Rebirth Of A Genius Woman

Rebirth Of A Genius Woman
14. Si Kembar Kinoka


__ADS_3

Railene dan kedua bocah kembar itu duduk di bangku taman. Syam berada di belakang anak-anak itu, memberikan kesempatan untuk Railene agar gadis kecil itu mau bersosialisasi dengan anak-anak seusianya. Ia sering mendengar dari Diza bahwa Railene memang kurang menyukai teman-teman sebayanya. Kepintarannya membuatnya dewasa lebih cepat. Membuat Diza terkadang khawatir bahwa Railene tidak bisa bersosialisasi dengan baik.


"Jadi itu papamu?" Bocah bernama Arkan bertanya. Menunjuk Syam dengan telunjuknya.


"Om Dokter bukan papaku." Railene menjawab tanpa menoleh.


"Lalu Om Dokter siapa?" tanya Arkan lagi. Sepertinya Railene menemukan spesies cerewet lainnya.


"Om Dokter itu dokter spesialis neurologi di sini. Temannya Bundaku." Railene menjawab dengan melirik ringan.


Sedari tadi yang menjadi objek perhatiannya adalah saudara kembar Arkan yang katanya bernama Archi. Anak laki-laki pendiam itu sedari tadi tidak mengeluarkan suara. Memperhatikan percakapannya dengan bocah Arkan. Wajahnya terlihat tenang namun matanya menyiratkan sebuah kegugupan yang tidak bisa ditutupi, setidaknya bagi Railene.


Dalam hati Railene cukup terkesan karena usia Archi bahkan baru delapan tahun. Bagaimana bisa ia menyembunyikan perasaannya dengan baik? Ataukah itu hanya selama ia diam? Haruskan Railene membuatnya bicara?


"Oh, apa yang dilakukan Om Dokter di sini?" tanya Arkan pada Syam.


"Aku hanya menemani Railene bermain di taman." Syam menjawab dengan senyuman. Memberi kesan hangat pada kedua bocah kembar itu.


"Jadi, Rail, berapa usiamu?"


"Lima tahun."


"Waaah, kamu harus jadi adik perempuanku!" Arkan tambah bersemangat. Bocah laki-laki itu menoleh ke arah Archi. "Benarkan Archi?"


Bocah Archi tersentak dan mengangguk cepat. Sedetik kemudian menggeleng. Hal itu lucu di mata Railene. Ia terkikik dalam hati. Ternyata Archi sangat pemalu dan sering gugup sendiri ketika dilibatkan dalam percakapan. Berbeda dengan sang kakak yang begitu ceria dan komunikatif. Arkan dan Archi sangat berbanding terbalik.


"Kenapa?" tanya Arkan heran mendapati gelengan Archi.


"I itu... Rail punya orang tuanya, ja... jadi nggak bisa," ujar Archi terbata.


Railene menaikkan sudut bibirnya dengan geli. Baru kali ini dia dipanggil dengan nama pendek. Biasanya orang-orang memanggilnya dengan nama depannya secara lengkap. Namun, kedengarannya tidak buruk juga. Itu cenderung lucu di telinganya.


Arkan dan Archi berdebat. Arkan dengan kalimat persuasifnya yang selancar jalan tol, sedangkan Archi dengan kata-kata terbatanya, matanya yang sesekali melirik Railene berbinar gugup. Railene dan Syam hanya menonton dalam diam. Membiarkan kedua bocah itu menyelesaikan debat tidak penting mereka.


Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya mereka selesai berdebat. Archi mengalah dan menurut apa yang dikatakan Arkan. Dia menatap Railene dengan gugup.

__ADS_1


"Jadi Rail, apa kamu mau jadi adikku? Ah, adik Archi juga!" tanya Arkan bersemangat. Wajahnya berbinar ceria.


Railene masih diam. Ia tersenyum kecil dan membalas dengan polos.


"Kamu harus izin dulu ke Bunda."


"Bunda Rail?"


Railene mengangguk. Masih dengan senyum kecilnya ia memperhatikan perubahan raut wajah Arkan. Sejak keduanya bertengkar, Railene sibuk membaca masa lalu keduanya.


Arkan dan Archi hampir tidak pernah berpisah. Mereka lahir di keluarga pengusaha kaya raya. Dalam kenangan mereka, ia mengenali seseorang yang pernah ada di kehidupan pertamanya. Sosok yang dulu ia percayai penuh mengurus perusahaan milik ayahnya.


Kembar Kinoka. Nama keluarga yang cukup unik tapi ia tahu dengan pasti bahwa keduanya memang keponakan dari seseorang yang ia kenali ada di masa lalunya. Dalam ingatan kedua bocah itu, seseorang yang ia maksud tidak pernah menikah. Penuh wibawa dan dingin pada setiap orang kecuali kedua bocah kecil itu.


Railene sejak awal tahu karena mengenali mata Archi yang sangat mirip pamannya. Mata yang tidak bisa berbohong bahkan meskipun dia menyembunyikan perasaan melalui wajah datarnya. Persis Ferdinan Kinoka, sosok pria yang ia percayai sebagai orang terdekatnya.


Itulah mengapa ia mengiyakan saat Arkan menawarkan pertemanan dengannya. Ia ingin melihat Ferdinan lagi melalui kedua kembar itu. Ia yakin cepat atau lambat akan bertemu dengan pria kaku yang kikuk itu.


"Dimana Bunda Rail?"


Mata Arkan tambah berbinar. Ia langsung heboh di tempat. Archi memandang Railene gugup.


"Ayo kita temui sekarang!" Semangat Arkan membara. Namun, sebuah interupsi dari Archi menghancurkan imajinasi Arkan.


"Nggak bisa. Kamu harus kembali ke kamarmu. Mama udah nungguin."


Untuk pertama kalinya Archi bicara dengan lancar. Memarahi Arkan karena khawatir pada kembarannya itu. Railene tersenyum kecil melihat interaksi itu. Semakin dilihat, semakin ia mengenali sifat Archi yang mirip dengan Ferdinan. Ah, ia jadi ingin melihat pria kikuk itu.


"Huuh, menyebalkan!" Arkan tidak membantah. Mungkin teringat akan kata-kata mamanya yang penuh ancaman sehingga ia menurut untuk dibawa kembali ke bangsal anak tempat ia dirawat karena sakit yang cukup parah.


Arkan harus berkali-kali masuk rumah sakit karena kondisi khusus dimana ia harus secara berkala melakukan cuci darah. Untuk anak seusianya, ia cukup kuat dan sangat ceria dibanding anak-anak lain. Arkan selalu ingin memiliki banyak teman, tapi karena kondisinya, ia tidak bisa berada di sekolah untuk waktu yang lama. Temannya hanya Archi yang sangat loyal pada sang kembaran.


"Rail, kami harus kembali ke kamar. Aku akan menemuimu lagi kapan-kapan. Terus nanti aku minta izin sama Bundamu biar kamu bisa jadi adikku!" Ucap Arkan kemudian menyalami Railene dan pergi dari taman dengan diseret Archi yang terburu-buru.


Railene memperhatikan keduanya menjauh. Tersenyum kecil untuk ke sekian kalinya. Ia menoleh pada Syam yang kini sudah duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Om Dokter, aku lapar!" Rengek Railene sambil memegangi perutnya. Memperlihatkan wajah menggemaskan yang begitu cantik dan imut di saat yang bersamaan.


Syam kegirangan sendiri di tempatnya. Ia kemudian menggendong Railene dan mulai mengoceh tentang apa yang seharusnya dimakan oleh Railene. Mereka menuju kafetaria rumah sakit dan memesan makanan.


Railene didudukkan di salah satu kursi dan meja yang kosong. Syam sendiri sedikit berlari ke tempat mengambil makanan. Mengambil pesanan dengan sedikit buru-buru. Enggan meninggalkan Railene terlalu lama.


Namun, karena Syam begitu buru-buru, ia menabrak seseorang dan membuat makanan yang dibawanya menumpahi baju orang yang ditabraknya. Lebih tepatnya seorang perempuan dengan setelan kantoran dan make up yang sedikit tebal.


Perempuan itu berwajah kesal. Ia memandang setelannya yang menjadi kotor karena ketumpahan sup dan yogurt. Syam sendiri agak syok. Ia langsung meminta maaf dan terjadilah keributan yang menarik perhatian.


Railene yang memperhatikan itu berjalan mendekat. Ia berdiri di samping Syam dan memperhatikan sosok perempuan itu. Dahinya mengerut kecil tapi kemudian kembali biasa.


"Banyak sekali orang-orang dari masa lalu di sini...," batin Railene dengan lelah.


***


Chit Chat Rebirth:


Saya : Siapakah yang dimaksud orang-orang masa lalu oleh Railene?


Railene : Dia itu adalah...


Saya : Stop! Kamu dilarang spoiler.


Railene : Terus buat apa kamu tanya???


Saya : Saya hanya iseng.


Syam : Railene, selamatkan aku dari tante-tante ini!!


Si tante yang dimaksud : Siapa yang kamu bilang tante, hah?!"


Saya : Duh, repot.


***

__ADS_1


Like and comment. Thanks.


__ADS_2