Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
86. Siapa Dia?


__ADS_3

Untuk para pembaca setia atau pembaca baru, siap-siap aja ya, saya memasukkan awal mula kehidupan remaja menuju dewasa dan nyelipin dikit-dikit romansa pemeran utama.


Selamat membaca~~


...


Sekertaris Jack mengetuk pintu dan memberitahu Jack bahwa Railene ada di sini. Terdengar seruan gembira dari balik pintu. Railene masuk bersama Inchara yang tak terlihat dan Ben.


Jack sedang duduk di sofa sambil memegang tumpukan kertas. Di depannya adalah sosok baru yang Railene tidak kenal. Seorang pemuda, usia di bawah 20 tahun dan sangat tampan. Railene tertegun sejenak dan bertemu dengan mata hitam kelam si pemuda.


Sosok tegap itu proporsional dan tinggi. Postur tampan yang mempesona dengan temperamen hangat dan pendiam. Wajahnya terpahat sempurna dengan mata obsidian gelap yang dapat dalam, alis pedang yang tajam dan tebal, jembatan hidung mancung yang sempurna, bibir merah pudar yang sehat, dan rahang tegas mengukir kesempurnaan pemuda itu. Sejenak, Railene mendapat kesan pertama di pikirannya. Dewa.


Pengawasan Railene hanya beberapa detik sebelum ia kembali mengendalikan ekspresinya dengan mantap.


"Om Jack!" Railene menyapa dengan nada malasnya yang biasa. Ben juga ikut menyapa dan duduk di sebelah Railene.


"Kamu di sini juga, Ben?" tanya Jack memandang Ben dan terbiasa.


"Penasaran tentang film baru Railene," kata Ben dengan ekspresi dingin yang akrab. Jack terbiasa dan tidak membahas lebih lanjut. Dia langsung kepada intinya dan memberikan naskahnya kepada Railene.


"Coba kamu liat dulu. Ini adaptasi novel pribadi dan bentuk dalam naskah filmnya. Jenis film sastra dan tema modern," kata Jack menjelaskan tanpa memperkenalkan pemuda di sisi lain sofa.


Railene mengambil naskahnya dan melirik si pemuda lalu kembali memandang Jack. Mengangkat alisnya dan mengisyaratkan sesuatu. Jack menoleh dan baru sadar kemudian.


"Oh ya, perkenalkan, dia Alan, penulis skenario film baru perusahaan. Dia juga yang nulis naskah film itu," kata Jack memperkenalkan pemuda yang sedari tadi diam mengamati proses. Railene samar-samar membatin, betapa bagusnya wajah dan temperamen itu. Tapi, dia menyadari sesuatu.


Railene memperhatikan bahwa dia sama sekali tidak mendengar apapun dari pikiran pemuda itu. Sebaliknya, itu tampak kosong dan memiliki radar akrab dengannya. Tiba-tiba Railene bingung dan semakin curiga ketika dia... sama sekali tidak bisa membaca masa lalu laki-laki itu.


Railene mengerutkan kening heran, bingung, dan bertanya-tanya. Siapa Alan ini? Kenapa dia tidak dapat melihat masa lalu ataupun pikirannya? Dan kemudian Railene mengulang adegan saat dia masuk.


Railene menegang. Alan, dia melihat mereka bertiga. Matanya melihat dia, Ben, dan... Inchara.

__ADS_1


Siapa dia?


Kenapa laki-laki ini dapat melihat Inchara? Kenapa dia berbeda dari semua orang yang dia temui? Siapa dia? Apakah dia juga Orang Terpilih sepertinya? Tapi kenapa Railene tidak dapat melihat apapun? Bahkan Lu Shizu yang juga Orang Terpilih, Railene dapat membaca pikirannya dengan mudah. Inchara juga tidak memberitahunya berita penting ini. Ini benar-benar mencurigakan.


Lalu, Railene kembali ke akal sehat. Semua pemikirannya hanya berjarak tiga detik pandangan pada laki-laki itu. Dan kemudian, dia ingin memastikan sesuatu. Dia mengirim telepati ke Inchara untuk menguji kebenaran yang dia curigai.


Kemudian, Inchara di sisinya berjalan ke depan Alan. Railene melirilk pemuda itu sambil mengambil naskah. Setelah lima detik berjalan, dia memejamkan matanya.


Dia benar-benar bisa liat Inchara. Batinnya dengan kebingungan yang parah.


Railene merenung. Melihat bagaimana Alan mengikuti gerakan Inchara yang mendekat dengan pura-pura bermain di pot samping sofa tempat Alan duduk, dia sudah yakin. Alan benar-benar dapat melihat Inchara yang dia atur hanya terlihat di depannya dan Ben. Dan juga kemudian dia sadar lagi. Alan tidak memiliki mata obsesif yang tertegun saat menatapnya. Sebaliknya, itu tenang seperti melihat manusia biasa lainnya. Seperti aura dan daya kuat Railene tidak berlaku untuknya. Dia melihatnya dengan cara normal dan berbeda dari semua orang yang dia temui selama ini.


Tersesat sejenak, Railene mengabaikannya dan menyapa sopan dengan rasa ukuran di matanya.


Jack juga melanjutkan untuk memperkenalkan Railene kepada pemuda itu.


"Nah, ini ace perusahaan kami, Railene Aristokelly. Kamu mungkin pernah dengar sebelumnya," kata Jack menepuk bahu Alan akrab.


Alan mengangguk dengan sedikit senyum longgar di bibirnya. "Saya lihat semua film Nona Railene. Dia sangat berbakat meskipun karyanya tidak sebanyak artis yang umur karirnya sama dengannya. Hanya empat film dalam empat tahun dan semuanya bergelar box office dengan penjualan ratusan juta sampai milyaran. Itu prestasi yang langka," katanya, sesekali melihat Railene dengan penghargaan yang benar-benar menghargai. Ekspresi wajah, mata, dan nada bicaranya tidak berlebihan, namun itu terasa lebih baik dan lebih tulus daripada pujian orang-orang di luar sana.


"Terima kasih, itu pujian yang tinggi," kata Railene tetap menanggapi dengan tenang. Meskipun masih penasaran tingkat tinggi, Railene tetap menjaga temperamen dan ekspresi wajahnya. Bagaimana pun dia adalah aktris yang alami. Dia dapat berbohong tanpa berkedip dan tetap dapat menjaga wajah santai saat tahu akan ada bahaya datang. Jadi, percakapan ini adalah sesuatu yang bahkan dapat dengan mudah dia lewati tanpa menimbulkan kecurigaan.


"Saya mengatakan yang sebenarnya," kata Alan masih dengan senyum menyanjung sopan. Tidak asing atau sok akrab. Dia memiliki manajemen sikap yang mencerminkan intelegenitas dan kualitas dirinya sendiri.


Railene hanya tersenyum bisnis dan kembali mengambil naskahnya. Membaca cepat dengan menyentuhnya saja. Hanya lima menit berlalu Railene membolak-balik naskah setebal 100 halaman itu dan mengangguk puas. Lalu dia mengangkat kepalanya dan melihat Alan menatapnya tertegun. Railene menyerahkan naskah ke Ben di sampingnya dan membiarkan saudaranya itu membaca.


"Gimana, Railene? Apa komentarmu?" suara Jack mengalihkan perhatiannya dan dia melihat Alan menatap antara Jack dan dia dengan bingung dan kerutan halus di alisnya.


"Ini bagus. Tapi ada beberapa titik yang nggak diperlukan atau perlu diperhalus," kata Railene lalu menyadarkan bahunya ke sofa. Sangat santai dan alami.


"Oke, katakan saja," ujar Jack menghargai. Bagimana pun, dia sudah terbiasa dengan temperamen dan ide-ide Railene yang seringkali memang lebih baik dari rencana aslinya.

__ADS_1


"Konten mengamuk secara membabi buta saat tokoh anak mengunjungi ibunya, itu terlalu berlebihan. Ibunya penderita depresi dan paranoia, tapi jenis paranoianya bukan yang ingin menyakiti anaknya. Bahkan kalaupun itu masa tantrum, nggak akan sampai mencekik anaknya sendiri. Penggambaran kasih sayang ibu di awal bisa rusak dan terkesan nggak konsisten kalau bagian ini tetap disajikan sama," ujarnya sambil mengambil tas milik Ben dan mengeluarkan satu botol yogurt. Meminumnya dan menunggu tanggapan atas komentarnya.


Jack mendengarkan dengan seksama dan memikirkannya. Samar mengingat naskah yang dia pelajari semalaman. Dia belum mengoreksinya banyak untuk setiap adegan-adeganya. Hanya membaca garis besar. Dan dia memiliki kebiasaan untuk menyerahkan naskah asli kepada Railene. Ini untuk melihat kecocokannya terhadap naskah asli sehingga tim sutradara dan penulis bisa mengoreksi dengan masuk akal.


"Nona Railene, izinkan saya bertanya. Apakah kamu benar-benar sudah membaca semuanya? Dari awal hingga akhir?" tanya Alan dengan nada agak tercekat dan sedikit keheranan.


"Ya," kata Railene dengan senyum bisnis yang biasa. Lalu dia menambahkan, "Itu naskah yang bagus".


"Ya, terima kasih...," ujar Alan terbengong sejenak.


***


Chit Chat Rebirth:


Alan: Hai, sayang... aku datang hari ini!


Railene: *Diam saja dengan wajah aneh* Karakter aslimu agak kontradiktif.


Alan: *uhuk, tersedak* Itu..., itu... pengaturan sutradara YC. Hei, aku aslinya baik-baik aja.


Railene: *curiga* Rasanya berbeda. Kamu... mencurigakan! *menjauh dengan jarak lima meter*


Alan: *panik* tunggu tunggu! Kamu salah paham. Ini, untuk cp bisnis. Hey, YC mengaturnya kalau misal ada paparazi di sekitar.


Saya: *lewat dan tidak sengaja mendengar tuduhan palsu* Sejak kapan aku menyuruhmu membuat cp bisnis?


Alan: ...


Railene: ... semua laki-laki memang nggak beres kecuali Ben *menjauh sambil geleng-geleng kepala*


***

__ADS_1


Oke jangan lupa like dan komentar.


Have a nice day!😊


__ADS_2