
"Dia sering nggak masuk kelas, tapi nilainya selalu seratus. Dia nyontek nggak, sih, setiap ujian?" suara berbisik itu sampai di telinga Railene ketika dia akan membuka pintu toilet. Berhenti sejenak, Railene membiarkan telinganya mendengar lebih banyak.
"Kalo nyontek, canggih banget. Kelas pake cctv seluruh sisi, pengawas depan belakang, meja kelas polos tanpa laci. Kalo masih bisa nyontek, dia pake apa coba?" sebuah suara menanggapi yang lainnya. Lebih renyah dan memiliki nada gosip yang agak kental.
Di dalam toilet, Railene memanggil Inchara keluar. Inchara yang sedang memakai kacamata bergaya yang diberi nama Kiki 9, langsung melepaskan kacamatanya dan menyerahkannya ke Railene. Railene menerimanya dan memakainya. Seketika pemandangan pintu berganti menjadi tembus pandang, dia juga dapat melihat tiga orang yang berdiri di wastafel sambil berkaca menggunakan make up. Mulut mereka terus bergosip tanpa menyadari bahwa ada orang lain di kamar mandi paling ujung dekat dengan mereka.
"Ck, aku pikir nggak kayak gitu. Nyontek nggak mungkin, tapi dia udah tau soalnya duluan. Aku pernah liat dia ngutak-atik komputer sekolah. Terus kalian tau nggak? Isi komputernya jadi hitam sama huruf-huruf nggak jelas. Dia kayaknya nge-hack server soal ujian terus pelajarin itu sendiri," kata salah satu yang lainnya. Kali ini tuduhannya sangat kreatif, namun tidak masuk akal.
Inchara mengangkat alisnya tidak paham. Dia bergumam kecil. Railene bisa mendengarnya dan hampir memuji Inchara pintar.
"Bukannya kode komputer lebih rumit dari soal ujian SMA? Terus untuk apa meretas sistem? Apa soal ujian sekarang lebih susah dari koding?" tanya Inchara dengan menyentuh dagunya dengan jarinya. Sejujurnya tidak mengerti dimana masalahnya.
Railene tersenyum dan mengirim telepati, "Ujian sekolah adalah soal yang kamu selesaikan dua tahun lalu. Kalau nggak salah waktu itu kamu lagi bosan dan ngerjain soal-soal itu dalam waktu 15 menit," kata Railene lugas. Dia mengangkat tangannya dan mencubit pipi Inchara dengan lucu.
Inchara tercerahkan dan mengerti, "Jadi kenapa mereka ngomong seolah-olah ujian lebih susah dari materi kode komputer?" tanyanya kemudian.
"Chara, apa kamu pernah dengar istilah anjing liar menggonggong kepada serigala mahal yang diam melihat?" Tanya Railene mengarang.
"Apa artinya?" Inchara bingung dengan mata bulat penasaran.
Railene tersenyum, "Artinya, anjing liar yang menggonggong nggak bijaksana karena mereka cuma bisa ngomong doang. Kamu tau artinya liar, kan?" kata Railene.
"Tidak terkendali, tidak bijaksana, tidak terurus." Inchara mengangguk mengerti dan tersenyum bersemangat. Railene mengangguk setuju dan hampir berteriak bangga kepada Inchara.
Beberapa menit setelah langkah ketiga orang menjauh dari toilet, Railene keluar dan melepas kacamatanya, mengembalikannya pada Inchara. Dia berjalan ke wastafel dan mencuci tangannya. Dia keluar dengan ingatan ketiga wajah anak perempuan kelas sebelah yang selalu mencari perhatian di depan Ben, kakaknya.
"Dunia damai dan mulut nggak bisa dikekang. Huh, untung Ben nggak dengar. Bisa perang dunia kalo dia dengar." Railene berjalan pelan sambil bergumam.
__ADS_1
"Dengar apa?"
Railene hampir tersandung ketika mendengar suara yang tiba-tiba muncul di sampingnya. Dia sangat terkejut ketika melihat Ben yang tinggi berdiri di sampingnya sambil mengunyah es krim cokelat di tangan kanannya. Tangan kirinya menyodorkan es krim stroberi kesukaan Railene ke arahnya. Railene diam selama satu detik dan menghela napas lega. Dia mengambil es krim dari tangan Ben dan membukanya sambil kembali berjalan.
"Gosip seputar selebriti berprestasi," kata Railene santai. Dia mencari tempat duduk di taman dan duduk sambil makan es krim. Inchara sudah masuk kembali ke Alam Jiwa. Dia akhir-akhir ini sering ada di sana karena ada banyak koleksi baru yang dimilikinya setelah kemunculan petunjuk kedua.
"Selebriti siapa? Kamu? Siapa yang gosip? Apa gosipnya?" Ben mencondongkan tubuh ke arah Railene. Duduk di sampingnya dengan antusias dan nada tajam penasaran.
Railene meliriknya dengan menyipitkan mata. Memakan es krim dengan tenang tanpa menjawab. Dia melihat isi pikiran Ben dan mendengar suara hatinya yang hampir berkata kasar karena sibuk menebak-nebak bahwa gosip itu adalah tentangnya. Railene tahu kepedulian Ben dan bahkan berpikir bahwa itu adalah bawaan ketika melihat sifatnya yang posesif ini hadir.
"Kamu nggak perlu tau. Nggak penting," kata Railene lugas dan menyandarkan kepalanya di bahu Ben. Menikmati es krim dan sepoi angin sejuk di taman sekolah saat istirahat.
"Kamu selalu gitu. Oke, apa jadwalmu hari ini?" tanya Ben memanjakan.
Jadwal yang dimaksud merujuk pada rencana random Railene untuk melakukan sesuatu. Dia terbiasa melihat adiknya itu sibuk dengan banyal hal yang sangat beragam. Mungkin, Railene adalah orang paling berbakat yang pernah dikenal Ben. Railene bisa bermain tujuh alat musik, membuat lagu, menari, bela diri, menguasai ilmu komputer, dan menguasai ilmu akademik. Dia juga bisa berakting dan masih banyak bakat-bakat kecil yang tersembunyi di tubuh Railene. Terkadang, Ben heran dengan hal itu. Railene sangat pandai dalam banyak hal, dan dia masih menikmatinya tanpa kebingungan bahwa apa yang dia kuasai melelahkan.
"Ke perusahaan Kakek. Kamu lupa hari ini ada pertemuan pemegang saham?" Tanya Railene sedikit memiringkan kepalanya. Menatap kakaknya dengan tatapan meragukan ingatan terselipnya.
"Oh astaga! Aku lupa!" Ben hampir histeris seketika. Beberapa orang yang ada di taman untuk istirahat atau makan siang langsung menoleh. Seketika melihat sisi lain idola kulkas empat pintu itu. Reaksi ini lucu di mata beberapa gadis, terdengar pekikan tertahan di kanan dan kiri mereka.
Railene tidak mengatakan apa-apa dan kembali bersandar dengan tenang. Ben agak malu dan berdeham. Dia diam seperti patung batu, kembali ke penampilan yang dingin dan dingin.
Railene sendiri sedang memikirkan banyak hal. Selain mengurus perusahaan keluarga, Railene juga ingin mulai merencanakan kepergiannya ke Maldives untuk bertemu Master Hacker yang diperkenalkan Selena. Dia akan belajar hacking lebih dalam untuk mencari tahu melalui jaringan tersembunyi secara nasional dan internasional. Ibu kandungnya ternyata bukan orang biasa, informasinya kosong dan tidak ada yang bisa dia temukan dengan kemampuan hacking miliknya yang tidak seprofesional para master.
Di sisi lain, dia juga memburu informasi tentang Alan. Pria itu adalah generasi ketiga keluarga besar yang telah berdiri selama masa kerajaan zaman dulu. Ini sangat unik karena darah biru dan darah kolonial tercampur di dalamnya. Tidak heran untuk mengatakan bahwa Alan sangat tampan. Tapi, tetap saja, dia tidak menemukan banyak informasi dari kerahasiaan Alan selain status dan informasi dasarnya.
"Huh, orang-orang suka main-main sama misteri...," gumam Railene membuat Ben menoleh.
__ADS_1
"Siapa yang kamu cari tahu lagi?" Tanya Ben sangat mengerti kebiasaan Railene. Jika adiknya galau, itu berarti dia tidak berhasil menemukan sesuatu yang dia ingin ketahui. Ini terjadi beberapa kali dan Ben sudah menghafalnya bahkan dari nada dan aura yang dikeluarkan adiknya. Itu bisa dilihat dengan mata telanjang. Railene agak suram dan rumit.
"Misteri..., aku cari misteri," kata Railene menghela napas. Dia berdiri dan pergi begitu saja, meninggalkan Ben yang kebingungan.
"Misteri? Apakah itu nama orang?" Ben menggaruk kepalanya bingung. "Itu agak aneh," dia mendengus dan mengejar Railene ke kelas.
***
Chit Chat Rebirth :
Railene : Hei, udah aku bilang, kan. Tolong jangan kasih aku teka teki terus!!! Kak Yuchiiiii
Saya : (makan kuaci sambil main hp) Hah? Teka teki apaan?
Railene : (mencomot kuaci) Itu... sebenernya ini cerita syutingnya sampe kapan sih?
Ben : Oh, aku juga penasaran (datang dan mengambil semua kuaci Yuchi)
Saya : (melihat tangan yang kosong) Sampai kalian berdua tiba-tiba jadi spiderman, cerita bakal selesai
Railene dan Ben : ... sia!an
***
Jangan lupa like dan komentar
Have a nice day!😊
__ADS_1