Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
52. Desas-Desus Murid Baru


__ADS_3

Railene dan Ben berada di kelas 1-A. Dalam satu angkatan terdapat masing-masing tujuh kelas dengan jumlah siswa setiap kelas tidak lebih dari 30 anak. Ini disesuaikan oleh standar sekolah menengah pertama LEJHS. Hanya kelas 1-A yang memiliki jumlah siswa 20 orang. Itu pun berkurang tiga karena dua orang berpindah sekolah dan satu lagi terusir dengan menyedihkan (Ingat kejadian Claudya yang mencekik Railene).


Setiap tahun, akan ada siswa pertukaran di kelas selama satu semester. Itu merupakan siswa internasional yang berjumlah antara tiga sampai lima orang. Hanya saja itu akan terjadi di kelas dua atau kelas 8. Tidak ada siswa pertukaran di kelas satu maupun kelas tiga. Meskipun begitu, siswa kelas unggulan memiliki siswa internasional mereka sendiri. Ada aturan baku bahwa penggunaan bahasa Inggris digunakan dalam percakapan di hari Rabu dan Kamis. Juga beberapa orang asing belajar sebagai siswa di dalamnya dengan latar belakang berbeda-beda.


Railene menemukan bahwa jumlah orang di kelasnya belum lengkap. Namun, gosip di samping mejanya menjelaskan semuanya.


"Katanya Green pindah ke Finlandia. Papanya balik ke kampung halamannya di sana dan naik jabatan. Kalau Bona pindah karena keluarganya semua ada di Singapura. Aku pikir Bona pasti dipaksa. Dia selalu suka di sini dan kemana-mana bareng Reza." Seorang siswi yang Railene kenali bernama Hana membuka obrolan. Dia terkenal sebagai pembawa berita besar. Rata-rata kenyataan yang diberi bumbu gosip. Tapi, itu masih berguna dan memang sesuai kenyataan.


"Apa mereka putus? Reza juga keliatannya sedih karena nggak liat Bona lagi," ujar sosok di sampingnya. Gadis kuncir kuda yang lebih tinggi itu melirik anak laki-laki di meja paling depan pojok. Memang anak laki-laki itu terlihat murung.


"Putus? Bona pacaran sama Reza?" Yang lain menimpali dengan kaget. Tidak tahu gosip sebelumnya.


"Ish, kamu kemana aja baru tau? Bona kan selalu ngejar-ngejar Reza, terus mereka pacaran. Eh, sekarang Reza ditinggal dan jadinya sedih deh. Mereka beneran putus kayaknya." Hana menimpali.


Railene melirik singkat dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Dia selalu tidak menyukai gosip terutama yang dibahas oleh anak-anak perempuan di kelas. Itu mengandung pembicaraan duniawi dan menjurus membicarakan orang lain serta masalah mereka atau kekurangan mereka. Railene tidak menyukai menjadi bagian dari orang-orang yang pandai bergosip itu.


Tapi, sebelum ia menjauh dan keluar kelas untuk menghindar, dia mendengar sepotong berita penting lainnya. Ini berbeda dari pembicaraan tentang kekurangan atau masalah orang lain.


"Oh ya. Kalian udah denger belum? Kelas kita kedatangan murid baru. Dua orang. Mereka ada di kantor kepala sekolah dan tadi diantar sambil dikawal sama bodyguard. Kayaknya bukan orang biasa." Hana kembali bersuara.


"Murid baru? Laki-laki?" Seseorang bertanya.

__ADS_1


"Iya, laki-laki. Aku belum liat orangnya sih, tapi beberapa kakak kelas yang liat bilang kalau mereka berdua ganteng. Oh ya, mereka kembar."


"Wah, kembar? Aku belum pernah liat orang kembar sebelumnya. Apa kamu yakin mereka masuk kelas kita?"


"Hmmm, yakin lima puluh persen. Mereka kelihatan kayak murid baru yang mau daftar pertama kali. Seharusnya kalau diliat dari status mereka, nggak mungkin masuk kelas reguler," ujar Hana menambahkan.


Railene berjalan menjauh setelah mendengarnya dengan cukup. Dari ciri-cirinya, dia bisa menyimpulkan bahwa dua sosok itu adalah nouveau riche yang lumayan bermartabat. Tapi, penggambaran seperti itu bisa jadi salah. Dari gaya dan bahkan membawa bodyguard, itu adalah perilaku orang kelas atas yang memiliki status penting. Jadi, dua orang itu pasti bukan nouveau riche yang masih norak.


Ben mengikuti Railene di belakangnya. Ia juga mendengar tentang desas-desus itu. Pikirannya kemudian terbang kepada dua sosok tampan yang ia temui di pelatihan karate dan menempel pada Railene begitu akrab. Karena mereka kembar, ia tidak bisa membayangkan orang lain. Seketika wajahnya memiliki ekspresi buruk.


Ben tidak pernah menyukai dua bocah lelaki kembar di pelatihan karate. Mereka mengambil perhatian Railene terlalu sering. Dan Railene tampak bahagia bersama mereka. Ben tidak menyukai gagasan bahwa gadis kecil yang selalu bersamanya memiliki kedekatan spesial dengan dua anak laki-laki lain yang asing baginya.


Dia selalu menganggap dirinya sebagai sahabat terbaik dan terdekat Railene. Bahkan ia menempatkan dirinya sebagai kakak laki-laki gadis kecil itu. Ketika dua bocah kembar itu datang, kecemburuan mengisi dadanya. Ia tidak menyukai gagasan bahwa Railene memiliki kedekatan seakrab itu dengan orang lain selain dirinya.


Dia memandang Railene yang berjalan di depannya. Mengamati punggung dan bahu kecil gadis di depannya. Terlihat rapuh dan dia ingin melindunginya dengan tangannya sendiri.


"Rai, kamu mau kemana?" Tanya Ben lalu berjalan sejajar dengan Railene.


"Tante Jean." Railene menjawab sambil menuju ke jembatan di lantai tiga. Itu terhubung dengan gedung SD dan merupakan kantinnya.


Kantin masih kosong dan hanya ada beberapa stand yang sudah buka. Ben mengikuti Railene dengan heran. Keduanya berjalan menuju lift dan naik ke lantai sepuluh tempat Jean berada.

__ADS_1


"Mau ngapain?"


"Lego. Sekalian ambil jadwal kelas semester ini," kata Railene dengan gayanya yang biasa.


"Oh." Ben bergumam sebelum melanjutkan, "Rai..., menurutmu siapa yang bakal jadi teman sekelas kita yang baru?" Tanya Ben.


Railene menoleh sekilas dan melihat kegelisahan di mata bocah laki-laki itu. Ia tidak tahu apa yang membuat Ben begitu gelisah dan seperti tertekan. Mendengar pertanyaannya, itu membuatnya berpikir bahwa kegelisahannya berada di pertanyaan itu.


"Aku nggak tau. Kenapa?" Tanya Railene heran. Dia memang tidak tahu dan tidak bisa membaca masa depan. Hal-hal yang berkaitan dengan individu dan tebak-tebakan acak bukan keahliannya. Menurut situasi dan persentase manusia di dunia, dia tidak bisa memastikan siapa yang akan masuk sebagai teman sekelasnya.


"Aku cuma ingat kembar laki-laki yang ada di pelatihan karate. Apa mungkin ini mereka?" Ben pada akhirnya mengatakan itu.


Railene mengangkat alis. Itu masih berupa kemungkinan. Yang Ben bicarakan pasti kembar Kinoka. Bertepatan dengan masuknya murid baru ke kelas unggulan, bisa jadi adalah orang yang ia kenal.


Tiba-tiba Railene ingat tentang kata-kata Arkan, si Kakak. Dia mengatakan tentang mendaftar di sekolah internasional dan ingin bersama dengannya di kelas yang sama. Railene tidak menyangka itu akan menjadi kemungkinan yang akan hadir di saat seperti ini.


"Itu... bisa jadi. Kita liat aja nanti." Railene berkata dengan senyum kecil. Tiba-tiba merasa lucu dengan situasi ini.


***


Jangan lupa like dan komentar. Terima kasih...

__ADS_1


Have a nice day!.😊


__ADS_2