juga akan menjadi saudara tirinya. Berpikir sampai sana, Railene merasa itu lucu namun cukup damai.


Kembali pada saat ini, Railene mengobrol sebentar dengan Bram sebelum Johar datang dan membawakan Railene lebih banyak makanan. Bram tidak bertahan lama dan hanya mengobrol soal bisnis sebelum beralih kepada orang lain. Railene juga tidak mengatakan apa-apa untuk menahannya. Dia sudah puas dengan informasi yang dia temukan.


Railene makan banyak dan minum cukup banyak. Perjamuan baru berjalan setengah jam dan dia tiba-tiba ingin pergi ke toilet.


"Baba, Railene mau ke toilet." Railene menarik ujung lengan jas Johar dan berkata dengan pelan. Wajahnya menunjukkan ketidaknyamanan dan dia ingin segera pergi ke toilet untuk menuntaskan urusannya. Namun, dia tentu tidak bisa pergi sendiri, jadi dia meminta pada Johar.

__ADS_1


"Oh, kalo gitu ayo Baba anter ke toilet," ujar Johar hendak membawa Railene ke dalam gendongan sebelum Railene menggelengkan kepala.


"Railene jalan sendiri," sahut Railene dan menarik tangan Johar untuk menunjukkan toiletnya.


Johar menurut dan memegang tangan kanan Railene. Melewati kerumunan dan menuju ke toilet. Johar berhenti sebentar dan menyuruh Railene masuk ke toilet perempuan. Johar menunggu di depan dengan melirik sesekali ke pintu.


Tak berapa lama seorang wanita dengan dress hitam berjalan ke toilet. Dia melewati Johar dan meliriknya sebentar. Johar yang menunggu Railene sedikit memiliki kekhawatiran, jadi dia menghentikan wanita itu.


"Permisi Nona, bisakah saya minta tolong?" Johar bertanya dengan sopan. Ia menjaga jarak karena khawatir tentang prasangka wanita di depannya. Aneh melihat seorang pria paruh baya menunggu di depan toilet dan beberapa kali melirik pintu toilet wanita.


Namun, wanita itu tetap berhenti. Wajahnya dingin, jauh, dan seperti tidak dapat dijangkau dalam sekali pandangan di matanya.


Awalnya Johar juga segan meminta, tapi mentalitasnya jelas lebih berwibawa dan tahan dengan aura yang dibawa wanita di depannya. Dia tidak mengacau dan hanya khawatir tentang Railene. Jadi, secara alami dia menghentikannya.


"Ada cucu saya di toilet. Dia masih kecil dan tidak terbiasa datang ke tempat asing atau menggunakan fasilitas umum. Saya hanya minta tolong kepada Anda untuk mengawasinya sesekali. Tidak perlu terlalu memperhatikan, hanya awasi saja. Apakah bisa?" Johar mengungkap keinginannya dengan lugas dan berterus terang. Nadanya tidak gegabah dan permintaan tolongnya tulus.


Wanita itu mengangkat satu alis sebelum mengangguk tanda persetujuan. Dia tidak menjawab banyak dan pergi masuk ke toilet setelah mendengar Johar mengucapkan terima kasih.


Di dalam toilet sepi, hanya ada Railene dan wanita yang baru masuk. Railene menempati salah satu bilik di dekat pintu masuk dan telah menyelesaikan keperluannya. Wanita tadi menatap pintu itu dan berjalan ke arah wastafel. Dia melirik ke arah pintu toilet yang belum dibuka dan mengeluarkan ponselnya. Panggilan suara masuk dan itu terhubung dengan earpiece bluetooth di telinga kirinya yang tertutup rambut.

__ADS_1


"Katakan," ujarnya dingin.


Keningnya berkerut setelah beberapa saat orang di seberang telepon melaporkan sesuatu. Untuk waktu yang lama dia terpekur mendengarkan sebelum bilik di dekat pintu terbuka. Wanita itu tidak berbalik dan hanya berpura-pura mencuci tangan. Namun ia mengawasi dari cermin dan diam-diam mengakui tampilan gadis kecil yang baru saja keluar.


Railene keluar setelah menyelesaikan urusannya. Dia mendengar ada seseorang yang masuk dan tidak terkejut untuk melihat seorang wanita yang sedang mencuci tangan di wastafel. Railene berjalan mendekat ingin mencuci tangan juga. Sayangnya dapur wastafel terlalu tinggi dan itu sedikit di atas bahunya. Railene mengerut tidak senang sebelum melihat sekitarnya untuk mencari hal yang bisa dia temukan sebagai pijakan. Karena melakukan dengan menjinjit pun akan percuma. Wastafel ini tidak ramah untuk anak-anak dan dia menyayangkan hal ini. Dia benci menjadi pendek.


Wanita di samping Railene melihat Railene yang sedang mengerling di sekitarnya. Melihat tingginya, dia paham apa yang terjadi. Dia berpikir bahwa gadis kecil itu akan terlalu malu untuk meminta bantuannya. Mengingat pesan pria paruh baya di depan toilet, wanita itu menghela napas dan berniat membantu. Dia menutup telepon setelah mendengar keseluruhan laporan seseorang.


Sebelum dia bisa berbalik, dia mendengar suara indah yang imut dari sampingnya. Wanita tadi melihat bahwa Railene sedang menatapnya dengan wajah sempurna yang begitu indah. Untuk sementara wanita itu membeku karena baru menyadari betapa cantiknya gadis yang sedari tadi berjalan sambil menunduk itu.


"Nona, maaf. Bisakah kamu membantuku untuk cuci tangan? Aku nggak sampai," ujar Railene dengan suara bayinya yang biasa. Itu terdengar sangat magnetis di telinga orang lain, termasuk salah satunya adalah wanita itu.


Wanita itu masih membeku di tempatnya karena semua hal yang ada pada Railene.


***


Maaf kemarin nggak update karena sibuk hehe. Jangan luoa like dan komentar. Terima kasih untuk yang masih setia baca cerita ini.


Have a nice day!😊

__ADS_1


__ADS_2