Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
119. Menginap


__ADS_3

"Beberapa departemen setuju untuk memulai kelas di tengah kurikulum, tapi beberapa tidak setuju. Itu tergantung dosen yang akan mengajar. Karena metode kelas di sini bervariasi. Satu kelas paling banyak memiliki hanya lima murid dan sangat jarang bisa memenuhi jumlah lima tersebut. Bagaimana pun, kami menampung sampai 10 murid jenius di atas 14 tahun setiap semester. Itu bukan jumlah maksimal mutlak, karena kami akan menerima sebanyak-banyaknya seorang jenius, yang sayangnya itu jarang ditemukan di seluruh dunia. Hanya semester ini yang memiliki satu dan itu kamu." Arnold menjelaskan dengan ramah.


Railene telah mengetahui informasi itu sejak lama, tapi Diza yang baru pertama kali mendengarnya, tercengang. Dia tidak menyangka bahwa sekolah besar yang begitu megah dan bernuansa ini hanya memiliki segilintir murid setiap tahunnya. Metode pembelajaran yang luar biasa dan kualitas ini benar-benar berbeda dengan kognisinya tentang universitas tempat seseorang belajar.


"Sangat sedikit? Lalu berapa jumlah murid di sini sekarang?"


Diza tidak bisa tidak penasaran. Dia bertanya dengan alis terangkat, merasa bahwa penjelasan yang dijelaskan masuk akal. Seorang jenius yang benar-benar jenius memang jarang terjadi. Orang-orang dengan IQ di atas 150 atau orang yang sangat berbakat hingga ekstrem memang jarang sekali. Dan meskipun dia yakin itu akan menjadi lebih dari 10 orang, dia tahu bahwa banyak nasib masih dihitung. Keberuntungan sekolah ini untuk menemukan jenius tersembunyi begitu luar biasa, tapi masyarakat yang tidak memahaminya mungkin tanpa sengaja mengubur banyak bakat lahir itu. Bagaimanapun ada banyak ketidakadilan di muka bumi.


"Siswa yang bersekolah di sini dan masih aktif belajar berjumlah 278 orang total. 239 memutuskan belajar di sekolah, dan sisanya belajar di negara masing-masing dengan persetujuan dosen pengajar."


Penjelasan wakil kepala sekolah membuat Diza memiliki ide untuk memilih metode dari negara asal saat kuliah. Sayangnya Railene membacanya lebih dulu dan menghentikan niat Diza. Dia memberikan alasan yang tepat sasaran dan dapat didengar oleh wakil kepala sekolah.


"Mereka yang memutuskan untuk belajar di negara masing-masing memiliki persyaratan, Bunda."

__ADS_1


"Betulkah? Tuan Arnold, bagaimana persyaratan untuk siswa yang memilih belajar di negara masing-masing?"


Arnold melirik Railene dan kemudian kembali menjawab pertanyaan Diza. Beberapa hal yang dia ketahui dari calon siswanya ini memiliki banyak bakat yang perlu dikembangkan. Bahkan tanpa isyarat Railene, dia akan membujuk orang tuanya untuk mengizinkan Railene tetap berada di sekolah. Gadis jenius ini memiliki lebih banyak potensi yang harus digali oleh sekolah. Hubungan pembelajaran jarak jauh secara virtual menjadi tidak memadai.


"Memang ada beberapa persyaratan yang wajib dipenuhi oleh siswa yang memilih belajar di negara masing-masing. Mereka umumnya berusia di atas 20 tahun dan memiliki sesuatu yang sangat penting di negaranya, misal karir yang berhubungan dengan mata kuliah yang diambil, atau juga keadaan fisik yang tidak dapat beradaptasi di wilayah iklim dingin. Selain itu, mereka harus siswa yang hanya mengambil satu bidang ilmu pengetahuan saja dan dosen yang mengajar tidak mengajar siswa lain pada tingkat yang sama. Ada beberapa tes yang harus diikuti dan jika lulus semua persyaratan, siswa bisa belajar di rumahnya sendiri." Arnold menjelaskan dengan nada ramah dan hangat.


Railene sudah mengetahui persyaratan itu dan dia hampir tidak memenuhi syarat kecuali dia memiliki tiga karir di negaranya. Sebagai aktris, sebagai wakil CEO, dan hal-hal yang berhubungan dengan kekerabatan Orang Pilihan. Yang terakhir tidak dapat disebutkan, namun kedua alasan sebelumnya dapat ditunda karena dia dapat menanganinya sewaktu-waktu dengan asistennya dan Ben, kakaknya.


"Railene, apakah kamu akan mengambil lebih dari satu jurusan kuliah?" Diza bertanya dengan nada tidak jelas. Sebenarnya sudah tahu tentang kemungkinan Railen belajar di rumah hampir nol, tapi dia masih bertanya demi kepastian.


Tujuan besarnya untuk belajar adalah karena misi dan keserakahannya atas ilmu pengetahuan lain. Dia menguasai musik, tapi tidak seprofesional para legenda. Dia belajar kedokteran dan tertarik pada alat-alat kesehatan dan ingin menembus teknologi kedokteran yang lebih mutakhir terutama untuk penyakit-penyakit seperti kanker dan evolusi virus. Meskipun dia menguasai ekonomi dan bahkan tidak perlu lagi belajar teori, tapi ada beberapa praktik yang dia butuhkan untuk penguasaan pasar internasional. Bagaimana pun sejak awal, itu adalah bidang kekuatannya.


"Kamu luar biasa, Bunda bangga sama kamu. Tapi, nggak perlu terlalu lelah. Belajar apapun yang kamu mau, ambil waktu yang tepat dan jangan terburu-buru. Bunda nggak akan menahan kamu karena kamu udah mengambil keputusan." Diza mengela napas dan mengusap rambut panjang Railene.

__ADS_1


Railene mengangguk. Dia merasa sedikit bersalah dan bersemangat di saat bersamaan. Perjalanannya masih panjang.


Arnold menjelaskan panjang lebar dan Yu Zhiwei sesekali memberikan suasana hangat di percakapan. Diza dan Railene menyelesaikan pendaftaran di waktu yang sama setelah beberapa kesepakatan.


Railene akan bertemu dengan dosen dan guru besarnya setelah satu bulan. Dia akan mempersiapkannya sebelumnya sambil menyelesaikan syuting di negaranya. Ketika semuanya selesai, dia bisa belajar dengan tenang dan sesekali menyelidiki misinya.


Saat ini, Inchara sudah kembali ke sisinya. Railene dan Diza ditawari menginap dan keduanya tidak menolak karena hari telah sore. Cuaca berangsur dingin dan pemanas di penginapan tamu lebih hangat. Keduanya tidak ingin kedinginan di jalan.


Railene dan Diza dibawa ke gedung khas Eropa lainnya di sebelah barat bangunan yang tadi dia lewati. Menurut penjelasan Yu Zhiwei, tempat ini merupakan penginapan untuk orang tua wali siswa yang terkadang akan menginap di sekolah karena beberapa acara dalam setahun. Tidak banyak kamar dan hanya bangunan dengan 50 kamar standar hotel bintang lima. Cukup mewah untuk penginapan tamu sebuah universitas. Dan dengan standar ini, dapat dipastikan bahwa arus modal dari sekolah ini sangat besar.


Diza dan Railene masing-masing memilih satu kamar bersebalahan.


Railene membersihkan diri, makan malam di restoran gedung, dan beristirahat dengan nyaman. Tidak banyak orang yang dia temui sepanjang aktivitasnya, hanya beberapa pekerja asli di gedung yang terlihat. Jadi, dia memilih untuk beristirahat lebih awal. Tapi dia tidak tertidur, melainkan memutuskan untuk memasuki Alam Jiwa bersama dengan tubuhnya. Ada beberapa hal yang harus dia pelajari dari beberapa petunjuk yang Alan berikan padanya beberapa hari lalu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2