
"Bagaimana?"
Jack menegakkan punggungnya ketika mendapati sekertarisnya memasuki ruangannya. Perempuan itu membawa sebuah berkas yang diyakini oleh Jack sebagai informasi yang dibutuhkannya. Sang sekertaris langsung menyerahkan kepada Jack.
"Ini cukup mengejutkan. Namanya Railene dan beberapa kali mengikuti kompetisi musik dan seni rupa. Dia tidak memiliki banyak dokumentasi karena konon tidak suka difoto. Kepribadian gadis ini cukup unik dan dia berasal dari keluarga Aristokelly, darah ibu." Sekertaris itu menjelaskan sedikit.
Jack di sisi lain menekuri berkas dan tidak bisa tidak terkejut karena gadis kecil ini cukup populer meskipun tidak terlalu menyukai dokumentasi. Dia bahkan hanya berhasil mendapatkan foto dari laman sekolah karena itu terpajang sebagai sosok nomor satu di urutan prestasi paralel tiga tahun berturut-turut. Ada satu hal lagi yang cukup aneh. Gadis ini menjauhi kamera namun tidak bisa menyadarinya ketika ada yang mengambil fotonya diam-diam. Itu terbukti dari foto yang ia dapat dari orangnya yang mengikuti kegiatan Railene selama sehari.
"Kompleksitas karakternya sangat menonjol. Aku tidak menyangka akan mendapatkan talenta seperti dia di kota ini." Jack berdecak kagum setelah membaca informasi Railene.
"Tapi, sangat sulit mendekatinya. Dua tahun terakhir dia juga dikejar-kejar oleh produser musik dan beberapa kali dikirimi tiket belajar seni rupa di luar negeri. Gadis ini menolaknya dan lebih memilih tidur atau membaca buku di rumah. Dia memiliki sedikit kemalasan yang cukup aneh," ujar sekertarisnya mengingat kalimat informan yang dibayar oleh mereka.
"Malas? Aku mendengar kebanyakan karakter jenius memang tidak suka membuang tenaga dan waktu. Kurasa sekarang semua itu benar. Dia menguasai beberapa bahasa asing dalam usia delapan tahun. Kurasa dia hanya rajin untuk belajar dan tidak berniat menjadi profesional yang terpaku pada satu keahlian. Dia... menarik sekali!" Jack semakin menyala oleh api semangat.
Ia akan menemukan banyak cara untuk membuat gadis itu setuju dan bermain di film-nya. Tidak peduli apa, selama dia menjadi produser dan sutradara film, dia yang berkuasa penuh atas style dan aturannya. Dia sudah memutuskan untuk mengejar gadis ini agar setidaknya mau untuk mengambil peran dari film yang akan ia garap.
"Aku menginginkan gadis ini ada di filmku!"
...
Di sisi lain, rumah keluarga Aristokelly.
__ADS_1
"Hatci..!"
Railene menggosok hidungnya yang gatal. Diza menoleh mendengar Railene bersin. Ia mengecek suhu tubuh putrinya dan melihat wajah mungil itu. Mencari tanda-tanda flu.
"Apa AC-nya terlalu dingin?" Tanya Diza lembut.
Railene mendongak dan menggeleng pelan. Dia kemudian bergumam dan itu masih di dengar oleh Diza.
"Seseorang membicarakanku dan menjadikanku target,"
Diza tidak bisa menahan senyum dan mengelus rambut Railene dengan sayang. Merasa lucu karena putrinya percaya pada mitos seperti itu. Apalagi wajah cantik dan imut itu begitu serius ketika mengatakannya.
"Udah malam, cuci muka, sikat gigi, terus tidur. Susunya dihabisin dulu," ujar Diza sambil menyerahkan gelas berisi susu yang tinggal sedikit.
Setelah menyelesaikan ritual malamnya, ia menuju tempat tidur sambil membawa buku Ghost Gypsy. Mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu di samping tempat tidurnya untuk membantunya membaca isi buku. Sebelum membukanya, ia bercakap dengan Inchara tentang sesuatu yang terjadi sepanjang hari.
"Banyak orang mengikuti kamu hari ini. Apa kamu punya pengikut baru?" Tanya Inchara polos.
"Nggak, mereka orang asing. Aku nggak tau siapa mereka," ujar Railene menghela napas tipis. Banyak kelemahan yang ia miliki karena masih berusia sangat muda dan tidak punya basis bela diri yang mumpuni. Dia sering mendengar bahwa biasanya praktisi bela diri memiliki insting yang tajam. Dia memang memiliki intuisi, tapi tidak tepat dalam penunjukkan arah.
"Mereka orang biasa dan tidak punya niat buruk. Yang aku tau, mereka mengambil fotomu beberapa kali," tambah Inchara.
__ADS_1
Railene mengangkat sebelah alisnya karena baru tahu akan hal itu. Akhir-akhir ini banyak sekali yang mengganggunya dimana pun ia berada. Di sekolah ia dikejar-kejar teman-teman yang meminta untuk diajari materi pelajaran. Di jalanan, beberapa orang menguntitnya dengan niat beragam. Di rumah, ia sering diinterupsi oleh tetangga sebelah atau ketika fans dokternya berdatangan ke rumahnya, terutama Dokter Susan.
Railene tidak marah atau menganggap itu gangguan yang menyebalkan. Namun, rasanya ia sangat sulit mendapatkan privasinya atau waktu bersama dirinya sendiri. Ia tidak bisa leluasa membaca buku Ghost Gypsy dan sampai sekarang bahkan belum mengetahui isinya.
Ditambah lagi, ia tidak memiliki orang-orang yang bisa ia mintai pertolongan perihal banyak rahasia yang ia sembunyikan dari keluarga dan teman-temannya. Ia butuh orang dewasa yang mampu menyokong tindakan apapun yang ia rencanakan. Ia butuh informan yang mampu memberikannya jawaban yang memuaskan tanpa mempertanyakan kembali apa yang ia lakukan.
Orang yang setia, dewasa, dan berada di sisinya tanpa syarat. Dimana dia bisa menemukan orang-orang seperti ini? Di masa lalu, ia hanya memiliki satu, namun ia tidak bisa meminta bantuannya sekarang. Dia sudah bukan lagi Renzi si CEO penyendiri. Dirinya hanya seorang gadis kecil dengan sejumlah kecil kekuatan ajaib dan kebetulan tahu banyak hal karena pernah hidup sebagai orang dewasa di masa lalu.
"Chara, kapan kamu jadi manusia?" Hanya itu satu-satunya hal yang Railene pikirkan saat ini.
"Aku tidak tau. Kamu belum meningkatkan kekuatanmu dan aku belum memiliki bentuk atau rupa manusia,"
Railene mengangguk kecil. Ia sudah menyusun beberapa hal dalam kepalanya. Meski ia memiliki ponsel dan jaringan internet bisa diakses, tapi ada beberapa hal mendasar yang membuatnya terbatasi. Ponselnya ada di bawah pengawasan Diza dan apapun informasi yang dia cari, akan terhubung dengan perangkat milik Diza.
Ia mengecualikan kemungkinan ini. Ia terpikir untuk menggunakan perangkat komputer sekolah. Itu bisa digunakan sesekali, tapi untuk kebutuhannya sekarang, ia tidak yakin akan berhasil ketika menggunakan komputer sekolah. Satu-satunya jalan keluar yang mungkin adalah warung internet yang mulai menjamur. Ia butuh akses, dan segalanya terlalu mustahil untuknya yang berusia delapan tahun.
"Kamu mungkin belum bisa jadi manusia dalam waktu dekat. Tapi, aku janji bakal latihan buat kemampuanku. Dan pertama-tama yang harus aku lakukan sekarang adalah membangun basis di dunia sekuler," ujar Railene dengan bara tekad di matanya.
***
Terima kasih atas dukungannya. Like yaa, jangan lupa.
__ADS_1
Have a nice day!😊